STUDI PENGGUNAAN OBAT PADA PASIEN TUBERKULOSIS PARU (Penelitian Dilakukan di IRNA I RSU Dr. Saiful Anwar Malang)

Pramestutie, Hananditia Rachma, NIM. 050312626 (2009) STUDI PENGGUNAAN OBAT PADA PASIEN TUBERKULOSIS PARU (Penelitian Dilakukan di IRNA I RSU Dr. Saiful Anwar Malang). Skripsi thesis, UNIVERSITAS AIRLANGGA.

[img]
Preview
Text (ABSTRAK)
ABSTRAK FF. 179_08 Pra s.pdf

Download (464kB) | Preview
[img]
Preview
Text (fulltext)
gdlhub-gdl-s1-2009-pramestuti-8675-ff1790-s-min.compressed.pdf

Download (2MB) | Preview
Official URL: http://lib.unair.ac.id

Abstract

Tuberkulosis (TB) merupakan infeksi bakteri kronik yang disebabkan oleh Mycobacterium tuberculosis dan ditandai oleh pembentukan granuloma pada jaringan yang terinfeksi dan oleh hipersensitivitas yang diperantarai sel (cell-mediated hypersensitivity). Penyakit biasanya terletak di paru tetapi dapat mengenai organ lain. Dengan tidak adanya pengobatan yang tidak efektif untuk penyakit yang aktif, biasa terjadi penyakit yang kronik dan berakhir dengan kematian. Sepertiga populasi di dunia terinfeksi dengan Mycobacterium tuberculosis, terdapat 30 juta kasus TB aktif di dunia, dengan 10 juta kasus baru terjadi setiap tahun dan 3 juta orang meninggal akibat TB setiap tahun. TB menyebabkan kematian 6% dari seluruh kematian di dunia. Di Indonesia penyakit ini cukup banyak ditemukan. Indonesia tercatat sebagai negara yang memberikan kontribusi TB nomor 3 terbesar di dunia. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui penggunaan Obat Anti Tuberkulosis (OAT) dan obat lain pada penderita TB yang menjalani rawat inap di RSU Dr. Saiful Anwar Malang. Penelitian ini dilakukan pada tanggal 1 Maret 2007 hingga 31 Mei 2007 (3 bulan) di IRNA I ruang 22, 24, 25, 27, 28 dan 29 Rumah Sakit Umum Dr. Saiful Anwar Malang secara prospektif dengan mengikuti perkembangan pasien dari segi terapi serta perkembangan kondisi klinis pasien dan didapatkan 45 pasien. Hasil penelitian menunjukkan distribusi jenis kelamin yaitu 18 pasien laki¬-laki (40 %) dan 27 pasien perempuan (60 %). Distribusi usia pasien dengan rentang 12-20 tahun sebanyak 4 pasien (8,89 %), usia 21-30 tahun 8 pasien (17,8 %) dan usia 31-40 tahun 10 pasien (22,2 %), usia 41-50 tahun 8 pasien (17,8 %), usia 51-60 tahun 7 pasien (15,6 %) dan usia ≥ 61 tahun 8 pasien (17,8 %). Dari 45 pasien, 34 pasien pulang dengan kondisi perbaikkan (75,6 %), 6 pasien pulang paksa (13,3 %) dan 5 pasien meninggal (11,1 %). Manifestasi gejala utama berupa sesak nafas dan batuk berdarah. Penggolongan tipe pasien TB Paru berdasarkan riwayat pengobatan yaitu pasien TB Paru Kasus Lama dan Pasien TB Paru Kasus Baru. Kombinasi OAT yang banyak digunakan adalah HRZE (Isoniasid + Rifampisin + Pirasinamid + Etambutol). Kombinasi OAT lain yang digunakan adalah RH, RHZE, HRZS dan HRZE adjuvant. Selain OAT, terapi yang digunakan untuk pasien TB Paru adalah terapi infeksi sekunder, terapi simtomatis, terapi untuk mengatasi efek samping OAT, terapi untuk mengobati penyakit penyerta dan terapi lainnya yang meliputi resusitasi cairan dan transfusi PRC. Untuk terapi infeksi sekunder digunakan antibiotik spektrum luas golongan fluorokuinolon dan sefalosporin. Antibiotik ini tidak spesifik digunakan untuk membunuh/menghambat kuman penyebab TB tapi digunakan untuk memberantas bakteri gram negatif dan bakteri gram positif Terapi simtomatis terdiri dari terapi untuk menghentikan batuk berdarah dalam hal ini digunakan Asam Traneksamat; terapi untuk gangguan saluran nafas seperti gas medik, ekspektoran, bronkodilator dan antitusif, terapi untuk mengatasi gangguan GIT berupa mual, muntah, stress ulcer, diare dan susah BAB dapat digunakan antasida, H2 bloker, Proton Pump Inhibitor, Metoklopramid, Adsorben dan Laksatif, terapi untuk menurunkan suhu tubuh seperti paracetamol dan aspirin; terapi untuk mengatasi nyeri dan inflamasi seperti analgesik dan kortikosteroid.Untuk terapi mengatasi efek samping OAT digunakan Vitamin B6 dan suplemen untuk hepar. Pada penelitian ini masalah terkait obat yang terdeteksi adalah masalah efek samping obat seperti neuropatik perifer dan hepatotoksik dan interaksi obat seperti interaksi rifampisin dengan kortikosteroid, rifampisin dengan isoniasid, rifampisin dengan paracetamol, siprofloksasin dengan furosemid, siprofloksasin dengan aminofilin. Dari hasil penelitian disarankan untuk melakukan penelitian yang lebih spesifik (misalnya konversi dosis obat pada penderita TB Paru) dan penelitian hendaknya dlakukan dalam waktu yang lebih lama untuk mendapatkan data dan hasil yang lebih baik. Selain itu diharapkan juga melakukan monitoring efek samping obat dan interaksi yang terj adi pada penderita TB Paru.

Item Type: Thesis (Skripsi)
Additional Information: KKB KK-2 FF. 179/08 Pra s
Uncontrolled Keywords: DRUG UTILIZATION; TUBERCULOSIS PULMONARY
Subjects: R Medicine > RC Internal medicine > RC306-320.5 Tuberculosis
R Medicine > RS Pharmacy and materia medica
Divisions: 05. Fakultas Farmasi
Creators:
CreatorsEmail
Pramestutie, Hananditia Rachma, NIM. 050312626UNSPECIFIED
Contributors:
ContributionNameEmail
ContributorSuharjono, Dr. , Apt., M.S.UNSPECIFIED
Depositing User: Sulistiorini
Date Deposited: 29 Jan 2009 12:00
Last Modified: 12 Jul 2017 22:43
URI: http://repository.unair.ac.id/id/eprint/10000
Sosial Share:

Actions (login required)

View Item View Item