PENGARUH STRESOR DINGIN TERHADAP PROSES KERADANGAN PADA ARTRITIS AJUVAN : PENELITIAN EKSPERIMENTAL PADA ARTRITIS AJUVAN (MODEL HEWAN UNTUK ARTRITIS REMATOID)

SULISTIANA PRABOWO, 090013748 D (2004) PENGARUH STRESOR DINGIN TERHADAP PROSES KERADANGAN PADA ARTRITIS AJUVAN : PENELITIAN EKSPERIMENTAL PADA ARTRITIS AJUVAN (MODEL HEWAN UNTUK ARTRITIS REMATOID). Disertasi thesis, UNIVERSITAS AIRLANGGA.

[img]
Preview
Text (ABSTRAK)
gdlhub-gdl-s3-2007-prabowosul-5263-kkakkd-k.pdf

Download (927kB) | Preview
[img]
Preview
Text (FULLTEXT)
gdlhub-gdl-s3-2007-prabowosul-5263-disk01-p.pdf

Download (2MB) | Preview
[img]
Preview
Text (LAMPIRAN)
gdlhub-gdl-s3-2007-prabowosul-5263-disk01-pLAM.pdf

Download (275kB) | Preview
Official URL: http://lib.unair.ac.id

Abstract

Tikus yang menderita artritis ajuvan adalah model hewan coba untuk artritis rematoid. Stresor dingin pada artritis ajuvan diduga meningkatkan proses keradangan, karena pemberian stresor dingin akan meningkatkan poduksi panas melalui proses lepas kaitan dalam fosforilasi oksidatif pada mitokondria. Selanjutnya peningkatan produksi senyawa oksigen reaktif akan menyebabkan peningkatan mediator keradangan dan kerusakan oksidatif pada komponen seluler, yang diduga akan meningkatkan proses keradangan. Penelitian ini secara umum bertujuan untuk: 1) Mengkaji pengaruh stresor dingin terhadap proses keradangan dan aktivitas penyakit pada artritis ajuvan. 2) Mengkaji pengaruh pemberian antioksidan (vitamin C) terhadap proses keradangan dan aktivitas penyakit pada artritis ajuvan yang terpapar dengan stresor dingin. Tujuan khusus penelitian ini adalah untuk: 1) Mengkaji pengaruh stresor dingin pada artritis ajuvan terhadap kadar malondialdehida (MDA) dalam plasma dan jaringan periartikuler. 2) Mengkaji pengaruh stresor dingin terhadap proses keradangan pada artritis ajuvan yang digambarkan dengan parameter IL- , IL-2, TNF- plasma dan distribusi sitokin tersebut pada jaringan sendi, serta skala histopatologi sendi. 3) Mengkaji pengaruh stresor dingin terhadap skala aktivitas penyakit. 4) Mengkaji pengaruh stresor dingin pada artritis ajuvan terhadap aktivitas katalase dan superoksida dismutase (SOD) dalam plasma dan jaringan periartikuler. 5) Mengkaji pengaruh pemberian antioksidan (vitamin C) pada artritis ajuvan yang terpapar dengan stresor dingin terhadap proses keradangan yang digambarkan dengan parameter IL- , IL-2, TNF- plasma dan distribusi sitokin tersebut pada jaringan sendi, serta skala histopatologi sendi. 6) Mengkaji pengaruh pemberian antioksidan (vitamin C) pada artritis ajuvan yang terpapar dengan stresor dingin terhadap skala aktivitas penyakit. Hipotesis penelitian ini adalah: 1) Stresor dingin meningkatkan kadar MDA plasma dan jaringan periartikuler pada artritis ajuvan. 2) Stresor dingin pada artritis ajuvan meningkatkan proses keradangan yang digambarkan dengan parameter IL- , IL-2, TNF- plasma dan distribusi sitokin tersebut pada jaringan sendi, serta skala histopatologi sendi. 3) Stresor dingin pada artritis ajuvan meningkatkan skala aktivitas penyakit. 4) Stresor dingin menurunkan aktivitas katalase dan SOD dalam plasma dan jaringan periartikuler pada artritis ajuvan. 5) Pemberian antioksidan (vitamin C) pada artritis ajuvan yang terpapar dengan stresor dingin menghambat peningkatan proses keradangan yang digambarkan dengan parameter IL- , IL-2, TNF- plasma dan distribusi sitokin tersebut pada jaringan sendi, serta skala histopatologi sendi. 6) Pemberian antioksidan (vitamin C) pada artritis ajuvan yang terpapar dengan stresor dingin menghambat peningkatan skala aktivitas penyakit. Manfaat penelitian ini secara teoritis adalah: 1) Mendapatkan kejelasan tentang pengaruh stresor dingin terhadap proses keradangan pada artritis ajuvan. 2) Mendapatkan kejelasan tentang pengaruh pemberian vitamin C selaku antioksidan terhadap proses keradangan pada artritis ajuvan yang terpapar dengan stresor dingin. Manfaat praktis penelitian ini adalah hasil penelitian ini dapat dipakai sebagai landasan teoritik untuk penelitian selanjutnya tentang pencegahan dan pengobatan penderita artritis rematoid yang terpapar dengan stresor dingin. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental dengan menggunakan rancangan penelitian Separate Pretest-Posttest Control Group Design. Penelitian ini menggunakan tiga kelompok tikus Wistar, di mana masing-masing kelompok terdiri dari 8 ekor tikus. Kelompok I terdiri dari tikus Wistar dengan artritis ajuvan yang mendapat stresor dingin berupa dimasukkan dalam ruangan 5° C selama 15 menit setiap hari selama 7 hari berturut-turut, dan diberi antioksidan vitamin C 50 mg secara per oral setiap hari sejak 7 hari sebelum perlakuan. Kelompok II terdiri dari tikus Wistar dengan artritis ajuvan yang mendapat stresor dingin berupa dimasukkan dalam ruangan 5° C selama 15 menit setiap hari selama 7 hari berturut-turut. Kelompok III terdiri dari tikus Wistar dengan artritis ajuvan yang tidak mendapat perlakuan. Artritis ajuvan dibuat dengan menyuntikkan 0,1 ml Complete Freund Ajuvant (CFA) secara intradermal pada pangkal ekor tikus, dan 14 hari kemudian diberikan booster dengan menyuntikkan 0,1 ml CFA secara intradermal pada kaki kanan dan kin tikus. Gejala artritis ajuvan akan timbul setelah tujuh hari. Masing-masing kelompok tikus diukur kadar IL- , IL-2, TNF- plasma dengan metoda ELISA dan IL- , IL-2, TNF- jaringan sendi dengan metoda imunohistokimia; kadar MDA, katalase, dan SOD dalam plasma dan jaringan periartikuler dengan metoda spektrofotometri; skala histopatologi sendi pada sediaan jaringan sendi dengan pewarnaan hematoksilin eosin (HE); skala aktivitas penyakit dengan pengamatan secara klinik pada tikus. Pemeriksaan dilakukan empat kali, yaitu sebelum perlakuan, segera setelah perlakuan, 7 hari setelah perlakuan, dan 14 hari setelah perlakuan. Pengamatan pertama, ke dua, ke tiga dan ke empat dilakukan pada kelompok tikus yang berbeda, karena pada masing-masing pemeriksaan yang dilakukan harus mengorbankan tikus. Hasil analisis data kadar MDA plasma dan jaringan periartikuler pada segera setelah pemberian stresor dingin, 7 hari setelah pemberian stresor dingin, dan 14 hari setelah pemberian stresor dingin dengan Multivariate Analysis of Variance (Manova), menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang bermakna (p<0,05) kadar MDA plasma dan jaringan perartikuler, antara tikus dengan artritis ajuvan yang mendapat stresor dingin dan tikus dengan artritis ajuvan yang tidak mendapat stresor dingin. Rerata kadar MDA plasma dan jaringan periartikuler pada tikus dengan artritis ajuvan yang mendapat stresor dingin lebih tinggi dari tikus dengan artritis ajuvan yang tidak mendapat stresor dingin. Pemberian antioksidan (vitamin C) menghambat secara bermakna (p<0,05) peningkatan kadar MDA plasma dan jaringan periartikuler pada tikus dengan artritis ajuvan yang mendapat stresor dingin. Hasil analisis data kadar superoksida dismutase (SOD) dan katalase dalam plasma dan jaringan periartikuler pada segera setelah pemberian stresor dingin, 7 hari setelah pemberian stresor dingin, dan 14 hari setelah pemberian stresor dingin dengan Multivariate Analysis of Variance (Manova), menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang bermakna (p<0,05) aktivitas SOD dan katalase dalam plasma dan jaringan periartikuler, antara tikus dengan artritis ajuvan yang mendapat stresor dingin dan tikus dengan artritis ajuvan yang tidak mendapat stresor dingin. Rerata aktivitas SOD dan katalase dalam plasma dan jaringan periartikuler pada tikus dengan artritis ajuvan yang mendapat stresor dingin lebih rendah dari tikus dengan artritis ajuvan yang tidak mendapat stresor dingin. Pemberian antioksidan (vitamin C) menghambat secara bermakna (p<0,05) penurunan aktivitas SOD dan katalase dalam plasma dan jaringan periartikuler pada tikus dengan artritis ajuvan yang mendapat stresor dingin. Hasil analisis data kadar IL-1(3, IL-2, TNF-a plasma dan