PENGARUH SIMULTAN Cd2+, Cu2+ dan Zn2+ PADA BERBAGAI KONSENTRASI TERHADAP PERTUMBUHAN DAN PEMBENTUKAN FITOSTEROID PADA KULTUR PUCUK Solanum laciniatum Ait. (SL-B)

FARIZ ABRAHAM, 050212506 (2006) PENGARUH SIMULTAN Cd2+, Cu2+ dan Zn2+ PADA BERBAGAI KONSENTRASI TERHADAP PERTUMBUHAN DAN PEMBENTUKAN FITOSTEROID PADA KULTUR PUCUK Solanum laciniatum Ait. (SL-B). Skripsi thesis, UNIVERSITAS AIRLANGGA.

[img]
Preview
Text (ABSTRAK)
gdlhub-gdl-s1-2007-abrahamfar-5638-ff161_0-k.pdf

Download (435kB) | Preview
[img]
Preview
Text (FULL TEXT)
gdlhub-gdl-s1-2007-abrahamfar-5638-ff161_07.pdf

Download (2MB) | Preview
Official URL: http://lib.unair.ac.id

Abstract

Tanaman merupakan penghasil metabolit sekunder yang banyak digunakan dalam bidang farmasi . Salah satu satu metabolit sekunder yang banyak digunakan adalah senyawa steroid (solasodin) dan Solarium laciniatum Ait. (SL-B) merupakan salah satu penghasil senyawa tersebut. Sesuai dengan perkembangan bioteknologi sel tanaman, maka produksi senyawa alami berupa metabolit sekunder dapat dilakukan secara in vitro dengan teknik kultur jaringan tanaman. Pembentukan metabolit sekunder pada kultur jaringan tanaman dipengaruhi faktor internal eksternal. Upaya memperoleh metabolit sekunder yang cukup besar dapat dilakukan dengan optimasi faktor eksternal, salah satunya dengan penambahan elisitor tertentu. Dari hasil penelitian yang telah dilakukan menunjukkan bahwa ion logam merupakan elisitor abiotik yang potensial. Penelitian terdahulu telah menunjukan bahwa pemakaian masing- masing ion logam Cu2+, Cd2+ dan Zn2+ ternyata mampu menstimulasi pembentukan solasodin pada kultur pucuk Solanum laciniatum Ait. (SL-B). Dalam penelitian iii digunakan ion logam Cue+, Cd2+ dan Zn2+ secara simultan sebagai elisitor abiotik dan respon yang diamati meliputi pengamatan makroskopis, kandungan solasodin, indeks pertumbuhan (IP), perubahan pH media setelah pengamatan, % Brix media setelah pengamatan dan akumulasi Cue+, Cd2+ dan Zn2' dalam biomassa. Kultur pucuk Solarium laciniatum Ait. (SL-B) ditanam pada media Murashinge dan Skoog yang telah dimodifikasi dengan penambahan benzyladenin 4 mg/L (media BA4) dan diperbanyak dengan cara subkultur yaitu kultur pucuk dari botol kultur dipindahkan ke beberapa media baru secara aseptis. Media perlakuan dibuat dengan penambahan berbagai kadar Cu2+, Cd2+ dan Zn2+ yaitu media A (Cu = 0,006 ppm, Cd = 0 ppm dan Zn = 80 ppm), media B (Cu = 20 ppm, Cd = 0 ppm, Zn = 2 ppm), media C ( Cu = 0,006 ppm, Cd = 20 ppm, Zn = 2 ppm), media D (Cu = 20 ppm, Cd = 20 ppm, Zn = 80 ppm) dan media E (Cu = 10,003 ppm, Cd = 10 ppm, Zn = 41 ppm). Kultur pucuk ditanam pada media perlakuan 1,5 – 2 g tiap botol, diinkubasi dalam ruang bersuhu 25°C selama 4 minggu kemudian dipanen dengan cara mengeluarkan kultur pucuk dari botol, dibersihkan dari media dan dikeringkan di bawah lampu dengan suhu 40°C selama 2 minggu. Dilakukan pengamatan indeks pertumbuhan, pengukuran pH dan kadar gula (% Brix). Dari hasil pengamatan didapatkan hasil indeks pertumbuhan pada media dengan urutan paling tinggi ke paling rendah, yaitu; media A sebesar 2,11, media media C sebesar 1,31, media E sebesar 1,30, media B sebesar 1,27 dan media D sebesar 0,95. pH media mengalami penurunan, pada media A pH media sebesar 4,23 (turun 8,25 % dari nilai pH mula-mula), media B pH sebesar 4,64 (turun sebesar 