INTERAKSI FAKTOR INDIVIDU, MEKANISME PEREDAMAN DAN NTENSITAS KEBISINGAN TERHADAP AMBANG PENDENGARAN : Karyawan Pabrik Pemintalan Se-Jawa Timur

MARDI, 090013727 D (2004) INTERAKSI FAKTOR INDIVIDU, MEKANISME PEREDAMAN DAN NTENSITAS KEBISINGAN TERHADAP AMBANG PENDENGARAN : Karyawan Pabrik Pemintalan Se-Jawa Timur. Disertasi thesis, UNIVERSITAS AIRLANGGA.

[img]
Preview
Text (ABSTRAK)
20.pdf

Download (141kB) | Preview
[img]
Preview
Text (FULLTEXT)
gdlhub-gdl-s3-2007-mardi-5257-disk25-u.pdf

Download (1MB) | Preview
Official URL: http://lib.unair.ac.id

Abstract

Aktifitas industri tidak bisa lepas dari proses mekanik, di mana dari proses mekanik tersebut akan menghasilkan kebisingan. bahkan kebisingan yang terjadi melebihi ambang batas yang diizinkan. Sebagai contoh, data dari sebuah instasi menjelaskan bahwa mesin gerinda dapat membangkitkan tingkat kebisingan dari. 80 – 104 dB pada pabrikasi pipa di Virginia Barat. Kemudian dari berbagai investigasi :National Institute for Occupational Safety and Health (NIOSH) sebagai berikut: mesin pemotong kertas 95–108 dB, perusahaan kimia pada area cleaning, polishing 88–113 dB, pabrik gelas 79–92 dB, bengkel manufaktur 115 dB, polisi latihan menembak 157–160 dB. Dampak dari kebisingan akan mengakibatkan ketulian, hal ini sesuai dengan laporan menyebutkan bahwa masih banyak pekerja yang mengalami ketulian. Data dari sebuah instasi menunjukkan bahwa tahun 1996 sampai 1998 angka kecelakaan kerja 3472 kasus. 82°,/o di antaranya merupakan kasus ketulian akibat kebisingan. Timbulnya ketulian dapat dicegah melalui pengendalian secara tehnik misalnya dengan memberikan peredaman pada sumber kebisingan, pengendalian secara administratif yaitu dengan merotasi job karvawan atau peraturan setiap karyawan diwajibkan menggunakan APT (Alat Pelindung Telinga), namun upaya ini tidak terlepas dari faktor individu yang terdiri dari pendidikan, pengalaman pelatihan dan umur yang menentukan perilaku pemakaian APT dalam mencegah meningkatnya ambang pendengaran, serta umur karyawan yang secara biologis sangat rentan terhadap kebisingan akan menambah ambang pendengaran. Sehingga masalah yang diangkat dalam penelitian ini adalah ambang pendengaran karyawan akibat intensitas kebisingan karena faktor individu. Program pelatihan keselamatan kerja yang berisikan pencegahan meningkatnya ambang pendengaran mempunyai tujuan utama 1) mengembangkan kesadaran (awareness) tentang masalah proses ketulian. 2 mengembangkan metode pencegahan meningkatnya ambang pendengaran akibat bising, 3) mengembangkan sikap menggunakan APT dan 4) mengintegrasikan berbagai pengertian tentang proses ketulian dan penggunaan APT ke dalam struktur norma dan filosofi setiap anggota yang terlibat, program ini biasanya diisi dengan pendidikan dan pelatihan keselamatan kerja, karena pendidikan dan pelatihan dipandang merupakan cara terbaik untuk mengembangkan sikap pencegahan meningkatnya ambang pendengaran. Seorang karyawan pada waktu menjadi karvawan sudah mempunyai tingkat pendidikan formal tertentu, oleh karena itu sudah mempunyai sikap dasar tertentu pula di dalam bekerja. Ketika karyawan ini mendapat pendidikan dan pelatihan tentang keselamatan kerja, khususnya pencegahan meningkatnya ambang pendengaran maka akan terjadi interaksi antara jenis umur dengan pelatihan; pelatihan dengan pendidikan dan pengalaman di dalam membentuk pencegahan meningkatnya ambang pendengaran. Selanjutnya