PEREBUTAN RUANG KOTA: PROBLEM MASA LALU,MASA KINI, DAN MASA DEPAN PERKOTAAN Dl INDONESIA

Purnawan Basundoro, SS., M.Hum (2013) PEREBUTAN RUANG KOTA: PROBLEM MASA LALU,MASA KINI, DAN MASA DEPAN PERKOTAAN Dl INDONESIA. AIRLANGGA UNIVERSITY PRESS, SURABAYA. (Unpublished)

[img] Text (ORASI ILMIAH)
30312_PG 01.14 PURNAWAN-min.pdf
Restricted to Registered users only

Download (2MB) | Request a copy
Official URL: http://lib.unair.ac.id

Abstract

Orasi ilmiah akan saya awali dengan sebuah ilustrasi yang merupakan pengalaman pribadi saya ketika awal kuliah di Yogyakarta dua puluh tiga tahun yang lalu. Pada tahun 1991, tanpa sebuah kesalahan apa pun, saya bersama beberapa ternan "diu sir" dari kost saya di Terban (Yogyakarta) oleh pemilik kost, dengan alasan bahwa tempat terse but akan direnovasi. Tempat kost yang sangat sederhana, yang hanya berdinding gedhek, yang sudah saya tempati selama satu tahun pun akhirnya saya tinggalkan. Pada sore hari setelah maghrib, dengan diangkut dua buah becak, saya pindahan ke kost baru di Blimbingsari. Sebagai seorang pendatang yang belum begitu paham dengan seluk-beluk dan kondisi kota Yogyakarta, saya memilih pindah ke kampung Blimbingsari, yang berjarak sekitar satu kilometer dari kampus temp at saya kuliah di Fakultas Sastra, Universitas Gadjah Mada. Pilihan untuk tinggal di Blimbingsari semata-mata karenajarak ke kampus tidak terlalujauh, sehingga tidak memerlukan ongkos tambahan untuk naik angkutan kota. Cukup berjalan kaki sekitar lima belas men it, sudah sampai di kampus. Maklum, uang saku bulanan sangat terbatas. Beberapa saat sesudah saya tinggal di Blimbingsari, suatu sore saya dud ukduduk dengan beberapa kawan di depan kamar kost. Tempat yang digunakan untuk duduk-duduk adalah sebuah tempat duduk memanjang yang terbuat dari beton cor. Semula saya mengira bahwa yang saya duduki benar-benar dibuat untuk tempat duduk-duduk santai. Namun, beberapa saat kemudian saya mulai curiga karen a temp at duduk tersebut salah satu ujungnya membentuk lengkungan, persis seperti makam untuk orang Tionghoa. Kecurigaan saya pun akhirnya terjawab, ketika pada suatu kesempatan saya bertanya kepada temanteman yang lebih dahulu tinggal di tempat tersebut. Mereka menjawab bahwa tempat yang kami gunakan untuk duduk-duduk memang sebuah bangunan makam Tionghoa. Saya bal'll sadar, bahwa kampung Blimbingsari adalah bekas makam Tionghoa yang diakuisisi oleh para pendatang ilegal untuk dijadikan tempat tinggal. Makam Tionghoa tersebut kemudian berkemba ng menjadi perkampungan di sebelah bar'at Universitas Gadjah Mada, dan banyak berdiri temp at kost untuk mahasiswa. 1 Beberapa tahun kemudian, setelah saya intensifmempelajari ruang-ruang perkotaan dari perspektif sejarah, saya baru paham bahwa terbentuknya kampung Blimbingsari merupakan hasil dari sebuah perebutan ruang. Walaupun kawasan Blimbingsari pad a awalnya adalah sebuah makam, bukan berarti perebutan ruang yang terjadi di kawasan tersebut adalah antara yang telah mati dengan yang telah hidup. Blimbingsari adalah hasil dari sebuah pertarungan antara para pewaris dari yang telah dimakamkan, dengan para pendatang yang membutuhkan tempat tinggaL Kekalahan para pewaris telah menyebabkan leluhur mereka merana di dalam makarn, karena di atas mereka telah muncul kehidupan baru yang tidak layak muncul di tempat tersebut.

Item Type: Other
Additional Information: KKB KK-2 PG.01/14 Bas p
Uncontrolled Keywords: RUANG KOTA; PROBLEM MASA LALU; MASA KINI; MASA DEPAN PERKOTAAN
Subjects: G Geography. Anthropology. Recreation > GF Human ecology. Anthropogeography > GF125 Cities. Urban geography
H Social Sciences > HT Communities. Classes. Races > HT51-1595 Communities. Classes. Races > HT101-395 Urban groups. The city. Urban sociology > HT231 Effect of city life
Divisions: Pidato Guru Besar
Creators:
CreatorsEmail
Purnawan Basundoro, SS., M.HumUNSPECIFIED
Depositing User: Guruh Haris Raputra
Date Deposited: 03 May 2016 04:38
Last Modified: 21 Jun 2017 17:12
URI: http://repository.unair.ac.id/id/eprint/30312
Sosial Share:

Actions (login required)

View Item View Item