HIGH CONTEXT CULTURE DAN LOW CONTEXT CULTURE PADA MANGA NARUTO (SEBUAH ANALISIS ISI)

Ruri Mustikarani, 070417514 (2009) HIGH CONTEXT CULTURE DAN LOW CONTEXT CULTURE PADA MANGA NARUTO (SEBUAH ANALISIS ISI). Skripsi thesis, UNIVERSITAS AIRLANGGA.

[img]
Preview
Text (ABSTRAK)
gdlhub-gdl-s1-2010-mustikaran-14050-fisk17-k.pdf

Download (88kB) | Preview
[img] Text (FULL TEXT)
gdlhub-gdl-s1-2010-mustikaran-11894-fisk17-h.pdf
Restricted to Registered users only

Download (1MB) | Request a copy
Official URL: http://lib.unair.ac.id

Abstract

Komik sebagai media massa memiliki beberapa fungsi salah satunya sebagai alat transmisi budaya. Sebagai media massa, manga NARUTO yang merupakan komik best seller di Indonesia juga memiliki fungsi tersebut. Manga NARUTO adalah komik yang berasal dari negara Jepang, negara dengan high context culture. Meskipun berasal dari negara high context culture, tetapi dalam komik ini juga terdapat low context culture. Meski begitu hanya salah satu budaya yang cenderung menonjol. Oleh sebab itu penelitian ini meneliti high context dan low context culture pada manga NARUTO agar diketahui budaya mana yang lebih menonjol. Landasan teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah komik sebagai salah satu bentuk komunikasi massa, fungsi komik sebagai alat transmisi budaya, dan teori factor-faktor high context dan low context culture. Metode yang digunakan adalah analisis isi kuantitatif dengan tipe penelitian deskriptif. Populasi penelitian adalah seluruh manga NARUTO yaitu sebanyak 27 jilid. Secara keseluruhan cerita manga NARUTO dapat di bagi ke dalam lima tema besar, sebab itu jumlah sampel populasi yang diambil sebanyak 5 jilid manga NARUTO dan pengambilan dilakukan menggunakan systematic random sampling agar mewakili seluruh cerita. Kategorisasi yang digunakan mengacu pada high context dan low context culture dalam Hall’s High-Low Context Cultural factors. Manga NARUTO menampilkan 1946 gambar dan teks yang mengandung high context culture, dengan rincian jumlah implicit sebanyak 1041; menerima 4; kohesi 892; dan fleksibel 9 gambar dan teks. Sedangkan gambar dan teks dalam manga NARUTO yang mengandung low context culture sebanyak 1778 gambar dan teks, dengan rincian jumlah explicit sebesar 1573; tidak menerima 12; tidak kohesi 189; dan terorganisir 4 gambar dan teks. Manga NARUTO lebih cenderung high context culture. Hal yang sama juga ditunjukkan oleh negara Jepang yang menduduki peringkat 22/23 dalam Individualism Rankings for 50 Countries and Three Regions milik Hofstede. Ini membuktikan bahwa manga NARUTO berfungsi sebagai alat transmisi budaya negara Jepang dan sebagai cermin realitas.

Item Type: Thesis (Skripsi)
Additional Information: KKB KK-2 Fis K 17/10 Mus h
Uncontrolled Keywords: budaya, High Context Culture, Low Context Culture, komik/ manga.
Subjects: B Philosophy. Psychology. Religion > BL Religion > BL300-325 The Myth, Comparative Mythology
H Social Sciences > HM Sociology > HM(1)-1281 Sociology > HM621-656 Culture
Divisions: 07. Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik > Komunikasi
Creators:
CreatorsEmail
Ruri Mustikarani, 070417514UNSPECIFIED
Contributors:
ContributionNameEmail
ContributorAndria Saptyasari, S.Sos., MAUNSPECIFIED
Depositing User: Nn Dhani Karolyn Putri
Date Deposited: 01 Dec 2010 12:00
Last Modified: 21 Sep 2016 06:24
URI: http://repository.unair.ac.id/id/eprint/18261
Sosial Share:

Actions (login required)

View Item View Item