STUDI MAKROSKOPIS, MIKROSKOPIS, DAN SKRINING FITOKIMIA DAUN Sauropus androgynus (L.) Merr

Wiwit Ekawati, 050312721 (2009) STUDI MAKROSKOPIS, MIKROSKOPIS, DAN SKRINING FITOKIMIA DAUN Sauropus androgynus (L.) Merr. Skripsi thesis, UNIVERSITAS AIRLANGGA.

[img]
Preview
Text (ABSTRAK)
gdlhub-gdl-s1-2009-ekawatiwiw-8770-ff2708.pdf

Download (232kB) | Preview
[img]
Preview
Text (FULLTEXT)
gdlhub-gdl-s1-2009-ekawatiwiw-8770-ff2708.pdf

Download (1MB) | Preview
Official URL: http://lib.unair.ac.id

Abstract

Sauropus androgynus (L.) Men (katu) merupakan salah satu tanaman suku Euphorbiaceae yang telah banyak dikenal oleh masyarakat. Secara empiris, tanaman ini telah banyak dikonsumsi oleh masyarakat untuk meningkatkan produksi ASI (laktagogum) dengan memakan daunnya sebagai sayuran (lalapan) atau meminum air rebusan daunnya. Selain sebagai pelancar ASI, tanaman ini juga bermanfaat untuk obat demam, peluruh seni pada orang yang menderita sulit buang air kecil, untuk obat bisul, borok ( luka ), dan obat darah kotor, sedangkan sebagai obat luar digunakan untuk mengobati penyakit frambosia. Telah banyak penelitian yang dilakukan dengan tujuan untuk membuktikan efektivitas dan keamanan daun katu dalam meningkatkan produksi serta memperlancar sekresi air susu ibu (ASI). Akan tetapi dari sekian banyak penelitian yang telah dilakukan, belum ada penelitian yang bisa menunjukkan senyawa aktif dalam daun katu yang berperan dalam meningkatkan produksi ASI dan merangsang sekresinya. Oleh sebab itu diperlukan adanya penelitian untuk menemukan senyawa aktif dalam daun katu yang berkhasiat sebagai laktagogum sehingga dapat meningkatkan produksi ASI dan merangsang sekresinya. Sebagai langkah awal untuk menemukan senyawa aktif dalam daun katu tersebut, maka pada penelitian ini akan dilakukan studi morfologi dan anatomi tumbuhan serta skrining fitokimia guna mengetahui golongan kandungan kimia yang terdapat dalam daun katu. Studi anatomi dan morfologi ini juga penting dilakukan terlebih lagi untuk tanaman hasil budidaya, sebab dewasa ini penggunaan tanaman hasil budidaya sebagai bahan baku dalam pembuatan obat semakin meningkat, termasuk penggunaan daun katu sebagai bahan utama dalam pembuatan sediaan laktagogum. Penelitian dilakukan terhadap daun karena bagian yang paling banyak digunakan dalam pengobatan dengan katu adalah bagian daunnya. Penelitian makroskopis untuk mengetahui habitus-morfologi tanaman katu, sedangkan secara mikroskopis pengamatan dilakukan terhadap sayatan melintang daun, sayatan membujur epidermis atas dan bawah daun, serta fragmen serbuk daun. Untuk penelitian skrining fitokimia digunakan ekstrak kental yang diperoleh dengan memaserasi serbuk kering daun katu dengan menggunakan pelarut etanol 80% o untuk memeriksa golongan kandungan alkaloid, glikosida saponin, triterpenoid dan steroid bebas, flavonoid, glikosida antrakuinon, tanin dan senyawa polifenol serta kumarin. Sedangkan untuk pemeriksaan kandungan golongan minyak atsiri, glikosida sianohidrin, dan iridoid digunakan serbuk daun kering. Dari hasil penelitian didapatkan ciri-ciri habitus-morfologi tanaman katu adalah tumbuhan menahun yang berupa perdu, arah tumbuh tegak ke atas, berbunga dan berbuah. Helai daun berbentuk bulat telur ((ovalis). kadang ada yang berbentuk hampir bulat, ujung daun runcing, pangkal daun tumpul, tepi helai daun rata dan permukaan daun licin tidak berbulu. Tulang daun menyirip (penninervis), bagian atas berwarna hijau sampai hijau tua dan bagian bawah berwarna hijau muda. Daunnya merupakan daun tunggal yang menyerupai daun majemuk, tidak lengkap (tidak mempunyai upih daun), tempat duduk daun tersebar (folia sparsa) dan terdapat daun penumpu (stipula tipe intrapetiolaris atau axillaris). Daun katu mempunyai ciri spesifik yaitu, jika sudah tua terdapat bintik-bintik putih yang tersebar di bagian atas helai daun. Dari pemeriksaan anatomi secara mikroskopis didapatkan ciri-ciri daun katu mempunyai stomata tipe anisositik. banyak sekali terdapat kristal Ca-oksalat bentuk roset dan sel berisi tetes minyak, tidak dijumpai adanya trikoma dan terdapat berkas pengangkutan dengan penebalan tangga. Sedangkan dari skrining fitokimia, didapatkan hasil bahwa daun katu mempunyai kandungan golongan alkaloid, flavonoid (golongan flavon, flavonol dan isoflavon), golongan steroid dan terpenoid baik dalam bentuk glikosida saponin ataupun dalam bentuk bebas (aglikonnya), minyak atsiri, senyawa polifenol dan tanin tipe tanin terhidrolisis. Berdasarkan uraian di atas maka perlu dilakukan penelitian lebih lanjut terhadap macam-macam golongan kandungan kimia dari alkaloid, flavonoid, steroid, terpenoid, senyawa polifenol dan tannin yang terdapat dalam daun katu (Sauropus androgynus (L.) Merr), sehingga dapat diketahui aktivitas farmakologi yang lain dari daun katu selain sebagai tanaman pelancar ASI (laktagogum).

Item Type: Thesis (Skripsi)
Additional Information: KKB KK_2 FF 27 08 Eka s
Uncontrolled Keywords: BOTANICAL CHEMISTRY
Subjects: R Medicine
R Medicine > RS Pharmacy and materia medica > RS1-441 Pharmacy and materia medica
Divisions: 05. Fakultas Farmasi
Creators:
CreatorsEmail
Wiwit Ekawati, 050312721UNSPECIFIED
Contributors:
ContributionNameEmail
ContributorMANGESTU AGIL, Dr. Apt., MS.UNSPECIFIED
ContributorBAMBANG PRAJOGO, Dr. E.W. Apt. MS.UNSPECIFIED
Depositing User: Nn Deby Felnia
Date Deposited: 03 Feb 2009 12:00
Last Modified: 08 Jun 2017 20:03
URI: http://repository.unair.ac.id/id/eprint/10690
Sosial Share:

Actions (login required)

View Item View Item