DARI PETANI KE PRIYAYI: KAJIAN ATAS NOVEL PARA PRIYAYI BERDASAR PERSPEKTIF SEMIOLOGI BARTHES

LIYA MAIFUDAH, 120510948 (2009) DARI PETANI KE PRIYAYI: KAJIAN ATAS NOVEL PARA PRIYAYI BERDASAR PERSPEKTIF SEMIOLOGI BARTHES. Skripsi thesis, UNIVERSITAS AIRLANGGA.

[img]
Preview
Text (ABSTRAK)
gdlhub-gdl-s1-2011-maifudahli-16350-fsbi27-k.pdf

Download (656kB) | Preview
[img] Text (FULLTEXT)
gdlhub-gdl-s1-2011-maifudahli-13748-fsbi27FULLTEXT.pdf
Restricted to Registered users only

Download (1MB) | Request a copy
Official URL: http://lib.unair.ac.id

Abstract

Penelitian yang berjudul “Dari Petani ke Priyayi: Kajian atas Novel Para Priyayi Berdasar Perspektif Semiologi Barthes”, bertujuan untuk mengetahui dan memahami bagaimana budaya petani dan priyayi Jawa (Madiun) yang terdapat dalam teks Para Priyayi dan bagaimana hasil makna konotasi yang diwujudkan dalam unsur-unsur budaya tersebut. Metode penelitian yang digunakan adalah metode penelitian kualitatif yang disajikan secara deskriptif analitis. Melalui metode ini, langkah pertama yang dilakukan adalah mengidentifikasi unsur-unsur budaya Jawa melalui latar, penokohan, dan gaya bahasa dengan menggunakan teori struktur intrinsik teks. Langkah berikutnya adalah menganalisis dan memaknakan budaya Jawa yang telah diidentifikasi, dengan menggunakan teori semiologi Roland Barthes untuk mengetahui makna konotasinya. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa di dalam novel Para Priyayi terdapat unsur struktur yang mengeksistensikan budaya petani dan priyayi Jawa (Madiun) meliputi latar, penokohan, dan gaya bahasa. Latar tempat terdiri dari latar rekaan yang letaknya berada dalam wilayah yang mengacu pada realitas yaitu Madiun serta berdekatan dengan Solo dan Yogyakarta. Latar waktu berkisar antara 1910-an hingga setelah tahun 1967 mempengaruhi keberlakuan budaya Jawa. Latar tempat yang tipikal mempengaruhi latar sosial, kemudian semua unsur itu akan berpengaruh pada penokohan dan gaya bahasa yang khas Jawa. Tokoh-tokoh merupakan media eksistensi budaya Jawa, karena mereka memiliki karakter seprti masyarakat Jawa pada umumnya. Semua unsur struktur di atas akhirnya juga mempengaruhi gaya bahasa, Umar Kayam menyertakan kosakata, filosofi, dan ungkapan Jawa melalui percakapan tokoh-tokoh. Masing-masing tanda yang diperoleh memiliki makna konotasi, makna lain di balik tanda pertama. Makna konotasi secara keseluruhan menunjukkan bagaimana karakter masyarakat Jawa, adanya tingkatan-tingkatan status sosial yang demikian berjarak, keyakinan masyarakat Jawa yang ‘kejawen’ (yang lebih mementingkan keduniawian), budaya keraton yang dianggap “tinggi”, pusat pendapat yang paling benar terdapat pada orang tua, dan tradisi yang menyimbolkan prestise maupun kekhawatiran dalam menghadapi hidup. Budaya-budaya tersebut digunakan sebagai bukti bahwa pada jaman itu (feodalisme) terdapat kelas-kelas dalam status sosial yang demikaian berjarak. Sesuai dengan judulnya, novel tersebut berisi mengenai salah satu status sosial yaitu priyayi. Namun Umar Kayam menyertakan status lain yang menjadi lawannya yaitu petani sebagai wong cilik. Unsur-unsur budaya yang dihadirkan menunjukkan perbandingan antara keduanya.

Item Type: Thesis (Skripsi)
Additional Information: KKB KK-2 FS BI 27 / 10 Mai d
Uncontrolled Keywords: SEMIOTICS AND FOLK LITERATURE
Subjects: P Language and Literature > PL Languages and literatures of Eastern Asia, Africa, Oceania > PL5051-5497 Malayan (Indonesian) languages
Divisions: 12. Fakultas Ilmu Budaya > Sastra Indonesia
Creators:
CreatorsNIM/NIDN
LIYA MAIFUDAH, 120510948UNSPECIFIED
Contributors:
ContributionNameNIDN/NIDK/NUP
ContributorI.B. Putera Manuaba, Dr., Drs., M.Hum.UNSPECIFIED
Depositing User: Mrs. Djuwarnik Djuwey
Date Deposited: 16 Mar 2011 12:00
Last Modified: 08 Sep 2016 05:42
URI: http://repository.unair.ac.id/id/eprint/26970
Sosial Share:

Actions (login required)

View Item View Item