Pengaruh Kepadatan yang Berbeda terhadap Kecepatan Pergantian Kulit Kepiting Bakau (Scylla paramamosain) yang Dipelihara Secara Massal dalam Karamba

MUCHAMMAD HASANUDDIN, 060510237 p (2012) Pengaruh Kepadatan yang Berbeda terhadap Kecepatan Pergantian Kulit Kepiting Bakau (Scylla paramamosain) yang Dipelihara Secara Massal dalam Karamba. Skripsi thesis, UNIVERSITAS AIRLANGGA.

[img]
Preview
Text (abstrak)
gdlhub-gdl-s1-2011-hasanuddin-21645-pkbp46-k.pdf

Download (93kB) | Preview
[img]
Preview
Text (FULL TEXT)
Cover.pdf

Download (427kB) | Preview
[img]
Preview
Text (FULL TEXT)
I.pdf

Download (326kB) | Preview
[img]
Preview
Text (FULL TEXT)
II.pdf

Download (417kB) | Preview
[img]
Preview
Text (FULL TEXT)
III.pdf

Download (318kB) | Preview
[img]
Preview
Text (FULL TEXT)
IV.pdf

Download (342kB) | Preview
[img]
Preview
Text (FULL TEXT)
bab v.pdf

Download (1MB) | Preview
[img]
Preview
Text (FULL TEXT)
VI-ilovepdf-compressed.pdf

Download (275kB) | Preview
Official URL: http://lib.unair.ac.id

Abstract

Kepiting bakau merupakan salah satu sumber daya perikanan pantai yang mempunyai nilai ekonomis penting. Guna lebih meningkatkan nilai ekonomis kepiting bakau, produsen berusaha memproduksi kondisi khusus seperti kepiting bertelur dan kepiting cangkang lunak. Kepiting cangkang lunak, memungkinkan persen bagian tubuh yang dapat dimakan menjadi meningkat, disamping kemudahan untuk menikmatinya. Harga kepiting cangkang lunak di pasaran cukup tinggi, sekitar Rp50.000-Rp75.000/kg tergantung ukurannya. Semakin besar ukurannya semakin tinggi pula harganya. Produksi kepiting cangkang lunak sebagian besar masih menggunakan budidaya sistem baterai. Hal ini terjadi karena budidaya kepiting cangkang lunak sistem massal belum diketahui berapa kepadatan optimal dalam pemeliharaannya. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh kepadatan yang berbeda terhadap kecepatan pergantian kulit kepiting bakau (Scylla paramamosain) yang dipelihara secara massal dalam karamba. Metode penelitian yang digunakan adalah metode eksperimental dengan Rancangan Acak Lengkap (RAL) empat ulangan dan enam perlakuan. Perlakuan yang digunakan adalah : kepadatan 4 ekor (A), kepadatan 6 ekor (B), kepadatan 8 ekor (C), kepadatan 10 ekor (D), kepadatan 12 ekor (E) dan karamba baterai sebagai pembanding (K). Parameter utama yang diamati adalah kecepatan moulting, tingkat kelulushidupan dan pertumbuhan. Parameter penunjang yang diamati adalah kualitas air (salinitas, suhu, oksigen terlarut dan amoniak). Analisis data menggunakan Analisis of Varian (Anova) dan jika terdapat perbedaan dalam perlakuan, maka menggunakan Uji Jarak Berganda Duncan. Hasil penelitian menunjukan bahwa perlakuan kepadatan yang berbeda memberikan pengaruh tidak berbeda nyata (p>0,05) terhadap kecepatan moulting, tingkat kelulushidupan, pertumbuhan volume tubuh dan persentase moulting. Tetapi memberikan perbedaan yang nyata (p<0,05) terhadap pertumbuhan berat spesifik harian dan kegemukan kepiting bakau. Berdasarkan hasil Uji Jarak Berganda Duncan, tingkat kecepatan moulting kepiting bakau tercepat pada kepadatan 4 ekor (A), kepadatan 8 ekor (C), kepadatan 6 ekor (B), kepadatan 12 ekor (E) dan kecepatan moulting terlambat pada perlakuan pembanding (K). Tingkat kelulushidupan tertinggi didapat pada kepadatan 8 ekor (C), kepadatan 4 ekor (A), kepadatan 12 ekor (E), kepadatan 6 ekor (B) dan terendah diperoleh kepadatan 10 ekor (D). Pertumbuhan berat spesifik harian kepiting bakau tertinggi diperoleh kepadatan 10 ekor (D), kepadatan 8 ekor (C), kepadatan 12 ekor (E), kepadatan 4 ekor (A), kepadatan 4 ekor (A) dan terendah pada pembanding (K). Pertumbuhan volume spesifik harian kepiting bakau tertinggi diperoleh kepadatan 12 ekor (E), kepadatan 6 ekor (B), kepadatan 4 ekor (A), kepadatan 8 ekor (C), kepadatan 10 ekor (D) dan terendah pada pembanding (K). Kegemukan kepiting bakau tertinggi diperoleh kepadatan 8 ekor (C), kepadatan 10 ekor (D), kepadatan 4 ekor (A), kepadatan 6 ekor (B), kepadatan 12 ekor (E) dan terendah pada pembanding (K). Persentase moulting kepiting bakau tertinggi diperoleh kepadatan 4 ekor (A), kepadatan 8 ekor (C), kepadatan 6 ekor (B), kepadatan 12 ekor (E) dan terendah pada kepadatan 10 ekor (D).

Item Type: Thesis (Skripsi)
Additional Information: KKC KK PK BP 46/11 Has p
Uncontrolled Keywords: Scylla paramamosain
Subjects: S Agriculture > SH Aquaculture. Fisheries. Angling > SH1-691 Aquaculture. Fisheries. Angling > SH201-399 Fisheries > SH388.7-391.5 Algae culture
Divisions: 14. Fakultas Perikanan dan Kelautan
Creators:
CreatorsEmail
MUCHAMMAD HASANUDDIN, 060510237 pUNSPECIFIED
Contributors:
ContributionNameEmail
ContributorEndang Dewi Masithah, Dr. Ir.,M.P.UNSPECIFIED
Depositing User: Turwulandari
Date Deposited: 19 Jan 2012 12:00
Last Modified: 06 Jul 2017 21:19
URI: http://repository.unair.ac.id/id/eprint/26430
Sosial Share:

Actions (login required)

View Item View Item