PERBANDINGAN SIFAT FISIKA DAN SIFAT KIMIA MINYAK KELAPA (Cocos nucifera L.) HASIL OLAHAN MELALUI CARA PANCINGAN DAN CARA FERMENTASI DENGAN RAGI TEMPE (Rhizopus sp.)

RESTU PUSPITASARI, 050312713 (2009) PERBANDINGAN SIFAT FISIKA DAN SIFAT KIMIA MINYAK KELAPA (Cocos nucifera L.) HASIL OLAHAN MELALUI CARA PANCINGAN DAN CARA FERMENTASI DENGAN RAGI TEMPE (Rhizopus sp.). Skripsi thesis, UNIVERSITAS AIRLANGGA.

[img]
Preview
Text (ABSTRAK)
gdlhub-gdl-s1-2008-puspitasar-9130-ff44_08-k.pdf

Download (488kB) | Preview
[img]
Preview
Text (FULLTEXT)
gdlhub-gdl-s1-2009-puspitasar-9174-ff44_08.pdf

Download (1MB) | Preview
Official URL: http://lib.unair.ac.id

Abstract

Pembuatan lor="#FF0000">minyak lor="#FF0000">kelapa dapat dilakukan melalui 2 Cara yaitu cara kering lor="#FF0000">dan basah. Contoh dari pembuatan lor="#FF0000">minyak lor="#FF0000">kelapa melalui cars basah adalah pancingan lor="#FF0000">dan fermentasi. Pada cars pancingan, molekul lor="#FF0000">minyak dalam santan akan ditarik oleh lor="#FF0000">minyak umpan sampai akhirnya bersatu. Tarikan tersebut membuat air lor="#FF0000">dan protein yang sebelumnya terikat dengan molekul santan terlepas. Pada cara fermentasi digunakan jasa mikroba yang terdapat dalam ragi tempe. Di dalam ragi tempe terkandung mikroba Rhizopus sp. Mikroba ini menghasilkan enzim-enzim ekstraseluler antara lain: enzim amilase, protease. Enzim amilase akan memecah karbohidrat dalam santan menjadi gula, lor="#FF0000">dan selanjutnya gula akan diurai menjadi asam. Protein (lipoprotein) sebagai emulgator menjadi tidak stabil lor="#FF0000">dan terdenaturasi oleh asam hingga ikatan air lor="#FF0000">dan lor="#FF0000">minyak lepas lor="#FF0000">dan didapatkan lor="#FF0000">minyak lor="#FF0000">kelapa. Selain itu, enzim protease juga mengakibatkan protein terurai lor="#FF0000">dan melepaskan ikatan air-lor="#FF0000">minyak sehingga didapatkan lor="#FF0000">minyak. Dalam penelitian ini dilakukan pembuatan lor="#FF0000">minyak lor="#FF0000">kelapa dengan cara pancingan lor="#FF0000">dan fermentasi. Tujuan penelitian ini adalah untuk menentukan lor="#FF0000">lor="#FF0000">sifat lor="#FF0000">fisika lor="#FF0000">dan lor="#FF0000">lor="#FF0000">sifat lor="#FF0000">kimia lor="#FF0000">minyak lor="#FF0000">kelapa hasil olahan melalui proses pancingan lor="#FF0000">dan cara fermentasi dengan ragi tempe serta membandingkan lor="#FF0000">lor="#FF0000">sifat lor="#FF0000">fisika lor="#FF0000">dan lor="#FF0000">lor="#FF0000">sifat lor="#FF0000">kimia lor="#FF0000">minyak lor="#FF0000">kelapa yang diperoleh melalui dua cara tersebut. Pembuatan lor="#FF0000">minyak lor="#FF0000">kelapa diawali dengan pembuatan santan. Pada penelitian ini, baik melalui cars pancingan maupun fermentasi digunakan berat parutan buah lor="#FF0000">kelapa yang sama yaitu 1500 gram parutan buah lor="#FF0000">kelapa. Parutan buah lor="#FF0000">kelapa ini kemudian ditambah dengan air untuk pembuatan santan. Pada proses pancingan lor="#FF0000">minyak lor="#FF0000">kelapa dihasilkan dengan cars mencampur kepala santan lor="#FF0000">dan lor="#FF0000">minyak umpan dengan lor="#FF0000">perbandingan 3:1 (v/v) lor="#FF0000">dan didiamkan selama 6-7 jam hingga muncuI tiga lapisan dengan lapisan lor="#FF0000">minyak berada pada lapisan paling atas. lor="#FF0000">Minyak umpan yang digunakan berasal dari lor="#FF0000">minyak lor="#FF0000">kelapa yang dihasilkan dari cara pemanasan pada suhu 100-110°C. Dengan alor="#FF0000">danya panas dalam pembuatan lor="#FF0000">minyak umpan mengakibatkan terdenaturasinya protein serta lor="#FF0000">minyak berwarna kuning karena teroksidasi. Agar lor="#FF0000">lor="#FF0000">sifat lor="#FF0000">minyak umpan dapat hilang maka proses memancing lor="#FF0000">minyak dengan lor="#FF0000">minyak umpan dilakukan beberapa kali yaitu 3 kali hingga didapatkan lor="#FF0000">minyak akhir hasil proses pancingan. Untuk optimalisasi aktivitas kerjanya, maka terhadap (Rhizopus sp.) tersebut perlu dilakukan proses adaptasi terhadap substrat