interaksi juga terjadi antara faktor individu dengan intensitas kebisingan. Interaksi jenis ini menjadi menarik untuk diungkap karena masing-masing pendidikan mempunyai jenjang. Pendidikan formal mempunyai jenjang SD. SLTP, dan SLTA, sedangkan pendidikan keselamatan kerja (PKK) mempunyai jenjang pendek . medium dan panjang periodik pengalaman mempunyai jenjang 0-9 tahun, 10-20 tahun, 21-30 tahun dan 31-40 tahun serta umur mempunyai jenjang 21-30 tahun, 31-40 tahun 41-50 tahun dan 51-60 tahun serta faktor individu yang mempunyai jenjang lemah, cukup dan kuat , mekanisme peredaman yang mempunyai kategori 1 = 0-5,9; 2 = 6-15: 3 =15,10-26,40 dB dan intensits kebisingan yang mempunyai jenjang 70–77 dB, 78–85 dB, 86–88 dB, dan 88,10–93 dB . Keunikan interaksi inilah yang diungkap dalam penelitian sehingga pernyataan masalah yang diajukan adalah Apakah ada perbedaan faktor individu yang berupa pendidikan, pengalaman, umur dan pelatihan terhadap ambang pendengaran pada karyawan patal se-Jawa Timur yang terpapar bising? Apakah ada interaksi faktor individu yang berupa pendidikan, pengalaman, umur dan pelatihan terhadap ambang pendengaran pada karyawan patal se-Jawa Timur yang terpapar bising? Apakah ada interaksi faktor individu, mekanisme peredaman dan faktor intensitas kebisingan terhadap ambang pendengaran pads karyawan patal se-Jawa Timur yang terpapar bising? Berapa kontribusi faktor individu (yang berupa pendidikan, pengalaman, umur dan pelatihan), mekanisme peredaman dan intensitas kebisingan terhadap ambang pendengaran karyawan patal se -Jawa Timur? Manfaat teoritis penelitian ini adalah memberikan analisis ilmiah variabel yang paling dominan dari faktor individu yang berupa pendidikan, pengalaman, umur dan pelatihan dalam mencegah meningkatnya ambang pendengaran. Memberikan analisis ilmiah interaksi faktor individu yang berupa pendidikan, pengalaman, umur dan pelatihan dalam mencegah meningkatnya ambang pendengaran dari karyawan yang terpapar bising. Memberikan analisis ilmiah interaksi faktor individu, faktor intensitas bising dan mekanisme peredaman dalam ketulian dari karyawan yang terpapar bising. Tersusun kontribusi ambang pendengaran akibat interaksi antara faktor individu, mekanisme peredaman dan intensitas bising. Manfaat praktis adalah masukan pada perusahaan bahwa risiko ketulian akibat kebisingan pada beberapa area pembangkit bising dalam kaitannya dengan faktor individu, sehingga para pemberi keputusan perusahaan dapat menempatkan karyawan sesuai dengan kriteria individu. Pengembangan kebijakan perusahaan berdasar faktor individu, mekanisme peredaman dan intensitas bising dalam memilih dan menempatkan karyawan. Dasar pijakan untuk meminimalisasi terjadinya hearing loss di dalam perusahaan, sehingga berdasarkan temuan model kecenderungan peranan pelatihan keselamatan kerja dalam mencegah meningkatnya ambang pendengaran yang menurun seiring dengan kenaikan tingkat umur, dan naik seiring tingginya pendidikan formal maka para pengambil keputusan di industri, patal, depnaker maupun pengelola pendidikan keselamatan kerja agar berhasil guna maksimal. Hipotesis penelitian ini adalah (a). Ada perbedaan faktor individu yang berupa pendidikan, pengalaman, umur dan pelatihan terhadap ambang pendengaran pada karyawan patal se-Jawa Timur yang terpapar bising. (b). Ada interaksi faktor individu yang berupa pendidikan, pengalaman, umur dan pelatihan terhadap ambang pendengaran