PNEUMOKONIOSIS AKIBAT PAJANAN DEBU TULANG PADAPENGRAJIN TULANG DI BALI : PENELITIAN EKSPERIMENTAL LABORATORIS PADA MENCIT DAN TIKUS DAN PENELITIAN CROSS-SECTIONAL PADA PENGRAJIN

IDA BAGUS NGURAH RAI, 099512066/D (2002) PNEUMOKONIOSIS AKIBAT PAJANAN DEBU TULANG PADAPENGRAJIN TULANG DI BALI : PENELITIAN EKSPERIMENTAL LABORATORIS PADA MENCIT DAN TIKUS DAN PENELITIAN CROSS-SECTIONAL PADA PENGRAJIN. Disertasi thesis, UNIVERSITAS AIRLANGGA.

[img]
Preview
Text (FULLTEXT)
gdlhub-gdl-s3-2007-raiidabagu-5286-disk06-3.pdf

Download (1MB) | Preview
Official URL: http://lib.unair.ac.id

Abstract

Di Kecamatan Tampaksiring. Kabupaten Gianyar. 35 km ke arah Timur Denpasar, Bali terdapat kelompok pengrajin ukiran tulang yang mempergunakan bor sebagai alat mengukir. Melihat debu yang dihasilkan begitu banyak. terlihat muka dan rambut pengrajin dipenuhi debu. dan debu yang terjadi sangat halus, mendorong suatu pemikiran akan terjadinya pneumokoniosis yaitu suatu penyakit pant akibat pajanan debu yang menyebabkan fibrosis luas pada paru dengan manifestasi perburukan fungsi paru yang umumnya irreversibel, pada pengrajin tersebut. Dengan belum adanya informasi tentang pengaruh debu tulang terhadap kejadian pneumokoniosis, maka penelitian ini dilaksanakan. Karena pemajanan debu tulang baru mulai sejak 7-10 tahun yang lalu, maka tidak mungkin menemukan kasus pneumokoniosis secara klinis dan radiologis yang umumnya baru tampak setelah pemajanan debu berlangsung 20-30 tahun. Untuk itu dilakukanlah penelitian pada binatang coba, dikombinasikan dengan penelitian mempergunakan petanda biologis untuk medeteksi adanya pneumokoniosis awal pada pengrajin. Dalam pelaksanaannva penelitian ini dibagi menjadi dua bagian yaitu bagian pertama berupa penelitian eksperimental murni (true experimental) dengan rancangan acak lengkap menggunakan mencit dan tikus putih sebagai binatang coba, digunakan untuk mengetahui pengaruh debu tulang terhadap jumlah makrofag pada cairan bronchoalveolar lavage (BAL) tikus putih, konsentrasi TNF- cairan BAL tikus putih, gambaran histopatologis paru mencit, dan gambaran histopatologis paru tikus putih. Penggunaan 2 spesies binatang coba pada penelitian ini berdasarkan pertimbangan adanya faktor suseptibiliti binatang coba terhadap pemajanan debu tulang yang selama ini belum diketahui. Penelitian pada binatang coba ini mempergunakan konsep real-setting yaitu apa yang dikerjakan sedapat mungkin sesuai dengan yang terjadi pada pengrajin tulang di lapangan antara lain dalam hal teknik pemajanan debu, penentuan waktu untuk pengambilan bahan pemeriksaan. Hal ini dimaksudkan agar hasil yang diperoleh merupakan hasil yang “apa-adanya karena penelitian ini merupakan penelitian awal atau pertama kali. Untuk mencit. sampel sebanvak 32 ekor dibagi ke dalam 4 kelompok terdiri atas kelompok dengan kode IA sebagai kontrol. kelompok IB diberi pajanan sebanvak 0.25 g debu tulang, kelompok IC diberi pajanan sebanvak 0,50 debu tulang. dan kelompok ID diberi pajanan sebanvak 0,75 g debu tulang. Untuk tikus putih dipergunakan juga sebanyak 32 ekor yang dibagi menjadi kelompok dengan kode IIA sebagai kontrol, kelompok IIB diberi pajanan sebanyak I g debu, kelompok IIC diberi pajanan sebanvak 1.5 