POTENSI MORFIN DALAM MENURUNKAN PERILAKU STRES MENCIT (Mus musculus) YANG DIINDUKSI DENGAN FOOT SHOCK METHOD Effects of morphine on stress behavioral and morphological change of hypothalamus and basolateral amygdale neurons in stressed mice by footshock

Graccy Martha Rosalia, 050710041 (2011) POTENSI MORFIN DALAM MENURUNKAN PERILAKU STRES MENCIT (Mus musculus) YANG DIINDUKSI DENGAN FOOT SHOCK METHOD Effects of morphine on stress behavioral and morphological change of hypothalamus and basolateral amygdale neurons in stressed mice by footshock. Skripsi thesis, UNIVERSITAS AIRLANGGA.

[img]
Preview
Text (ABSTRAK)
gdlhub-gdl-s1-2012-rosaliagra-24072-ff.-17---k.pdf

Download (375kB) | Preview
[img] Text (FULLTEXT)
gdlhub-gdl-s1-2012-rosaliagra-20457-ff.17--k.pdf
Restricted to Registered users only

Download (2MB) | Request a copy
Official URL: http://lib.unair.ac.id

Abstract

Hasil studi Badan Kesehatan Dunia (World Health Organization) tahun 2007 menyebutkan dalam kurun waktu hanya tiga tahun, sejak 2005 hingga 2007, diketahui sedikitnya 50.000 orang Indonesia bunuh diri karena stres. Dari hasil survei yang dilakukan American Psychological Association tahun 2004 menemukan 5-10% perempuan yang terkena stres dua kali lebih banyak dibandingkan pria. 55%-nya orang dewasa dan 45% anak-anak. Selain terkait dengan gangguan kejiwaan, stres juga berdampak pada kesehatan fisik. Penelitian menunjukkan stres mempengaruhi peningkatan mortalitas juga morbiditas pada pasien penyakit stroke, diabetes mellitus, dan penyakit kardiovaskular. Stres juga meningkatkan risiko bunuh diri, hampir 90% dari pasien stres mengalami gangguan taraf sedang sampai berat dalam pekerjaan, rumah tangga atau pergaulan sosialnya (Schuster, 2001). Stres ialah suatu keadaan dimana terjadi gangguan keseimbangan atau homeostasis dalam tubuh. Tubuh berusaha menjaga keseimbangan ini dengan berbagai respon fisik dan behavioral sebagai bentuk adaptasi terhadap stresor. Hormon-hormon neuroendokrin memegang peranan penting dalam regulasi ini, baik dalam homeostasis basal maupun respon terhadap stresor. Disaat stres, HPA axis teraktifkan, sehingga sekresi hormon ACTH dan kortisol meningkat, hormon inilah yang berperan membantu tubuh dalam mengumpulkan energi untuk respon fight or flight dan juga mempengaruhi otak (Stahl, 2008). Pada penelitian ini telah dilakukan pengamatan efek pemberian pra-perlakuan anti depresan, morfin, terhadap perubahan perilaku behavioral pada hewan coba yang diinduksi stres. Berdasarkan pendekatan secara neurofarmakologi diketahui bahwa pemakaian morfin dapat mempengaruhi sistem HPA berupa penurunan sekresi ACTH akibat menurunnya sekresi CRF yang menyebabkan menurunnya aktivitas kortikoadrenal sehingga menyebabkan efek euforia sehingga stres pun dapat teratasi. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui potensi morfin, dalam menurunkan perilaku stres pada mencit yang diinduksi foot shock dan pengaruhnya pada histopatologi neuron proyeksi HPA axis akibat induksi stres dan treatment morfin. Perubahan perilaku stres dievaluasi dengan menggunakan parameter conditioning place preference (CPP) dan elevated plus maze (EPM). Dengan foot shock method didapatkan hasil skor perilaku stres dari parameter EPM, dari 38,6 meningkat jadi -296,8. Dari skor CPP, juga didapatkan peningkatan skor perilaku stres dari 51,8 menjadi -245,6. Dan setelah mendapatkan treatment morfin dengan rute subkutan (dosis 1; 3; 10mg/KgBB) dapat menurunkan perilaku stres pada hewan coba. Dengan parameter EPM, penurunan skor perilaku stres secara efektif didapat pada pemberian pra-perlakuan morfin dosis 10mg/KgBB yakni dari -296,80 menurun jadi 45,00. Dan parameter CPP juga menunjukkan penurunan skor perilaku stres yang efektif dari morfin dosis 10mg/KgBB, yakni menurun dari -245,60 menjadi 54,20. Dari data histologi didapatkan hasil bahwa mencit yang terinduksi stres dan pemberian morfin pada mencit yang terinduksi stres dapat menyebabkan terjadinya perubahan sel-sel saraf pada daerah hypothalamus dan basolateral amygdala (BLA) yang merupakan daerah proyeksi HPA axis, sebagai pusat utama mediator stres. Perubahan pada BLA meliputi penurunan ukuran sel, penurunan jumlah ukuran sel, pembesaran inti sel, inti menjadi lebih nampak (prominent). Pada daerah hypothalamus juga terjadi perubahan yang sama. Adanya perubahan ini disebabkan induksi stres menyebabkan inti sel mengalami penurunan aktivitas karena mendapat rangsangan (stresor) sehingga ukurannya menjadi lebih besar dan jelas. Dengan pra-perlakuan morfin maka didapatkan hasil adanya hambatan terhadap proses pembesaran inti sel pada keadaan stres, sehingga keadaannya mendekati normal. Berdasarkan data-data yang didapatkan, maka disimpulkan bahwa morfin memiliki potensi untuk menurunkan perilaku stres pada hewan coba yang diinduksi stres dengan foot shock method.

Item Type: Thesis (Skripsi)
Additional Information: KKB KK-2 FF. 17 / 12 Ros p
Uncontrolled Keywords: DRUG UTILIZATION; STRESS; MORPHINE
Subjects: R Medicine > RS Pharmacy and materia medica > RS200-201 Pharmaceutical dosage forms
Divisions: 05. Fakultas Farmasi > Farmasi Klinis
Creators:
CreatorsNIM/NIDN
Graccy Martha Rosalia, 050710041UNSPECIFIED
Contributors:
ContributionNameNIDN/NIDK/NUP
ContributorJunaidi Khotib, S.Si., M.Kes., Ph.D., Apt.UNSPECIFIED
Depositing User: Ani Sistarina
Date Deposited: 02 Jul 2012 12:00
Last Modified: 28 Jul 2016 07:08
URI: http://repository.unair.ac.id/id/eprint/10394
Sosial Share:

Actions (login required)

View Item View Item