baru tempat tumbuhnya yaitu melalui media air bibit lor="#FF0000">kelapa yang dibuat dari campuran anak santan lor="#FF0000">dan air lor="#FF0000">kelapa dengan lor="#FF0000">perbandingan 9:1 (v/v). Untuk selanjutnya ditambahkan ke dalam kepala santan dengan lor="#FF0000">perbandingan kepala santan lor="#FF0000">dan media air bibit 3:1 (v/v). Campuran ini didipmkan selama 24 jam lor="#FF0000">dan akan muncul tiga lapisan dengan lapisan paling atas adalah lapisan lor="#FF0000">minyak. lor="#FF0000">Minyak yang dihasilkan disaring lor="#FF0000">dan dipanaskan 10-15 merit pada suhu 80°C untuk mematikan mikroba. lor="#FF0000">Minyak yang dihasilkan kemudian dihitung berdasarkan proses lor="#FF0000">minyak yang dihasilkan dengan berat parutan lor="#FF0000">kelapa serta ditentukan berat jenis lor="#FF0000">minyak ter. sebut. Selain itu dilakukan penentuan lor="#FF0000">lor="#FF0000">sifat lor="#FF0000">fisika lor="#FF0000">dan lor="#FF0000">lor="#FF0000">sifat lor="#FF0000">kimia yang mengacu pada Standar Nasional Indonesia meliputi: kadar air, kotoran, bilangan iod, bilangan penyabunan, bilangan peroksida, asam lemak bebas lor="#FF0000">dan lor="#FF0000">minyak pelikan. Dilakukan analisa kandungan asam laurat pada lor="#FF0000">minyak lor="#FF0000">kelapa dengan menggunakan instrumen kromatograf gas. Agar dapat ditentukan kadar asam larutan dalam lor="#FF0000">minyak lor="#FF0000">kelapa maka sampel lor="#FF0000">minyak harus diderivatisasi terlebih dahulu menjadi bentuk metil ester yang berlor="#FF0000">lor="#FF0000">sifat mudah menguap. Digunakan pereaksi natrium hidroksida dalam metanol lor="#FF0000">dan larutan BF3 sebagai katalisator untuk mengubah sampel lor="#FF0000">minyak menjadi metil ester. Dilakukan uji statistik dengan uji t dua sampel bebas dengan derajat kepercayaan 95% untuk mengetahui ada tidaknya perbedaan bermakna terhadap lor="#FF0000">lor="#FF0000">sifat lor="#FF0000">fisika lor="#FF0000">dan lor="#FF0000">lor="#FF0000">sifat lor="#FF0000">kimia pads sampel. Dari hasil yang didapat maka dapat disimpulkan bahwa lor="#FF0000">minyak lor="#FF0000">kelapa hasil olahan melalui cara pancingan lor="#FF0000">dan cara fermentasi dengan ragi tempe mempunyai perbedaan bermakna dalam hal prosen lor="#FF0000">minyak yang dihasilkan, kadar air, bilangan peroksida, asam lemak bebas, serta warna lor="#FF0000">minyak yang dihasilkan. Tetapi tidak memiliki perbedaan bermakna dalam hal bilangan iod, kotoran lor="#FF0000">dan bilangan penyabunan. Dari hasil karakterisasi lor="#FF0000">minyak lor="#FF0000">kelapa tersebut, lor="#FF0000">lor="#FF0000">sifat lor="#FF0000">fisika lor="#FF0000">dan lor="#FF0000">lor="#FF0000">sifat lor="#FF0000">kimia lor="#FF0000">minyak lor="#FF0000">kelapa baik melalui cara pancingan lor="#FF0000">dan cara fermentasi keduanya memenuhi syarat SNI. Selor="#FF0000">dangkan pada penentuan kandungan asam laurat diketahui bahwa kandungan asam laurat pada kedua sampel lor="#FF0000">minyak lor="#FF0000">kelapa tidak memiliki perbedaan yang bermakna. Dari kedua cara yang dgunakan dalam pembuatan lor="#FF0000">minyak lor="#FF0000">kelapa, dapat disimpulkan bahwa yang memiliki kualitas lebih baik adalah lor="#FF0000">minyak lor="#FF0000">kelapa yang dihasilkan melalui cara fermentasi dengan ragi tempe.

Item Type: Thesis (Skripsi)
Additional Information: KKB KK_2 FF 44/08 Pus p
Uncontrolled Keywords: COCONUT OIL; FERMENTATION PRODUCTS INDUSTRY
Subjects: R Medicine > R Medicine (General) > R5-130.5 General works
R Medicine > RV Botanic, Thomsonian, and eclectic medicine
Divisions: 05. Fakultas Farmasi
Creators:
CreatorsEmail
RESTU PUSPITASARI, 050312713UNSPECIFIED
Contributors:
ContributionNameEmail
ContributorSUKO HARDJONO, Drs. MS.,Apt.UNSPECIFIED
ContributorPURWANTO, Prof. Dr. H. Apt.UNSPECIFIED
Depositing User: Nn Deby Felnia
Date Deposited: 20 Feb 2009 12:00
Last Modified: 07 Jun 2017 18:35
URI: http://repository.unair.ac.id/id/eprint/10531
Sosial Share:

Actions (login required)

View Item View Item