PENGARUH Cu2+ TERHADAP INDEKS PERTUMBUHAN DAN KANDUNGAN SOLASODIN PADA KULTUR PUCUK Solanum laciniatum Ait. (SL-7)

Novianti Suwitosari, 050110075E (2007) PENGARUH Cu2+ TERHADAP INDEKS PERTUMBUHAN DAN KANDUNGAN SOLASODIN PADA KULTUR PUCUK Solanum laciniatum Ait. (SL-7). Skripsi thesis, UNIVERSITAS AIRLANGGA.

[img]
Preview
Text (ABSTRAK)
gdlhub-gdl-s1-2007-suwitosari-5593-ff1630-t.pdf

Download (353kB) | Preview
[img]
Preview
Text (FULLTEXT)
gdlhub-gdl-s1-2007-suwitosari-5593-ff16307.pdf

Download (1MB) | Preview
Official URL: http://lib.unair.ac.id

Abstract

Dalam bioteknologi, tanaman dapat dimanfaatkan untuk fitoremediasi, untuk mengekstraksi dan menghilangkan senyawa logam toksik termasuk radio aktif dari tanah atau air, menghilangkan senyawa organik toksik dan juga melakukan mineralisasi. Peningkatan konsentrasi ion logam dalam media, kemungkinan dapat menginduksi dan meningkatkan pembentukan metabolit sekunder atau sebaliknya menghambat pertumbuhan tanaman. Ion-ion logam tersebut berperan sebagai elisitor abiotik yang sangat efektif untuk merangsang pembentukan solasodin. Dengan adanya laporan penelitian tentang adanya pengaruh kadar Cu2+ terhadap pertumbuhan dan pembentukan fitosteroid (solasodin) pada kultur pucuk Solanum laciniatum Ait. (SL-7) maka kali ini akan dilakukan penelitian ulang tentang respon kultur pucuk Solanum laciniatum Ait. (SL-7) pada penambahan Cu2+ 5 dan 10 ppm yang kemungkinan mengalami perubahan. Respon yang akan diamati meliputi kemampuan remediasi Cu2+, pertumbuhan (indeks pertumbuhan) serta kandungan solasodin. Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa kultur pucuk Solanum laciniatum Ait. (SL-7) mampu melakukan akumulasi Cu2+ dalam biomassanya sebesar 106 (μg/g BK) dan 253 (μg/g BK) dari media yang mengandung Cu2+ 5 dan 10 ppm. Pada perlakuan Cu2+ 5 ppm terjadi peningkatan IP 1,39 kali sedangkan pada Cu2+ 10 ppm terjadi penurunan IP 0,71 kali jika dibandingkan dengan Cu original (Cu 0,006 ppm) sebagai kontrol. Pada perlakuan Cu2+ 5 ppm kandungan solasodin yang dihasilkan sebesar 27 (μg/g BK) sedangkan pada Cu2+ 10 ppm sebesar 59 (μg/g BK). Pada ekstrak fraksi hidrolisat yang ditotolkan pada plate KLT dan dieluasi dengan fase gerak kloroform : metanol = 9 : 1 terlihat adanya noda berwarna biru setelah disemprot menggunakan anisaldehid sulfat dan memberikan reaksi positif setelah disemprot menggunakan penampak noda Dragendorf (memberikan warna jingga) pada Cu original, Cu2=5 dan 10 ppm. Noda tersebut mempunyai Rf 0,50 dan mempunyai spektrum pada panjang gelombang (λ) maksimum 583 nm dimana spektrum tersebut berbeda dengan spekturm solasodin karena solasodin mempunyai spektrum pada panjang gelombang (λ) maksimum 590 nm jadi senyawa tersebut bukan solasodin tapi termasuk senyawa alkaloid steroid. Hal ini menarik untuk dilakukan penelitian lebih lanjut mengenai identifikasi senyawa tersebut.

Item Type: Thesis (Skripsi)
Additional Information: KKB KK-2 FF.163/07 Suw p
Uncontrolled Keywords: COPPER IONS; SOLANUM
Subjects: P Language and Literature
R Medicine
R Medicine > RS Pharmacy and materia medica
Divisions: 05. Fakultas Farmasi
Creators:
CreatorsEmail
Novianti Suwitosari, 050110075EUNSPECIFIED
Contributors:
ContributionNameEmail
ContributorGUNAWAN INDRAYANTO, Prof. Dr. ., AptUNSPECIFIED
ContributorSUGIJANTO, Prof. Dr. Apt.MS.UNSPECIFIED
Depositing User: Nn Deby Felnia
Date Deposited: 11 Dec 2007 12:00
Last Modified: 06 Jun 2017 17:43
URI: http://repository.unair.ac.id/id/eprint/10195
Sosial Share:

Actions (login required)

View Item View Item