KONFIGURASI WAJAH DAN INTERPRETASI DIRI TENTANG WAJAH : Kontribusi faktor intrinsik dan ekstrinsik pada konfigurasi wajah populasi Batak secara radiografi sefalometrik dan fotografi

FILIA DANA TYASINGSIH, 099612333 D (2001) KONFIGURASI WAJAH DAN INTERPRETASI DIRI TENTANG WAJAH : Kontribusi faktor intrinsik dan ekstrinsik pada konfigurasi wajah populasi Batak secara radiografi sefalometrik dan fotografi. Disertasi thesis, UNIVERSITAS AIRLANGGA.

[img]
Preview
Text (ABSTRAK)
1.pdf

Download (146kB) | Preview
[img]
Preview
Text (FULLTEXT)
gdlhub-gdl-s3-2007-tyasingsih-5225-disk30-2.pdf

Download (2MB) | Preview
Official URL: http://lib.unair.ac.id

Abstract

Memiliki wajah yang balk, seimbang dan harmonis merupakan keinginan setiap individu, terutama perempuan, walaupun tidak semua beruntung memilikinya. Rasa percaya diri akan semakin tinggi bila seseorang memiliki wajah yang balk dan memuaskan. Dalam perawatan dento-maksilo-fasial, tujuan utama ditujukan pada perbaikan posisi dan fungsi geligi yang akan memberikan pengaruh konfigurasi wajah secara umum. Bagi penderita, perbaikan estetika wajah merupakan harapan utama dalam melakukan perawatan dento-maksilo-fasial. Dengan demikian hasil akhir suatu perawatan dento-maksilo-fasial diharapkan dapat memenuhi kebutuhan akan fungsi dan estetika secara terpadu. Konfigurasi wajah yang baik, seimbang dan harmonis berbeda untuk tiap populasi atau ras. Pala atau nilai normal konfigurasi wajah suatu populasi atau ras belum tentu sesuai bila diterapkan pada populasi atau ras yang lain. Perkawinan antar populasi atau ras akan menghasilkan bentuk baru yang dapat menyerupai atau berbeda dengan bentuk asli (konfigurasi wajah) sebelumnya. Pengaruh faktor intrinsik yang bersifat genetik sangat berperan dalam pembentukan individu baru, sedang budaya merupakan salah satu faktor ekstrinsik (lingkungan) dapat menyebabkan terjadinya perubahan konfigurasi wajah, seperti misalnya pola makan dan jenis makanan yang dikonsumsi. Adanya proses modernisasi yang melandasi kemajuan suatu masyarakat menuntut perubahan pola kebutuhan di segala bidang. Kemajuan teknologi dan ilmu pengetahuan membawa dampak pada perubahan persepsi terhadap konfigurasi wajah yang dimiliki, sehingga kebutuhan pemenuhan tingkat rasa kepuasan menimbulkan keinginan atau harapan untuk memiliki wajah yang diangankan atau diharapkan. Populasi Batak mempunyai konfigurasi wajah yang khas dengan proporsi tulang rahang yang besar dan tegas. Seiring dengan proses modernisasi dalam segala bidang, terkesan adanya pergeseran persepsi terhadap konfigurasi wajah yang dimiliki kelompok populasi tersebut. Upaya memenuhi kebutuhan akan keinginan memiliki wajah yang diharapkan, diperlukan suatu `nilai normal konfigurasi wajah yang sesuai untuk populasi tersebut dan ditindak lanjuti dengan penentuan suatu nilai harapan yang diharapkan dapat menggambarkan konfigurasi wajah harapan bagi populasi Batak tersebut. Adanya asumsi perbedaan nilai normal antara populasi Batak asli dibandingkan dengan populasi Batak campur merupakan hal yang perlu dibuktikan dalam kaitan melengkapi upaya mengungkap tingkat kepuasan terhadap konfigurasi wajah yang dimiliki kedua populasi tersebut. Penggalian informasi mengenai konfigurasi wajah populasi Batak