MAPPING IL-I;, TNF-, DOPAMIN DAN HVA DI DARAH TEPI PADA CEREBRAL PALSY

SATIMIN HADIWIDJAJA, 099712385 D (2002) MAPPING IL-I;, TNF-, DOPAMIN DAN HVA DI DARAH TEPI PADA CEREBRAL PALSY. Disertasi thesis, UNIVERSITAS AIRLANGGA.

[img]
Preview
Text (ABSTRAK)
gdlhub-gdl-s3-2007-hadiwidjaj-5242-kkakkd-k.pdf

Download (568kB) | Preview
[img]
Preview
Text (FULLTEXT)
gdlhub-gdl-s3-2007-hadiwidjaj-5242-disk19-m.pdf

Download (2MB) | Preview
Official URL: http://lib.unair.ac.id

Abstract

Cerebral palsy (CP) adalah suatu sindrom akibat gangguan otak yang bersifat non progresif dan non herediter pada anak-anak karena adanya hipoksia serebri, yang ditandai dengan adanya gangguan gerak dan atau sikap tubuh. Berdasarkan kejadiannya, cerebral palsy dapat terjadi mulai dari masa prenatal, intranatal maupun perinatal. Banyak faktor penyebab terjadinya cerebral palsy. Faktor genetik merupakan faktor yang masih diperdebatkan, sedang faktor lingkungan yang berpengaruh terhadap kejadian cerebral palsy adalah: (a). Faktor prenatal, umumnya akibat malnutrisi, keracunan kehamilan serta infeksi intrauterin, (b). Faktor intranatal terutama akibat trauma saat kelahiran (c). Infeksi serebral merupakan faktor perinatal terpenting pada kejadian cerebral palsy.Berdasarkan gejala yang timbul, cerebral palsy dibedakan menjadi 4 (empat) tipe, yaitu : (1) tipe spastik, yang merupakan kelompok terbesar CP (66%), yang timbul akibat kerusakan korteks serebri dan traktus piramidalis; sub kelompok dalam tipe ini muncul dalam bentuk hemiplegia (30%), diplegia (16%) dan kuadriplegia (20%). (2) tipe diskinetik, merupakan kelompok terbesar kedua CP (21%), terjadi akibat kerusakan ganglia basalis dan traktus ekstrapiramidalis; sub kelompok dalam tipe ini dalam bentuk atetoid, distonia dan hipotonia. (3) tipe ataksia (3) terjadi akibat kerusakan dari serebellum dan (4) tipe campuran (10%), yang ditandai dengan munculnya lebih dari satu gejala tersebut di atas. Gerak normal akan terjadi karena didukung oleh impuls sarafi yang normal, mulai dari pusat motoris di korteks serebri, ganglia basalis. serebellum, thalamus, batang otak, serabut-serabut proyeksi berupa serabut-serabut piramidalis dan ekstrapiramidalis, sel-sel motoris di medulla spinalis, serabut motoris radiks anterior, myoneural junction serta otot. Apabila ada gangguan impuls sarafi di tempat-tempat tersebut di atas, maka gangguan gerak akan muncul. Pada cerebral palsy, akibat hipoksia serebri mengakibatkan terjadinya kerusakan otak; kerusakan otak dapat terjadi di area motoris korteks serebri, ganglia basalis, serebellum, serabut-serabut piramidalis dan ekstrapiramidalis, sehingga muncul gangguan gerak. Berdasarkan letak kerusakan otak, maka akan muncul tipe tertentu dari cerebral palsy dengan gangguan gerak yang spesifik pula. Dopamin yang merupakan salah satu neurotransmiter yang terdapat di hampir seluruh jaringan otak terutama di ganglia basalis ikut berperan dalam proses gerakan, sehingga kandungan dopamin akan terpengaruh juga akibat kerusakan otak (Burt, 1993). Tujuan penelitian ini adalah untuk membuktikan adanya perbedaan mapping IL- , TNF- , dopamin dan HVA di darah tepi antara kelompok kontrol dengan cerebral palsy ripe spastik dan tipe diskinetik akibat kerusakan otak, serta membuktikan pengaruh IL- dan TNF- terhadap Dopamin dan pengaruh Dopamin terhadap HVA pada cerebral palsy. Rancangan penelitian yang digunakan adalah jenis penelitian observasional dengan case-control study. Populasi dan sampel penelitian ini adalah: (1). Kelompok kasus, adalah anak-anak cerebral palsy umur antara 6–15 tahun, laki-laki dan perempuan dari SLB-D di YPAC cabang Surakarta, yang ditetapkan berdasar atas kriteria inklusi yang telah ditetapkan. (2). Kelompok kontrol, adalah anak-anak non cerebral palsy (anak normal), umur antara 6-15 tahun diambil secara matching berdasar atas umur dan jenis kelamin terhadap kelompok kasus cerebral palsy, dari anak-anak SDN Kemiri 04 di wilayah Kebakkramat Karanganyar Surakarta. Berdasarkan ETHICAL CLEARANCE yang dikeluarkan oleh Panitia Kelaikan Etik Fakultas Kedokteran Universitas Sebelas Maret bersama dengan RSUD Dr. Muwardi Surakarta Nomor : EC.03 / III / 02 menyatakan bahwa penelitian ini laik etik untuk dilaksanakan dan tidak melanggar Kode Etik Kedokteran. Setelah memperoleh ijin dari pimpinan YPAC dan Kepala Sekolah SDN Kemiri 04 serta persetujuan (informed consent) dan orang tua anak-anak cerebral palsy dan anak-¬anak SD yang bersangkutan, maka penelitian dapat dilaksanakan. Analisis data dalam penelitian ini diawali dengan uji homogenitas dan uji normalitas data; uji homogenitas ini dimaksudkan untuk mengetahui apakah