IMUNOPATOGENESIS KERUSAKAN JARINGAN MUKOSA MULUTAKIBAT PAPARAN MONOMER METIL METAKRILAT

I GUSTI AJU WAHJU ARDANI, 090114570 D (2005) IMUNOPATOGENESIS KERUSAKAN JARINGAN MUKOSA MULUTAKIBAT PAPARAN MONOMER METIL METAKRILAT. Disertasi thesis, UNIVERSITAS AIRLANGGA.

[img]
Preview
Text (ABSTRAK)
43.pdf

Download (230kB) | Preview
[img]
Preview
Text (FULLTEXT)
gdlhub-gdl-s1-2007-ardaniigus-5370-k29_05.pdf

Download (1MB) | Preview
Official URL: http://lib.unair.ac.id

Abstract

Monomer metil metakrilat (MMA) merupakan bahan dasar resin akrilik polimetil metakrilat (PMMA) yang digunakan secara luas di bidang kedokteran gigi, terutama untuk pembuatan piranti lepasan ortodonsia, piranti gigi tiruan, dan tumpatan gigi. Beberapa fakta klinik menunjukkan bahwa MMA berpotensi menyebabkan reaksi iritasi dan alergi pada mukosa mulut dengan gejala klinik berupa hiperemia, edema, rasa nyeri, burning mouth, bahkan dapat dijumpai adanya ulkus. Angka kejadian terjadinya gejala klinik pada penderita terpapar MMA adalah 0,5 - 1 %. Namun imunopatogenesis kerusakan jaringan mukosa mulut penderita terpapar MMA sampai saat ini masih belum jelas. Penetrasi MMA ke dalam jaringan mukosa mulut sangat dimungkinkan karena struktur kimia MMA bersifat lipofilik, sehingga MMA dapat menembus membran pertahanan jaringan mukosa mulut. Fakta dan hasil penelitian yang telah dilakukan sebelumnya menunjukkan bahwa MMA dapat bertindak sebagai iritan dalam konsentrasi tertentu, serta sebagai imunogen atau alergen. Namun sampai saat ini imunopatogenesis kerusakan jaringan mukosa mulut penderita terpapar MMA melalui mekanisme reaksi iritasi dan hipersensitivitas masih belum jelas. Penelitian ini mengkaji pola respons imun sekunder terhadap MMA pada kelinci lokal dengan mengikuti pola produksi IgG anti-MMA yang diamati dalam jangka waktu tertentu. Selanjutnya, akan dikaji imunopatogenesis kerusakan jaringan mukosa mulut penderita terpapar MMA melalui reaksi iritasi dan hipersensitivitas. Kajian imunopatogenesis tersebut dilakukan melalui deteksi konsentrasi IL-4, IFN-y, dan TNF-a dalam plasma dan jaringan mukosa mulut, serta IgE dan IgG spesifik terhadap MMA dalam serum, yang berperan dalam reaksi iritasi dan hipersensitivitas. Sampai saat ini belum ditemukan metoda diagnostik untuk reaksi iritasi dan hipersensitivitas pada mukosa mulut penderita terpapar MMA. Diduga terdapat korelasi antara profit mediator yang memperantarai respons imun sistemik dan respons imun lokal pada jaringan mukosa mulut. Dalam penelitian ini akan dibuktikan terdapat koretasi antara konsentrasi IL-4, IFN-γ, dan TNF-α dalam plasma dan jaringan mukosa mulut penderita terpapar MMA. Hasil penelitian ini diharapkan dapat dikembangkan sebagai metoda diagnostik yang mudah untuk reaksi iritasi dan hipersensitivitas pada penderita terpapar MMA, melalui deteksi konsentrasi IL-4, IFN-γ, dan TNF-α dalam plasma. Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah : 1) bagaimanakah pola respons imun sekunder IgG anti-MMA pada kelinci lokal (Oryctolagus cuniculus) yang diimunisasi dengan MMA ?; 2) apakah MMA bersifat imunogenik pada penderita terpapar MMA, sehingga dapat menginduksi respons imun humoral ?; 3) apakah kerusakan jaringan mukosa mulut penderita terpapar MMA terjadi melalui reaksi iritasi, yang ditunjukkan dengan peningkatan TNF-α tanpa disertai peningkatan IL-4 dan IFN-γ ?; 4) apakah kerusakan jaringan mukosa mulut penderita terpapar MMA terjadi melalui reaksi hipersensitivitas tipe I, yang ditunjukkan dengan peningkatan IL-4 dan hasil positip IgE spesifik terhadap MMA ?; 5) apakah kerusakan jaringan mukosa mulut penderita terpapar MMA terjadi melalui reaksi hipersensitivitas tipe II dan / atau tipe III, yang ditunjukkan dengan peningkatan IFN-γ dan hash positip IgG spesifik terhadap MMA ?; 6) apakah kerusakan jaringan mukosa mulut oleh karena terpapar MMA terjadi melalui reaksi hipersensitivitas tipe IV, yang ditunjukkan dengan peningkatan TNF-α dan IFN-γ ?; 7) apakah terdapat korelasi antara konsentrasi IL-4, IFN-γ dan TNF-α dalam plasma dan jaringan mukosa mulut penderita terpapar MMA ? Tujuan umum penelitian adalah mengungkap imunopatogenesis kerusakan jaringan mukosa mulut penderita terpapar MMA. Sedangkan tujuan khusus penelitian ini adalah : 1) mengkaji pola respons imun sekunder IgG anti-MMA pada kelinci lokal (Oryctolagus cuniculus) yang diimunisasi dengan MMA; 2) membuktikan MMA bersifat imunogenik pada penderita terpapar MMA, sehingga dapat menginduksi respons imun humoral; 3) membuktikan kerusakan jaringan mukosa mulut penderita terpapar MMA terjadi melalui reaksi iritasi, yang ditunjukkan dengan peningkatan TNF- α tanpa disertai peningkatan IL-4 dan IFNγ; 4) membuktikan kerusakan jaringan mukosa mulut penderita terpapar MMA terjadi melalui reaksi hipersensitivitas tipe I, yang ditunjukkan dengan peningkatan IL-4 dan hasil positip IgE spesifik terhadap MMA; 5) membuktikan kerusakan jaringan mukosa mulut penderita terpapar MMA terjadi melalui reaksi hipersensitivitas tipe II dan I atau tipe III, yang ditunjukkan dengan peningkatan IFN-γ dan hasil positip IgG spesifik terhadap MMA; 6) membuktikan kerusakan jaringan mukosa mulut penderita terpapar MMA terjadi melalui reaksi hipersensitivitas tipe IV, yang ditunjukkan dengan peningkatan TNF-α dan IFNγ; 7) membuktikan terdapat korelasi antara konsentrasi IL-4, IFN-γ dan TNF-α dalam plasma dan jaringan mukosa mulut penderita terpapar MMA. Manfaat ilmiah penelitian ini adalah : 1) dihasilkan informasi ilmiah tentang reaksi iritasi dan hipersensitivitas kerusakan jaringan mukosa mulut penderita terpapar MMA; 2) dihasilkan informasi ilmiah yang menyatakan bahwa profil sitokin IL-4, IFN-γ dan TNF-α jaringan mukosa mulut berkorelasi dengan profit sitokin tersebut dalam plasma penderita terpapar MMA. Sedangkan manfaat aplikatif penelitian ini adalah : 1) hasil penelitian ini menjadi alasan mendasar agar dicoba dikembangkan bahan baru yang bersifat hipoalergenik untuk penderita yang sensitif terhadap MMA, sebagai bahan altematif untuk pembuatan piranti dalam kedokteran gigi; 2) hasil penelitian ini dapat dikembangkan sebagai cara diagnostik sederhana untuk reaksi iritasi dan hipersensitivitas jaringan mukosa mulut, melalui pemeriksaan darah perifer tanpa kerokan jaringan mukosa mulut Hipotesis penelitian adalah : 1) MMA bersifat imunogenik, sehingga dapat menginduksi respons imun humoral pada penderita terpapar MMA; 2) kerusakan jaringan mukosa mulut penderita terpapar MMA terjadi melalui reaksi iritasi, yang ditunjukkan dengan peningkatan TNF-α, tanpa disertai peningkatan IL-4 dan IFN-γ; 4) kerusakan jaringan mukosa mulut penderita terpapar