dalam bentuk suatu `nilal normal dilakukan survei yang dilengkapi analisis komparasi. Pengungkapan pengaruh faktor intrinsik (genetik) dan faktor ekstrinsik (lingkungan) pada konfigurasi wajah diperoleh melalui penelitian penjelasan (explanatory research) yang dilengkapi dengan wawancara secara terstruktur untuk mengungkap tingkat kepuasan terhadap wajah yang dimiliki dan konfigurasi wajah harapan menurut generasi masa kini. Melalui hasil rontgen sefalometri dan fotografi lateral dan frontal pada 72 orang responden yang terpilih (34 orang perempuan dan 38 orang laki-laki) dari 456 orang responden (berusia 18 – 25 tahun) yang direkrut, terdiri dari : 18 orang responden Batak asli perempuan (14 orang Batak asli yang dibesarkan kota dan 4 orang Batak asli dibesarkan di desa), 16 orang responden Batak campur perempuan (13 orang Batak campur kota dan 3 orang Batak campur desa), 20 orang responden Batak asli laki-laki (14 orang Batak asli kota dan 6 orang Batak asli desa) serta 18 orang responden Batak campur laki-laki yang seluruhnya dibesarkan di kota, dapat ditetapkan nilai normal konfigurasi wajah populasi Batak secara umum, nilai normal konfigurasi wajah populasi Batak asli dan nilai normal konfigurasi wajah populasi Batak campur. Selain itu, dapat jugs diungkapkan proporsi wajah populasi Batak dan konfigurasi wajah harapan populasi Batak berdasarkan nilai harapan yang diperoleh. Upaya mengungkap tingkat kepuasan responden melalui penilaian tentang pilihan yang berhubungan dengan estetika, penilaian diri yang berhubungan dengan estetika serta penilaian diri yang berhubungan dengan garis keturunan dan kepuasan wajah diperoleh dari 179 orang responden Batak asli perempuan (116 orang Batak asli kota dan 63 orang Batak asli desa), 49 orang responden Batak campur perempuan (35 orang Batak campur kota dan 14 orang Batak campur desa), 168 orang responden Batak asli laki-laki (110 orang Batak asli kota dan 58 orang Batak asli desa) serta 50 orang responden Batak campur laki-laki (53 orang Batak campur kota dan 7 orang Batak campur desa). Dari 456 orang responden ini dapat diungkapkan tingkat rasa senang, rasa puas dan rasa bangga terhadap wajah yang dimiliki; disamping itu keterkaitan antara tingkat kepuasan dan ketidakpuasan yang dimiliki dibandingkan dengan rasa kebanggaan kesukuan menunjukkan adanya hubungan yang erat. Temuan menunjukkan bahwa konfigurasi wajah populasi Batak lebih protrusif bila dibandingkan dengan kelompok mixed heritage dengan bentuk kepala (brachicephalic) dan wajah lebar (euryprosop). Dengan didukung proporsi besaran nilai pada komponen lebar wajah (lebar maksila dan lebar mandibula) dibandingkan dengan tinggi wajah, maka anggapan bahwa populasi Batak merniliki bentukwajah yang khas dengan rahang yang besar dan tegas terjawab. Dijumpai adanya perbedaan antara `nilai normal konfigurasi wajah populasi Batak asli dibandingkan dengan populasi Batak campur, dan dapat diungkapkan bahwa kontribusi faktor intrinsik (genetik) lebih dominan dibandingkan dengan faktor ekstrinsik (lingkungan) terutama pada komponen yang berkaitan dengan kecembungan dan lebar wajah (dimensi horizontal). Temuan ini tidak selaras dengan temuan Lundstrom et al. (1988) dan Vanco et al. (1995) yang menyatakan bahwa kontribusi