PENGARUH OLAHRAGA PERNAFASAN SATRIA NUSANTARA TINGKAT PRADASAR-DASAR TERHADAP MODULASI IMUNITAS

SISWANTOYO, 090315213 D (2007) PENGARUH OLAHRAGA PERNAFASAN SATRIA NUSANTARA TINGKAT PRADASAR-DASAR TERHADAP MODULASI IMUNITAS. Disertasi thesis, UNIVERSITAS AIRLANGGA.

[img]
Preview
Text (ABSTRAK)
44.pdf

Download (169kB) | Preview
[img] Text (FULLTEXT)
gdlhub-gdl-s3-2008-siswantoyo-6986-disk29-p.pdf
Restricted to Registered users only

Download (1MB) | Request a copy
Official URL: http://lib.unair.ac.id

Abstract

Di Cina olahraga pernafasan banyak digunakan untuk terapi di berbagai rumah sakit dan tempat rehabilitasi. Di Indonesia terdapat banyak macam aliran perguruan beladiri dan olah pernafasan (perguruan seni pernafasan), tetapi pemanfaatan olahraga pernafasan untuk terapi dan pemeliharaan menuju sehat, segar masih belum dilaksanakan secara maksimal. Olahraga pernafasan mampu meningkatkan kebugaran fisik dan meningkatkan kekebalan tubuh (Suparto, 2001). Lebih lanjut juga dilaporkan oleh Hoedijono (2005) bahwa olahraga pernafasan secara aktif dapat meningkatkan ketahanan tubuh pada penderita ashma. Olahraga pernafasan ditujukan untuk mengembangkan usaha penanggulangan stresor dan upaya peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM), yaitu usaha mengelola stresor dengan baik untuk menjaga dan bahkan mengembalikan ke homeostasis (Maryanto,1990). Meskipun berbagai manfaat telah diungkap diatas, namun pengaruh olahraga pernafasan Satria nusantara tingkat pradasar-dasar terhadap peningkatan imunitas masih belum dapat dijelaskan. Latihan olahraga pernafasan yang di maksud adalah olahraga yang mendasarkan pada tiga komponen utama yang menjadi satu kesatuan dalam pelaksanaan, yaitu: (1) Latihan gerak jurus, (2) Olah nafas (inspirasi/menarik nafas–menahan nafas–ekspirasi/mengeluarkan nafas, dengan irama tertentu), (3) Konsentrasi (spiritual; dzikir). Qvist (1993) mengungkapkan bahwa menahan nafas kurang dari 30 detik blood gase termasuk dalam rentang normal, sedangkan menahan nafas 32-95 detik rerata P02 arteri 62±14s. Lama tahan nafas pada setiap gerak jurus, berdasar penelitian sebelumnya 37-52 detik. Dengan demikian olah nafas tersebut dapat dikategorikan ke dalam hipoksia ringan. Konsep psikoneuroimunologi mampu menjelaskan fenomena biologi, baik fisiobiologis maupun patobiologi, melalui keterkaitan perilaku dan ketahanan tubuh imunologi, dengan perantara neurotransmitter, neurohormonal, hormon dan sitokin. Tujuan penelitian ini secara umum adalah untuk mengungkap mekanisme peningkatan imunitas akibat latihan olahraga pernafasan, dan secara khusus untuk membuktikan peningkatan kadar Interleukin-6 (IL-6), Interleukin-4 (IL-4), Interleukin-2 (IL-2), Imunoglobulin G (IgG), beta endorphin dan penurunkan kadar kortisol. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental, yang ditujukan untuk mengungkap pengaruh olahraga pernafasan terhadap peningkatan imunitas. Upaya tersebut dilaksanakan dengan melakukan pengukuran kadar interleukin 6 (IL-6), interleukin 4 (IL-4), interleukin 2 (IL-2), immunoglobulin (IgG), beta endorphin dan kortisol, yang sebelumnya diberikan perlakuan berupa olahraga pernafasan. Rancangan yang digunakan dalam penelitian ini adalah randomized pretest-posttest control group design. Dalam