UJI EFEKTIVITAS ANTIINFLAMASI APMS-SLN DENGAN BASIS LIPID SISTEM BINER (BEESWAX : GLISERIL MONOSTEARAT = 50 : 50) DITINJAU DARI HISTOLOGI KULIT TELINGA MENCIT

TITIS WAHYUNING FITROH, 051011020 (2015) UJI EFEKTIVITAS ANTIINFLAMASI APMS-SLN DENGAN BASIS LIPID SISTEM BINER (BEESWAX : GLISERIL MONOSTEARAT = 50 : 50) DITINJAU DARI HISTOLOGI KULIT TELINGA MENCIT. Skripsi thesis, UNIVERSITAS AIRLANGGA.

[img]
Preview
Text (ABSTRAK)
gdlhub-gdl-s1-2015-fitrohtiti-35282-6.ringk-n.pdf

Download (220kB) | Preview
[img] Text (FULLTEXT)
Binder14.pdf
Restricted to Registered users only

Download (1MB) | Request a copy
Official URL: http://lib.unair.ac.id

Abstract

Solid Lipid Nanopartikel (SLN) adalah sistem pembawa koloid dengan ukuran sub-mikron pada rentang (10-1000 nm) yang terdiri dari fase minyak yang digantikan dengan lipid padat atau campuran lipid yang didispersikan dalam air atau dalam air bersurfaktan. Ukuran partikel berukuran nano akan meningkatkan efek oklusif dan hidrasi pada kulit. Sifat oklusifitas yang tinggi dapat meningkatkan hidrasi stratum korneum, sehingga mempengaruhi absorbsi perkutan dan memudahkan obat berpenetrasi ke dalam kulit. Dalam penelitian ini akan digunakan senyawa Asam Para-Metoksi Sinamat (APMS) yang mempunyai aktivitas antiinflamasi sebagai bahan aktif yang akan dijebak dalam sistem SLN. Tujuan penelitian ini adalah menentukan efektivitas antiinflamasi APMS-SLN dengan basis lipid sistem biner (beeswax : GMS = 50 : 50) dibandingkan dengan APMS-krim sederhana ditinjau dari perubahan histologi kulit telinga mencit yang diinduksi croton oil. Metode pembuatan SLN yang digunakan adalah high shear homegenization dengan alat Ultra Turrax kecepatan 24000 rpm 8 menit. Sedangkan krim sederhana-APMS dibuat dengan alat magnetic stirrer kecepatan 400 rpm 5 menit. Evaluasi sediaan yang dilakukan meliputi pengamatan organoleptis, pengukuran pH, penentuan daya sebar, dan pengamatan ukuran partikel. Sedangkan untuk sediaan sistem SLN juga dilakukan pemeriksaan morfologi partikel dan uji efisiensi penjebakan. Untuk uji efektivitas antiinflamasi berdasarkan perubahan histologi kulit telinga mencit dilakukan pada 4 kelompok yaitu kelompok sehat (kontrol negatif), kelompok kontrol positif (induksi croton oil), kelompok SLN-APMS, dan kelompok krim sederhana-APMS. Pengamatan efektivitas antiinflamasi adalah dengan menentukan perbedaan tebal kulit dan jumlah infiltrasi sel radang antar kelompok perlakuan. Pengukuran pH sediaan SLN-APMS dan krim sederhana-APMS diperoleh pH berturut-turut adalah 4,16 ± 0,04 dan 4,14 ± 0,04, kemudian dilakukan uji t-independent diperoleh tidak ada perbedaan pH bermakna. Berdasarkan penentuan daya sebar, diperoleh krim sederhana-APMS memiliki rerata nilai slope 0,0816 ± 0,0220 cm/gram dan SLN-APMS dengan rerata nilai slope sebesar 0,0772 ± 0,0338 cm/gram. Kemudian dilakukan uji tindependent, diperoleh tidak ada perbedaan daya sebar yang bermakna antar sediaan. Data pengukuran diameter penyebaran pada beban nol diperoleh rerata diameter penyebaran krim sederhana-APMS yaitu (6,67 ± 0,30 cm) lebih besar dibandingkan dengan SLN-APMS yakni (5,07 ± 0,12 cm). Pemeriksaan rerata ukuran partikel sediaan SLN-APMS dan krim sederhana-APMS didapat hasil berturut-turut 955,93 ± 203,7 nm dan 1612,5 ± 173,4 nm. Dari uji t-independent dapat disimpulkan bahwa SLN-APMS memiliki ukuran partikel yang berbeda bermakna dengan ukuran partikel krim- APMS. Pemeriksaan morfologi partikel SLN menggunakan TEM diperoleh bentuk spheris (bulat), berwarna terang, dan ukuran partikel antara 200-300 nm. Dari hasil uji homogenitas dan % recovery sediaan SLN-APMS diperoleh rerata % recovery sebesar 85,81 ± 1,23 % dengan nilai KV sebesar 1,43%. Berdasarkan hasil penelitian diperoleh rerata prosen efisiensi penjebakan sediaan SLN-APMS sebesar 84,10 ± 2,98% dengan %KV yakni 3,54 %. Berdasarkan pengamatan histologi kulit telinga mencit menggunakan mikroskop cahaya diperoleh data rerata tebal kulit ± SD berturut-turut pada kelompok kontrol negatif (282.25 ± 69.78 μm), kontrol positif (474.01 ± 46.59 μm), kelompok SLN-APMS (286.99 ± 28.4 μm), dan kelompok krim sederhana-APMS (450.44 ± 25.46 μm). Untuk data pemeriksaan jumlah sel radang diperoleh hasil kelompok kontrol negatif (3 ± 1), kontrol positif (231.67 ± 117.63), kelompok SLN-APMS (44.33 ± 24.03), dan kelompok krim sederhana-APMS (196.33 ± 34.24). Berdasarkan hasil analisa statistik Oneway ANOVA, terdapat perbedaan tebal kulit dan jumlah sel radang bermakna antar kelompok perlakuan. Dilanjutkan dengan uji HSD, dapat simpulkan bahwa SLN-APMS dapat menurunkan tebal kulit dan jumlah sel radang lebih besar dibandingkan dengan krim sederhana-APMS.

Item Type: Thesis (Skripsi)
Additional Information: KKB KK-2 FF F.30/14 Fit u
Uncontrolled Keywords: ANTIINFLAMMATORY; SOLID LIPID NANOPARTICLE
Subjects: R Medicine
R Medicine > RS Pharmacy and materia medica
Divisions: 05. Fakultas Farmasi
Creators:
CreatorsNIM/NIDN
TITIS WAHYUNING FITROH, 051011020UNSPECIFIED
Contributors:
ContributionNameNIDN/NIDK/NUP
ContributorNOORMAN ROSITA, Dra. Apt., MSi.UNSPECIFIED
ContributorESTI HENDRADI, Dra. Apt. MSi., PhDUNSPECIFIED
Depositing User: Nn Deby Felnia
Date Deposited: 02 Feb 2015 12:00
Last Modified: 24 Oct 2016 00:23
URI: http://repository.unair.ac.id/id/eprint/10265
Sosial Share:

Actions (login required)

View Item View Item