STUDI PENGGUNAAN ANTIBIOTIKA PROFILAKSIS PADA KASUS BEDAH BATU SALURAN KEMIH (BSK) (BAGIAN UROLOGI IRNA BEDAH RSU DR. SOETOMO SURABAYA)

Ni Luh Putu Vidva Paramita, 050210169E (2007) STUDI PENGGUNAAN ANTIBIOTIKA PROFILAKSIS PADA KASUS BEDAH BATU SALURAN KEMIH (BSK) (BAGIAN UROLOGI IRNA BEDAH RSU DR. SOETOMO SURABAYA). Skripsi thesis, UNIVERSITAS AIRLANGGA.

[img]
Preview
Text (ABSTRAK)
gdlhub-gdl-s1-2007-paramitani-4505-kkbkk-2-k.pdf

Download (449kB) | Preview
[img]
Preview
Text (FULLTEXT)
gdlhub-gdl-s1-2007-paramitani-4505-ff7407-s.pdf

Download (2MB) | Preview
Official URL: http://lib.unair.ac.id

Abstract

Infeksi merupakan komplikasi yang paling sering terjadi pada pasien bedah. Konsekuensi yang potensial terjadi akibat timbulnya ILO adalah munculnya rasa sakit, berkembang menjadi sepsis, bahkan menimbulkan kematian. ILO merupakan penyebab utama ketiga (14-16 %) adanya infeksi nosokomial pada pasien yang menjalani rawat inap di rumah sakit dan merupakan penyebab utama (40 %) infeksi nosokomial pada pasien bedah. Penyakit batu saluran kemih (BSK), merupakan keadaan dimana terbentuknya batu di daerah saluran kemih. Tindakan pembedahan pada pasien BSK dilakukan bila terdapat obstruksi, infeksi, dan bila batu tidak dapat keluar secara spontan (berdasarkan lokalisasi dan diameter). Tindakan pembedahan pada pasien BSK termasuk kategori bedah bersih terkontaminasi dimana dilakukan dengan membuka saluran genitourunary dan dalam keadaan tanpa tanda infeksi dalam urin dengan resiko infeksi 5-15 %, tetapi bila terdapat tanda infeksi dalam urin termasuk kategori bedah terkontaminasi dengan resiko infeksi 16-25 %. Untuk menurunkan insiden terjadinya infeksi setelah suatu pembedahan diberikan antibiotika profilaksis. Dalam penggunaan suatu antibiotika diperlukan penggunaan yang tepat agar tidak menimbulkan berbagai dampak negatif seperti resistensi kuman, meningkatnya efek samping obat, biaya pelayanan kesehatan yang menjadi tinggi, sehingga akan menimbulkan kerugian baik pada rumah sakit maupun terhadap masyarakat. Berdasarkan hal tersebut diatas, telah dilakukan suatu studi tentang penggunaan antibiotika profilaksis pada kasus bedah BSK di bagian urologi RSU Dr. Soetomo. Tujuan studi tersebut adalah untuk mengetahui pola penggunaan antibiotika profilaksis bedah BSK. Penelitian yang dilakukan secara retrospektif dengan bahan penelitian adalah Dokumen Medik Kesehatan (DMK) pasien BSK Bagian Urologi IRNA Bedah RSU Dr. Soetomo Surabaya. Populasi penelitian adalah seluruh pasien dengan diagnosa BSK dalam jangka waktu 6 bulan yaitu mulai tanggal MRS antara 1 Juli 2005 hingga 31 Desember 2005 dengan menggunakan metode time limited. Sampel penelitian adalah seluruh pasien dengan diagnosa BSK yang menjalani prosedur pembedahan yang data dalam Dokumen Medik Kesehatannya lengkap. Pada penelitian ini, sampel yang memenuhi kelengkapan dan dapat digunakan sebagai sampel adalah sebanyak 45 DMK. Pada penelitian insiden Pasien bedah BSK terbanyak pada rentang usia 17-64 tahun (38 pasien – 84,44 %), dimana jumlah pasien dengan jenis kelamin laki-laki 75,56 % dan pasien perempuan 24,44 % Jenis pembedahan yang di terima pasien bedah BSK adalah 51,11 % endourologi, 26,67 % bedah terbuka, 17,78 % endourologi dan bedah terbuka, dan 4,44 % tidak diketahui jenis prosedur bedah yang dilakukan. Jenis antibiotika profilaksis yang digunakan sudah tepat dengan penggunaan terbesar pada sefalosporin generasi III 93.33 % dengan rincian sefotaksim 86.66 %, sefoperason dan sulbaktam 4.44 %, seftriakson 2.22 %, diikuti aminoglikosida 4.44 % dengan rincian gentamisin 2.22 %, amikasin 2.22 %, dan fosfomisin 2,22 %. Pemberian antibiotika profilaksis melalui rute i.v dengan dosis telah sesuai dengan dosis lazim. Pada sebagian besar pasien, penggunaan intravena antibiotika profilaksis dilanjutkan dengan jenis yang sama intravena paska bedah dengan lama penggunaan rata-rata 1-3 hari. Selanjutnya diganti dengan rute per oral. Selain mendapatkan antibiotika, terapi lain yang juga diterima pasien paska bedah melalui rute i.v adalah : (i) Anti-emetic, (ii) analgesik, (iii) Anti-ulcer, (iv) Diuretik, (v) Antifibrinolisis. Berdasarkan penelitian tersebut, maka disarankan dilakukan penelitian lanjutan secara prospektif agar dapat diamati waktu pemberian dan penambahan dosis, serta perkembangan kesembuhan luka operasi sehingga dapat mengetahui tingkat keberhasilan antibiotika profilaksis atau kelengkapan dalam mengisi DMK seperti, waktu pemberian, penambahan dosis, data laboratorium, perkembangan kesembuhan luka operasi sebagai bukti adanya tindakan medik pada pasien, dan untuk melihat adanya keberhasilan terapi antibiotika profilaksis. Perlu juga dilakukan adanya kultur urin pasien atau adanya data mengenai peta kuman di RSU Dr. Soetomo khususnya bagian urologi agar tinjauan terhadap penggunaan antibiotika khususnya antibiotika profilaksis bedah lebih tepat.

Item Type: Thesis (Skripsi)
Additional Information: KKB KK -2 FF 74/07 Par s
Uncontrolled Keywords: ANTIBIOTICS; URINARY CALCULI; UROLOGYDISEASES
Subjects: R Medicine > RA Public aspects of medicine > RA1-1270 Public aspects of medicine > RA960-1000.5 Medical centers. Hospitals. Dispensaries. Clinics, Including ambulance service, nursing homes, hospices
R Medicine > RC Internal medicine
R Medicine > RD Surgery
Divisions: 05. Fakultas Farmasi
Creators:
CreatorsEmail
Ni Luh Putu Vidva Paramita, 050210169EUNSPECIFIED
Contributors:
ContributionNameEmail
ContributorBUDI SUPRAPTI, Dra. ,Apt., M.SiUNSPECIFIED
ContributorBAMBANG S.Z, S.Si., Apt. M.clin. Pharm.UNSPECIFIED
ContributorIRVINA HARINI, S.Si., Apt.. Sp. FRsUNSPECIFIED
Depositing User: Nn Deby Felnia
Date Deposited: 02 May 2007 12:00
Last Modified: 07 Jun 2017 15:56
URI: http://repository.unair.ac.id/id/eprint/10374
Sosial Share:

Actions (login required)

View Item View Item