PENGARUH PEMBERIAN BAKTERIOSIN YANG DIHASILKAN BAKTERI ASAM LAKTAT Pediococcus pentosaceus SEBAGAI BAHAN CELUP PUTING TERHADAP KEJADIAN MASTITIS SUB KLINIS

MAHDI SELOMASHAR, 060513468 (2009) PENGARUH PEMBERIAN BAKTERIOSIN YANG DIHASILKAN BAKTERI ASAM LAKTAT Pediococcus pentosaceus SEBAGAI BAHAN CELUP PUTING TERHADAP KEJADIAN MASTITIS SUB KLINIS. Skripsi thesis, UNIVERSITAS AIRLANGGA.

[img]
Preview
Text (ABSTRACT)
gdlhub-gdl-s1-2011-selomashar-15915-kh79-10-k.pdf

Download (334kB) | Preview
[img] Text (FULLTEXT)
gdlhub-gdl-s1-2011-selomashar-13316-kh79-10-e.pdf
Restricted to Registered users only

Download (737kB) | Request a copy
Official URL: http://lib.unair.ac.id

Abstract

Salah satu cara pencegahan terjadinya mastitis sub klinis ialah dengan dilakukannya celup puting menggunakan anti bakteri setiap pemerahan selesai. Bakteriosin merupakan anti bakteri alami yang bersifat bakteriosid atau bakteriostatik, bakteriosin mampu menghambat pertumbuhan Staphylococcus aureus, Streptococcus agalactiae dan Escherichia coli yang merupakan bakteri utama penyebab mastitis sub klinis. Penelitian ini bertujuan untuk melihat efektifitas bakteriosin yang dihasilkan Pediococcus pentosaceus sebagai upaya untuk mengurangi kejadian mastitis sub klinis dengan diaplikasikan sebagai bahan celup putting. Sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah 35 susu yang diperoleh dari 10 ekor sapi perah (Frisian holstein). Pada pemeriksaan minggu ke- 0 sebanyak 35 susu yang diperoleh dari tiap-tiap kuartir ambing positif terkena mastitis sub klinis menggunakan uji CMT. Uji CMT digunakan untuk mengetahui tingkat keparahan mastitis sub klinis yang dialami. Hasil diagnosa tersebut juga didukung dengan pemeriksaan mikroskopik menggunakan uji Breed untuk menghitung jumlah sel radang. Pengambilan dan pemeriksaan susu selanjutnya dilakukan pada minggu ke-1 dan minggu ke-2 setelah pemberian bakteriosin yang dihasilkan Pediococcus pentosaceus sebagai bahan celup putting yang dilakukan setiap selesai pemerahan. Data yang diperoleh akan di analisa menggunakan uji peringkat bertanda Wilcoxon dan t test. Hasil analisis data menunjukkan adanya perbedaan yang sangat nyata antara minggu ke-0 terhadap minggu ke-1 dan minggu ke-2. Hal ini disebabkan karena pada pemeriksaan minggu ke-1 terjadi penurunan tingkat keparahan mastitis sub klinis maupun jumlah sel radang, begitu juga pada pemeriksaan minggu ke-2.

Item Type: Thesis (Skripsi)
Additional Information: KKC KK KH 79/10 Sel p
Uncontrolled Keywords: bacteriocin, Pediococcus pentosaceus, sub clinical mastitis
Subjects: Q Science > QR Microbiology > QR75-99.5 Bacteria
S Agriculture > SF Animal culture > SF600-1100 Veterinary medicine > SF910 Other diseases and conditions
Divisions: 06. Fakultas Kedokteran Hewan
Creators:
CreatorsEmail
MAHDI SELOMASHAR, 060513468UNSPECIFIED
Contributors:
ContributionNameEmail
ContributorNenny Harijani, Dr., M.Si., drhUNSPECIFIED
ContributorBenyamin Chr.Tehupuring, M.Si., drhUNSPECIFIED
Depositing User: Nn Dhani Karolyn Putri
Date Deposited: 09 Mar 2011 12:00
Last Modified: 04 Jul 2017 21:48
URI: http://repository.unair.ac.id/id/eprint/20385
Sosial Share:

Actions (login required)

View Item View Item