jaringan sendi pada segera setelah pemberian stresor dingin, 7 hari setelah pemberian stresor dingin, dan 14 hari setelah pemberian stresor dingin dengan Multivariate Analysis of Variance (Manova), menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang bermakna (p<0,05) variabel IL-1(3, IL-2, TNF-a dalam plasma dan jaringan sendi, antara tikus dengan artritis ajuvan yang mendapat stresor dingin dan tikus dengan artritis ajuvan yang tidak mendapat stresor dingin. Rerata variabel IL-1(3, IL-2, TNF-a plasma dan jaringan sendi pada tikus dengan artritis ajuvan yang mendapat stresor dingin lebih tinggi dari tikus dengan artritis ajuvan yang tidak mendapat stresor dingin. Hasil analisis data skala histopatologi sendi pada kelompok tikus dengan artritis ajuvan yang mendapat stresor dingin dan kelompok tikus dengan artritis ajuvan yang tidak mendapat stresor dingin, dengan menggunakan uji Mann-Whitney menunjukkan bahwa stresor dingin meningkatkan secara bermakna (p<0,05) proses keradangan pada tujuh hari dan empat belas hari setelah perlakuan. Skala histopatologi sendi belum meningkat secara bermakna bermakna (p>0,05) pada segera setelah perlakuan, tetapi rerata skala histopatologi sendi pada tikus yang mendapat stresor dingin lebih tinggi dari pada tikus yang tidak mendapat stresor dingin. Hasil analisis data skala aktivitas penyakit pada kelompok tikus dengan artritis ajuvan yang mendapat stresor dingin dan kelompok tikus dengan artritis ajuvan yang tidak mendapat stresor dingin, dengan menggunakan uji Mann-Whitney menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan yang bermakna (p>0,05) skala aktivitas penyakit pada kelompok tikus dengan artritis ajuvan yang mendapat stresor dingin dan kelompok tikus dengan artritis ajuvan yang tidak mendapat stresor dingin pada segera setelah perlakuan, 7 hari setelah perlakuan, dan 14 hari setelah perlakuan. Ada kecenderungan peningkatan skala aktivitas penyakit pada kelompok tikus dengan artritis ajuvan yang mendapat stresor dingin, dibandingkan dengan kelompok tikus dengan artritis ajuvan yang tidak mendapat stresor dingin pada segera setelah perlakuan, tujuh hari setelah perlakuan, dan empat belas hari setelah perlakuan. Hasil analisis data kadar IL- , IL-2, TNF- plasma dan jaringan sendi pada segera setelah pemberian stresor dingin, 7 hari setelah pemberian stresor dingin, dan 14 hari setelah pemberian stresor dingin dengan Multivariate Analysis of Variance (Manova), menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang bermakna (p<0,05) variabel IL- , IL-2, TNF- plasma dan jaringan sendi, antara keolmpok tikus dengan artritis ajuvan yang mendapat stresor dingin ditambah antioksidan (vitamin C) dan kelompok tikus dengan artritis ajuvan yang mendapat stresor dingin. Rerata variabel IL- , IL-2, TNF- plasma dan jaringan sendi pada kelompok tikus dengan artritis ajuvan yang mendapat stresor dingin ditambah antioksidan lebih rendah dari tikus dengan artritis ajuvan yang tidak mendapat stresor dingin. Hasil analisis data skala histopatologi sendi pada kelompok tikus dengan artritis ajuvan yang mendapat stresor dingin ditambah antioksidan dan kelompok tikus dengan artritis ajuvan yang mendapat stresor dingin tanpa antioksidan, dengan menggunakan uji Mann-Whitney menunjukkan bahwa pemberian antioksidan menghambat secara bermakna (p<0,05) peningkatan proses keradangan yang digambarkan dengan skala histopatologi sendi pada empat belas hari setelah perlakuan. Segera setelah perlakuan dan tujuh hari setelah perlakuan, belum ada penghambatan yang bermakna (p>0,05) dari peningkatan skala histopatologi sendi, tetapi ada kecenderungan penghambatan. Hasil analisis data skala aktivitas penyakit pada kelompok tikus dengan artritis ajuvan yang mendapat stresor dingin ditambah antioksidan dan kelompok tikus dengan artritis ajuvan yang mendapat stresor dingin tanpa antioksidan, dengan menggunakan uji Mann-Whitney menunjukkan bahwa pemberian antioksidan tidak menghambat