UJI ANTIMALARIA IN VIVO EKSTRAK SAMBILOTO TERSTANDAR (PARAMETER KADAR ANDROGRAFOLIDA) PADA MENCIT

DWI KUSUMAWARDHANI, 050012246 (2006) UJI ANTIMALARIA IN VIVO EKSTRAK SAMBILOTO TERSTANDAR (PARAMETER KADAR ANDROGRAFOLIDA) PADA MENCIT. Skripsi thesis, UNIVERSITAS AIRLANGGA.

[img]
Preview
Text (ABSTRAK)
gdlhub-gdl-s1-2006-kusumaward-1527-ff9105-k.pdf

Download (430kB) | Preview
[img]
Preview
Text (FULLTEXT)
gdlhub-gdl-s1-2006-kusumaward-1527-ff9105.pdf

Download (1MB) | Preview
Official URL: http://lib.unair.ac.id

Abstract

Malaria merupakan penyakit infeksi parasit utama di dunia yang mengenai hampir 170 juta orang tiap tahunnya. Penyakit ini juga berjangkit di hampir 103 negara, terutama negara-negara di daerah tropik dan subtropik. Di Indonesia, malaria tergolong penyakit menular yang masih bermasalah. Obat malaria standar yang digunakan di Indonesia untuk semua spesies parasit adalah kiorokuin (Depkes RI,1991) akan tetapi sudah banyak strain dari Plasmodium falciparum dan Plasmodium lain yang resisten terhadap klorokuin di beberapa negara di Asia, Afrika dan America Tengah. Sehingga mendorong para ilmuwan untuk mencari obat malaria baru, salah satunya berasal dari tanaman. Andrographis paniculata Nees. atau yang biasa dikenal dengan nama daerah sambiloto merupakan tanaman obat yang secara empiris digunakan sebagai antimalaria. Penelitian terdahulu menunjukkan bahwa ekstrak tanaman ini mempunyai aktivitas antimalaria dengan cara menghambat pertumbuhan Plasmodium falciparum in vitro (Suyanto, 1995; Widyawaruyanti, dkk, 1995; Rahman et al, 1999). Uji in vivo dari ekstrak sambiloto terhadap Plasmodium berghei pada mencit juga menunjukkan aktivitas antimalaria (Rahman et al, 1999). Sedangkan pada penelitian yang terbaru dilaporkan bahwa isolat andrografolida menghambat 50% pertumbuhan Plasmodium berghei (ED50) secara in vivo sebesar 3,6 mg/kg BB (Widyawaruyanti dkk, 2003). Namun, masih belum ada penelitian lebih lanjut mengenai dosis efektif untuk ekstrak sambiloto terstandar (parameter kadar andrografolida) sebagai antimalaria. Untuk itu, pada penelitian ini dilakukan ekstraksi dari bahan awal simplisia herba sambiloto dengan metode maserasi, kemudian ditentukan kadar andrografolidanya dengan metode KLT-Densitometri. Penetapan kadar dengan metode yang valid dapat menggambarkan kadar senyawa aktif yang sebenarnya. Parameter validasi metode yang dipersyaratkan ialah selektivitas, akurasi, presisi, limit deteksi/kuantitasi dan linieritas. Simplisia herba sambiloto diekstraksi dengan etanol 96%, dipekatkan dan dikeringkan dengan Cab-O-Sil. Pada penetapan kadar, ditimbang sampel 50,0 mg, dilarutkan dan di ad kan sampai 5,0 ml dengan etanol 96% lalu ditotolkan 2111 pada plate. Kemudian dieluasi dengan kloroform-metanol (9:1) dan dipayar dengan densitometer. Setelah kadar andrografolida dalam bulk ekstrak sambiloto diketahui, bahan uji dihitung dosisnya. Pemilihan rentang dosis didasarkan pada hasil orientasi dosis sebelumnya. Dalam penelitian ini dosis yang digunakan adalah 0,0046 ; 0,0463 ; 0,4629 ; 4,6296 ; 23,1482 ; 46,2963 ; 231,4815 ; 462,9629 dan 925,9259 mg ekstrak sambiloto terstandar/kg BB yang setara dengan 0,0005 ; 0,005 ; 0,05 ; 0,5 ; 2,5 ; 5 ; 25 ; 50 dan 100 mg andrografolidalkg BB. Bahan uji diberikan pada mencit dalam bentuk suspensi, yaitu bulk ekstrak sambiloto yang disuspensikan dalam larutan CMC Na 0,5% dan DMSO 2%, setelah itu barn diberikan peroral pada mencit yang cerinfeksi Plasmodium berghei 1-5%. Sebagai kontrol positif digunakan larutan klorokuin difosfat 10 mg/kg