MMA terjadi melalui reaksi hipersensitivitas tipe I, yang ditunjukkan dengan peningkatan IL-4 dan hasil positip IgE spesifik terhadap MMA; 5) kerusakan jaringan mukosa mulut penderita terpapar MMA terjadi melalui reaksi hipersensitivitas tipe II dan / atau tipe III, yang ditunjukkan dengan peningkatan IFN-γ dan hasil positip IgG spesifik terhadap MMA; 6) kerusakan jaringan mukosa mulut penderita terpapar MMA terjadi melalui reaksi hipersensitivitas tipe IV, yang ditunjukkan dengan peningkatan TNF- α dan IFN-γ; 7) terdapat korelasi antara konsentrasi IL-4, IFN-γ, dan TNF-α dalam plasma dan jaringan mukosa mulut penderita terpapar MMA. Penelitian ini dibagi dalam dua tahap. Penelitian Tahap I dilakukan pada hewan coba kelinci lokal (Oryctolagus cuniculus) dengan tujuan untuk mengetahui pola respons imun sekunder 1gG anti-MMA, setelah diimunisasi dengan MMA. Penelitian Tahap I menggunakan rancangan penelitian eksperimental postest-only control group design. IgG spesifik terhadap MMA yang terbentuk dideteksi dengan metoda dot blot dan ELISA. Penelitian Tahap II menggunakan rancangan penelitian observasional case-control design. Sampel penelitian dibagi dalam dua kelompok, yaitu kelompok kontrol dan kelompok kasus. Kelompok kontrol adalah penderita yang belum terpapar MMA dan tidak ada kelainan atau kerusakan jaringan mukosa mulut. Kelompok kasus adalah penderita terpapar MMA pertama kali dan menunjukkan gejala inflamasi lokal, rasa nyeri dan burning mouth (rasa terbakar mukosa), serta ulkus pada mukosa mulut. Jumlah sampel dalam kelompok kasus dan kontrol masing-masing 8 penderita, yang diambil dari klinik Prostodontia Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Airiangga. Uji laboratorik dilakukan pada semua sampel dengan mengukur konsentrasi IL-4, IFN-γ dan TNF-α dalam plasma dan kerokan jaringan mukosa mulut dengan menggunakan teknik direct sandwich ELISA. IgG dan IgE spesifik diukur dalam serum dengan menggunakan teknik ELISA tidak langsung. IgG spesifik juga dideteksi dengan metoda dot blot. Hasil penelitian Tahap I adalah pola respons imun sekunder pada kelinci lokal yang diimunisasi dengan MMA menunjukkan terjadi peningkatan produksi IgG anti-MMA setelah pemberian booster 1 (hari ke-28 setelah imunisasi pertama) dan mencapai puncak pada hari ke-42, kemudian menurun secara bertahap sampai hari ke-49. Setelah pemberian booster 2 pada hari ke-52, terjadi peningkatan produksi IgG spesifik terhadap MMA yang mencapai puncak pada hari ke-80 setelah imunisasi pertama. Titer IgG anti-MMA kemudian menurun secara bertahap sampai hari ke-87. Puncak produksi IgG anti-MMA setelah pemberian booster 2 Iebih tinggi bila dibandingkan dengan setelah pemberian booster 1. Hasil penelitian Tahap II menunjukkan bahwa MMA bersifat imunogenik pada penderita terpapar MMA, sehingga mampu menginduksi IgG spesifik terhadap MMA. Selanjutnya, analisis statistik dengan menggunakan uji t bebas untuk variabel IL-4, IFN-γ dan TNF-α plasma dan jaringan mukosa mulut, menunjukkan terdapat perbedaan bermakna (p<0,05) antara penderita terpapar MMA dan kontrol untuk semua variabel. Apabila imunopatogenesis kerusakan jaringan mukosa mulut penderita terpapar MMA tetjadi melalui reaksi iritasi, maka akan terdapat peningkatan bermakna (p<0,05) TNF-α, tetapi tanpa disertai peningkatan bermakna (p>0,05) IL-4 dan IFN-γ balk dalam plasma maupun jaringan mukosa mulut. Namun hasil yang diperoleh dalam penelitian ini menunjukkan terjadi peningkatan bermakna (p<0,05) IL-4, IFN-γ, dan TNF-α dalam plasma dan jaringan mukosa mulut penderita terpapar MMA. