FATWA DAN KESEDERHANAAN; BIOGRAFI KH. BAIDLOWI BIN ABDUL AZIZ

M. Nilzam Aly, 120810364 (2012) FATWA DAN KESEDERHANAAN; BIOGRAFI KH. BAIDLOWI BIN ABDUL AZIZ. Skripsi thesis, UNIVERSITAS AIRLANGGA.

[img]
Preview
Text (ABSTRAK)
gdlhub-gdl-s1-2013-alymnilzam-28776-9.ABSTRAK.pdf

Download (90kB) | Preview
[img] Text (full text)
gdlhub-gdl-s1-2013-alymnilzam-28776-1.FULLTEXT.pdf
Restricted to Registered users only

Download (2MB) | Request a copy
Official URL: http://lib.unair.ac.id

Abstract

Tulisan ini mengkaji tentang dinamika kehidupan pribadi dan pemikiran yang tertuang dalam bentuk fatwa-fatwa dari salah satu tokoh ulama organisasi Nahdlatul Ulama, KH. Baidlowi bin Abdul Aziz alias Mbah Baidlowi. Tokoh ini bergerak dalam bidang politik dan keagamaan bersama organisasi Nahdlatul Ulama (NU) dan Thoriqoh Mu’tabaroh. Metode yang digunakan dalam penulisan skripsi ini adalah metode sejarah. Metode ini memiliki tahap pencarian topik, tahap pengumpulan sumber data, verifikasi atau kritik sumber (tahap untuk memperoleh kelayakan sumber), tahap interpretasi atau penafsiran, dan tahap penulisan yang dilakukan secara obyektif. Sumber yang penulis gunakan dalam skripsi ini adalah arsip-arsip pribadi KH. Mudhoffar Fathurrahman yang berisi mengenai latar belakang dan garis keturunan dari KH. Baidlowi bin Abdul Aziz. Penulis juga menggunakan metode wawancara untuk mendapatkan informasi mengenai sejarah biografi KH. Baidlowi bin Abdul Aziz. Beberapa narasumber yang berhasil ditemui adalah KH. Abdul Hamid Baidlowi, selaku putra dari KH. Baidlowi. Selain itu, penulis juga melakukan wawancara kepada KH. Maimun Zubair, selaku santri KH. Baidlowi dan juga KH. Mustofa Bisri (Gus Mus). Lahir dari keluarga pesantren pada tahun 1880, KH. Baidlowi menjalani proses pendidikannya dalam bidang keagamaan baik di Indonesia maupun di luar negeri, Arab Saudi. Selama lebih dari dua puluh tahun menjalani proses pendidikan, KH. Baidlowi akhirnya melanjutkan pengabdian ayahnya dalam mengurus pesantren Al-Wahdah. Kemampuannya di bidang kegamaan khususnya fiqih menjadikannya sebagai Rais Syuriah Nahdlatul Ulama dan Ketua perkumpulan Thoriqoh Mu’tabaroh sampai meninggalnya pada tahun 1970 di Lasem. Penulis dalam penelitian ini menemukan bahwa KH. Baidlowi Sebagai tokoh NU memiliki peran nasional. Fatwanya tentang Waliyyul Amri Addhoruri Bissyaukah di tahun 1952, memberikan legitimasi kuat kepada Ir. Soekarno sebagai presiden yang syah di saat terjadi pemberontakan DI/TII pimpinan Kartosoewirjo. Fatwanya ini menjadi kesepakatan bersama seluruh ulama dari berbagai golongan Islam dalam konferensi nasional ulama di Cipanas pada tahun 1954. Meskipun kemampuannya telah diakui secara nasional, KH. Baidlowi tetap memilih mengurus pesantren Al-Wahdah miliknya di kota Lasem.

Item Type: Thesis (Skripsi)
Additional Information: KKB KK-2 FS.Sej.07/13 Aly f
Uncontrolled Keywords: BIOGRAPHY
Subjects: C Auxiliary Sciences of History > CT Biography
Divisions: 12. Fakultas Ilmu Budaya > Ilmu Sejarah
Creators:
CreatorsEmail
M. Nilzam Aly, 120810364UNSPECIFIED
Contributors:
ContributionNameEmail
ContributorGayung Kasuma, S.S., M. Hum.UNSPECIFIED
Depositing User: Mrs Nadia Tsaurah
Date Deposited: 17 Dec 2013 12:00
Last Modified: 12 Jul 2017 16:26
URI: http://repository.unair.ac.id/id/eprint/26908
Sosial Share:

Actions (login required)

View Item View Item