UJI PENETRASI ASAM p-METOKSISINAMAT DALAM SISTEM NANOEMULSI MENGGUNAKAN FRANZ DIFFUSION CELL (Komposisi Fase Minyak : Surfaktan-Kosurfaktan : Fase Air = 1:9:27,5)

ANNEKE INDRASWARI PRASYULININGRUM, 051011097 (2015) UJI PENETRASI ASAM p-METOKSISINAMAT DALAM SISTEM NANOEMULSI MENGGUNAKAN FRANZ DIFFUSION CELL (Komposisi Fase Minyak : Surfaktan-Kosurfaktan : Fase Air = 1:9:27,5). Skripsi thesis, UNIVERSITAS AIRLANGGA.

[img]
Preview
Text (ABSTRAK)
gdlhub-gdl-s1-2015-prasyulini-35241-6.ringk-n.pdf

Download (279kB) | Preview
[img] Text (FULLTEXT)
Binder1.pdf
Restricted to Registered users only

Download (2MB) | Request a copy
Official URL: http://lib.unair.ac.id

Abstract

APMS dilaporkan memiliki aktivitas sebagai analgesik antiinflamasi. (Sadono & Hasmono, 2000). APMS merupakan model bahan aktif yang sukar larut dalam air, sehingga untuk meningkatkan kelarutannya APMS didispersikan dalam sistem nanoemulsi. Nanoemulsi dapat meningkatkan kestabilan sistem dan meningkatkan kelarutan bahan obat sekaligus meningkatkan penetrasi dalam kulit (Thakur et al., 2013). Pada penelitian ini, nanoemulsi ditujukan untuk pemakaian secara topikal. Sistem nanoemulsi dibuat dalam tipe O/W karena lebih tidak lengket dibandingkan dengan tipe W/O. Minyak nabati yang digunakan sebagai pembawa meliputi minyak kedelai, minyak jagung, dan VCO. Komposisi yang digunakan adalah dengan perbandingan fase minyak : fase air 1 : 27,5 karena pada komposisi tersebut menghasilkan rerata ukuran droplet yang terkecil dan memiliki distribusi ukuran droplet yang paling homogen dibandingkan formula yang lain. Dengan komposisi tersebut, maka formula sudah dapat menghasilkan sistem nanoemulsi (Winarso, 2013; Pratama, 2013; Aslakh, 2013). Nanoemulsi mempengaruhi permeabilitas obat di kulit. Pada kasus ini, komponen nanoemulsi sebagai peningkat penetrasi (Devarajan & Ravichandran, 2011). Oleh karena itu perlu dilakukan uji penetrasi. Salah satu uji penetrasi metode in vitro yaitu dengan menggunakan Franz Diffusion Cell System (Ng et al., 2010). Sistem nanoemulsi merupakan cairan encer. Alat Franz Diffusion Cell dapat digunakan untuk uji penetrasi bahan cair. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan profil penetrasi bahan aktif APMS dalam sistem nanoemulsi dengan komposisi minyak nabati (minyak kedelai, minyak jagung, dan VCO) : surfaktan-kosurfaktan (Tween 80 - Span 80, dan etanol 96%) : fase air (dapar asetat pH 4,2 ± 0,2) = 1 : 9 : 27,5. Pada uji penetrasi, dilakukan replikasi tiga kali dengan menggunakan tiga kurva baku kerja APMS dalam dapar fosfat pH 7,4 yang berbeda dan dibuat setiap akan melakukan uji. Uji penetrasi dilakukan dengan menggunakan Franz Diffusion Cell. Membran yang digunakan adalah membran kulit abdomen tikus wistar jantan putih. Media disolusi yang digunakan adalah dapar fosfat salin pH 7,4 ± 0,2. Suhu media disolusi dijaga pada suhu sekitar 37 ± 0,5oC sambil diaduk dengan magnetik stirrer pada kecepatan 100rpm. Digunakan dapar fosfat salin pH 7,4 ± 0,2 dan dijaga suhunya pada 37 ± 0,5oC karena sesuai dengan kondisi biologis cairan tubuh. Konsentrasi APMS dalam cuplikan dihitung menggunakan persamaan regresi kurva baku APMS dalam dapar fosfat salin pH 7,4 ± 0,2. Untuk memperhitungkan pengenceran 1,0 mL media penetrasi, kadar terukur dikoreksi dengan persamaan Wurster. Harga fluks dan permeabilitas membran pada ketiga formula nanoemulsi APMS tersebut tidak memiliki perbedaan yang bermakna berdasarkan uji statistik. Pada ketiga formula nanoemulsi tersebut mempunyai komponen yang sama dengan komposisi yang sama pula hanya berbeda komponen minyaknya (minyak kedelai, minyak jagung, VCO) dengan komposisi yang sama. Komposisi minyak pada nanoemulsi sebesar 2,66 % b/b. Komposisi minyak yang kecil tersebut menyebabkan perbedaan yang tidak bermakna diantara ketiga formula. Selain itu, ukuran droplet paling kecil terdapat pada Formula III (VCO) dan tidak berbeda bermakna pada Formula I (Kedelai) dan Formula II (Jagung), sedangkan viskositas paling kecil pada Formula I (Kedelai) dan tidak berbeda bermakna pada Formula II (Jagung) dan Formula III (VCO). Hal ini menyebabkan hasil laju penetrasi dan permeabilitas membrane pada ketiga formula tidak berbeda bermakna. Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, dapat disarankan untuk: dilakukan penelitian stabilitas sistem nanoemulsi yang meliputi pengukuran zeta potensial dan pengamatan ukuran droplet pada rentang waktu tertentu, perlu dilakukan penambahkan tickening agent pada sediaan nanoemulsi untuk memperlambat penggabungan ukuran droplet, dan perlu dilakukan peningkatan kadar APMS yang berfungsi sebagai depo.

Item Type: Thesis (Skripsi)
Additional Information: KKB KK-2 FF F.06/14 Pra u
Uncontrolled Keywords: P-METOXYCINNAMIC ACID; NANOEMULSION
Subjects: R Medicine
Divisions: 05. Fakultas Farmasi
Creators:
CreatorsNIM/NIDN
ANNEKE INDRASWARI PRASYULININGRUM, 051011097UNSPECIFIED
Contributors:
ContributionNameNIDN/NIDK/NUP
ContributorWIDDJI SOERATRI, Prof. DEA. AptUNSPECIFIED
ContributorTRISTIANA ERAWATI, Dra.; Apt., M.SiUNSPECIFIED
Depositing User: Nn Deby Felnia
Date Deposited: 02 Feb 2015 12:00
Last Modified: 23 Oct 2016 20:27
URI: http://repository.unair.ac.id/id/eprint/10243
Sosial Share:

Actions (login required)

View Item View Item