Pengaruh Kausalitas Tingkat Fertilitas Total (TFR) Penduduk terhadap Tingkat Demokrasi : Tinjauan Demokrasi Gelombang ke-4 (1991-2000)

Fendy Eko Wahyudi (2009) Pengaruh Kausalitas Tingkat Fertilitas Total (TFR) Penduduk terhadap Tingkat Demokrasi : Tinjauan Demokrasi Gelombang ke-4 (1991-2000). Skripsi thesis, UNIVERSITAS AIRLANGGA.

[img]
Preview
Text (ABSTRAK)
gdlhub-gdl-s1-2009-wahyudifen-10277-fishi1-9.pdf

Download (14kB) | Preview
[img] Text (FULLTEXT)
gdlhub-gdl-s1-2009-wahyudifen-9771-fishi1-9.pdf
Restricted to Registered users only

Download (943kB) | Request a copy
Official URL: http://lib.unair.ac.id

Abstract

Sejumlah pembahasan diatas mulai dari analisis data statistik hingga analisis sejumlah contoh negara sampel telah menjawab pertanyaan utama dalam tulisan ini, yakni sejauh mana bentuk pengaruh faktor demografi dalam hal ini tingkat fertilitas terhadap pelaksanaan demokrasi dalam suatu negara. Sejumlah kesimpulan dapat dirumuskan dalam penelitian ini. Pertama, faktor demografi dalam hal ini TFR memiliki bentuk korelasi dengan demokrasi. Korelasi yang terjadi antara TFR dengan demokrasi adalah korelasi negatif atau berbanding terbalik. Tidak hanya itu teryata TFR juga mampu menjadi salah satu faktor penentu pelaksanaan demokrasi suatu negara. Dengan kata lain TFR juga memiliki hubungan kausalitas dengan tingkat demokrasi. Dengan kata lain semakin tinggi TFR sebuah negara maka cenderung negara tersebut memiliki tingkat demokrasi yang lebih rendah ketimbang negara dengan TFR yang lebih rendah. Kedua, variabel tingkat pendpatan negara yang difungsikan sebagai variabel kontrol dalam tulisan ini ternyata justru berperan sebagai variabel pengganggu dalam kaitan hubungan kausalitas antara tingkat fertilitas dengan tingkat demokrasi. Oleh karena itu terdapat hubungan yang nyata antara variabel tingkat fertilitas penduduk dengan variabel tingkat demokrasi. Dapat disimpulkan bahwa negara dengan TFR yang rendah cenderung lebih demokratis ketimbang negara dengan TFR yang tinggi. Hasil temuan ini menarik digunakan sebagai pijakan untuk membaca fenomena internasional yang ada. Hal ini disebabkan fenomena global menurunnya tingkat fertilitas dunia dan persebaran demokrasi. Oleh karenanya penelitian in dapat digunakan sebagai prediksi dimana lagi kemungkinan besar demokrasi akan muncul, dan dimana kemungkinan demokrasi akan tumbuh atau bahkan hancur. Selain itu fenomena pengadopsian demokrasi yang kini hampir diterapkan diseluruh dunia nampaknya perlu memperhatikan prakondisi-prakondisi penerapan demokrasi yang stabil. Penelitian ini mengungkap tingkat fertilitas total penduduk sebagai salah satu prakondisi demokrasi. Pemaksaan penerapan demokrasi baik oleh aktor dalam negeri maupun luar negeri dalam sebuah tatanan masyarakat yang belum memiliki prakondisi demorasi perlu ditinjau kembali karena cenderung menghasilkan demokrasi yang tidak stabil serta pelaksanaan demokrasi yang rendah. Implikasinya justru kekacauan yang terjadi dalam negara tersebut. Imperialisme demokrasi di Iraq hingga apa yang terjadi di Indonesia misalnya dapat menjadi sebuah contoh dimana demokratisasi tidak berjalan sebagaimana mestinya. Di Indonesia diterapkannya demokrasi yang tercermin pada berbagai pemilihan umum yang digelar baik ditingkat nasional maupun daerah tidak jarang menimbulkan konflik horisontal. Hal ini bisa jadi disebabkan Indonesia belum memenuhi prokondisi demokrasi. Hingga saat ini Indonesia dan Iraq termasuk negara dengan TFR yang tinggi, yakni 2,4 untuk Indonesia dan 4,9 untuk Iraq. Sehingga kompatibilitas Indonesia dan Iraq dengan demokrasi masih perlu ditinjau kembali. Sudah saatnya pemerhatian faktor demografi perlu ditingkatakn oleh akademisi ilmu politik dan juga HI. Demografi semestinya menjadi salah satu kajian penting dalam disiplin ilmu HI dan Politik. Proses demokratisasi di Iraq yang ternyata justru menimbulkan sejumlah permaslahan besar tidak lepas dari minimnya kajian demografi terkait krisis Iraq. Oleh karenanya kedepan kajian seputar demografi seharusnya mendapat porsi lebih bagi kalangan akademisi politik utamanya