PENGARUH PENAMBAHAN PEG 1500 TERHADAP MUTU FISIK, KARAKTERISTIK FLOATING, DAN PROFIL PELEPASAN RANITIDIN HCL DARI GASTRORETENTIVE FLOATING TABLET DENGAN MATRIKS HPMC K100M

Roy Adiputra, 050610131 (2011) PENGARUH PENAMBAHAN PEG 1500 TERHADAP MUTU FISIK, KARAKTERISTIK FLOATING, DAN PROFIL PELEPASAN RANITIDIN HCL DARI GASTRORETENTIVE FLOATING TABLET DENGAN MATRIKS HPMC K100M. Skripsi thesis, UNIVERSITAS AIRLANGGA.

[img]
Preview
Text (ABSTRAK)
gdlhub-gdl-s1-2012-adiputraro-24060-ff.-14---k.pdf

Download (384kB) | Preview
[img] Text (FULLTEXT)
gdlhub-gdl-s1-2012-adiputraro-20463-ff.14--k.pdf
Restricted to Registered users only

Download (2MB) | Request a copy
Official URL: http://lib.unair.ac.id

Abstract

Ranitidin HCl merupakan antihistamin yang memblok reseptor H2 yang akan mengurangi produksi asam lambung. Dosis konvensional 150 mg dapat menghambat sekresi asam lambung lebih dari 5 jam tetapi tidak lebih dari 10 jam. Dosis alternatif 300 mg menyebabkan fluktuasi pada plasma. Maka dari itu, bentuk sediaan lepas lambat dari ranitidin HCl akan sangat bermanfaat (Somade, 2002). Ranitidin merupakan bahan obat yang sangat mudah larut dalam air, dosis terapi kecil, dan memiliki waktu paruh 2,5-3,0 jam. Bioavailabilitas absolutnya hanya 50%, dan diabsorpsi hanya pada bagian awal dari usus halus (Lauritsen,1990; Grant, 1989). Selain itu, metabolisme obat pada kolon turut serta menyebabkan rendahnya bioavailabilitas (Basit, 2001). Faktor-faktor inilah yang menyebabkan ranitidin HCl perlu untuk dikembangkan menjadi sediaan lepas lambat. Pada penelitian ini, digunakan gastroretentive drug delivery system (GRDDS) dengan metode floating system karena bentuk sediaan yang dibuat memiliki densitas yang rendah. Floating system yang digunakan adalah effervescent system dengan tujuan untuk mempercepat floating lag time agar sediaan berhasil mengapung di lambung sebelum waktu pengosongan lambung. Matriks hidrofilik yang digunakan adalah HPMC K100M karena bersifat aman, nonionik, dan tidak berinteraksi merugikan baik dengan obat yang bersifat asam, basa, maupun sistem elektrolit lainnya. Selain itu, matriks ini sesuai untuk formulasi obat yang larut maupun tidak larut air dan pada dosis tinggi maupun rendah (Ojoe et al., 2007). Kerugian dari matriks ini adalah viskositasnya yang sangat tinggi, sehingga laju difusi dan proses erosi ranitidin HCl dalam matriks menjadi lambat, dan pelepasan bahan obat tidak memenuhi persyaratan Welling. Maka dari itu, diperlukan suatu bahan tambahan, yaitu PEG 1500 yang bersifat mudah larut dalam air dan dapat meningkatkan jumlah obat yang dilepaskan dari matriks HPMC. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penambahan PEG 1500 terhadap mutu fisik, karakteristik floating dan pelepasan ranitidin HCl dari tablet floating lepas lambat. Pada penelitian ini yang menjadi variabel adalah kadar dari PEG 1500 dengan kadar 5% (FII), 7,5% (FIII) dan 10% (FIV), dengan FI sebagai kontrol. Komposisi bahan aktif dan bahan tambahan dibuat sama untuk setiap tablet, yaitu ranitidin HCl 120 mg, HPMC K100M 90 mg, laktosa 45 mg, PVP K-30 40 mg, magnesium stearat 5 mg, dan natrium bikarbonat 10% dari berat granul. Teknik pembuatan gastroretentive floating tablet ranitidin HCl ini adalah dengan metode granulasi basah dan digunakan aquadest sebagai larutan pengikat. Granul yang terbentuk diuji kandungan lengas, sifat alir, sudut diam, jumlah fines, dan keseragaman kandungannya. Kemudian granul dicetak menjadi tablet dengan mesin pencetak tablet hidrolik menggunakan tekanan 2 ton selama 5 detik. Tablet kemudian diuji mutu fisik, karakteristik floating dan pelepasan ranitidin HCl dari tablet. Uji disolusi dilakukan dengan alat disolusi USP tipe II (metode paddle) dalam media HCl 0,1 N selama 8 jam dengan suhu 370C ± 0,5 dan kecepatan 50 rpm. Hasil penelitian menunjukkan bahwa granul yang dihasilkan memenuhi persyaratan pada uji kandungan lengas granul, laju aliran, sudut diam, jumlah fines serta keseragaman kadar dalam granul. Nilai yang diperoleh untuk kandungan lengas granul berkisar 2-3%, sudut diam memasuki rentang 25-40°, jumlah fines < 20%, dan simpangan baku relatif £ 6 % untuk keseragaman kadar dalam granul. Untuk uji mutu fisik tablet, didapat bahwa tablet yang dihasilkan memenuhi syarat untuk kekerasan yaitu 7 kP, kerapuhan <1% serta simpangan baku relatif £ 6 % untuk keseragaman kadar dalam tablet. Hasil uji floating lag time dan total waktu floating menunjukkan bahwa FIII mempunyai karakteristik floating yang paling baik yaitu dengan floating lag time paling rendah sebesar 1,84 ± 0,32 menit. Hasil pelepasan ranitidin HCl menunjukkan bahwa penambahan kadar PEG 1500 pada FII, FIII, dan FIV dapat meningkatkan pelepasan bahan ranitidin HCl. Analisis kesesuaian pelepasan jika dibandingkan persyaratan Welling secara keseluruhan didapatkan bahwa FI, FII, FIII, dan FIV memenuhi persyaratan pelepasan tablet lepas lambat menurut Welling. Hasil analisis kinetika pelepasan untuk FI, FII, dan FIII menunjukkan bahwa ranitidin HCl dilepaskan mengikuti order satu, sedangkan untuk FIV mengikuti Higuchi. Mekanisme pelepasan FI, FII, FIII, dan FIV melalui matriks porous. Dari hasil penelitian yang telah dilakukan dapat disimpulkan dan disarankan agar dilakukan uji invivo untuk mengetahui korelasi antara uji invivo dan uji invitro dan perlu dilakukan penelitian lebih lanjut untuk memperbaiki formula pada penelitian ini dengan cara menggunakan matriks lain yang bersifat hidrofob.

Item Type: Thesis (Skripsi)
Additional Information: KKB KK-2 FF. 14 / 12 Adi p
Uncontrolled Keywords: TABLETING; HYDROXYPROPYL METHYLCELLULOCE
Subjects: R Medicine > RS Pharmacy and materia medica > RS200-201 Pharmaceutical dosage forms
R Medicine > RZ Other systems of medicine
Divisions: 05. Fakultas Farmasi > Farmastika
Creators:
CreatorsEmail
Roy Adiputra, 050610131UNSPECIFIED
Contributors:
ContributionNameEmail
ContributorSugiyartono, Drs. Apt., MSUNSPECIFIED
Depositing User: Ani Sistarina
Date Deposited: 02 Jul 2012 12:00
Last Modified: 07 Jun 2017 16:22
URI: http://repository.unair.ac.id/id/eprint/10399
Sosial Share:

Actions (login required)

View Item View Item