g debu. dan kelompok IID diberi pajanan sebanvak 2 g debu. Penentuan besarnya dosis debu yang dipajankan adalah berdasarkan percobaan awal karena belum diketahuinya efek pemajanan debu tulang pada binatang coba yaitu dengan jalan melakukan pemajanan debu dengan dosis yang ditingkatkan dan diturunkan secara bertahap sehingga didapatkan dosis tertentu yang tidak menyebabkan binatang coba terlihat terganggu oleh pemajanan debu yang diberikan . Pemajanan dilakukan pada ruang pemajanan dengan metode “head only terbuat dari kaca berbentuk kubus berukuran 18x18x18 cm³ untuk mencit dan 20x20x20 cm³ untuk tikus. Periode pemajanan adalah 6 jam sehari. 6 kali seminggu. selama 4 minggu. Sehari setelah penghentian pemajanan dilakukan nekropsi pada tikus putih untuk melihat perubahan histologis secara makroskopis paru tikus, dan pembuatan preparat paru untuk melihat perubahan histologis mikroskopis. Bersamaan dengan nekropsi dilakukan BAL pada tikus putih dengan jalan mengaspirasikan cairan phosphat buffer saline (PBS) pH 7,2-7,4 sebanyak 0,5 ml mempergunakan spuit 1 ml intratrakeal. Dari cairan BAL yang diperoleh. setelah disentripius dengan kecepatan 4000 rpm x 3 menit. bagian endapannya dipergunakan untuk pembuatan preparat hapus untuk menghitung jumlah makrofag, sedangkan bagian supernatansnya dipergunakan untuk menentukan konsentrasi TNF- . Nekropsi mencit juga dilakukan sehari setelah penghentian pemajanan untuk melihat perubahan histologis paru mencit secara makroskopis, dan pembuatan preparat histologis paru mencit guna melihat perubahan histologis paru mencit secara mikroskopis setelah pemajanan debu tulang. Penelitian bagian kedua merupakan penelitian observasional analitis dengan rancangan cross-sectional. Penelitian pada pengrajin ini dilakukan berdasarkan konsep non-invasif vaitu menghindarkan pemeriksaan yang bersifat invasif seperti misalnva biopsi transtorakal, BAL, karena penelitian yang dilakukan adalah pada populasi yang belum menunjukkan tanda sakit sehingga risiko penolakan oleh pengrajin adalah besar. ditambah lagi dengan kemungkinan timbulnya kejadian efek samping yang mengkhawatirkan dan tindakan tersebut yang dapat berakibat penolakan oleh mereka yang belum diperiksa. Dengan konsep ini, adalah tidak mungkin mengidentifikasi pneumokoniosis awal secara pasti karena harus berdasarkan pemeriksaan histopatologis yang bahannya mesti diperoleh melalui tindakan biopsi yang bersifat invasif Dengan tidak memungkinkan mengidentifikasi kasus pneumokoniosis awal secara pasti maka penelitian menggunakan rancangan kasus-kelola misalnya, tidak dapat dilaksanakan. Penelitian pada pengrajin ini, diawali dengan identifikasi faktor risiko dan faktor efek, yang kemudian diikuti dengan penelusuran frekuensi dari faktor risiko potensial dan pada waktu yang bersamaan dilakukan pengumpulan data serta analisis deskriftif indikator kejadian pneumokoniosis awal yaitu konsentrasi sTNFr75 plasma. Di samping itu. faktor efek lainnva yang diperiksa adalah (1) kejadian obstruktif jalan napas melalui pemeriksaan nilai VEP1/KVP (VEP1= volume ekspirasi paksa detik pertama: KVP= kapasitas vital paksa) dengan spirometer. dan (2) kejadian restriktif paru melalui pemeriksaan nilai KVP dengan