penelitian ini menggunakan paradigma fisiobiologis, sedangkan konsep yang digunakan untuk melihat pengaruh latihan fisik adalah psikoneuroimunologi. Populasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah siswa laki-laki kelas II, Madrasah Aliyah Mu'alimin Yogyakarta. Sampel diambil dari populasi yang memenuhi kriteria inklusi yang ditetapkan. Dari hasil penghitungan besar sampel dengan rumus Higgins dan Kleinbaum (1985), didapatkan besar sampel minimal untuk setiap kelompok 15 orang. Sebagai unit analisis dalam penelitian ini adalah darah yang diambil dari vena cubiti. Pengambilan darah dilakukan sebanyak dua kali yaitu pertama pada awal sebelum pemberian perlakuan (untuk data pre-test) dan akhir setelah selesai perlakuan untuk data posttest (1 hari setelah latihan). Pada penelitian ini yang ditetapkan sebagai variabel terikat adalah: kadar Interleukin 6 (IL 6), Interleukin 4 (IL 4), Interleukin 2 (IL 2), Beta endorphin, Imunoglobulin G (IgG) dan kadar kortisol. Program pelatihan olahraga pernafasan dilakukan selama 7 minggu diawali dengan tahap pengenalan, dan selanjutnya dilakukan program pelatihan dengan frekuensi 3x/minggu, intensitas submaksimal, set 6 set/sesi, 15 langkah/jurus. Program ini diberikan pada kelompok perlakuan, dan dilaksanakan pada waktu sore hari. Pemeriksaan kadar IL-6, IL-4, IL-2, kortisol, beta endorphin dan IgG ini menggunakan metode ELISA (Enzym Linked Immunosorbent Assay) yang dilakukan secara indirect sandwitch. Berdasarkan tujuan yang ingin dicapai maka analisis data dilakukan dengan statistik deskriptif dan inferensial dengan program komputerisasi SPSS for windows. Selanjutnya dilakukan analisis statistik multivariat dan analisis diskriminan. Analisis diskriminan digunakan untuk variabel IL-6, IL-4, IL-2, kortisol, beta endorphin dan IgG. Analisis tersebut dimaksudkan untuk mendapatkan variabel pembeda yang kuat terhadap perubahan respons ketahanan tubuh yang disebabkan oleh pengaruh olahraga pernafasan (jurus+nafas+konsentrasi), yang selanjutnya akan diwujudkan berupa pola modulasi imunitas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa data karakteristik sampel setelah dilakukan uji normalitas didapatkan p>0,05, normal dan homogen (p>0,05). Hasil pengukuran variabel kendali (tabel 5.2) tennasuk dalam rentang normal. Tabel 5.3a dan b menunjukkan kadar dari variabel tergantung. Setelah dilakukan uji normalitas didapatkan p>0,05, normal, dan setelah di uji dengan lavene's test didapatkan p>0,05, homogen. Hasil uji beda variabel tergantung dengan manova didapatkan signifikansi 0,000, artinya ada perbedaan antar kelompok (Wilk Lamda, p<0,05) yang dapat dilihat pada lampiran 11. Untuk mengetahui perubahan imunitas antara kelompok perlakuan dan kelompok kontrol lihat tabel 5.5. Berdasarkan analisis diskriminan didapatkan canonical corelation sebesar 0,755. Angka tersebut menunjukkan adanya tingkat keeratan hubungan yang cukup tinggi antar varians. Pada struktur matrik diskriminan dapat dijelaskan korelasi antara variabel bebas dan fungsi diskriminan yang terbentuk (lampiran 11). Terlihat bahwa variabel beta endorphin (0,501) paling erat hubungannya dengan fungsi diskriminan, diikuti oleh interleukin 6 (0,367), sedangkan variabel yang lain memiliki keeratan yang kurang bermakna. Variabel