STUDI PENGGUNAAN OBAT DIURETIKA DAN ANTIBIOTIKA PADA PASIEN SIROSIS HEPATIK DENGAN KOMPLIKASI ASITES :Penelitian Dilakukan Pada Pasien Rawat Inap di Ruang Penyakit Dalam RSSA Malang

UMI FATMAWATI, 050110116E (2006) STUDI PENGGUNAAN OBAT DIURETIKA DAN ANTIBIOTIKA PADA PASIEN SIROSIS HEPATIK DENGAN KOMPLIKASI ASITES :Penelitian Dilakukan Pada Pasien Rawat Inap di Ruang Penyakit Dalam RSSA Malang. Skripsi thesis, UNIVERSITAS AIRLANGGA.

[img]
Preview
Text (ABSTRAK)
gdlhub-gdl-s1-2006-fatmawatiu-1522-ff2706-k.pdf

Download (374kB) | Preview
[img]
Preview
Text (FULLTEXT)
gdlhub-gdl-s1-2006-fatmawatiu-1522-ff2706-1.pdf

Download (1MB) | Preview
Official URL: http://lib.unair.ac.id

Abstract

Sirosis merupakan suatu keadaan irreversibel dari susunan liver normal yang dikarakteristik karena kerusakan liver, fibrosis dari komponen-komponen matrik ekstraseluler dan konversi dan susunan liver normal kedalam struktur nodul yang abnormal sehingga menyebabkan regenerasi nodular. Didunia rata-rata kematian akibat sirosis sekitar 15-40% per 100.000 populasi pertahunnya. Lebih kurang 50% pasien sirosis dapat berkembang menjadi asites setelah 2 tahun didiagnosa sirosis. Komplikasi dari sirosis hepatik┬Časites cukup banyak sehingga membutuhkan terapi yang komplek, oleh karena itu perlu dilakukan studi penggunaan obat utamanya diuretika dan antibiotika. Penelitian ini dilakukan pada tanggal 23 Maret sampai dengan 31 Mei tahun 2005 di Rumah Sakit Saiful Anwar Malang di bagian Instalasi Rawat Inap (IRNA I) ruang 22, 24, 25, 27 dan 28 secara prospektif dengan mengikuti perkembangan pasien baik dari segi terapi yang diperoleh maupun perbaikan kondisi pasien dengan melihat rekam medik. Terapi untuk mengatasi asites adalah digunakan diuretika. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jenis diuretika yang paling banyak digunakan adalah spironolakton dan furosemid baik dalam dosis tunggal maupun kombinasi. Dosis spironolakton yang digunakan adalah 50 mg (3,33%), 100 mg (76,67%) dan 200 mg (6,67%) sedangkan untuk furosemid 20 mg (6,67%) dan 40 mg (60%). Rute pemakaian diuretika dilakukan secara intravena spironolakton 23,33% furosemid 60,00% sedangkan rute per oral spironolakton 83,33% furosemid 33,33%. Frekuensi pemberian diuretika dilakukan satu kali sehari pada pagi hari. Untuk asites yang berat dilakukan tindakan parasentesis. Selain itu pasien sirosis hepatik-asites juga mendapat antibiotika baik untuk pencegahan SBP maupun untuk mengatasi kemungkinan adanya infeksi lain. Jenis antibiotika yang digunakan adalah sefotaksim 50%, ampisilin 26,67% siprofloksasin 23,33%. Sefotaksim diberikan pada dosis 1-2 gram dengan frekuasi antara dua sampai tiga kali sehari, ampisilin 500 mg -1 gram empat kali sehari, siprofloksasi 500 mg dengan frekuensi dua kali sehari. Rute pemberian intravena terbanyak adalah sefotaksim (33,33%), per oral siprofloksasin (23,33%) baru rektal metronidazol 10,00%. Rute rektal hanya dilakukan untuk metronidazol untuk mengatasi keluhan mual dan muntah dari pasien Pemantauan respon terapi dilakukan untuk penilaian keberhasilan terapi, monitor penurunan berat badan, lingkar pinggang, fungsi ginjal, keseimbangan elektrolit dan kemungkinan terjadinya efek samping. Dan penelitian ini dapat disarankan sebagai berikut mengingat kompleknya terapi obat yang diterima pasien sirosis hepatik-asites maka pemakaian obat perlu ditingkatkan.

Item Type: Thesis (Skripsi)
Additional Information: KKB KK-2 FF 27/06 Fat s
Uncontrolled Keywords: DRUG UTILIZATION; DIURETICS; ANTIBIOTICS
Subjects: R Medicine > RC Internal medicine
Divisions: 05. Fakultas Farmasi
Creators:
CreatorsEmail
UMI FATMAWATI, 050110116EUNSPECIFIED
Contributors:
ContributionNameEmail
ContributorBAMBANG S.Z., S.Si., M.Chin.Pharm.UNSPECIFIED
ContributorSANTOSO, Dra. Apt.UNSPECIFIED
Depositing User: Nn Deby Felnia
Date Deposited: 28 Jul 2006 12:00
Last Modified: 07 Jun 2017 18:55
URI: http://repository.unair.ac.id/id/eprint/10573
Sosial Share:

Actions (login required)

View Item View Item