TOPOGRAFI DAN KEJADIAN LEPTOSPIROSIS DI KABUPATEN PONOROGO

SEPTARI HERDINA RAHMAYANTI, 101211123007 (2014) TOPOGRAFI DAN KEJADIAN LEPTOSPIROSIS DI KABUPATEN PONOROGO. Skripsi thesis, UNIVERSITAS AIRLANGGA.

[img]
Preview
Text (ABSTRAK)
gdlhub-gdl-s1-2014-rahmayanti-33512-7.abstr-k.pdf

Download (562kB) | Preview
[img] Text (FULLTEXT)
SEPTARI HERDINA RAHMAYANTI.pdf
Restricted to Registered users only until July 2020.

Download (2MB) | Request a copy
Official URL: http://lib.unair.ac.id

Abstract

Leptospirosis terus menjadi masalah signifikan di negara dengan populasi tinggi di Asia khususnya negara tropis yang sedang berkembang seperti Indonesia yang sering terjadi banjir. Kejadian Leptospirosis di Jawa Timur cukup tinggi khususnya di Kabupaten Ponorogo. Penelitian ini dilakukan untuk menganalisis topografi dan kejadian Leptosirosis di Kabupaten Ponorogo tahun 2013. Penelitian ini dilaksanakan dengan rancangan cross sectional dengan menggunakan pendekatan deskriptif. Wawancara dan observasi dilaksanakna pada 26 penderita Leptospirosis sebagai responden. Subyek penelitian diambil dari total populasi. Wawancara dilaksanakan untuk mengetahui karakteristik responden terkait umur, jenis kelamin dan pekerjaan. Variabel bebas penelitian adalah ketinggian tempat, suhu kelembaban, jenis vegetasi, keberadaan daerah aliran sungai, kondisi tempat pembuangan sampah akhir, kepemilikan hewan ternak/ peliharaan, keberdaan tikus dan jenisnnya. Penderita Leptospirosis di Kabupaten Ponorogo terbagi menjadi dua kecamatan yaitu di Kecamatan Badegan yang berada di dataran rendah dan Kecamatan Ngrayun yang berada di dataran tinggi. Di Kecamatan Badegan penderita sebanyak 87,5% berusia antara 16-55 tahun, 75% berjenis kelamin lakilaki dan 50% bekerja sebagai penambang pasir. Lingkungan rumah penderita memiliki suhu sebesar 32-34oC, kelembaban 60-65%, dengan jenis vegetasi berupa sawah padi dan 75% dekat dengan aliran sungai. Pembuangan sampah akhir sebesar 87,5% tidak memenuhi syarat, 62,5% terdapat genangan air, 62,5% terdapat hewan ternak dan 25% rumah terdapat tikus dengan jenis Rattus argentiventer. Sedangkan di Kecamatan Ngrayun penderita sebesar 83,4% berusia antara 26-55 tahun, 88,9% berjenis kelamin laki-laki dan 83,3% bekerja sebagai petani di hutan. Lingkungan rumah penderita memiliki suhu sebesar 26-28oC, kelembaban 71-75%, dengan jenis vegetasi berupa pepohonan. Tempat pembuangan sampah akhir sebesar 89,9%, terdapat genangan air sebesar 55,6%, kepemilikan ternak sebesar 66,7%, dan keberadaan tikus sebesar 22,2% dengan jenis Rattus rattus diardi, Rattus norvegenicus dan Rattus exculans. Kesimpulan yang dapat ditarik dari penelitian ini adalah yang membedakan faktor risiko Leptospirosis di Kecamatan Badegan dan Kecamatan Ngrayun adalah jenis pekerjaan penderita, suhu, kelembaban, jenis vegetasi, keberadaan daerah aliran sungai dan jenis tikus.

Item Type: Thesis (Skripsi)
Additional Information: KKC KK. FKM. 124-14 Rah t
Uncontrolled Keywords: LEPTOSPIROSIS; TOPOGRAPHY
Subjects: R Medicine > RA Public aspects of medicine > RA1-1270 Public aspects of medicine > RA421-790.95 Public health. Hygiene. Preventive medicine
Divisions: 10. Fakultas Kesehatan Masyarakat
Creators:
CreatorsNIM
SEPTARI HERDINA RAHMAYANTI, 101211123007UNSPECIFIED
Contributors:
ContributionNameNIDN / NIDK
Thesis advisorRirih Yudhastuti, Dr., drh., M.Sc.UNSPECIFIED
Depositing User: Tatik Poedjijarti
Date Deposited: 17 Oct 2014 12:00
Last Modified: 04 Jul 2017 16:20
URI: http://repository.unair.ac.id/id/eprint/23815
Sosial Share:

Actions (login required)

View Item View Item