ilmuan HI. Sejumlah pembahasan diatas mulai dari analisis data statistik hingga analisis sejumlah contoh negara sampel telah menjawab pertanyaan utama dalam tulisan ini, yakni sejauh mana bentuk pengaruh faktor demografi dalam hal ini tingkat fertilitas terhadap pelaksanaan demokrasi dalam suatu negara. Sejumlah kesimpulan dapat dirumuskan dalam penelitian ini. Pertama, faktor demografi dalam hal ini TFR memiliki bentuk korelasi dengan demokrasi. Korelasi yang terjadi antara TFR dengan demokrasi adalah korelasi negatif atau berbanding terbalik. Tidak hanya itu teryata TFR juga mampu menjadi salah satu faktor penentu pelaksanaan demokrasi suatu negara. Dengan kata lain TFR juga memiliki hubungan kausalitas dengan tingkat demokrasi. Dengan kata lain semakin tinggi TFR sebuah negara maka cenderung negara tersebut memiliki tingkat demokrasi yang lebih rendah ketimbang negara dengan TFR yang lebih rendah. Kedua, variabel tingkat pendpatan negara yang difungsikan sebagai variabel kontrol dalam tulisan ini ternyata justru berperan sebagai variabel pengganggu dalam kaitan hubungan kausalitas antara tingkat fertilitas dengan tingkat demokrasi. Oleh karena itu terdapat hubungan yang nyata antara variabel tingkat fertilitas penduduk dengan variabel tingkat demokrasi. Dapat disimpulkan bahwa negara dengan TFR yang rendah cenderung lebih demokratis ketimbang negara dengan TFR yang tinggi. Hasil temuan ini menarik digunakan sebagai pijakan untuk membaca fenomena internasional yang ada. Hal ini disebabkan fenomena global menurunnya tingkat fertilitas dunia dan persebaran demokrasi. Oleh karenanya penelitian in dapat digunakan sebagai prediksi dimana lagi kemungkinan besar demokrasi akan muncul, dan dimana kemungkinan demokrasi akan tumbuh atau bahkan hancur. Selain itu fenomena pengadopsian demokrasi yang kini hampir diterapkan diseluruh dunia nampaknya perlu memperhatikan prakondisi-prakondisi penerapan demokrasi yang stabil. Penelitian ini mengungkap tingkat fertilitas total penduduk sebagai salah satu prakondisi demokrasi. Pemaksaan penerapan demokrasi baik oleh aktor dalam negeri maupun luar negeri dalam sebuah tatanan masyarakat yang belum memiliki prakondisi demorasi perlu ditinjau kembali karena cenderung menghasilkan demokrasi yang tidak stabil serta pelaksanaan demokrasi yang rendah. Implikasinya justru kekacauan yang terjadi dalam negara tersebut. Imperialisme demokrasi di Iraq hingga apa yang terjadi di Indonesia misalnya dapat menjadi sebuah contoh dimana demokratisasi tidak berjalan sebagaimana mestinya. Di Indonesia diterapkannya demokrasi yang tercermin pada berbagai pemilihan umum yang digelar baik ditingkat nasional maupun daerah tidak jarang menimbulkan konflik horisontal. Hal ini bisa jadi disebabkan Indonesia belum memenuhi prokondisi demokrasi. Hingga saat ini Indonesia dan Iraq termasuk negara dengan TFR yang tinggi, yakni 2,4 untuk Indonesia dan 4,9 untuk Iraq. Sehingga kompatibilitas Indonesia dan Iraq dengan demokrasi masih perlu ditinjau kembali. Sudah saatnya pemerhatian faktor demografi perlu ditingkatakn oleh akademisi ilmu politik dan juga HI. Demografi semestinya menjadi salah satu kajian penting dalam disiplin ilmu HI dan Politik. Proses demokratisasi di Iraq yang ternyata justru menimbulkan sejumlah permaslahan besar tidak lepas dari minimnya kajian demografi terkait krisis Iraq. Oleh karenanya kedepan kajian seputar demografi seharusnya mendapat porsi lebih bagi kalangan akademisi politik utamanya ilmuan HI.

Item Type: Thesis (Skripsi)
Additional Information: Fis HI 17-09
Uncontrolled Keywords: FERTILITY
Subjects: J Political Science > JZ International relations
Divisions: 07. Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik > Hubungan Internasional
Creators:
CreatorsEmail
Fendy Eko WahyudiUNSPECIFIED
Contributors:
ContributionNameEmail
ContributorJoko Susanto, M.ScUNSPECIFIED
Depositing User: Nn Shela Erlangga Putri
Date Deposited: 10 Jun 2009 12:00
Last Modified: 19 Jul 2019 01:26
URI: http://repository.unair.ac.id/id/eprint/14723
Sosial Share:

Actions (login required)

View Item View Item