pada karyawan patal se-Jawa Timur yang terpapar bising (c). Ada interaksi faktor individu, mekanisme peredaman dan faktor intensitas kebisingan terhadap ambang pendengaran pada karyawan patal se-Jawa Timur yang terpapar hisinc Hipotesis pertama sampai dengan ketiga diturunkan berdasarkan cara berfikir pada kerangka konseptual bahwa akumulasi pengetahuan memberikan umpan balik kepada proses kognitif di dalam mengartikan berbagai kemampuan yang dimiliki oleh individu berupa umur, pendidikan, pengalaman dan pelatihan misal jalur pendidikan menjadi kapabilitas barn, sehingga semakin tinggi tingkat pendidikan akan semakin mampu mengartikan berbagai stimulan dari luar menjadi pengetahuan. Bagi seorang karyawan dengan tingkat pendidikan tinggi (misal tingkat SLTA) kaidah-kaidah keselamatan kerja baik berupa jurnal, peraturan perundangan, hasil penelitian, majalah ilmiah dan lain sebagainya dapat diserap menjadi pengetahuan dan kapabilitas barn yang pada gilirannya dapat meningkatan sikap pencegahan meningkatnya ambang pendengaran. Namun demikian fenomena ini tidak terjadi pads karyawan dengan tingkat pendidikan rendah (misalnya SD atau SLTP) pada kelompok ini kaidah-kaidah keselamatan kerja dari berbagai sumber tersebut harus dikemas terlebih dahulu menjadi paket pendidikan non formal agar mudah diserap oleh karyawan tersebut menjadi pengetahuan dan kapabilitas barn yang pads gilirannya dapat menaikkan sikap bahkan tindakan pencegahan meningkatnya ambang pendengaran. Sedangkan hipotesis ke dua muncul karena pads waktu memasuki dunia kerja seorang karyawan telah mempunyai umur, tingkat pendidikan formal, pengalaman dan pelatihan tertentu sehingga ketika terpapar kebisingan terjadi interaksi dalam mencegah meningkatnya ambang pendengaran. Selanjutnya hipotesis ketiga muncul karena faktor individu (kemampuan individu `lemah, cukup dan kuat ), dengan berbagai mekanisme peredamannya dan paparan kebisingan yang terjadi saling berinteraksi dalam membentuk ambang pendengaran. Metode penelitian ini menggunakan rancangan observasional dengan metode yang digunakan adalah expost facto yang didesain berdasar cross sectional. Sampel diambil 150 dari 948 pekerja PT Sandang Nusantara pads Patal Lawang dan Grati menggunakan stratified proportional random sampling. Hal ini didasarkan atas kenvataan bahwa pada saat dilakukan penelitian para pekerja di industri sudah mempunyai besaran dari semua variabel bebas yang diukur, faktor individu yaitu: pendidikan formal, pengalaman kerja, pelatihan dan umur, sedang mekanisme peredaman yaitu: jenjang dari nilai reduksinya yang dapat mewakili dan luas ruang, barrier, transmisi dari sumber sampai tempat pekerja bekerja sedang faktor intensitas adalah intensitas kebisingan dan durasinya, kemudian variabel terikatnya ambang pendengarannya akibat intensitas kebisingan adalah ambang dengar yang mampu didengar pada frekuensi 3000 Hz, 4000 Hz dan 6000Hz. Data tersebut dianalisis yang digunakan General Model Manova dengan program komputer. Hasil penelitian ini adalah (1) ada perbedaan yang signifikan (p &lt; 0,05) umur, pendidikan, pelatihan terhadap ambang pendengaran, namun pengalaman tidak ada perbedaan yang bermakna terhadap ambang pendengaran. (2) ada interaksi yang signifikan (p &lt; 0,05) antara tingkat umur, pendidikan formal, pengalaman dengan pelatihan keselamatan kerja terhadap ambang pendengaran, (3) ada interaksi yang signifikan (p &lt; 