Persatuan Agama dan Negara (Studi Pemikiran Politik Mohammad Natsir)

BAGUS PRASTYAWAN GAHAR, 070710401 (2011) Persatuan Agama dan Negara (Studi Pemikiran Politik Mohammad Natsir). Skripsi thesis, UNIVERSITAS AIRLANGGA.

[img]
Preview
Text (ABSTRAK)
gdlhub-gdl-s1-2011-gaharbagus-21928-fisp45-k.pdf

Download (286kB) | Preview
[img] Text (FULLTEXT)
gdlhub-gdl-s1-2012-gaharbagus-18879-fisp45-1.pdf
Restricted to Registered users only

Download (1MB) | Request a copy
Official URL: http://lib.unair.ac.id

Abstract

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh maraknya pemikiran politik -terutama relasi antara agama dan Negara- dari tokoh-tokoh utama yang menjadi figur sentral dalam perdebatan dasar negara Indonesia. Salah satu tokoh penting yang mengungkapkan ide menjadikan Islam sebagai dasar negara adalah Mohammad Natsir. Sosok Natsir kian menarik ditelaah secara detail karena ternyata beliau tidak saja diakui sebagai pahlawan nasional di Indonesia tapi juga di Malaysia. Latarbelakang demikian membuat peneliti tergugah untuk membuat rumusan masalah. Pertama, “Persatuan” Agama & Negara menurut Mohammad Natsir. Kedua, Proses dan faktor-faktor politik yang melatarbelakangi munculnya “Persatuan” Agama & Negara Mohammad Natsir. Ketiga, relevansi dan implikasi gagasan kenegaraan Mohammad Natsir di dalam konteks era reformasi. Setting penelitian ini menggunakan metode kualitatif, dengan studi pustaka sebagai tipe penelitiannya. Tindakan demikian penting untuk menakar secara holistik pemikiran seorang tokoh yang telah meninggal, karena endapan pemikirannya hanya bisa dilacak lewat kepustakaan terpilih. Penelitian ini berhasil melacak pemikiran Natsir dalam pembahasan. Pertama, Islam dan negara berhubungan secara integral, dan saling memerlukan. Kedua, Faktor internal yakni jiwa pembaharuan yang dimiliki Mohammad Natsir dipengaruhi oleh gerakan pembaruan di Sumatera Barat, karya-karya Muhammad Abduh, Rasyid Ridha, Syyid Ahmad Khan, dan Syed Amir Ali. Faktor eksternal adalah perdebatan Mohammad Natsir dengan Soekarno tentang relasi antara agama dan Negara serta interaksi dengan Ahmad Hassan. Ketiga, pemikiran Mohammad Natsir bahwa Islam tidak memberikan suatu struktur tertentu mengenai sebuah sistem ataupun bentuk negara, relevan di era Reformasi. Lebih-lebih, gagasan pentingnya Ijtihad adalah pertanda keluwesan pemikiran Mohammad Natsir.

Item Type: Thesis (Skripsi)
Additional Information: KKB KK FIS. P. 45/11 Gah p
Subjects: B Philosophy. Psychology. Religion > BL Religion > BL630-632.5 Religious Organization
Divisions: 07. Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik
Creators:
CreatorsEmail
BAGUS PRASTYAWAN GAHAR, 070710401UNSPECIFIED
Contributors:
ContributionNameEmail
ContributorSutrisno ,, Drs. MSUNSPECIFIED
Depositing User: Turwulandari
Date Deposited: 01 Feb 2012 12:00
Last Modified: 26 Jul 2016 06:33
URI: http://repository.unair.ac.id/id/eprint/18373
Sosial Share:

Actions (login required)

View Item View Item