STUDI PENGGUNAAN ANTIMIKROBA GOLONGAN FLUOROKUINOLON DI DEPARTEMEN PENYAKIT DALAM RUMKITAL Dr. RAMELAN SURABAYA

Arvitha Kusumaningtyas Primanthari, 050212528 (2006) STUDI PENGGUNAAN ANTIMIKROBA GOLONGAN FLUOROKUINOLON DI DEPARTEMEN PENYAKIT DALAM RUMKITAL Dr. RAMELAN SURABAYA. Skripsi thesis, UNIVERSITAS AIRLANGGA.

[img]
Preview
Text (ABSTRAK)
gdlhub-gdl-s1-2007-primanthar-4499-ff119_0-k.pdf

Download (389kB) | Preview
[img]
Preview
Text (FULLTEXT)
gdlhub-gdl-s1-2007-primanthar-4499-ff119_07.pdf

Download (1MB) | Preview
Official URL: http://lib.unair.ac.id

Abstract

golongan fluorokuinolon. Spektrumnya yang luas, bioavailabilitas yang tinggi serta tersedia dalam bentuk oral dengan efek samping yang dapat ditoleransi menyebabkan antimikroba golongan ini banyak digunakan. Golongan fluorokuinolon bekerja dengan menghambat DNA girase dan topoisomerase IV yang diperlukan dalam proses sintesis DNA bakteri. Mutasi pads kedua enzim ini berakibat resistensi bakteri terhadap antimikroba golongan fluorokuinolon. Penggunaan antimikroba golongan fluorokuinolon yang berlebihan dapat meningkatkan resistensi bakteri terhadap antimikroba tersebut. Hal ini dapat mengurangi kualitas panggunaan antimikroba dan mempersempit alternatif yang dapat dipilih dokter untuk mengobati infeksi yang berat. Studi ini bertujuan untuk mengetahui jenis antimikroba golongan fluorokuinolon yang banyak digunakan, ketepatan indikasi, dosis, durasi dan efektivitas penggunaan antimikroba, serta interaksi yang potensial terjadi sehubungan dengan penggunaan antimikroba golongan fluorokuinolon dengan obat lain. Pengamatan dilakukan secara retrospektif dengan menggunakan data RMK dari Rumkital Dr. Ramelan. Studi dilakukan terhadap 57 pasien yang menerima antimikroba golongan fluorokuinolon saat dirawat pads periode MRS Januari-Februari 2006. Pada departemen ini, antimikroba golongan fluorokuinolon digunakan sebagai terapi untuk berbagai diagnosa penyakit antara lain: DHF dan susp DHF (42,11%), tifoid (7,02%), febris (5,26%), GEA, DM hiperglikemia, susp DHF + febris (masing-masing 3,51%). Jenis yang banyak digunakan adalah siproflokssin (49,1%) diikuti oleh levofloksasin dan gatifloksasin masing-masing dengan persentase 29,83% dan 5,2%. Selain digunakan tunggal, antimikroba dikombinasikan dengan antimikroba lain seperti sefotaksim dan metronidazol. Penggunaan kombinasi ini bertujuan untuk memperluas spektrum sehingga dapat diperoleh khasiat terapi yang optimal. Pada berbagai diagnosa penyakit tersebut dijumpai adanya kekurangsesuaian penggunaan antimikroba. Dari ke 57 pasien hanya 18 orang (31,58%) yang menunjukkan tepat indikasi. Dui 18 orang pasien yang menunjukkan tanda infeksi dipantau suhu badan dan jumlah lekositnya untuk menilai efektivitas penggunaan antimikroba. Ternyata hanya 9 orang (50% dari 18 pasien) yang kondisinya membaik. Lama penggunaan antimikroba golongan fluorokuinolon pada kedua puluh pasien ini berkisar antara 3-5 hari. Dosis antimikroba golongan fluorokuinolon yang digunakan pasien pada umumnya sudah sesuai (500-750 mg untuk sediaan oral, sedangkan durasi penggunaannya secara umum lebih dari 3 hari. Pasien yang menggunakan antimikroba golongan fluorokuinolon selama kurang dari 3 hari sebanyak 6 orang (10,53% dari 57 pasien). Interaksi yang potensial terjadi antara fluorokuinolon – antasid, fluorokuinolon – makanan, dan H2 bloker – antasid.

Item Type: Thesis (Skripsi)
Additional Information: KKB KK-2 FF. 119/07 Pri s
Uncontrolled Keywords: BIOSURFACTANS; ANTI - INFECTIVE AGENTS
Subjects: Q Science > QR Microbiology > QR1-502 Microbiology
R Medicine > RC Internal medicine
Divisions: 05. Fakultas Farmasi
Creators:
CreatorsEmail
Arvitha Kusumaningtyas Primanthari, 050212528UNSPECIFIED
Contributors:
ContributionNameEmail
ContributorSuharjono, Dr.,MSUNSPECIFIED
ContributorWidyati, Dra.,Apt.,M.Clin.PharmUNSPECIFIED
Depositing User: Nn Anisa Septiyo Ningtias
Date Deposited: 02 May 2007 12:00
Last Modified: 12 Jun 2017 18:18
URI: http://repository.unair.ac.id/id/eprint/10965
Sosial Share:

Actions (login required)

View Item View Item