LETAK GEN PENYANDI TOKSIN SHIGA PADA ISOLATSHIGA-TOXIGENIC ESCHERICHIA COLT : The location of genes encoding shiga-toxin of Shiga-toxigenic Escherichia coli

GARRY CORES DE VRIES, 0998131125 D (2005) LETAK GEN PENYANDI TOKSIN SHIGA PADA ISOLATSHIGA-TOXIGENIC ESCHERICHIA COLT : The location of genes encoding shiga-toxin of Shiga-toxigenic Escherichia coli. Disertasi thesis, UNIVERSITAS AIRLANGGA.

[img]
Preview
Text (ABSTRAK)
gdlhub-gdl-s3-2007-garrycores-5267-disk19-k.pdf

Download (321kB) | Preview
[img]
Preview
Text (FULLTEXT)
gdlhub-gdl-s3-2007-garrycores-5267-disk19-5.pdf

Download (1MB) | Preview
Official URL: http://lib.unair.ac.id

Abstract

Data dari beberapa Dinas Kesehatan Pemerintahan Kota melaporkan bahwa sebagian besar penyakit yang diderita pasien adalah diare terutama anak-anak. Daya tahan tubuh anak-anak dan orang lanjut usia memang rentan. Akibatnya bakteri mudah menyerang mereka. Walaupun mereka telah mendapat pelayanan kesehatan dari Dinas Kesehatan melalui para medis yang tersebar pada pos kesehatan, puskesmas maupun rumah sakit dengan obat-obatan yang tersedia seperti oralit, obat flu, antibiotik, obat sakit perut dan botol infus. namun hasilnya tidak sembuh (Darmansjah, 2001; Sampurno, 2003). Disamping sebagai flora normal, Escherichia coli juga mengadakan kolonisasi pada permukaan lapisan selaput lendir saluran usus. Bila kondisi pertahanan saluran pencernaan dilampaui maka E. coli normal yang non-patogen berubah menjadi patogen dan menginfeksi induk semangnya. Galur STEC anggota Escherichia coli mengandung faktor virulensi toksin shiga (Stx) yang disandi oleh gen stx. Toksin shiga STEC mirip dengan Stx Shigella dysenteriae type I sehingga diduga bahwa E. coli memperoleh transfer gen stx dari Shigella dysenteriae type I melalui 3 kemungkinan yaitu konjugasi (transfer DNA dari donor ke resipien), transformasi (pelepasan DNA plasmid ke lingkungan dan masuk ke sel bakteri lain), dan transduksi (transfer DNA yang melibatkan bakteriofag) (Dunn, 2003). Pemakaian obat tertentu dapat memperparah diare. Shiga-toxin dan faktor virulensi lain dari EHEC 0157 serta cara penggunaan obat terutama obat antimikroba perlu dievaluasi kembali (Choi et al., 2002; Schroeder et al., 2002). Panduan pengobatan infeksi EHEC 0157 yang dikeluarkan oleh Kementerian Kesehatan dan Kesejahteraan Jepang menganjurkan pemakaian kanamycin, fosfomycin, quinolone dan norfloxacin (Matsushiro et al., 1999). Pada pemberian antimikroba dengan dosis di atas batas yang dibutuhkan untuk tujuan menghambat replikasi bakteri, antimikroba ini malah meningkatkan aktifitas transkripsi gen stx hingga 140 kali lipat, oleh sebab itu pemakaian antimikroba hams dihindari pada pengobatan pasien yang terinfeksi STEC. Demikian pula dengan toksin lain yang dihasilkan oleh galur E. coli juga mengalami hal yang sama namun dengan efek sintesis yang kurang dibandingkan toksin shiga (Kimmit et al., 2000: Urio et al., 2001). Ringkasan sejarah Verocytotoxigenic E.coli/Shigatoxigenic E.coli menunjukkan bahwa masalah yang dihadapi dewasa ini adalah identifikasi E. coli non O157:H7 atau O157:H- yang mampu menghasilkan toksin shiga. Untuk mencapai tujuan utama ini maka digunakan teknik dasar molekular biologi untuk diagnosis terhadap adanya STEC di dalam feses hewan sapi dan babi penderita diare. Identifikasi terhadap galur STEC didasarkan pada deteksi terhadap gen stx yang berhubungan dengan produksi toksin shiga oleh Escherichia coli. Metode genetik yang digunakan untuk mengidentifikasi potongan fragmen DNA spesifik yang mewakili gen six] dan stx2 dikenal dengan probe untuk uji hibridisasi koloni dan sepasang primer sense dan antisense yang spesifik untuk metode Polymerase Chain Reaction (PCR). Tujuan utama dari penelitian ini adalah menemukan, mengisolasi dan mendeteksi galur Escherichia coil yang menghasilkan toksin shiga di dalam feses sapi dan babi, dan mengungkap letak gen yang menyandi faktor virulensi pada isolat STEC. Apakah terletak pada kromosom, plasmid atau bakteriofag dari isolat STEC. Pemahaman letak gen stx yang menyandi toksin shiga dapat digunakan untuk memberi solusi