diskriminator yang merupakan besaran kontribusi fungsi setiap diskriminator terhadap modulasi imunitas yang muncul adalah beta endorphin, interleukin 6 dan interleukin 4. Dengan demikian maka beta endorphin memiliki kontribusi yang paling kuat terhadap peningkatan imunitas dibandingkan dengan variabel yang lainnya. Penetapan konsep psikoneuroimunologi dalam penelitian ini diharapkan dapat mengungkap keterkaitan stres fisik yang disebabkan oleh perlakuan olahraga pernafasan terhadap respons ketahanan tubuh imunologik. Hasil uji manova respons sekresi IL6, IL4, IL2, Kortisol, beta endorphin, dan IgG akibat perlakuan olahraga pernafasan didapatkan ada perbedaan yang bermakna (p<0,05). perbedaan paling kuat ditunjukkan oleh beta endorphin, selanjutnya imunoglobulin G (IgG) dan interleukin 6 (tabel 5.5). Berdasarkan hasil uji modulasi imunitas tabel 5.5, dengan mencermati beda rerata antara kelompok perlakuan dan kelompok kontrol, maka juga dapat disimpulkan bahwa interleukin 6 meningkat (Kp: 7,126 ± 13,841 dan Kk:-4,311±14,191). Interleukin 4 juga meningkat (Kp:3,049±8,064 dan Kk: 2,917±4,533). Interleukin 2 tidak terjadi peningkatan (Kp:-2,412+17,418 dan Kk: 0,317±13,314). Pada kortisol terjadi penurunan (Kp: -4,092+5,280 dan Kk:-2,167±8,437). Beta endorphin juga meningkat (Kp: 3,907±0,158 dan Kk: 3,556+0,416) dan IgG juga meningkat (Kp:41,804±32,837 dan Kk:-0,88±90,424). Atas dasar fakta hasil tersebut, maka secara faktual hasil penelitian deskriptif yang dilaporkan oleh Suparto (2001), bahwa olahraga pernafasan dapat meningkatkan kebugaran fisik dan kekebalan tubuh terbukti secara nyata. Adapun keterkaitan latihan olahraga pernafasan dan ketahanan tubuh dapat berupa perilaku fisiobiologik exercise-psychoneuroimmunologic melalui Limbic Hipothalamus Pituitary Adrenal (LHPA). Perlakuan olahraga pernafasan meningkatkan kadar beta endorphin, imunoglobulin G dan Interleukin 6, sedangkan interleukin 2 dan interleukin 4 tidak terjadi peningkatan. Kortisol juga tidak terjadi penurunan yang berarti, namun pada kelompok perlakuan maupun kontrol terdapat indikasi ada penurunan kadar kortisol. Respons ketahanan tubuh yang disebabkan oleh stresor olahraga pernafasan, didapatkan 3 kelompok yang memiliki kontribusi kuat atas dasar konsep psikoneuroimunologik. Pelatihan olahraga pernafasan merupakan stimuli pada jalur Limbic — Hipothalamus — Pituitary — Adrenal (LHPA) yang menimbulkan proses imuno-modulator atas dasar paradigma fisiobiologis yang berkonsep psikoneuroimunologik.

Item Type: Thesis (Disertasi)
Additional Information: KKA KK Dis K 29/07 Sis p
Uncontrolled Keywords: Breathing Exercise, immunity, modulation.
Subjects: R Medicine > RC Internal medicine > RC1200 Sports Medicine
Divisions: 09. Sekolah Pasca Sarjana > Ilmu Kedokteran
Creators:
CreatorsEmail
SISWANTOYO, 090315213 DUNSPECIFIED
Contributors:
ContributionNameEmail
ContributorSuhartono Taat Putra, Prof., Dr., dr., M.SUNSPECIFIED
ContributorSunarko Setyawan, Prof., Dr., dr., M.SUNSPECIFIED
ContributorKuntoro, Prof., H., dr., M.PH., Dr.PHUNSPECIFIED
Depositing User: Tn Fariddio Caesar
Date Deposited: 17 Oct 2016 03:13
Last Modified: 14 Jun 2017 20:52
URI: http://repository.unair.ac.id/id/eprint/32031
Sosial Share:

Actions (login required)

View Item View Item