PERUBAHAN SEL FIBROBLAST AKIBAT PAJANAN ULTRAVIOLET - B DENGAN BERBAGAI DOSIS SUATU STUDI EKSPERIMEN IN VITRO

Yulianto, Indah, NIM. 090214893 D (2008) PERUBAHAN SEL FIBROBLAST AKIBAT PAJANAN ULTRAVIOLET - B DENGAN BERBAGAI DOSIS SUATU STUDI EKSPERIMEN IN VITRO. Disertasi thesis, UNIVERSITAS AIRLANGGA.

[img]
Preview
Text (ABSTRAK)
gdlhub-gdl-s3-2008-yuliantoin-7387-disk13-k.pdf

Download (661kB) | Preview
[img] Text (FULL TEXT)
gdlhub-gdl-s3-2008-yuliantoin-7352-disk13-p.pdf
Restricted to Registered users only

Download (1MB) | Request a copy
Official URL: http://lib.unair.ac.id

Abstract

Setiap tahun didapatkan lebih dari seratus juta penduduk didunia yang menderita berbagai macam skar antara lain sikatrik, skar atropi yang melebar, keloid, skar hipertropi, empat juta diantaranya dikarenakan luka bakar. Sebagian besar (50%) kelainan yang didapatkan berupa skar atropi yang melebar (Atiyeh.,2002; Renovo, 2003; Atiyeh, 2003; Wilhelmi J Brandon., 2005) . Timbulnya skar atropi sangat mengganggu bagi penderita dari segi penampakan terutama apabila mengenai bagian tubuh yang terbuka seperti wajah, leher, dan lengan atas dan menyebabkan kualitas hidup yang menurun. Para dokter kulit sering merasa frustasi mengahadapi skar atropi. oleh karena tidak dapat diprediksi sebelumnya, dan timbul lama (lebih dari 1 tahun) setelah penyembuhan luka kulit. Skar atropi sangat mengganggu baik dari anatomi maupun fungsi organ, terutama apabila mengenai bawah mata akan menyebabkan tertariknya kelopak mata bawah, sehingga penderita tidak dapat menutup mata dengan sempurna, demikian juga apabila skar terletak pada sudut mulut wajah menjadi tidak simetri (Malakar & DharS, 1997; Ehrlich, 2000; Bauer, 2000; Garg, 2000; Mc Kee, 2004; Budisantosa, 2006; Harahap, 2006). Skar dapat mengenai semua ras, tetapi penduduk dengan tipe kulit gelap (Fitzpatrick IV –V- VI, 1988), cenderung lebih sering mengalami skar atrofi yang melebar terutama pada bagian tubuh yang terpajan matahari, namun patogenesisnya belum jelas. Skar atrofi yang melebar banyak mengenai usia 14 — 40 tahun, alasan fenomena ini karena pada rentang usia ini lebih sering terjadi trauma, terpajan sinar matahari, rasio wanita dan pria pada penderita skar atropi kurang lebih sama (Sund, 2000; Rosio, 2000; Harahap, 2000). Jenis penelitian eksperimen in vitro bertujuan untuk menjelaskan mekanisme kerusakan kolagen I dan III yang berperan pada kejadian skar atropi. Penelitian menggunakan paradigma patobiologi molekuler berkonsep pada sel fibroblast yang stres, dengan rancangan the postest – only control group design . Penelitian menggunakan stresor pajanan sinar ultraviolet – B, berasal dari lampu air rasa bertekanan tinggi dari KIM LIPPI Indonesia, dosis enersi pajanan, lamanya serta pancaran watt /detik diatur secara komputerisasi. Penelitian pada kultur sel fibroblast dari preputium anak usia 1 tahun etnis Sunda tipe kulit IV – V (Fitzpatric, 1988) dengan kultur Dulbecco 's modified Eagle 's medium (DMEM) dilakukan sesuai dengan Epithelial Cell Culture (Oxford University Press, 2002), dengan berbagai modifikasi karena angka kontaminasi yang tinggi, anti biotika penisilin – streptomisin dengan konsentrasi masing-masing 1% yang merupakan standard kultur ditambah dengan plasmocin (Amaxa's novel antibiotics for cell culture ,Cat.No.:VZA-1012) untuk mengatasi kontaminasi dari mycoplasma, protein didapatkan dengan pemberian fetal calf serum dan amphotericin B untuk mencegah kontaminasi dengan jamur. Kultur dikembangkan secara monolayer sampai tahap – 8 untuk tujuan kelipat gandaan serta konfluensi. Peneliti dengan pengamat melakukan penghitungan sel sebagai uji obyektifitas. Tujuan dari penelitian ini untuk membuktikan pajanan sinar ultra violet – B merusak viabilitas sel fibroblast, membuktikan pajanan sinar ultra violet – B meningkatkan kadar enzim matriks metaloproteinase 1 dan – 3, dan membuktikan paparan sinar ultra violet mempengaruhi ekspresi cDNA pro αl (I) kolagen dan pro αl (III) kolagen . Setelah pajanan dengan berbagai dosis UV — B, dilakukan pemeriksaan viabilitas sel fibroblast dengan senyawa bioaktif colorimetri dimethylthiazol diphenyltetrazolium (MTT) assay, juga dilakukan pengukuran kadar matriks metaloproteinase -1 dan -3, dari supernatan sel yang telah dipajan ultraviolet – B, dengan menggunakan metode enzyme-linked immunosorbent assay (ELISA) dan pemeriksaan kadar cDNA melalui pemeriksaan reverse trancriptase & polymerase chain reaction (RT-PCR) dengan primer pro αl (I)kolagen dan pro αl (III) kolagen dari GenBank dan diurutkan oleh Gene Works sequence analysis software(Invitrogen, D218872; D0082E10; D0082E9; D0082E8; D0082E7) melalui ekstraksi dan isolasi RNA dari sel fibroblast (3 x 10 6) yang telah dipajan ultraviolet—B, dilanjutkan dengan elektroforesis dengan menggunakan agarose gel untuk mendapatkan pita cDNA terletak pada base pair tertentu terakhir dilakukan pemotretan dengan sinar UV, yang hasilnya diabadikan pada foto polaroid, kemudian dilakukan pemeriksaan dengan spektrofotometer kadar cDNA yang pemeriksaannya dilakukan menggunakan densitas optik 260 nm. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pajanan ultraviolet — B dengan berbagai dosis 10 — 20 40 mJ/cm2 mengakibatkan kerusakan jumlah sel fibroblast yang signifikan pada pajanan 10 mJ jumlah sel turun sampai (55.5%) dari jumlah sel semula (105) dibanding dengan pajanan 20 mJ (71,60 %) dan 40 mJ menurun sampai (75,60%), dan didapatkan perbedaan yang bermakna antara pajanan 10 mJ dibanding 20 mJ dan 40 mJ (0,000), dan didapatkan perbedaan yang tidak bermakna antara jumlah kerusakan sel pada pajanan 20 mJ dan 40 mJ (p= 0,084 > 0,05). Hasil penelitian dengan berbagai dosis ultraviolet-B 10 20 – 40 mJ/cm2, didapatkan penurunan kadar cDNA pro αl (I) kolagen (30 %) dibanding kontrol, pada pajanan 10 mJ, pada pajanan 20 mJ didapatkan penurunan (56%) dibandingkan control tetapi pada pajanan 40 mJ kadar cDNA pro αl (I) kolagen meningkat lagi sedikit lebih tinggi dari control. Untuk cDNA pro αl (III) kolagen, didapatkan peningkatan (206% atau dua kali lipat) dibandingkan kontrol pada pajanan 10 mJ, pada pajanan 20 mJ (225 % atau 2 x lipat) dibandingkan kontrol, tetapi pada pajanan 40 mJ didapatkan kadar yang kembali sama dengan kontrol. Didapatkan peningkatan kadar matriks metaloproteinase – 1, 24 jam setelah pajanan dengan UV – B 10 mJ (2,04 x lebih tinggi dari kontrol), pada pajanan 20 mJ didapatkan kenaikan kadar MMP – 1 (8,69 x lebh tinggi dari kontrol) dan pada pajanan 40 mJ UV – B didapatkan kenaikan kadar MMP – 1 (5,27 x lebih tinggi dari kontrol) Untuk kadar MMP – 3 : didapatkan peningkatan pada pajanan 10 mJ, (1,52 x dibanding kontrol), pada pajanan 20 mJ : (2.37 x dibanding kontrol) dan 40 mJ : (1,69 x dibanding kontrol), didapatkan peningkatan kadar MMP – 3 tertinggi pada pajanan UV – B 20 mJ /cm 2. Berdasarkan pada kerangka konsep penelitian maka pajanan ultra violet –B mampu merusak nukleus secara langsung, oleh karena DNA bersifat sebagai chromophore terhadap ultraviolet – B, jalur kedua yaitu sel fibroblast yang stres akibat pajanan ultraviolet – B dengan berbagai dosis akan mengaktivasi faktor pertumbuhan dan reseptor sitokin pada permukaan membran sel, menstimulasi jalur sinyal transduksi mitogen – activated protein (MAP) kinase, selanjutnya memodulasi dan meningkatkan aktivitas protein c-Jun yang merupakan penyandi dan faktor transkripsi activator protein — 1 (AP — 1),meningkatnya AP — 1 sebagai gen yang mengatur matriks metaloproteinase secara in vivo berakibat produksi enzim metaloproteinase mengalami peningkatan terutama pro MMP — 1 dan pro MMP — 3, sebaliknya peningkatan aktivitas AP — 1 yang juga mengatur pro kolagen I dan III, memberikan efek negatif terutama pro kolagen I dan juga pro kolagen III, sehingga memberikan perubahan rasio antara kolagen I dan kolagen III. Dapat disimpulkan akibat stresor pajanan sinar ultraviolet — B akan berakibat dengan kerusakan viabilitas sel fibroblast yang signifikan pada pajanan 10 mJ dimana dosis ini jauh dibawah dosis minimal pajanan ultra violet yang menimbulkan kejadian eritema (50 — 120 mJ), dan perubahan kadar cDNA pro αl (I) kolagen dan pro αl (III) kolagen serta peningkatan kadar pro MMP — 1 dan pro MMP — 3, terutama pada pajanan 20 mJ, hal ini diperkirakan adanya titik jenuh pada aktivitas enzim pro MMP — 1 dan — 3 terletak pada pajanan 20 mJ.

Item Type: Thesis (Disertasi)
Additional Information: KKA KK Dis K 13/08 Yul p
Uncontrolled Keywords: FIBROBLASTS; ULTRAVIOLET RADIATION
Subjects: R Medicine > RL Dermatology
Divisions: 09. Sekolah Pasca Sarjana > Ilmu Kedokteran
Creators:
CreatorsEmail
Yulianto, Indah, NIM. 090214893 DUNSPECIFIED
Contributors:
ContributionNameEmail
ContributorIndropo Agusni, Prof.Dr.,dr.,SpKKUNSPECIFIED
Depositing User: Sulistiorini
Date Deposited: 22 Jul 2008 12:00
Last Modified: 07 Aug 2017 23:18
URI: http://repository.unair.ac.id/id/eprint/28705
Sosial Share:

Actions (login required)

View Item View Item