dalam tindakan deteksi dan penanggulangan diare yang disebabkab oleh STEC. Data yang diperoleh dari basil penyidikan terhadap feses sapi dan babi menunjukkan bahwa kolonisasi STEC pada hewan ruminansia dan omnivora bersifat lebih persisten dibandingkan patotype E. coil yang lain. Kolonisasi STEC lebih lama jangka waktunya dibanding E. coli normal. Ini menunjukkan bahwa STEC lebih unggul dalam persaingan terhadap E. colt lain atau saluran usus hewan ruminansia dan babi lebih cocok sebagai sarangnya. Ditemukannya isolat STEC di dalam feses sapi dan babi menunjukkan bahwa sapi dan babi dapat bertindak sebagai rantai penularan STEC bagi manusia. STEC yang diisolasi dari feses sapi dan babi dalam penelitian ini terdiri dari galur dengan faktor virulensi yang bermacam-macam yaitu yang membawa hanya satu jenis toksin shiga, six] atau stx2 saja, atau membawa kedua six] dan stx2. Transfer gen stx yang melibatkan bakteriofag menimbulkan dugaan bahwa lebih banyak flora gastrointestinal kompetitif dapat juga mendapatkan gen stx secara transfer lateral, yang menimbulkan kuman patogen barn yang virulen untuk manusia. Tampaknya bahwa STEC tidak mempunyai peranan penting dalam menimbulkan penyakit pada sapi dan babi. tetapi berperan dalam kolonisasi di dalam saluran usus dan perkembangannya di dalam feses. Pengamatan penyakit secara klinis terhadap sapi dan babi merupakan metode yang kurang praktis untuk pendeteksian STEC sebab hampir semua pedet, sapi dewasa dan babi tampak selalu sehat dan normal. Sapi secara umum memiliki prevalensi STEC yang lebih tinggi di dalam fesesnya dibandingkan babi Pada penelitian ini, kami menemukan letak gen stx dari isolat STEC berada pada tiga tempat. Semua isolat STEC mengandung gen stxl dan/atau stx2 terletak pada kromosom E. coli. Beberapa isolat STEC berhasil diinduksi profaganya menjadi bakteriofag litik. Hal ini menunjukkan bahwa E. coil dapat memperoleh gen stx secara transduksi melalui bakteriofag. Beberapa isolat STEC yang masih segar (baru) asal penderita diare kronis dapat ditemukan gen stx di dalam plasmid. Gen stx di dalam plasmid merupakan replika dari genom stx yang ada di dalam kromosom dan ini menunjukkan bahwa STEC tersebut berada dalam situasi yang selalu siap memproduksi Stx setiap saat. Peningkatan jumlah varian toksin shiga (Stx) berbanding lurus dengan perkembangan metode deteksi yang digunakan dan akan memberi gambaran basil penyidikan epiderniologi terhadap wabah penyakit yang lebih mendekati keadaan sebenarnya dan penemuan jenis STEC yang baru. Penggunaan hanya satu teknik saja seperti PCR atau hibridisasi koloni akan memberi gambaran yang salah terhadap suatu wabah penyakit karena keracunan makanan, bahwa beberapa penderita yang mengandung STEC di dalam fesesnya yang setara dengan galur E. coli yang membawa antigen 0157. Persyaratan yang serasi bagi suatu uji penyaringan STEC pada spesimen feses adalah mudah penggunaannya, dapat diperoleh di pasaran dan memberi hasil yang cepat. Pemakaian Kit diagnostik komersial adalah lebih mudah digunakan dan tidak membutuhkan reagen yang spesifik atau keterampilan yang tinggi namun penggunaannya secara rutin di laboratorium akan memberi gambaran yang salah terhadap kejadian wabah yang sebenarnya karena yang terdeteksi hanya galur STEC tertentu dan tidak varian lainnya.

Item Type: Thesis (Disertasi)
Additional Information: KKA KK DIS K 19/05 Vri l
Uncontrolled Keywords: Shigatoxin-producing Escherichia toll, colony hybridization, PCR, bacteriophage, plasmid
Subjects: R Medicine
Divisions: 09. Sekolah Pasca Sarjana > Ilmu Kedokteran
Creators:
CreatorsNIM/NIDN
GARRY CORES DE VRIES, 0998131125 DUNSPECIFIED
Contributors:
ContributionNameNIDN/NIDK/NUP
ContributorSoehartojo Hardjopranoto, Prof., Dr., H., MSc., drhUNSPECIFIED
ContributorSetyawan Budiharta, Prof., MPH., PhD., drhUNSPECIFIED
ContributorEddy Bagus Wasito, Dr., H., MS., SpMK., drUNSPECIFIED
Depositing User: Tn Fariddio Caesar
Date Deposited: 30 Oct 2016 20:06
Last Modified: 13 Jun 2017 22:17
URI: http://repository.unair.ac.id/id/eprint/31970
Sosial Share:

Actions (login required)

View Item View Item