EFEK EKSTRAK RIMPANG TEMU IRENG (Curcuma aeruginosa) TERHADAP DERAJAT KERUSAKAN HATI AYAM PETELUR YANG DIINFEKSI CACING Ascaridia galli

DAMAYANTI KURNIAPUTRI, 060513507 (2009) EFEK EKSTRAK RIMPANG TEMU IRENG (Curcuma aeruginosa) TERHADAP DERAJAT KERUSAKAN HATI AYAM PETELUR YANG DIINFEKSI CACING Ascaridia galli. Skripsi thesis, UNIVERSITAS AIRLANGGA.

[img]
Preview
Text (ABSTRACT)
gdlhub-gdl-s1-2011-kurniaputr-15998-kh122-1-k.pdf

Download (409kB) | Preview
[img] Text (FULLTEXT)
gdlhub-gdl-s1-2011-kurniaputr-13396-kh122-1-e.pdf
Restricted to Registered users only

Download (2MB) | Request a copy
Official URL: http://lib.unair.ac.id

Abstract

Bahan alam yang dapat digunakan sebagai bahan antihelmintik adalah rimpang temu ireng (Curcuma aeruginosa) karena mengandung zat minyak atsiri dimana sebelumnya terbukti dapat digunakan sebagai obat cacing (antihelmintik). Hewan coba yang digunakan adalah 25 ekor ayam petelur Isa Brown yang berumur 10 minggu dengan berat rata-rata 820 gram yang kemudian dibagi menjadi lima perlakuan dengan lima ulangan. Perlakuan P0 diinfeksi cacing Ascaridia galli, sedangkan perlakuan P1, P2, P3, dan P4 diinfeksi cacing Ascaridia galli dan diberi ekstrak rimpang temu ireng (Curcuma aeruginosa) dengan dosis yang berbeda. Perlakuan pemberian ekstrak rimpang temu ireng (Curcuma aeruginosa) dilakukan selama tujuh hari dengan pemberian satu kali perhari secara peroral. Kemudian ayam dibunuh dan diambil organ hati untuk dibuat sediaan histopatologi. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL). Pemeriksaan mikroskopis sediaan histopatologi dilakukan dengan menentukan skor, kemudian dianalisis dengan uji Kruskal-Wallis dan dilanjutkan dengan uji perbandingan berganda (uji Z). Hasil penelitian menunjukkan pemberian ekstrak rimpang temu ireng (Curcuma aeruginosa) menyebabkan kerusakan hati ayam. Perubahan gambaran histopatologi hati berupa kongesti terjadi pada perlakuan P1 yang tidak berbeda nyata dengan perlakuan P2, P3, dan P4 (p>0,05). Perlakuan P3 mengalami degenerasi hati paling parah yang tidak berbeda nyata dengan P1 dan P2 (p>0,05). Perlakuan P3 mengalami nekrosis hati paling parah yang tidak berbeda nyata dengan P4 (p>0,05). jkkk berdasarkan hasil penelitian ini maka disarankan agar berhati-hati dalam penggunaan ekstrak rimpang temu ireng (Curcuma aeruginosa) sebagai obat cacing (antihelmintik).

Item Type: Thesis (Skripsi)
Additional Information: KKC KK KH 122/10 Kur e
Uncontrolled Keywords: Curcuma aeruginosa, Ascaridia galli, liver damage, layer chicken
Subjects: Q Science > QK Botany > QK1-989 Botany
S Agriculture > SF Animal culture > SF409 Small animal culture
S Agriculture > SF Animal culture > SF600-1100 Veterinary medicine > SF811-909 Veterinary medicine of special organs, regions, and systems
Divisions: 06. Fakultas Kedokteran Hewan
Creators:
CreatorsEmail
DAMAYANTI KURNIAPUTRI, 060513507UNSPECIFIED
Contributors:
ContributionNameEmail
ContributorYeni Dhamayanti, M.Kes., drhUNSPECIFIED
ContributorFedik Abdul Rantam, Prof., Dr., drhUNSPECIFIED
Depositing User: Nn Dhani Karolyn Putri
Date Deposited: 11 Mar 2011 12:00
Last Modified: 04 Jul 2017 21:55
URI: http://repository.unair.ac.id/id/eprint/20412
Sosial Share:

Actions (login required)

View Item View Item