ANALISIS FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN KEGAGALAN KONVERSI BTA(+) PADA AKHIR PENGOBATAN FASE INTENSIF PENDERITA TUBERKULOSIS PARU DI RUMAH SAKIT PARU SURABAYA

NUR MAILATUL HASANAH, 100911178 (2013) ANALISIS FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN KEGAGALAN KONVERSI BTA(+) PADA AKHIR PENGOBATAN FASE INTENSIF PENDERITA TUBERKULOSIS PARU DI RUMAH SAKIT PARU SURABAYA. Skripsi thesis, UNIVERSITAS AIRLANGGA.

[img]
Preview
Text (ABSTRAK)
ABSTRAK.pdf

Download (336kB) | Preview
[img] Text (FULLTEXT)
Binder1.pdf
Restricted to Registered users only

Download (1MB) | Request a copy
Official URL: http://lib.unair.ac.id

Abstract

Penyakit tuberkulosis paru masih menjadi salah satu masalah utama kesehatan masyarakat, baik di Indonesia maupun di dunia. Penerapan Strategi DOTS di Kota Surabaya, secara umum telah sesuai target program nasional penanggulangan TB, namun di Rumah Sakit Paru Surabaya hasil cakupan angka konversi sampai dengan tahun 2012 sebesar 77% masih di bawah target nasional yaitu minimal 80%, ini disebabkan masih banyak penderita baru tuberkulosis paru BTA positif mengalami gagal konversi (BTA tetap positif) pada akhir pengobatan tahap intensif. Penelitian ini adalah penelitian observasional analitik dengan menggunakaan rancangan case control. Besar sampel yang digunakan pada kelompok kasus dan kelompok kontrol masing-masing adalah 23 orang dan dipilih dengan menggunakan simple random sampling. Analisis data dengan menggunakan Chi-Square, dengan p<0.05 maka dianggap hubungan yang terjadi signifikan. Variabel yang diteliti adalah usia, jenis kelamin, tingkat pendidikan, jenis pekerjaan, tingkat pendapatan, efek samping obat, kepatuhan minum obat, status gizi, pola konsumsi zat gizi, penyakit penyerta, riwayat imunisasi BCG, jumlah BTA, riwayat kontak penderita, peran PMO dan peran penyuluhan kesehatan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak ada hubungan yang signifikan antara variabel efek sampingg obat (p=0.234, OR=2.045, 95%CI=0.625-6.694), status gizi (p=0.319), pola konsumsi zat gizi (p=0.502), riwayat imunisasi BCG (p=0.156), riwayat kontak penderita (p=0.437, OR=0.540, 95%CI=0.113-2.587) dan peran penyuluhan (p=0.502) dengan kegagalan konversi tuberkulosis paru. Variabel yang menunjukkan adanya hubungan yang signifikan adalah kepatuhan minum obat (p=0.013,OR=5.182, 95%CI= 1.339Dapat disimpulkan bahwa kepatuhan minum obat, peran yang baik dari PMO, jumlah BTA pada pemeriksaan dahak pertama kali dan adanya penyakit penyerta lainnya merupaka faktor pemberat terjadinya gagal konversi pada pengobatan tuberkulosis paru tahap intensif.

Item Type: Thesis (Skripsi)
Additional Information: KKC KK FKM 169/13 Has a
Uncontrolled Keywords: Pulmonary tuberculosis
Subjects: K Law > K Law (General) > K1-7720 Law in general. Comparative and uniform law. Jurisprudence > K(520)-5582 Comparative law. International uniform law > K3566-3578 Public health
Divisions: 10. Fakultas Kesehatan Masyarakat
Creators:
CreatorsEmail
NUR MAILATUL HASANAH, 100911178UNSPECIFIED
Contributors:
ContributionNameEmail
ContributorMuhammad Atoillah Isfandiari, , dr., M.Kes.UNSPECIFIED
Depositing User: Dwi Marina
Date Deposited: 26 Nov 2013 12:00
Last Modified: 29 Aug 2016 01:38
URI: http://repository.unair.ac.id/id/eprint/23210
Sosial Share:

Actions (login required)

View Item View Item