KEDUDUKAN JANDA TERHADAP HARTA PENINGGALAN SUAMINYA ALMARHUM MENURUT HUKUM ADAT DI SIDOARJO

RETNO YULI ARYANTl, 038512118 (1989) KEDUDUKAN JANDA TERHADAP HARTA PENINGGALAN SUAMINYA ALMARHUM MENURUT HUKUM ADAT DI SIDOARJO. Skripsi thesis, UNIVERSITAS AIRLANGGA.

[img]
Preview
Text (FULLTEXT)
RETNO YULI ARYANTl.pdf

Download (1MB) | Preview
Official URL: http://lib.unair.ac.id

Abstract

Dari beberapa alasan perceraian, alasan yang paling penting dipergunakan adalah karena salah satu pihak berzina dan pertengkaran yang terjadi secara terus menerus tanpa dapat didamaikan, sehingga rumah tangga mereka tidak mungkin dapat dipertahankan lagi. Dalam garis besarnya "harta benda perkawinan" dapat digolongkan menjadi dua, yaitu harta gawan dan harta bersama. Dengan adanya perceraian antara suami isteri tersebut, maka harta yang dapat dibagi hanyalah harta bersama dan masing-masing (suami isteri) mendapat separo, sedang terhadap harta gawan kembali kepada pihak yang membawa kedalam perkawinan tersebut. Hukum waris adat telah banyak mengalami perubahan tentang kedudukan janda yang semula bukan merupakan ahli waris dari harta almarhum suaminya, tetapi setelah adanya Keputusan Mahkamah Agung No.ll0k /Sip /1960, janda merupakan ahli waris, meskipun demikian kedudukan janda dalam mewaris adalah tergantung pada Hukum Adat yang berlaku dibeberapa daerah di Indonesia. Dalam masyarakat adat Sidoarjo yang sistem kekeluargaannya berhukum ibu bapak, janda diakui sebagai ahli waris dari almarhum suaminya, dalam arti ia berhak mewaris harta gono-gini dan menikmati harta gawan suaminya bilamana harta gonogininya tak cukup untuk kebutuhan hidupnya sampai ia meninggal dunia atau kawin lagi. Ketentuan ini berlaku bagi janda tanpa anak. Sedangkan terhadap harta asal suaminya almarhum, bahwa kedudukan janda yang mempunyai anak akan berbeda dengan kedudukan janda tanpa anak. Janda yang mempunyai anak dapat menguasai harta asal suaminya beserta gono-gininya, karena harta ini dikelak kemudian hari akan diwaris oleh anak-anaknya. Sedangkan janda tanpa anak tidak dapat menguasai harta asal suaminya, karena harta ini harus dikembalikan kepada keluarga suami. Jadi, dengan demikian harta asal kembali keasal dapat disimpangi kalau dalam perkawinan tersebut dilahirkan anak.

Item Type: Thesis (Skripsi)
Additional Information: KKB KK - 2 Per 1382/89 Ary k
Uncontrolled Keywords: INHERITANCE AND SUCCESSION (ISLAMIC LAW)
Subjects: K Law > KB Religious law in general > KB1-4855 Religious law in general. Comparative religious law. Jurisprudence > KB400-4855 Interdisciplinary discussion of subjects > KB632-636.2 Inheritance and succession
Divisions: 03. Fakultas Hukum
Creators:
CreatorsEmail
RETNO YULI ARYANTl, 038512118UNSPECIFIED
Contributors:
ContributionNameEmail
ContributorNgakan Putu Muderana, S.H.UNSPECIFIED
Depositing User: Tatik Poedjijarti
Date Deposited: 09 Jul 2013 12:00
Last Modified: 04 Aug 2016 08:41
URI: http://repository.unair.ac.id/id/eprint/13550
Sosial Share:

Actions (login required)

View Item View Item