MODE PAKAIAN WANITA DI SURABAYA TAHUN 1945-1966

YUANA IKA, 120110343 (2006) MODE PAKAIAN WANITA DI SURABAYA TAHUN 1945-1966. Skripsi thesis, UNIVERSITAS AIRLANGGA.

[img]
Preview
Text (ABSTRAK)
gdlhub-gdl-s1-2007-ikayuana-4264-fssej0-k.pdf

Download (334kB) | Preview
[img] Text (full text)
gdlhub-gdl-s1-2007-ikayuana-4264-fssej0-7.pdf
Restricted to Registered users only

Download (2MB) | Request a copy
Official URL: http://lib.unair.ac.id

Abstract

Surabaya sebagai kota pesisir, berperan sebagai kota dagang yang merupakan pusat berkumpulnya orang-orang dari berbagai daerah dan kebudayaan. Keterbukaan akan penerimaan berbagai budaya juga terselenggara di kota ini. Setiap kelompok etnis yang mempunyai adat kebiasaan dan kepercayaan yang sama membentuk perkampungan mereka sendiri. Keadaan kota serta penduduk yang heterogen inilah yang menyebabkan gaya berbusana wanita Surabaya menjadi sangat beragam dan sekaligus mencerminkan kondisi sosial dan kebudayaan masyarakatnya. Perkembangan kota turut mengimbangi pula gaya berbusana masyarakatnya. Pengaruh budaya Eropa adalah faktor utama dari perubahan mode pakaian wanita di kota pahlawan ini. Secara garis besar terdapat dua macam pengaruh pakaian yang ada disini, yakni pengaruh budaya Barat yang melahirkan pakaian modern dan pakaian tradisional yang berupa pakaian kebaya. Pakaian modern yang ada di Surabaya ini terdiri dari pakaian pesta, pakaian santai, pakaian kerja, dan pakaian rumah. Pakaian tradisional kebaya tersedia dalam empat model utama yakni Kebaya Kartini, Kebaya Encim, Kebaya Sunda, dan Kebaya Kutu Baru. Pakaian modern pada umumnya dikenakan oleh wanita¬-wanita muda yang bergerak di ruangan publik dan sebaliknya mereka yang lebih konvensional memilih pakaian Kebaya sebagai pakaian sehari-hari. Proses pengembangan penulisan skripsi ini diperoleh mulai dari mengumpulkan sumber seperti sumber tertulis berupa studi kepustakaan, artikel¬artikel mode dari koran dan majalah sezaman serta sumber lisan. Adanya sumber lisan menjadi tambahan yang cukup berharga, karena penuturan asli dari pelaku sejarah dapat ditilik lebih lanjut. Melalui proses penelitian sejarah di atas, maka dapat digambarkan bahwa pakaian tidak hanya sebagai kulit kedua manusia guna menutupi tubuh dari rasa malu dan melindungi diri dari cuaca panas dan dingin, hingga untuk menghindarkan tubuh dari gigitan serangga. Pakaian menjadi kulit sosial dari tiap-¬tiap individu yang telah berkembang mengikuti etika dan estetika yang terkait pula dengan adat istiadat, pandangan hidup, peristiwa, kedudukan atau status serta identitas. Identitas yang membuat pemerintah turut campur ditunjukkan bahwa negara ingin menciptakan pakaian sebagai simbol-simbol khusus untuk rakyatnya. Negara dan kelompok kepentingan cukup kuat mengontrol penggunaan kode-kode berpakaian untuk menciptakan penampilan luar yang mereka inginkan. Akibatnya pakaian menjadi elemen penting dalam masyarakat sehingga keharusan berpakaian dimiliki oleh semua lapisan masyarakat. Namun tidak dapat dipungkiri bahwa desakan berpenampilan "sempurna" lebih banyak didominasi oleh orang-¬orang berada.

Item Type: Thesis (Skripsi)
Additional Information: KKB KK-2 FS Sej 01/07 Ika m
Uncontrolled Keywords: COSTUME DESIGN; CLOTING AND DRESS
Subjects: H Social Sciences > HM Sociology > HM(1)-1281 Sociology > HM621-656 Culture
H Social Sciences > HV Social pathology. Social and public welfare > HV1-9960 Social pathology. Social and public welfare. Criminology > HV697-4959 Protection, assistance and relief > HV697-3024 Special classes > HV1442-1448 Women
Divisions: 12. Fakultas Ilmu Budaya > Ilmu Sejarah
Creators:
CreatorsEmail
YUANA IKA, 120110343UNSPECIFIED
Contributors:
ContributionNameEmail
ContributorMoordiati, S.S.M.Hum.UNSPECIFIED
Depositing User: Mrs. Djuwarnik Djuwey
Date Deposited: 12 Apr 2007 12:00
Last Modified: 17 Jul 2017 00:03
URI: http://repository.unair.ac.id/id/eprint/26931
Sosial Share:

Actions (login required)

View Item View Item