PENGARUH KONSENTRASI Zn 2+ TERHADAP PERTUMBUHAN DAN KANDUNGAN FITOSTEROID KULTUR SUSPENSI Solanum laciniatum Ait.(SL-4)

SH MUHAMMAD EKO SUSILO, 059912185 (2007) PENGARUH KONSENTRASI Zn 2+ TERHADAP PERTUMBUHAN DAN KANDUNGAN FITOSTEROID KULTUR SUSPENSI Solanum laciniatum Ait.(SL-4). Skripsi thesis, UNIVERSITAS AIRLANGGA.

[img]
Preview
Text (ABSTRAK)
gdlhub-gdl-s1-2007-yuliatieat-4580-ff98_07.pdf

Download (349kB) | Preview
[img]
Preview
Text (FULLTEXT)
gdlhub-gdl-s1-2007-susiloshmu-5580-ff160_07.pdf

Download (2MB) | Preview
Official URL: http://lib.unair.ac.id

Abstract

Tanaman mempunyai kemampuan untuk mensintesis suatu senyawa yang dikenal dengan metabolit sekunder yang banyak digunakan dalam bidang farmasi. Salah sate metabolit sekunder yang banyak digunakan adalah senyawa steroid dan Solanum laciniatum Ait.(SL-4) dapat menghasilkan senyawa tersebut. Pembentukan metabolit sekunder ini dipengaruhi oleh faktor internal dan faktor eksternal. Pada Kultur Jaringan Tanaman (KJT), optimasi faktor eksternal salah satunya dengan penambahan elisitor tertentu merupakan upaya untuk memperoleh metabolit sekunder dalam jumlah maksimal. Dari basil penelitian yang telah dilakukan menunjukkan bahwa ion logam merupakan elisitor abiotik yang potensial. Penelitian tentang respon kultur suspensi Solanum laciniatum Ait.(SL-4) terhadap pemberian Zn2+ dalam berbagai kadar belum pernah dilakukan, maka kali ini dilakukan penelitian tentang pengaruh Zn2+ terhadap pertumbuhan dan kandungan fitosteroid kultur suspensi Solanum laciniatum Ait.(SL-4). Kultur kalus Solanum laciniatum Ait.(SL-4) ditanam pada media Murashige dan Skoog yang telah dimodifikasi dengan penambahan kinetin 2 mg/I, dan NAA 0,5 g/L (media SL4) dengan penambahan agar. Kultur diperbanyak dengan cara subkultur yaitu kultur kalus dari botol kultur dipindahkan ke beberapa media barn yang dilakukan secara aseptis setiap 3-4 minggu. Setelah jumlah perbanyakan kultur kalus Solanum laciniatum Ait.(SL-4) telah banyak (40 kultur), maka beberapa kultur kalus Solanum laciniatum Ait.(SL 4) dipindahkan secara aseptis ke media Murashige dan Skoog cair yang telah dimodifikasi dengan penambahan kinetin 2 mg/L dan 2,4 D 0,5 g/L (media SL4) tanpa penambahan agar (suspensi). Kultur diperbanyak dengan cara subkultur yaitu kultur suspensi dari erlenmeyer dipindahkan ke beberapa media barn yang dilakukan secara aseptis setiap 1 minggu. Media perlakuan kultur suspensi dibuat dengan menambahkan Zn2+ dalam berbagai kadar yaitu Zn 0 (tanpa pemberian Zn2+), Zn orisinal /kontrol (2,0 ppm), Zn 10 (10 ppm), Zn 20 (20 ppm), dan Zn 40 (40 ppm). Kultur kalus ditanam pada media perlakuan suspensi, diinkubasi dan digoyang dalam ruang kultur bersuhu 25°C selama 1 minggu, kemudian dipanen dengan cara mengeluarkan kultur suspensi dari botol, dituang dalam gelas ukur 100 ml, ditiriskan, ditimbang dan dikeringkan di bawah lampu dengan suhu 40°C selama 40 hari. Dilakukan pengamatan morfologi dan histologi, pengamatan indeks pertumbuhan (IP), pengukuran pH media, dan pengukuran kadar gula (% Brix) media. Pada pengamatan morfologis histologis secara makroskopis dan mikroskopis tidak terlihat adanya perbedaan pada semua perlakuan. Pada pengamatan indeks pertumbuhan, kultur suspensi yang ditanam pada media Zn0/tanpa logam Zn (Zn 0 ppm) memberikan indeks pertumbuhan rata-rata yang tertinggi (IP = 1,8491 ± 0,1879) dan terendah pada media Zn 10 (IP = 1,5411 ±0,1672). Pada hasil pengukuran pH, media yang digunakan oleh kultur suspensi Solanum laciniatum Ait.