EFEK PSIKOTERAPI ALBERT ELLIS TERHADAP PERUBAHAN PERILAKU AGRESIF NARAPIDANA : SUATU TINJAUAN PSIKIATRI BIOLOGIK

MOHAMMAD FANANI, 099712390 D (2003) EFEK PSIKOTERAPI ALBERT ELLIS TERHADAP PERUBAHAN PERILAKU AGRESIF NARAPIDANA : SUATU TINJAUAN PSIKIATRI BIOLOGIK. Disertasi thesis, UNIVERSITAS AIRLANGGA.

[img]
Preview
Text (ABSTRAK)
19.pdf

Download (263kB) | Preview
[img]
Preview
Text (FULLTEXT)
gdlhub-gdl-s3-2007-fananimoha-5219-disk25-5.pdf

Download (1MB) | Preview
Official URL: http://lib.unair.ac.id

Abstract

Problem: A recent recidivism rate which inclines to increase confirms social insecurity and less accomplishment of condemnation attempt. Considering to the criminals. a presumption reveals that there are responsive and irresponsive criminals of condemnation so they are likely to be recidivists. Cytokine has not been simply recognizable to work within immunity other than in term of aggressiveness behaviors. Thus, psychosocial stressor and extending psychotherapy may influence individual cytokine level. Evaluating cytokine level is therefore presumed to recognise the specification of prisoners' behavior and their response concerning to condemnation. Masalah: Akhir-akhir ini ada kecenderungan peningkatan angka residivisme, hal ini menunjukkan adanya ketidakamanan sosial dan kurang berhasilnya upaya pemidanaan. Ditinjau dari pelaku kejahatan diduga ada penjahat yang responsif terhadap pemidanaan dan ada yang tidak responsif terhadap pemidanaan sehingga cenderung menjadi residivis. Telah diketahui bahwa sitokin tidak hanya berperan dalam imunitas saja, tetapi juga dalam hal perilaku temasuk perilaku agresif. Demikian juga stresor psikososial maupun pemberian psikoterapi dapat mempengaruhi kadar sitokin individu. Oleh karena itu diduga dengan mengevaluasi kadar sitokin dapat diketahui spesifikasi perilaku narapidana, serta responnya terhadap pemidanaan. Objective: 1) To prove the difference of prisoners' aggressiveness quality by observing the composition of cytokine level. 2) To prove the difference of cytokine alteration among prisoners of aggressiveness group in responding psychotherapy. Tuiuan : 1). Membuktikan adanya perbedaan kualitas agresifitas narapidana dengan memperhatikan komposisi kadar sitokin. 2). Membuktikan adanya perbedaan perubahan sitokin antar kelompok agresifitas narapidana dalam merespon psikoterapi. Method: The quasi experimental pretest-posttest control group design with psychotherapy was applied to the recidivist and non-recidivist prisoners in Detention Center of Surakarta and in jail of Sragen. The observed data of the study comprises cytokine of IL-lβ, IL-2, TNFα, and MMPI-4 scale score. Metode : Dilakukan penelitian kuasi eksperimental, pretest and posttest control design terhadap narapidana residivis dan nonresidivis di LP Sragen dan Rutan Surakarta dengan perlakuan pemidanaan dan psikoterapi. Data yang diteliti adalah : Sitokin IL-lβ, IL-2, TNFα, skor skala 4 MMPI. Analisis statistik yang digunakan Manova untuk menguji homogenitas sampel, Qiuck Cluster untuk menentukan pengelompokan narapidana berdasarkan sitokin serum, analisis diskriminan untuk mengetahui faktor yang berperan sebagai pembeda kelompok akibat perlakuan penelitian. Hasil: 1.) Terdapat perbedaan kadar sitokin TNFα serum yaitu narapidana agresif tipe I menunjukkan kadar TNFα serum tinggi (68,00 mg/ml) sedangkan narapidana agresif tipe II menunjukkan kadar TNFα serum rendah (21,10 pg/ml) (Wilk's-Lambda 0,251 p=0,000). 2.) Terdapat perbedaan kadar sitokin akibat psikoterapi antara kelompok. Narapidana agersif tipe I mengalami penurunan kadar TNFα serum -52,9364 pg/ml, yang menunjukkan responsif, sedangkan narapidana agresif tipe II hanya mengalami perubahan kadar TNFα serum sedikit yaitu +0,3143 pg/ml yang berarti resisten terhadap psikoterapi. Kesimpulan : 1.) Perlu tenaga dokter ataupun psikiater sebagai saksi ahli dalam menentukan responsiveness narapidana terhadap psikoterapi dengan memeriksa kadar TNFα serum. 2.) Perlu pemilahan narapidana sejak masuk LP/ Rutan dengan batasan kadar TNF α < 21,1 pg/ml cenderung resisten terhadap pemidanaan dan psikoterapi. 3.) Perlu evaluasi perbaikan perilaku agresif narapidana berdasarkan penurunan kadar TNFα serum. 4.) Perlu dicarikan upaya pernaikan perlaku agresif bagi narapidana yang resisten antara lain dengan : menambah waktu pertemuan terapeutik, memberikan medikasi pada fase awal psikoterapi, atau terapi gen. 5.) Untuk menjawab ketepatan klasifikasi nerapidana yang resisten terhadap pemidanaan dan psikoterapi, bagi peneliti berikutnya disarankan untuk menambah variabel penelitian misalnya sitokin lainnya yang berkaitan erat dengan stresor psikososial dengan menambah jumlah sampel. 6.) Untuk meningkatkan validitas penelitian dianjurkan kepada peneliti berikutnya melakukan matching kepada responden meliputi : usia, jenis pelanggaran, status perkawinan, intelegensi ,dl1., 7.) Perlu dibuatkan instrumen psikologik untuk perilaku agresif maupun antisosial yang sesuai

Item Type: Thesis (Disertasi)
Additional Information: KKA KK Dis K 25/05 Fan e
Uncontrolled Keywords: prisoners, aggressiveness, antisocial behaviour, scle 4 MMPI cytokine (TNF ), psychotherapy.; Narapidana - Residivisme - Agresifitas - Antisosial Skala 4 MMPI - Sitokin (TNF .) - Psikoterapi.
Subjects: B Philosophy. Psychology. Religion > BF Psychology > BF698-698.9 Personality
Divisions: 09. Sekolah Pasca Sarjana > Ilmu Kedokteran
Creators:
CreatorsEmail
MOHAMMAD FANANI, 099712390 DUNSPECIFIED
Contributors:
ContributionNameEmail
ContributorMoeljono Notosoedirjo, Prof., Dr., R., dr., SpS., SpKJ., MPHUNSPECIFIED
Depositing User: Tn Fariddio Caesar
Date Deposited: 19 Oct 2016 01:38
Last Modified: 20 Jun 2017 16:25
URI: http://repository.unair.ac.id/id/eprint/32006
Sosial Share:

Actions (login required)

View Item View Item