PERAN PERUBAHAN LIMFOSIT PENGHASIL SITOKIN DAN PEPTIDA MOTILITAS USUS TERHADAP MODULASI RESPONS IMUN MUKOSAL TIKUS YANG SIRES AKIBAT STRESOR RENJATAN LISTRIK : Suatu Pendekatan psikoneuroimunologi

ELYANA ASNAR STP, 099712412D (2002) PERAN PERUBAHAN LIMFOSIT PENGHASIL SITOKIN DAN PEPTIDA MOTILITAS USUS TERHADAP MODULASI RESPONS IMUN MUKOSAL TIKUS YANG SIRES AKIBAT STRESOR RENJATAN LISTRIK : Suatu Pendekatan psikoneuroimunologi. Disertasi thesis, UNIVERSITAS AIRLANGGA.

[img]
Preview
Text (ABSTRAK)
abstrak.pdf

Download (437kB) | Preview
[img] Text (FULLTEXT)
FULLTEXT(1).pdf
Restricted to Registered users only

Download (1MB) | Request a copy
Official URL: http://lib.unair.ac.id

Abstract

Hakekat kehidupan modem yang penuh persaingan merupakan stresor bagi setiap individu. Bila hal tersebut terjadi secara terus menerus akan melampaui ambang batas adaptasi individu sehingga menimbulkan kondisi stres yang merusak atau sering disebut sebagai distress. Banyak kelainan saluran pencernaan, seperti gangguan motilitas usus dan peningkatan kerentanan mukosa terhadap infeksi yang terjadi pada kondisi stres. Telah dilaporkan 567 dari 1000 penderita dengan keluhan nyeri perut di rumah sakit North Carolina,16% diantaranya mengalami gangguan organik (medis), dan 10% mengalami gangguan non organik. (fungsional). Lebih dari 40% penderita dengan gangguan fungsional diberi pengobatan simtomatis yang belum berdasar atas patogenesis yang jelas atau pengobatan yang tidak rasional. Bila hal tersebut dibiarkan berlanjut maka akan timbul berbagai komplikasi dengan mekanisme yang belum jelas. Komplikasi ini akan semakin menyulitkan pengobatan rasional pada kelainan di saluran pencernaan makanan. Di mukosa saluran pencernaan makanan terdapat dua macam ketahanan, yaitu ketahanan alami (innate) dan ketahanan yang didapat (adaptive). Motilitas atau peristaltik usus merupakan ketahanan usus yang alami, mengontrol perlekatan dan kolonisasi bakteri, serta mempercepat pengeluaran imunogen dari lumen usus. Respons imun mukosal merupakan ketahanan usus yang didapat. bertujuan untuk mempertahankan tubuh terhadap patogen dan melakukan toleransi terhadap imunogen dalam makanan dan flora normal. Perubahan motilitas yang disertai dengan perubahan kepekaan usus terhadap patogen pada kondisi stres menunjukkan bahwa terdapat hubungan antara peningkatan motilitas dan modulasi respons imun. Namun sampai saat ini mekanisme perubahan ketahanan mukosal tersebut belum dapat diielaskan. Saat ini telah berkembang ilmu yang mempelajari modulasi fungsi sistem imun pada kondisi stres, yaitu psikoneuroimunologi. Sinyal stres yang dirasakan individu, dirambatkan melalui htipothalamic pituitary-adrenocortical axis (HPA axis). Stresor menvebabkan peningkatan Corticotropin Releasing Factor (CRF) hipotalamus. yang memicu aktivitas aksis HPA. Selain itu CRF dapat ditangkap langsung oleh reseptor CRF-Rl limfosit mukosa, sinyal stres diterima oleh limfosit sehingga perilaku limfosit berubah. Limfosit di mukosa diketahui selain menghasilkan sitokin IFN- IL-10 (Interferon- Interleukin-10) yang berperan pada modulasi respons imun. pada kondisi stres juga menghasilkan peptida SP VIP ( Substance P Vasoactive Intestinal Peptide) yang berperan pada motilitas usus. Secara konseptual perubahan perilaku limfosit tersebut akan memodulasi respons imun (IgA_ lgG IgM). Namun sejauh ini mekanisme modulasi tersebut belum dapat dijelaskan. Jenis penelitian eksperimental, bertujuan untuk menjelaskan mekanisme