0,05) antara tingkat faktor individu derngan intensitas kebisingan, namun tidak berinteraksi dengan mekanisme peredaman. (4) efektifitas pelatihan keselamatan kerja (pencegahan meningkamya ambang pendengaran) cenderung naik seiring dengan kenaikan waktu perlakuan pelatihan keselamatan kerja, artinya semakin lama rentang waktu perlakuan pelatihan keselamatan kerja semakin turun ambang pendengaran, kecuali yang terjadi pada tmgkat umur 40-60 tahun tidak menunjukan efektifitas yang berarti. Berdasarkan temuan di atas dapat diberikan saran sebagai berikut . 1) Untuk meningkatkan sikap pencegahan meningkatnya ambang pendengaran karyawan mekanik di industri patal se-Jawa Timur. para pengambil keputusan di industri menvelenggarakan pelatihan keselamatan kerja, karena terbukti pelatihan keselamatan kerja dapat menaikkan sikap pencegahan meningkatnya ambang pendengaran yang pada gilirannya menghindari terjadinya peningkatan ambang pendengaran karyawan. 2) Paket pelatihan keselamatan kerja yang diselenggarakan sebaiknya mempunyai komposisi materi dan lama penyelenggaraan lebih dari tujuh hari. 3) Agar pelatihan keselamatan kerja berhasil guna secara maksimal, maka harus diperhatikan tingkat pendidikan formal peserta didik, karena telah terbukti bahwa besamya kontribusi pendidikan keselamatan kerja dalam membentuk pencegahan meningkatnya ambang pendengaran dipengaruhi oleh tingkat pendidikan formal peserta didik, pengalaman dan umur. 4) Untuk meningkatkan sikap pencegahan naiknya ambang pendengaran para karyawan dengan pendidikan formal SLTA, sebaiknya tidak harus melalui pendidikan non formal keselamatan kerja jangka panjang/periodik, namun cukup dengan pelatihan medium atau menciptakan lingkungan yang dapat menjadi cumber belajar keselamatan kerja misalnya dengan selalu menyebarkan informasi tentang peraturan perundangan keselamatan kerja, data nilai ambang batas (NAB), pentujuk alat pelindung telinga, majalah ilmiah keselamatan kerja dan lain sebagainya. 5) Karyawan dengan pendidikan formal SD dan SLTP pelatihan keselamatan kerja jangka pendek cenderung rerata ambang pendengarannya lebih besar dibandingkan dengan karyawan yang lain. Terakhir para pimpinan perusahaan sebaiknya menaruh perhatian lebih besar terhadap kelompok karyawan ini misalnya dalam bentuk peraturan yang tidak memperkenankan karyawan ini pelatihan keselamatan kerja jangka pendek bekerja tanpa menggunakan APT dan bekerja di tempat yang intensitas kebisingan tinggi sehingga karyawanan rawan terhadap gangguan pendengaran, karena intensitas kebisingan semakin tinggi kontribusi faktor individu semakin rendah untuk mencegah naiknya ambang pendengaran. </description

Item Type: Thesis (Disertasi)
Additional Information: KKA KK Dis K 25/05 Mar i
Uncontrolled Keywords: Interaction, individual factors, absorbing mechanism, noise intensity, hearing threshold.
Subjects: R Medicine > RA Public aspects of medicine > RA1-1270 Public aspects of medicine > RA421-790.95 Public health. Hygiene. Preventive medicine
Divisions: 09. Sekolah Pasca Sarjana > Ilmu Kedokteran
Creators:
CreatorsNIM/NIDN
MARDI, 090013727 DUNSPECIFIED
Contributors:
ContributionNameNIDN/NIDK/NUP
ContributorSoeprapto, Prof. H. AS., dr., DPHUNSPECIFIED
Depositing User: Tn Fariddio Caesar
Date Deposited: 19 Oct 2016 01:31
Last Modified: 18 Jun 2017 16:33
URI: http://repository.unair.ac.id/id/eprint/32007
Sosial Share:

Actions (login required)

View Item View Item