faktor genetik berkaitan dengan dimensi vertikal dan dimensi horizontal wajah. Bila ditinjau berdasarkan jenis kelamin, kontribusi faktor genetik (intrinsik) pada populasi Batak berperan pada komponen yang berkaitan dengan tinggi wajah (dimensi vertikal) dan lebar wajah (dimensi horizontal). Temuan ini melengkapi pernyataan Lundstrom et al. (1992) yang hanya menyatakan bahwa dimensi vertikal wajah perempuan dan laki-laki menunjukkan adanya perbedaan. Gambaran konfigurasi wajah harapan yang diungkapkan melalui nilai harapan populasi Batak tidak menunjukkan perbedaan yang bermakna bila dibandingkan dengan nilai normal konfigurasi wajah Batak asli. Implikasi yang dapat dicerminkan dari hasil temuan ini adalah konfigurasi wajah harapan populasi Batak tetap berpola pada bentuk dan profit skeletal yang ada, tetapi bervariasi pada komponen jaringan lunak sesuai dengan intervensi lingkungan dan harapan yang dimiliki. Proporsionalitas konfigurasi wajah populasi Batak adalah euryprosop dengan bentuk kepala brachicephalic. Proporsi ini mengalami perubahan yang menonjol jika dibandingkan dengan referensi yang ada. Perubahan yang terjadi dari bentuk kepala dolichocephalic menjadi brachicephalic merupakan peralihan yang cukup spektakuler jika dikaitkan dengan waktu atau lamanya perubahan terjadi, dari tahun 1967 (Fisher) sampai dengan tahun 2000. Tingkat ketidakpuasan terhadap konfigurasi wajah yang dimiliki lebih besar pada populasi Batak campur dibandingkan dengan Batak asli. Hal ini merupakan implikasi berkurangnya ikatan kekerabatan populasi Batak akibat intervensi lingkungan dan budaya yang diterimanya. Sebagai tindak lanjut upaya pengembangan beberapa temuan ini disarankan untuk menelusuri `nilai normal konfigurasi wajah masing-masing sub-populasi Batak untuk mengetahui secara rinci perbedaan di antara masing-masing sub-populasi tersebut. Disamping itu juga disarankan untuk menelusuri nilai normal konfigurasi wajah berbagai populasi lain di Indonesia yang belum memiliki nilai normal konfigurasi wajah yang sesuai dengan populasi tersebut. Dan juga diperlukan pengungkapan mengenai proporsionalitas konfigurasi wajah (gambaran bentuk kepala dan wajah) untuk kelompok usia lain (6 – 17 tahun) agar dapat diketahui apakah bentuk kepala dan wajah kelompok usia ini (brachicephalic dan eutyprosop) didukung oleh bentuk kepala dan wajah kelompok usia Iainnya. </description

Item Type: Thesis (Disertasi)
Additional Information: KKA KK Dis K 30/02 Tya k
Uncontrolled Keywords: Original Batak, mixed Batak, facial configuration, cephalometric norm, expected norm, perception, satisfaction, dissatisfaction
Subjects: R Medicine > RA Public aspects of medicine
Divisions: 09. Sekolah Pasca Sarjana > Ilmu Kedokteran
Creators:
CreatorsEmail
FILIA DANA TYASINGSIH, 099612333 DUNSPECIFIED
Contributors:
ContributionNameEmail
ContributorBambang Rahino Setokoesoemo, Prof., drUNSPECIFIED
ContributorSoekotjo Djokosalamoen, Prof., Dr., drg., MSc., SpOrtUNSPECIFIED
ContributorWidodo J. Pudjihardjo, dr., MS., MPH., DrPHUNSPECIFIED
Depositing User: Tn Fariddio Caesar
Date Deposited: 11 Oct 2016 08:38
Last Modified: 14 Jun 2017 20:51
URI: http://repository.unair.ac.id/id/eprint/32035
Sosial Share:

Actions (login required)

View Item View Item