STUDI PENGGUNAAN ANTIMIKROBA PADA PENDERITA AIDS (Penelitian pada Penderita Rawat Inap di Unit Perawatan Intermediet Penyakit Infeksi RSU Dr. Soetomo Surabaya)

RIYANTI RETNO WULANDARI, 050212596 (2007) STUDI PENGGUNAAN ANTIMIKROBA PADA PENDERITA AIDS (Penelitian pada Penderita Rawat Inap di Unit Perawatan Intermediet Penyakit Infeksi RSU Dr. Soetomo Surabaya). Skripsi thesis, UNIVERSITAS AIRLANGGA.

[img]
Preview
Text (ABSTRAK)
gdlhub-gdl-s1-2007-wulandarir-4415-ff22_07-k.pdf

Download (410kB) | Preview
[img]
Preview
Text (FULLTEXT)
gdlhub-gdl-s1-2007-wulandarir-4415-ff22_07.pdf

Download (2MB) | Preview
Official URL: http://lib.unair.ac.id

Abstract

Acquired Immune Deficiency Syndrome (AIDS) merupakan kumpulan gejala penyakit dan infeksi yang ditimbulkan oleh hilangnya sistim imun yang di sebabkan oleh infeksi Human Immunodeficiency Virus (HIV). HIV menginfeksi sel yang mempunyai reseptor CD4 yaitu sel T-helper (Th limfosit), monosit, makrofag, dan sel dendritik. Seiring dengan perkembangan penyakit, jaringan limfoid sebagai perangkap atau penyaring untuk virus menjadi rusak. Kerusakan jaringan limfoid tersebut menyebabkan sistim imun tubuh menjadi lebih iemah sehingga muncul infeksi sekunder yang biasa disebut dengan infeksi oportunistik. Infeksi oportunistik adalah infeksi yang timbul akibat penurunan kekebalan tubuh. Infeksi ini dapat timbul karena mikroba (bakteri, jamur, virus) yang berasal dari luar tubuh, maupun yang sudah ada dalam tubuh manusia namun dalam keadaan normal terkendali oleh kekebalan tubuh. Berbagai macam infeksi ini antara lain pneumocystis pneumonia, toksoplasmosis otak, diare akibat kriptosporodiasis, infeksi virus herpes, kandidiasis esofagus, trakea, bronkus atau paru. Karena infeksi oportunistik disebabkan oleh berbagai macam organisme maka terapi yang diberikan harus disesuaikan dengan penyebab penyakitnya antara lain dengan menggunakan antibakteri, antituberkulosis, antijamur, dan anti virus. Mengingat bermacamnya penyebab infeksi oportunistik yang terjadi pada pasien AIDS dan banyaknya pilihan obat yang dapat digunakan maka dapat diajukan permasalahan: Bagaimanakah pola penggunaan antimikroba pada infeksi oportunistik penderita AIDS. Tujuan penelitian meliputi: mengetahui pola penggunaan antimikroba, memahami hubungan antara penggunaan antimikroba dengan data klinis dan data laboratorium, mengetahui jenis infeksi oportunistik pada penderita AIDS, serta memahami adanya Drug Related Problem (dosis dan interaksi obat). Penelitian ini dilakukan di Rumah Sakit Umum Dr. Soetomo Surabaya. Bahan penelitian berupa DMK (Dokumen Medik Kesehatan) penderita AIDS selama periode 1 Januari 2005 sampai dengan 31 Desember 2005 di Unit Perawatan Intermediet Penyakit Infeksi. Data yang diperoleh kemudian dianalisis secara deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan infeksi oportunistik yang banyak dialami oleh penderita AIDS adalah sepsis (40,58 %), diare kronik (31,88 %), Candidiasis oral (30,13 %), TB paru (27,54 %), dan pneumonia (18,84 %). Jenis antibakteri yang digunakan adalah golongan sefalosporin generasi ketiga (ceftriaxone, ceftazidime, dan cefotaxime), floroquinolon (ciprofloxacin dan levofloxacin), cotrimoxazol, erytromycin, amoxicillin, dan metronidazol. Jenis antibakteri yang paling banyak digunakan adalah cotrimoxazole (60,87 %). Jenis dan kombinasi antituberkulosis yang digunakan adalah rifampin-isoniazid-pyrazinamide-ethambutol (73,68 %), streptomycin-ethambutol (31,58 %), rifampin-isoniazid (5,26 %). Jenis antijamur yang digunakan adalah nystatin, fluconazole, dan ketoconazole. Jenis antijamur tunggal yang digunakan adalah nystatin (87,50 %), fluconazole (46,43 %), ketoconazole (14,28 %). Pada penelitian ini diketahui terdapat Drug Related Problem yaitu mengenai adanya 17 macam interaksi obat yang diduga terjadi berdasarkan literatur, tetapi dalam keadaan sebenarnya interaksi tersebut tidak teramati serta terdapat 20,29 % penderita yang tidak mendapat terapi antimikroba dengan lama penggunaan yang sesuai. Penelitian dengan menggunakan data retrospektif seperti halnya penelitian ini mempunyai kelemahan yaitu tidak dapat diketahuinya secara utuh gambaran hubungan respon terapi serta interaksi obat yang mungkin dialami oleh penderita. K arena itu untuk mengetahuinya disarankan melakukan penelitian prospektif. Dan mengingat kompleknya terapi yang diterima penderita AIDS maka diperlukan peran farmasis untuk memantau penggunaan obat dan masalah terkait obat.

Item Type: Thesis (Skripsi)
Additional Information: KKB KK-2 FF 22/07 Wul s
Uncontrolled Keywords: MICROBIOLOGY; ANTI- INFECTIVE AGENTS; AIDS( DISEASES ) �PATIENTS
Subjects: R Medicine > RA Public aspects of medicine
R Medicine > RA Public aspects of medicine > RA1-1270 Public aspects of medicine > RA960-1000.5 Medical centers. Hospitals. Dispensaries. Clinics
Divisions: 05. Fakultas Farmasi
Creators:
CreatorsEmail
RIYANTI RETNO WULANDARI, 050212596UNSPECIFIED
Contributors:
ContributionNameEmail
ContributorDIDIK HARMONO, Drs. MS.,Apt.UNSPECIFIED
ContributorMARIYATUL QIBTIYAH, SSi., SpFRS., Apt.UNSPECIFIED
Depositing User: Nn Deby Felnia
Date Deposited: 27 Apr 2007 12:00
Last Modified: 07 Jun 2017 17:18
URI: http://repository.unair.ac.id/id/eprint/10499
Sosial Share:

Actions (login required)

View Item View Item