36,39 % dari nilai pH mula-mula), media C pH sebesar 4,72 (turun sebesar 2,07 %dari pH mula-mula), media D pH sebesar 4,76 (turun sebesar 11,85 %) dan media E pH media sebesar 4,50 (turun sebesar 8,72% dari pH mula-mula). % Brix menunjukkan pemakaian gula media terbesar terjadi pada media A (sebesar 34,51 %) dan diikuti oleh media C sebesar (sebesar 26,94 %), media E (sebesar 25,7 %) media D (sebesar 15,3 %) dan terakir oleh media B (sebesar 13,13 %). Kultur pucuk yang telah kering diserbuk halus dan di homogenkan, kemudian ditetapkan susut pengeringannya dan diekstraksi. Ekstraksi dilakukan dengan menimbang secara teliti 300,0 mg serbuk kering, kemudian ditambah 5 mL kloroform, diultrasonik selama 10 menit, divortex selama 10 menit, diulangi sebanyak tiga kali. Filtrat dikumpulkan dan divapkan (fraksi kloroform). Residu dihidrolisa dengan 7,5 mL HC1 2 N dalam metanol pada suhu 70 – 75°C selama 2 jam pada waterbath untuk mencegah ikatan aglikon (solasodin) dengan gula. Setelah dingin, dibasakan dengan NaOH 10 N sampai pH 10, lalu diekstraksi dengan 5 mL kloroform menggunakan vortex selama 10 menit, diulangi tiga kali dengan cara yang sama. Fase kloroform dikumpulkan dan divapkan (fraksi hidrolisat). Ekstrak kering dilarutkan dengan kloroform kemudian dianalisa kualitatif dan kuantitatif dengan KLT-Densitometri. Analisis kualitatif dan kuantitatif solasodin dilakukan dengan menotolkan fraksi hidrolisat dan standar solasodin pada fase diam kiesel gel 60 F-254, dieluasi dengan fase gerak kloroform : metanol (9 : 1), menggunakan penampak noda anisaldehid sulfat kemudian dibandingkan warna noda dan harga Rf sampel dengan standar, ditentukan kadar solasodin dan diukur serapan pada panjang gelombang 590 nm. Dari hasil analisa kualitatif solasodin di dapatkan warna noda yang sama dan harga Rf standar 0,38 sedangkan Rf sampel adalah 0,43, 0,40, 0.36, 0.38, 0.40, 0.37 dan 0,35. Analisa kualitatif juga dilakukan dengan cara membandingkan spektrum sampel dan standart, spektrum yang dihasilkan sampel ternyata identik dengan spektrum standar solasodin. Pada analisa kuantitatif, didapatkan hasil kadar solasodin pada media B sebesar 378,4 μg/g BK paling tinggi dibandingkan kadar solasodin pada media lain. Pada media A kadar solasodin 180,2 μg/g BK paling rendah dibandingkan media yang lain. Pada pengamatan akumulasi Cu2+, Cd2+ dan Zn2+ dalam biomassa didapatkan peningkatan akumulasi Cue+ pada media D sebesar 1087,2 μg/g BK, peningkatan akumulasi Cd2+ pada media C sebesar 1043,8 µg/g BK dan peningkatan akumulasi Zn2+pada media A sebesar 1878,2 µg/g BK

Item Type: Thesis (Skripsi)
Additional Information: KKB KK-2 FF 161/07 Abr p
Uncontrolled Keywords: Copper ions, cadmium ion, zinc ion, heavy metals accumulation, solasodine, Solanum laciniatum Ait.
Subjects: Q Science > QD Chemistry > QD1-999 Chemistry
Q Science > QK Botany
R Medicine > RS Pharmacy and materia medica
Divisions: 05. Fakultas Farmasi
Creators:
CreatorsEmail
FARIZ ABRAHAM, 050212506UNSPECIFIED
Contributors:
ContributionNameEmail
ContributorGunawan Indrayanto, Prof.,Dr.,AptUNSPECIFIED
ContributorSugijanto Kertosentono, Prof.,AptUNSPECIFIED
Depositing User: Nn Anisa Septiyo Ningtias
Date Deposited: 14 Dec 2007 12:00
Last Modified: 12 Aug 2016 01:12
URI: http://repository.unair.ac.id/id/eprint/10971
Sosial Share:

Actions (login required)

View Item View Item