spirometer. Kejadian obstruktif jalan napas diperiksa karena berkaitan dengan proses inflamasi pada saluran napas akibat pajanan debu yang dapat terjadi selama proses pneumokoniosis awal. sedangkan kejadian restriktif paru diperiksa karena berkaitan dengan luasnya fibrosis yang terjadi pada lesi pneumokoniosis, yang pada beberapa penelitian baik kejadian obstruktif jalan napas maupun restriktif paru dapat terjadi sebelum lesi pneumokoniosis terdeteksi pada gambaran radiologis dan klinis. Sebagai faktor risiko pada penelitian pengrajin ini adalah lama kerja sebagai pengrajin. dosis kumulatif pajanan debu tulang yang diterima pengrajin. dan jumlah pajanan asap rokok yang diterima pengrajin. Pajanan asap rokok dimasukkan sebagai faktor resiko berdasarkan pada pengamatan bahwa banyak pengrajin yang terlihat merokok dalam pekerjaannya, dan asap rokok merupakan salah satu bahan inhalan yang dihirup oleh pengrajin bersama dengan partikel debu tulang. Dosis kumulatif ditentukan dengan jalan mengkalikan lama kerja dalam tahun dengan konsentrasi debu respirabel yang diinhalasi oleh pengrajin. Hasil yang diperoleh pada penelitian binatang coba, menunjukkan bahwa debu tulang yang dipajankan pada tikus putih dan mencit berpengaruh terhadap terjadinya pneumokoniosis awal pada binatang coba tersebut terlihat dari kemampuan debu tulang untuk mengak-tivasi makrofag alveolar yang dibuktikan dengan adanya peningkatan jumlah makrofag pada cairan BAL tikus putih yang bermakna (p= 0,001) yang sejalan dengan peningkatan dosis pajanan debu tulang, peningkatan konsentrasi TNF- pada cairan BAL tikus putih (p= 0,001), dan terjadinya perubahan histopatologis berupa inflamasi kronik granulomatus pada paru mencit maupun tikus putih. Nilai rata-rata TNF- (ng/ml) pada cairan BAL tikus untuk kelompok A adalah tidak terdeteksi, 0,8236 ± 0,0837 ng/ml untuk kelompok B, kelompok C adalah 1,4757 ± 0,2571 ng/ml, dan 2,2048 ± 0,2234 ng/ml untuk kelompok D. Baik pada paru mencit maupun tikus putih debu tulang berpengaruh nyata terhadap gambaran makroskopis (p= 0,001) berupa kongesti dari yang ringan sampai dengan berat Suatu inflamasi granulomatus imonogenis jelas terlihat pada gambaran makroskopis paru tikus yang mendapatkan pajanan debu tulang sebanyak 2 gram (konsentrasi 1,7351 ± 0,1109 mg/m3) atau dosis kumulatif 1,7351 ± 0,1109 mg bulan/m3 (lama pajanan= 4minggu). Pada penelitian bagian kedua, 518 orang pengrajin tulang, telah diindikasikan adanya tanda pneumokoniosis awal berupa peningkatan pengeluaran sitokin TNF- akibat pajanan debu tulang, yang dibuktikan dengan temuan pada penelitian ini yaitu adanya peningkatan konsentrasi sTNFr75 yaitu lebih besar dari 1 ng/ml pada semua pengrajin, yang mempunyai hubungan bermakna dengan lama kerja (p= 0.001), dengan dosis kumulatif (p= 0,001). Pajanan asap rokok mempunyai hubungan dengan peningkatan konsentrasi sTNFr75 plasma (p=0,001), tetapi kebiasaan merokok hanya berpengaruh pada pengrajin dengan lama kerja panjang dengan dosis kumulatif besar, tidak pada pengrajin dengan lama kerja pendek dan dosis kumulatif rendah. Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa ketiga faktor risiko tersebut baik secara bersama atau sendiri mempunyai hubungan yang bermakna dengan konsentrasi sTNFr75. Kejadian obstruktif jalan napas ditemukan pada 58 orang pengrajin (11%), mempunyai hubungan dengan lama kerja (p= 0,001). dengan dosis kumulatif (p= 0,001). dengan jumlah pajanan asap rokok (p= 0,038). Kebiasaan merokok tidak berpengaruh terhadap kejadian obstruktif ini. Sebanyak 41 orang (7,7%) menunjukkan kelainan restriktif paru tetapi kejadian restriktif tidak berhubungan dengan lama kerja (p= 0.126). dengan dosis kumulatif (p= 0.086), dan dengan jumlah pajanan asap rokok (p= 0.173). Ini menunjukkan bahwa belum terjadi fibrosis yang luas pada paru pengrajin akibat pajanan debu tulang. Analisis yang dilakukan terhadap debu tulang yang diperoleh pada proses pengerjaan ukiran tulang pada pengrajin menujukkan bentukan partikel yang tidak teratur . 85.92% dari substansi yang terdapat pada partikel debu tulang bersifat tidak larut pada air (9,98% terlarut murni, 4.10% tersuspensi). dengan kandungan kimiawyi yang terdiri atas Ca (29.97%). P (9,87%) dan unsur lainnva seperti Mg. Fe. Zn. Na, K. Mn, Cu. Pb, Si, Al, Cd, Cr, serta protein sebanyak 6,85% dan karbohidrat total 0,043%. Jamur spesies Rhizopus dan Penisilium serta bakteri Stafilokokus (reaksi koagulase positif) terisolasi secara konsisten pada debu tulang yang dipajankan pada tikus. debu tulang yang beterbangan pada saat pengrajin bekerja. serta jaringan granulasi paru tikus, dan tidak pada jaringan paru tikus kontrol. Sebagai kesimpulan dapat disebutkan bahwa debu tulang (sapi atau kerbau) yang merupakan debu organis mampu menginduksi pneumokoniosis dengan manifestasi histopatologis berupa inflamasi granulomatus imunogenis dengan bentukan granuloma. berbeda dengan manifestasi histopatologis pneumokoniosis akibat pajanan debu anorganis pada umumnya. Hal ini dapat terjadi karena partikel debu tulang di samping mengandung bahan anorganis. juga mengandung bahan organis yaitu protein dan karbohidrat yang kemungkinan dapat berfungsi sebagai alergen, dan berfungsi juga sebagai pembawa (vehicle) berbagai mikroorganisme (bakteri, jamur). Untuk itu, perlu perhatian yang lebih terhadap debu yang berasal dari bahan yang sejenis tulang seperti gading, tanduk, dan lainnya dalam kaitannya sebagai penyebab pneumokoniosis yang selama ini sering terabaikan. Karena belum ada penamaan pneumokonisosis oleh pajanan debu tulang sebelumnya, maka melalui penelitian ini, pneumokoniosis oleh pajanan debu tulang disebut osikosis (ossicosis) berasal dari kata osseus yang berarti tulang. </description

Item Type: Thesis (Disertasi)
Additional Information: KKA KK Dis K 06/03 Rai p
Uncontrolled Keywords: Organic dust; Bone dust Pneumoconiosis; Immunogenic granulomatous inflammation
Subjects: R Medicine > R Medicine (General)
Divisions: 09. Sekolah Pasca Sarjana > Ilmu Kedokteran
Creators:
CreatorsNIM/NIDN
IDA BAGUS NGURAH RAI, 099512066/DUNSPECIFIED
Contributors:
ContributionNameNIDN/NIDK/NUP
ContributorH. Hood Alsagaff, Prof., drUNSPECIFIED
ContributorMuhammad Amin, Prof. Dr., dr., Sp.P(K)UNSPECIFIED
Depositing User: Nn Husnul Khotimah
Date Deposited: 06 Oct 2016 00:35
Last Modified: 11 Jun 2017 19:55
URI: http://repository.unair.ac.id/id/eprint/31879
Sosial Share:

Actions (login required)

View Item View Item