imunopatobiogenesis respons imun mukosal yang stres. Penelitian menggunakan paradigms psikoneuroimunologi berkonsep sel imunokompeten yang stres, dengan rancangan separate sample pretest-posttest control group dan analisis multivariat. Penelitian menggunakan stresor renjatan listrik (5-30mA) dengan alat Electric Foot Shock , 7 dan 14 hari pada hewan coba, Rattans norvegicus strain Wistar, jantan, berumur 3-4 bulan, berat badan antara 150-175 gram. 60 ekor tikus Wistar yang homogen. dibagi menjadi 6 kelompok secara alokasi random (Random Assignment) berdasar atas bilangan random, yaitu kelompok pretest 7 14, kelompok kontrol 7 14 dan kelompok posttest 7 14. Variabel tergantung adalah kortisol, limfosit penghasil SP, VIP, IFN- , IL-l0, sel plasma penghasil IgA, IgG dan IgM. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada respons imun mukosal yang stres akibat stresor renjatan listrik selama 7 hari terjadi peningkatan jumlah limfosit penghasil SP, VIP, IFN- , IL-10, jumlah sel plasma penghasil IgA, IgG, kadar kortisol darah dan penurunan jumlah sel plasma penghasil IgM. Pada respons imun yang stres akibat stresor renjatan listrik selama 14 hari terjadi penurunan limfosit penghasil SP, VIP, IFN- IL-10, sel plasma penghasil IgA; IgG, IgM dan peningkatan kadar kortisol darah (namun mulai menurun). Berdasar pola diskriminan dan kerangka konsep penelitian maka modulasi respons imun mukosal yang stres akibat renjatan listrik 7 hari meningkatkan fungsi CRF, sinyal tersebut dirambatkan, baik secara langsung ke limfosit mukosal maupun melalui aksis HPA. Sinyal yang dirambatkan melalui jalur CRF–CRF¬Rlmeningkatkan produksi SP dan VIP oleh limfosit mukosal. Peningkatan fungsi SP dan VIP, selain meningkatkan fungsi IFN-y dan pembentukan imunoglobulin (IgA dan IgG), juga potensial meningkatkan motilitas usus. Modulasi respons imun mukosal yang stres akibat stresor renjatan listrik selama 14 hari, masih terjadi peningkatan CRF, sinyal tersebut terutama dirambatkan secara langsung melalui CRF–CRF-RI, dan didapatkan penurunan fungsi SP dan VIP serta peningkatan fungsi IFN- dan IL-10 dengan besar yang tidak lama. Penurunan fungsi VIP yang jauh lebih besar daripada penurunan fungsi SP menyebabkan dominasi fungsi SP, sehingga peningkatan fungsi IFN- , IL-10 dan dominasi SP masih cukup kuat untuk mempertahankan fungsi IgA. Namun demikian penurunan SP dan VIP tersebut berpotensi untuk menurunkan motilitas usus. Dapat disimpulkan, pada stres akibat stresor renjatan listrik 7 had, kedua ketahanan mukosal bersinergi melakukan upaya ketahanan mukosal, sedangkan pada stres akibat stresor renjatan listrik 14 hari terjadi kelelahan motilitas usus lebih awal daripada respons imun.

Item Type: Thesis (Disertasi)
Additional Information: KKA KK Dis K 54/02 Ely p
Uncontrolled Keywords: Electric-footshock, mucosal psychoneuroimmunology, stress immunocompetent cell, mucosal immunomodulation.
Subjects: Q Science > QR Microbiology > QR180 Immunology
R Medicine > R Medicine (General) > R735-854 Medical education. Medical schools. Research
Divisions: 09. Sekolah Pasca Sarjana > Ilmu Kedokteran
Creators:
CreatorsNIM/NIDN
ELYANA ASNAR STP, 099712412DUNSPECIFIED
Contributors:
ContributionNameNIDN/NIDK/NUP
ContributorSoedoko, Roemwerdiniadi;, -UNSPECIFIED
Depositing User: mat sjafi'i
Date Deposited: 26 Sep 2016 05:19
Last Modified: 15 Jun 2017 22:26
URI: http://repository.unair.ac.id/id/eprint/32082
Sosial Share:

Actions (login required)

View Item View Item