WARIA, PEKERJA SEKS KOMERSIAL WARIA DAN AGAMA: Studi Kasus Waria di Jalan Slamet Surabaya

DENI WICAKSONO, 070016222 (2007) WARIA, PEKERJA SEKS KOMERSIAL WARIA DAN AGAMA: Studi Kasus Waria di Jalan Slamet Surabaya. Skripsi thesis, UNIVERSITAS AIRLANGGA.

[img]
Preview
Text (ABSTRACT)
gdlhub-gdl-s1-2008-wicaksonod-9306-fisant-k.pdf

Download (357kB) | Preview
[img] Text (FULLTEXT)
gdlhub-gdl-s1-2009-wicaksonod-9035-fisant-8.pdf
Restricted to Registered users only

Download (1MB) | Request a copy
Official URL: http://lib.unair.ac.id

Abstract

Seperti kita ketahui bahwa dalam kehidupan bermasyarakat umum ada dua jenis manusia menurut jenis kelamin yaitu laki-laki dan perempuan. Tetapi kita tidak bisa menutup mata bahwa kenyataan yang terjadi di dunia ini ada jenis lain selain laki-laki dan perempuan, jenis yang terlahir sebagai laki¬laki tapi merasa bahwa dirinya perempuan. Kenyataan bahwa ada jenis lain selain laki-laki dan perempuan yang biasa disebut waria, banci, wadam, wandu, bencong, dst tidak bisa dipungkiri. Dalam agama Islam sendiri dengan tegas telah rnengatur bahwa manusia diciptakan berpasang-pasangan yaitu laki-laki dan perempuan. Hanya ada pengecualian bagi Khuntsa yaitu orang yang terlahir dengan dua alat kelamin atau tidak sama sekali. Sedang waria berada pada posisi yang sulit, karena terlahir sebagai laki-laki tetapi berperilaku seperti perempuan. Jadi keberadaannya tidak diakui dalam agama Islam. Bagaimana penulis mencoba melihat waria memaknai agama serta pola religiusitasnya, khususnya waria yang berada di Jalan Slamet Surabaya. Waria yang hidup bersama dalam masyarakat akan berhadapan dengan bagaimana masyarakat memahami kehidupan beragama dalam realita kehidupan bermasyarakat. Antonio Gramsci mengistilahkan sebagai Common sense dimana cara orang awam yang tidak kritis dan tidak sadar dalam memahami dunia. Common sense disini sebagai tempat membangun ideologi, Common sense itu hadir dalam individu atau dalam sebuah organisasi keagamaan. Dalam kehidupan bermasyarakat yang kental dengan budaya yang berkembang didalamnya akan menjadikan tantangan tersendiri bagi kehidupan waria.Menurut Clifford Geertz setiap kebudayaan mengembangkan nalar awamnya untuk memahami sebuah realitas. Sedangkan budaya adalah pabrikan pengertian dengan apa manusia menafsirkan pengalaman dan menuntun tindakan mereka. Kebudayaan adalah pola dari pengertian¬pengertian atau makna yang terjalin secara menyeluruh dalam simbol-simbol yang ditransmisikan secara historis, suatu sistem mengenai konsepsi-konsepsi yang diwariskan dalam bentuk-bentuk simbolik yang dengan cara tersebut manusia berkomunikasi, melestarikan, dan mengembangkan pengetahuan dan sikap rnereka terhadap kehidupan. Bahwa kemudian waria mempunyai pola pandang dan perilaku yang berbeda terhadap agama adalah suatu hal yang mungkin terjadi. Pada kenyaatannya ada fase dimana waria mengalami masa menjalani hidup sebagai waria dan nantinya menemui fase dimana waria akan mengalami penyadaran diri. Selanjutnya adalah bagaimana masyarakat untuk lebih memberikan ruang dan toleransi kepada waria agar pandangan masyarakat terhadap waria bisa lebih obyektif agar bisa terciptanya kehidupan bermasyarakat yang lebih harmonis dalam rangka menjaga toleransi kehidupan bermasyarakat dan beragama.

Item Type: Thesis (Skripsi)
Additional Information: KKB KK-2 Fis Ant 26/08 Wic w
Uncontrolled Keywords: SELF-DISCLOSURE; TRANSSEXUALS
Subjects: H Social Sciences > HQ The family. Marriage. Woman > HQ1-2044 The Family. Marriage. Women > HQ12-449 Sexual life > HQ31-64 Sex instruction and sexual ethics
Divisions: 07. Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik > Antropologi
Creators:
CreatorsNIM/NIDN
DENI WICAKSONO, 070016222UNSPECIFIED
Contributors:
ContributionNameNIDN/NIDK/NUP
ContributorBudi Setiawan, Drs., MAUNSPECIFIED
Depositing User: Nn Dewi Rekno Ulansari
Date Deposited: 09 Feb 2009 12:00
Last Modified: 20 Jun 2017 19:16
URI: http://repository.unair.ac.id/id/eprint/18147
Sosial Share:

Actions (login required)

View Item View Item