BB mencit dan sebagai kontrol negatif digunakan larutan CMC Na 0,5% dan DMSO 2%. Perlakuan diberikan 4 hari berturut-turut, sedangkan parasitemia diamati tiap hari sampai hari ke tujuh (Do-D6). Untuk menentukan % parasitemia dihitung jumlah eritrosit terinfeksi parasit tiap 5000 sel eritrosit. Sedangkan untuk menentukan harga ED50 dibuat analisis probit dari % penghambatan selama 5 hari dengan program SPSS. Adapun hasil penelitian ini menunjukkan bahwa penetapan kadar andrografolida dengan metode KLT-Densitometri adalah valid berdasarkan parameter validasi yang ada, yaitu larutan pengembang yang digunakan adalah kloroform-metanol (9:1), karena dapat memberikan nilai resolusi dengan noda atas 3,50 dan noda bawah 2,73 (> 1,5). Pada penentuan panjang gelombang maksimum didapatkan maks yaitu 233 nm. Linieritas pada X 233 nm yaitu y=2439,5779 x + 2081,2635 dengan harga r = 0,9958 dan harga V.0 = 1,80 %. Nilai LOD dan LOQ untuk 233 nm adalah 1,34 ng/2µl dan 4,05 ng/2pl. Akurasi pada X 233nm dinyatakan dengan % rekoveri yaitu (107,135 ± 2,24)% dan telah memenuhi persyaratan karena masih dalam rentang 90-110%. Kadar andrografolida yang diperoleh dari basil penetapan kadar yaitu (10,82 ± 0,37)%. Sedangkan, dari basil analisis probit didapat harga ED50 dari ekstrak sambiloto terstandar (parameter kadar andrografolida) sebesar 12,22231 mg ekstrak sambiloto terstandar/kg BB yang setara dengan 1,32001 mg senyawa andrografolida/ kg BB. Hasil penelitian ini bila dibandingkan dengan penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa andrografolida dalam ekstrak sambiloto lebih efektif daripada bentuk isolat atau senyawa tunggalnya karena memiliki nilai ED50 3,64899 mg/kg BB (Dina, 2004). Hal ini kemungkinan karena andrografolida bekerja sinergis dengan senyawa lain yang terkandung dalam ekstrak. Dari hasil penelitian juga diketahui bahwa % penghambatan dari kontrol positif klorokin difosfat sampai hari ke empat adalah 100% dan setelah pemberian obat dihentikan klorokuin difosfat masih memberikan penghambatan. Hal ini mungkin disebabkan karena t1/2 dari senyawa ini cukup panjang yaitu 127 jam. Sedangkan ekstrak sambiloto kemungkinan memiliki t1/2 lebih pendek sehingga tidak bisa mempertahankan kadar ekstrak dalam darah untuk membunuh atau mencegah pertumbuhan parasit. Karena itu perlu dilakukan penelitian lebih lanjut terhadap aktivitas antimalaria ekstrak sambiloto terstandar (parameter kadar andrografolida) yang diberikan secara multiple dose. Selain itu, perlu juga dilakukan penelitian mengenai onzet of action dan studi bioavaiabilitas ekstrak sambiloto untuk mengetahui setelah berapa lama ekstrak sambiloto mulai bekerja (beraksi) serta ketersediaan ekstrak sambiloto dalam darah, sehingga dapat diketahui profil ekstrak sambiloto dalam tubuh yang selanjutnya bermanfaat untuk pengembangan formulasi ekstrak sambiloto sebagai bahan obat antimalaria.

Item Type: Thesis (Skripsi)
Additional Information: KKB KK-2 FF 91/05 Kus u
Uncontrolled Keywords: ANTIMALARIALS; ACANTHACEACE
Subjects: R Medicine
R Medicine > R Medicine (General) > R5-130.5 General works
Divisions: 05. Fakultas Farmasi
Creators:
CreatorsEmail
DWI KUSUMAWARDHANI, 050012246UNSPECIFIED
Contributors:
ContributionNameEmail
ContributorATY WIODYAWARUYANTI, Dra., M.Si.UNSPECIFIED
ContributorISHA KUNIAWATI, SSi.,MSi.,Apt.UNSPECIFIED
Depositing User: Nn Deby Felnia
Date Deposited: 28 Jul 2006 12:00
Last Modified: 07 Jun 2017 18:58
URI: http://repository.unair.ac.id/id/eprint/10574
Sosial Share:

Actions (login required)

View Item View Item