UJI AKTIVITAS IN VITRO LEVOFLOKSASIN TERHADAP ISOLAT Staphylococcus aureus dan Pseudomonas aeruginosa RESISTEN MULTIOBAT di RSU Dr. SOETOMO SURABAYA : isolat dart pasien infeksi kulit dan infeksi saluran kemih

Lisa Nathalie, 050212490 (2006) UJI AKTIVITAS IN VITRO LEVOFLOKSASIN TERHADAP ISOLAT Staphylococcus aureus dan Pseudomonas aeruginosa RESISTEN MULTIOBAT di RSU Dr. SOETOMO SURABAYA : isolat dart pasien infeksi kulit dan infeksi saluran kemih. Skripsi thesis, UNIVERSITAS AIRLANGGA.

[img]
Preview
Text (ABSTRAK)
gdlhub-gdl-s1-2007-nathalieli-4381-ff40_07-k.pdf

Download (381kB) | Preview
[img]
Preview
Text (FULLTEXT)
gdlhub-gdl-s1-2007-nathalieli-4381-ff40_07.pdf

Download (1MB) | Preview
Official URL: http://lib.unair.ac.id

Abstract

Staphylococcus aureus dan Pseudomonas aeruginosa merupakan patogen terpenting dan berbahaya di antara marga Staphylococcus dan Pseudomonas. Keduanya sering resisten terhadap berbagai jenis obat, sehingga mempersulit pemilihan antimikroba yang sesuai untuk terapi. Resistensi terhadap beberapa antimikroba umumnya terjadi di rumah sakit, tempat yang paling banyak menggunakan antimikroba. Hasil uji kepekaan terhadap antimikroba yang digunakan di RSU Dr. Soetomo Surabaya (RSUDSS) selama bulan Agustus 2005 sampai dengan Februari 2006 menunjukkan bahwa sebesar 74,1% isolat Staphylococcus aureus mengalami resistensi multiobat (n = 85) dan sebanyak 95,9% isolat Pseudomonas aeruginosa mengalami resistensi multiobat (n = 222). Dalam hal ini, resistensi multiobat (naultidrug resistance) didefinisikan sebagai resistensi terhadap dua atau lebih jenis antimikroba yang berbeda. Penggunaan fluorokuinolon dalam klinik semakin meningkat dan banyak diresepkan di dunia, salah satunya adalah Ievofloksasin. Hasil uji kepekaan levofloksasin terhadap isolat Staphylococcus aureus dan Pseudomonas aeruginosa dari pasien dengan infeksi kulit dan infeksi saluran kemih di RSUDSS selama bulan Agustus 2005 sampai dengan Februari 2006 menunjukkan bahwa 1,56% (n = 64) isolat Staphylococcus aureus dan 42,76% isolat Pseudomonas aeruginosa (n = 145) resisten terhadap levofloksasin. Dalam penelitian ini akan dilakukan uji aktivitas, yaitu penentuan kadar hambat minimum (KHM) dan kadar bunuh minimum (KBM) levofloksasin terhadap isolat Staphylococcus aureus dan Pseudomonas aeruginosa resisten multiobat dari pasien infeksi kulit dan infeksi saluran kemih di RSUDSS untuk mengetahui efektivitas levofloksasin sebagai bakteriiostatik dan kemampuan bakterisidalnya terhadap isolat Staphylococcus aureus dan Pseudomonas aeruginosa resisten multiobat dari pasien infeksi kulit dan infeksi saluran kemih di RSUDSS. Data resistensi isolat terhadap antimikroba dapat dilihat pada Tabel V.l dan Tabel V.2. Atas dasar pertimbangan spektrum levofloksasin yang luas dan mempunyai mekanisme kerja berbeda dengan jenis antimikroba lain yang telah resisten, maka diperkirakan levofloksasin tetap efektif untuk infeksi kulit dan infeksi saluran kemih oleh Staphylococcus aureus dan Pseudomonas aeruginosa resisten multiobat. Penentuan KHM dilakukan dengan metode standar CLSI (CLSI,2006), sedangkan untuk mengetahui kemampuan bakterisidal levofloksasin dilakukan penentuan KBM dengan metode lanjutan setelah penentuan KHM. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa levofloksasin efektif sebagai bakteriostatik dan tetap bakterisidal terhadap Staphylococcus aureus dan Pseudomonas aeruginosa yang mengalami resistensi multiobat dari pasien infeksi kulit dan infeksi saluran kemih dengan KHM (0.3 ± 0,0) - >0,5 µg/mL dan (0,2 + 0,1) - (1,0 ± 0,0) µg/mL terhadap isolat S. aureus dari pus dan air kemih, serta (1,0 ± 0,0) - >8,0 gg/mL dan (0,7 ± 0,3) - (3,0 ± 1,2) gg/mL terhadap isolat P. aeruginosa dari pus dan air kemih. Kadar bunuh minimum levofloksasin terhadap S. aureus dari pus dan air kemih sebesar (0,6 ± 0,0) - >4,0 gg/mL dan (0,3 ± 0,0) - >8,0 gg/mL, sedangkan terhadap P. aeruginosa dari pus dan air kemih sebesar (2,0 ± 0,6) - >8,0 gg/mL dan (3,0 ± 1,2) - >7,0 gg/mL. Penentuan aktivitas levofloksasin dengan mempertimbangkan kondisi pasien atau modifikasi metode dengan kondisi menyerupai kondisi patologis sebenarnya, serta penggunaan isolat dalam jumlah Iebih besar dirasa lebih bermanfaat untuk penyempurnaan penelitian ini.

Item Type: Thesis (Skripsi)
Additional Information: KKB KK-2 FF. 40/07 Nat u
Uncontrolled Keywords: Quinolone, levofloxacin, broth macrodilution, MIC
Subjects: R Medicine > RA Public aspects of medicine > RA1-1270 Public aspects of medicine > RA960-1000.5 Medical centers. Hospitals. Dispensaries. Clinics
R Medicine > RM Therapeutics. Pharmacology > RM300-666 Drugs and their actions
Divisions: 05. Fakultas Farmasi > Kimia Farmasi
Creators:
CreatorsNIM/NIDN
Lisa Nathalie, 050212490UNSPECIFIED
Contributors:
ContributionNameNIDN/NIDK/NUP
ContributorIsnaeni, Dr.,Hj.,MSUNSPECIFIED
ContributorLindawati Alimsardjono, dr.,M.Kes.,Sp.MKUNSPECIFIED
Depositing User: Nn Anisa Septiyo Ningtias
Date Deposited: 25 Apr 2007 12:00
Last Modified: 12 Jun 2017 18:03
URI: http://repository.unair.ac.id/id/eprint/10956
Sosial Share:

Actions (login required)

View Item View Item