secara bermakna (p>0,05) peningkatan proses keradangan yang digambarkan dengan skala aktivitas penyakit pada segera setelah perlakuan, tujuh hari setelah perlakuan, dan empat belas hari setelah perlakuan. Tetapi, ada kecenderungan penghambatan peningkatan skala aktivitas penyakit pada segera setelah perlakuan, tujuh hari setelah perlakuan, dan empat belas hari setelah perlakuan. Kesimpulan hasil analisis data penelitian ini adalah: 1) Stresor dingin pada artritis ajuvan meningkatkan kadar malondialdehida (MDA) plasma dan jaringan periartikuler. Keadaan ini disebabkan oleh peningkatan produksi senyawa oksigen reaktif yang terjadi pada proses lepas kaitan pada fosforilasi oksidatif dalam usaha untuk meningkatkan produksi panas. 2) Pemberian stresor dingin pada artritis ajuvan meningkatkan secara bermakna proses keradangan, yang digambarkan dengan parameter IL- , IL-2, TNF- plasma dan jaringan sendi, serta skala histopatologi sendi. Keadaan ini disebabkan oleh peningkatan produksi senyawa oksigen reaktif, yang selanjutnya akan menyebabkan peningkatan mediator inflamasi dan kerusakan oksidatif komponen sel, dengan akibat terjadi peningkatan proses keradangan. 3) Pemberian stresor dingin pada artritis ajuvan cenderung meningkatkan skala aktivitas penyakit. Keadaan ini disebabkan oleh terjadinya peningkatan proses keradangan yang cenderung meningkatkan aktivitas penyakit secara klinik. 4) Stresor dingin pada artritis ajuvan menyebabkan penurunan aktivitas SOD dan katalase dalam plasma dan jaringan periartikuler. Keadaan ini disebabkan oleh terjadinya peningkatan senyawa oksigen reaktif pada artritis ajuvan yang terpapar dengan stresor dingin, menyebabkan kerusakan oksidatif pada SOD dan katalase. Kerusakan oksidatif tersebut akan menyebabkan penurunan aktivitas SOD dan katalase. 5) Pemberian antioksidan (vitamin C) pada artritis ajuvan yang terpapar dengan stresor dingin, menghambat secara bermakna peningkatan proses keradangan yang digambarkan dengan parameter IL- , IL-2, TNF- plasma dan jaringan sendi, serta skala histopatologi sendi. Keadaan ini disebabkan oleh peredaman senyawa oksigen reaktif pada pemberian antioksidan (vitamin C), sehingga dampak negatif senyawa oksigen reaktif terhadap peningkatan proses keradangan akan dihambat. 6) Pemberian antioksidan (vitamin C) pada artritis ajuvan yang terpapar dengan stresor dingin, cenderung menghambat peningkatan skala aktivitas penyakit. Keadaan ini disebabkan oleh terjadinya penurunan proses keradangan yang cenderung menurunkan aktivitas penyakit secara klinik. Hasil penelitian ini disarankan untuk dipakai sebagai landasan teotitik pada penelitian selanjutnya tentang pengaruh stresor dingin terhadap aktivitas penyakit artritis rematoid, serta pengaruh pemberian antioksidan terhadap artritis rematoid yang terpapar dengan stresor dingin. Selanjutnya disarankan untuk melakukan penelitian yang sama dengan penelitian ini, tetapi diamati dalam jangka waktu yang lebih lama (lebih dari 14 hari), atau diberikan dosis vitamin C yang berbeda, atau menggunakan antioksidan lain, seperti misalnya glutation.

Item Type: Thesis (Disertasi)
Additional Information: KKA KK Dis K 01/05 Pra p
Uncontrolled Keywords: Adjuvant arthritis, reactive oxygen species (ROS), antioxidant, inflammation.
Subjects: R Medicine > R Medicine (General) > R5-920 Medicine (General)
R Medicine > R Medicine (General) > R735-854 Medical education. Medical schools. Research
Divisions: 09. Sekolah Pasca Sarjana > Ilmu Kedokteran
Creators:
CreatorsNIM/NIDN
SULISTIANA PRABOWO, 090013748 DUNSPECIFIED
Contributors:
ContributionNameNIDN/NIDK/NUP
ContributorPURNOMO SURYOHUDOYO, Prof., Dr., Sp.BKUNSPECIFIED
ContributorWIDYA ASMARA, Drh., M.S., Ph.DUNSPECIFIED
ContributorFedik A Ramtam, Drh., Ph.DUNSPECIFIED
Depositing User: Ika Rudianto
Date Deposited: 07 Jun 2016 01:38
Last Modified: 12 Jul 2017 02:37
URI: http://repository.unair.ac.id/id/eprint/31848
Sosial Share:

Actions (login required)

View Item View Item