sampel yang diambil dari populasi itu homogen atau tidak. Uji normalitas data dimaksudkan untuk mengetahui apakah data berdistribusi normal atau tidak; bila data berdistribusi normal, maka uji statistik yang digunakan untuk analisis data nantinya adalah uji statistik parametrik sedang bila data berdistribusi tidak normal, uji statistik yang digunakan untuk analisis data penelitian adalah uji statistik non parametrik. Oleh karena data penelitian berdistribusi normal, maka uji statistiknya adalah uji parametrik. Uji parametrik yang digunakan adalah : (1). analisis multivariat. (2). uji Anova, (3). analisis regresi dan korelasi berganda. Uji asumsi klasik dengan : uji heteroskedastisitas, uji autokorelasi dan uji multikolinearitas diambil untuk mengetahui ada tidaknya penyimpangan asumsi klasik yang dipersyaratkan dalam analisis regresi dan korelasi berganda. Sampel dalam penelitian ini ada 3 (tiga) kelompok, yaitu 1 (satu) kelompok kontrol dan 2 (dua) kelompok cerebral palsy yaitu cerebral palsy tipe spastik dan cerebral palsy tipe diskinetik. (a). Kelompok kontrol adalah anak non CP, umur 6-15 tahun (umur SD), laki-laki dan perempuan, tidak ada penyakit infeksi secara klinis, tidak ada alergi dan tidak ada gangguan gerak. (b). Cerebral palsy tipe spastik adalah anak¬anak cerebral palsy dengan spastisitas dan paralisis akibat dugaan kerusakan di korteks serebri dan traktus piramidalis, laki-laki dan perempuan, umur 6-15 tahun (umur SD), tidak ada penyakit infeksi secara klinis dan tidak ada alergi. (c). Cerebral palsy tipe diskinetik adalah anak-anak cerebral palsy dengan gerak involunter, rigiditas dan kurangnya kemampuan gerak akibat dugaan kerusakan di ganglia basalis dan traktus ekstrapiramidalis, laki-laki dan perempuan, umur 6-15 tahun (umur SD), tidak ada penyakit infeksi secara klinis dan tidak ada alergi. Hasil penelitian terlihat seperti di bawah ini. 1. Terdapat perbedaan yang bermakna dengan (p<0,05) mapping IL- , TNF- , Dopamin dan HVA di darah tepi antara kelompok kontrol dengan kelompok cerebral palsy tipe spastik 2. Terdapat perbedaan yang bermakna dengan (p<0,05) mapping IL- , TNF- , Dopamin dan HVA di darah tepi antara kelompok kontrol dengan kelompok cerebral palsy tipe diskinetik 3. Terdapat perbedaan yang bermakna dengan (p<0,05) mapping IL- , TNF- , Dopamin dan HVA di darah tepi antara cerebral palsy tipe spastik dengan cerebral palsy tipe diskinetik. Berdasarkan analisis diskriminan, dari 4 (empat ) variabel IL- , TNF- , Dopamin dan HVA terdapat 2 (dua) variabel vaitu IL- dan HVA sebagai pembeda (diskriminator) dengan kekuatan pembeda sebesar 81,1% antara kel. kontrol dengan CP spastik, antara kel.kontrol dengan CP diskinetik dan antara CP spastik dengan CP diskinetik. 4. Terdapat pengaruh bermakna dengan (p<0,05) secara bersama-sama kadar IL- dan TNF- terhadap kadar dopamin pada cerebral palsy. 5. Tidak terdapat pengaruh bermakna (p>0,05) kadar dopamin terhadap kadar HVA pada cerebral palsy. Berdasar hasil penelitian yang diperoleh, maka dapat disimpulkan bahwa : (a). Pada cerebral palsy tipe spastik, yang merupakan kelompok terbesar cerebral palsy, terjadi peningkatan variabel sitokin (IL- dan TNF- ) dan dopamin serta penurunan variabel HVA di darah tepi. (b). Peningkatan variabel IL- dan TNT- mempunyai pengaruh negatif karena dapat meningkatkan katabolisme jaringan, sehingga dapat merusak jaringan otak; bahkan peningkatansi TNF- yang berlebihan dapat menghasilkan radikal bebas, yang akhirnya juga akan merusak jaringan otak. (c). Peningkatan Dopamin mempunyai pengaruh negatif karena dapat menimbulkan diskinesia, yang akan menambah penderitaan anak. (d). Penurunan HVA tidak mempunyai pengaruh bermakna, kecuali hanya sebagai penanda bahwa pada cerebral palsy terjadi penurunan HVA akibat terganggunya transport HVA pada neuron akibat hipoksia serebri.

Item Type: Thesis (Disertasi)
Additional Information: KKA KK Dis K 19/03 Had m
Uncontrolled Keywords: Cerebral palsy, cerebral Hypoxic, cerebral damage, IL- , TNF- , Dopamine and HVA
Subjects: R Medicine > RC Internal medicine > RC666-701 Diseases of the circulatory (Cardiovascular) system
Divisions: 09. Sekolah Pasca Sarjana > Ilmu Kedokteran
Creators:
CreatorsNIM/NIDN
SATIMIN HADIWIDJAJA, 099712385 DUNSPECIFIED
Contributors:
ContributionNameNIDN/NIDK/NUP
ContributorBambang Rahino Setokoesoemo, Prof., H., drUNSPECIFIED
ContributorAboe Amar Joesoef, Prof., Dr., dr., Sp.S(K)UNSPECIFIED
Depositing User: Tn Fariddio Caesar
Date Deposited: 30 Oct 2016 20:09
Last Modified: 13 Jun 2017 22:06
URI: http://repository.unair.ac.id/id/eprint/31968
Sosial Share:

Actions (login required)

View Item View Item