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa imunopatogenesis kerusakan jaringan mukosa mulut penderita terpapar MMA tidak terjadi melalui reaksi iritasi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa IgE spesifik terhadap MMA pada penderita terpapar MMA adalah negatip. IL-4 dalam plasma dan jaringan mukosa mulut penderita terpapar MMA meningkat secara bermakna (p<0,05). Kesimpulan fakta tersebut adalah imunopatogenesis kerusakan jaringan mukosa mulut penderita terpapar MMA tidak terjadi melalui reaksi hipersensitivitas tipe I yang diperantarai oleh IgE. Imunopatogenesis kerusakan jaringan mukosa mulut penderita terpapar MMA terjadi melalui reaksi hipersensitivitas tipe II dan / atau tipe III. Hal ini dibuktikan dengan didapatkan hasil positip IgG spesifik terhadap MMA dan peningkatan bermakna (p<0,05) IFN-γ dalam plasma dan jaringan mukosa mulut penderita terpapar MMA. Hasil penelitian ini menunjukkan terjadi peningkatan bermakna (p<0,05) TNF-α, dan IFN-γ dalam plasma dan jaringan mukosa mulut pada penderita terpapar MMA. Hal ini membuktikan bahwa imunopatogenesis kerusakan jaringan mukosa mulut penderita terpapar MMA terjadi melalui reaksi hipersensitivitas tipe IV. Hasil uji korelasi Pearson konsentrasi IL-4, IFN-γ, dan TNF-α dalam plasma dan jaringan mukosa mulut penderita terpapar MMA menunjukkan bahwa terdapat korelasi bermakna (p<0,05) konsentrasi IL-4, IFN-γ, dan TNF-α plasma dan jaringan mukosa mulut. Kesimpulan hasil penelitian ini adalah MMA mampu menginduksi respons imun sekunder IgG anti-MMA pada kelinci lokal (Oryctolagus cuniculus) yang diimunisasi dengan MMA. MMA bersifat imunogenik pada penderita terpapar MMA, sehingga mampu menginduksi respons imun humoral IgG anti-MMA. Imunopatogenesis kerusakan jaringan mukosa mulut penderita terpapar MMA tidak terjadi melalui reaksi iritasi dan hipersensitivitas tipe I yang diperantarai oleh IgE, tetapi terjadi melalui reaksi hipersensitivitas tipe II dan / atau tipe III, tipe IV. Penelitian ini juga membuktikan bahwa terdapat korelasi bermakna antara konsentrasi IL-4, IFN-γ dan TNF-α dalam plasma dan jaringan mukosa mulut penderita terpapar MMA. Hasil penelitian ini dapat dikembangkan sebagai metoda diagnostik reaksi iritasi dan hipersensitivitas pada mukosa mulut penderita terpapar MMA melalui pemeriksaan darah perifer.

Item Type: Thesis (Disertasi)
Additional Information: KKA KK Dis K 29/05 Ard i
Uncontrolled Keywords: Methyl methacrylate (MMA), irritation, hypersensitivity, oral epithelial mucosal destructions
Subjects: R Medicine > RC Internal medicine > RC109-216 Infectious and parasitic diseases
Divisions: 09. Sekolah Pasca Sarjana > Ilmu Kedokteran
Creators:
CreatorsNIM
I GUSTI AJU WAHJU ARDANI, 090114570 DUNSPECIFIED
Contributors:
ContributionNameNIDN / NIDK
Thesis advisorMoh Rubianto, Prof., Dr., drg., M.S., Sp.PerioUNSPECIFIED
Depositing User: Tn Fariddio Caesar
Date Deposited: 17 Oct 2016 03:44
Last Modified: 14 Jun 2017 20:49
URI: http://repository.unair.ac.id/id/eprint/32030
Sosial Share:

Actions (login required)

View Item View Item