(SL-4) pada perlakuan tanpa Zn2+ dan Zn2+ 10-40 ppm tidak terlihat adanya perbedaan bermakna jika dibandingkan dengan kontrol. Hasil pengukuran kadar gula (% Brix) pada semua perlakuan menunjukkan adanya penurunan kadar gula (24 - 34%) jika dibandingkan dengan sebelum perlakuan. Penurunan tertinggi pada media Zn 40 (% Brix = 2,4 ± 0,14), sedangkan penurunan terendah terjadi pada Zn 20 (% Brix = 2,6 ± 0,1). Kultur suspensi yang telah kering diserbuk halus dan dihomogenkan, kemudian ditetapkan susut pengeringannya dan diekstraksi. Ekstraksi dilakukan dengan menimbang secara teliti 1000,0 mg serbuk kering, kemudian ditambah 5 mL kloroform, diultrasonik selama 10 menit dan divortex selama 10 menit, diulangi sebanyak tiga kali. Filtrat dikumpulkan kemudian divapkan (fraksi kloroform). Residu dihidrolisa dengan 7,5 mL HCl 2 N dalam metanol pada suhu 70-75°C selama 2 jam pada waterbath untuk memecah ikatan aglikon (sterol/solasodin) dengan gula karena sterol terikat berada dalam bentuk glikosidanya. Setelah itu didinginkan pada suhu kamar, kemudian dibasakan dengan NaOH 10 N sampai pH 10, lalu diekstraksi dengan 5 mL kloroform menggunakan vortex selama 10 menit dan disentrifugasi selama 10 menit, diulangi tiga kali dengan cara yang sama. Fase kloroform dikumpulkan dan divapkan (fraksi hidrolisat). Analisis kualitatif dan kuantitatif sterol bebas dilakukan dengan menotolkan fraksi kloroform dan standar kolesterol pada fase diam kiesel gel 60 F254, dieluasi dengan fase gerak kloroform : etilasetat (4:1), menggunakan penampak noda anisaldehid sulfat kemudian dibandingkan warna noda dan harga Rf sampel dengan standar, ditentukan kadar sterol bebas dengan metode standar eksternal dan diukur pada panjang gelombang 520 nm. Analisis kualitatif sterol terikat dilakukan dengan cara yang sama dengan analisis kualitatif sterol bebas tetapi menggunakan fraksi hidrolisat dan ekstrak kering yang dilarutkan dengan kloroform. Pada penelitian ini tidak dilakukan analisis kuantitatif sterol terikat karena pada basil analisis kualitatif dengan KLT noda yang dihasilkan belum terpisah secara sempurna dengan noda yang lain sehingga tidak dapat dihitung kadarnya secara kuantitatif dengan menggunakan Densitometri. Untuk analisis kualitatif solasodin, dari hasil pengamatan berdasarkan harga Rf dan warna noda dibandingkan dengan standar solasodin, ternyata tidak teridentifikasi adanya senyawa solasodin pada semua kultur perlakuan Dari hasil analisis kualitatif sterol bebas dan sterol terikat didapatkan warna noda dan harga Rf sampel sama dengan standar yaitu warna noda ungu dan Rf 0,53. Pada analisis kuantitatif sterol bebas, didapatkan bahwa kadar sterol bebas (kadar sterol dihitung sebagai kolesterol) meningkat pada Zn2+ 0, dan 10 ppm dibanding kontrol dengan peningkatan tertinggi pada Zn2+ 10 (2,7 kali dibanding dengan kontrol).

Item Type: Thesis (Skripsi)
Additional Information: KKB KK-2 FF 160/07 Sus p
Uncontrolled Keywords: ZINC, SOLANUM
Subjects: R Medicine
R Medicine > R Medicine (General) > R5-130.5 General works
R Medicine > RS Pharmacy and materia medica
Divisions: 05. Fakultas Farmasi
Creators:
CreatorsNIM/NIDN
SH MUHAMMAD EKO SUSILO, 059912185UNSPECIFIED
Contributors:
ContributionNameNIDN/NIDK/NUP
ContributorGUNAWAN INDRAYANTO, Prof. Dr.UNSPECIFIED
ContributorSUGIJANTO, Prof. Dr. MS.UNSPECIFIED
Depositing User: Nn Deby Felnia
Date Deposited: 07 Dec 2007 12:00
Last Modified: 25 Oct 2016 21:48
URI: http://repository.unair.ac.id/id/eprint/10516
Sosial Share:

Actions (login required)

View Item View Item