POLA EPIDEMIOLOGI TOKSOPLASMOSIS DI SURABAYA (STUDI SEROEPIDEMIOLOGI TOKSOPLASMOSIS PADA PEKERJA RUMAH PEMOTONGAN HEWAN DAN PENJUAL DAGING KAMBING)

YOSO WIYARNO, 090114574 D (2006) POLA EPIDEMIOLOGI TOKSOPLASMOSIS DI SURABAYA (STUDI SEROEPIDEMIOLOGI TOKSOPLASMOSIS PADA PEKERJA RUMAH PEMOTONGAN HEWAN DAN PENJUAL DAGING KAMBING). Disertasi thesis, UNIVERSITAS AIRLANGGA.

[img]
Preview
Text (ABSTRAK)
ABSTRAK.pdf

Download (1MB) | Preview
[img] Text (FULLTEXT)
FULL%20TEXT(1).pdf
Restricted to Registered users only

Download (1MB) | Request a copy
Official URL: http://lib.unair.ac.id

Abstract

Toksoplasmosis adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh protozoa Toxoplasma gondii dan dikenal sebagai salah satu penyakit antropozoonosis. Parasit Toxoplasma gondii dapat menginfeksi manusia dan hewan berdarah papas. Kucing dan sebangsanya diketahui sebagai hospes definitif, sedangkan manusia dan hewan lain yang berdarah panas sebagai hospes perantara. Penelitian yang telah dilakukan di Jawa Timur maupun di dunia, menunjukkan prevalensi toksoplasmosis pads kambing relatif tinggi. Kambing penderita dapat menyebabkan bahaya bagi masyarakat maupun pengelola daging, karena dapat menginfeksi pada manusia melalui makanan, maupun perlukaan. Pola epidemiologi toksoplasmosis pads pengelola daging kambing di Surabaya belum pernah diteliti secara mendalam. Penelitian ini bertujuan mengungkap pola seroepidemiologis toksoplasmosis pacia pekerja yang kontak langsung dengan daging kambing. Guna mengungkapkan pola seroepidemiologi toksoplasmosis dilakukan pemeriksaan toksoplasmosis pads pekerja yang kontak dengan daging kambing dan pemeriksaan toksoplasmosis pada kambing. Pemeriksaan pada pekerja dengan menggunakan uji serologis untuk mengetahui pola toksoplasmosis berdasarkan titer IgG dan IgM, sedangkan pemeriksaan pads kambing menggunakan uji serologis untuk mengetahui pola toksoplasmosis berdasarkan titer IgG dan uji biologi untuk mengetahui adanya kista pads daging kambing. Penelitian ini menggunakan rancangan observasional yang bersifat komparatif. Responden observasi penelitian berasal dari pemotong kambing di RPH, pemotong kambing di luar RPH, penjual daging kambing di pasar tradisional Surabaya, sedangkan responden kontrol adalah petugas administrasi di RPH. Responden penelitian diambil secara total populasi dengan melalui persyaratan yang telah ditetapkan. Jumlah responden penelitian yang digunakan penelitian untuk pemotong kambing di RPH sebanyak 20 orang, pemotong kambing di luar RPH 10 orang, penjual daging kambing 20 orang dan petugas administrasi RPH 20 orang. Sampel kambing yang didapatkan dari RPH sebanyak 150 ekor, sampel kambing dari pemotongan di luar RPH sebanyak 30 ekor. Pengambilan sampel kambing dilakukan secara acak sederhana. Analisis data dengan menggunakan statistik uji chi-square dan chi-square for trend. Hasil temuan penelitian menunjukkan bahwa tempat pemotongan di RPH dan di luar RPH masih belum memenuhi standar tempat pemotongan yang ideal. Proporsi toksoplasmosis berdasarkan titer IgG dan berdasarkan adanya parasit T.gondii pads daging kambing sebesar (36,7%, 5%) dengan rincian kambing dari Pacitan (14%, 0%), Trenggalek (17%, 0%), Probolinggo (31%, 4%), Pasuruan (33%, 10%), Kediri (37%, 5%), Lumajang (67%, 0%), dan Situbondo (75%, 0%). Responden pemotong kambing di RPH dan di luar RPH serta penjual daging kambing dalam bekerja sehari-hari tidak menggunakan alat pelindung diri. Berdasarkan pemeriksaan titer IgG dan IgM yang positif toksoplasmosis pada responden sebesar 71.4% dan 34,3%, dengan rincian yaitu pads pemotong kambing di RPH 85% dan 55%, pemotong kambing di luar RPH 80% dan 40%, penjual daging kambing 80% dan 35% dan petugas administrasi RPH 45% dan 10%. Besarnya odd ratio toksoplasmosis berdasarkan pemeriksaan IgG dan IgM pads pemotong kambing di RPH (6.93; 11.00). pemotong kambing di luar RPH (4.89; 6.00), penjual (4.89; 4.85) dan petugas administrasi RPH (1.00; 1.00). Kesimpulan penelitian adalah adanya pola epidemiologi yang memperlihatkan kecenderungan penurunan proporsi toksoplasmosis pads responden yang kontak dengan daging kambing dibandingkan dengan responden yang tidak kontak dengan daging kambing. Pekerja pemotong kambing dan penjual daging kambing yang dijadikan responden tidak menggunakan alat pelindung diri dalam melakukan pekerjaannya. Berdasarkan pemeriksaan titer IgG didapatkan besamya risiko toksoplasmosis pads pemotong kambing di RPH sebesar 6.93 kali lebih besar dibandingkan risiko toksoplasmosis pads pekerja administrasi RPH. Sedangkan pemotong kambing di luar RPH dan penjual daging kambing besar risiko toksoplasmosis berdasarkan titer IgG adalah 4.89 lebih besar dibandingkan pekerja administrasi RPH. Berdasarkan pemeriksaan titer IgM didapatkan besarnya risiko toksoplasmosis pads pemotong kambing di RPH sebesar 11 kali lebih besar dibandingkan risiko toksoplasmosis pads pekerja administrasi RPH. Sedangkan pemotong kambing di luar RPH sebesar 6 kali dan penjual daging kambing sebesar 4.85 kali lebih besar dibandingkan pekerja administrasi RPH. Tempat pemotongan kambing di RPH dan di luar RPH masih belum memenuhi standar yang ideal. Disarankan, perlu dilakukan peningkatan kesehatan dan keselamatan kerja di lingkungan RPH agar pemotong kambing dapat terhindar dari infeksi toksoplasmosis. Peningkatan keselamatan dan kesehatan kerja tersebut dapat dilakukan dengan: penggunaan alat pelindung diri maupun berperilaku sehat; perlu dilakukan perbaikan sarana yang terdapat di RPH Surabaya seperti tersedianya air bersih yang cukup, tempat sampah, dan laboratorium; perlu dilakukan perbaikan dan pembinaan terhadap tempat pemotongan hewan di luar RPH agar tempat pemotongan tersebut dapat memenuhi standar kesehatan untuk tempat pemotongan hewan; untuk melindungi masyarakat dan lingkungan di sekitar tempat pemotongan hewan di RPH dan pemotongan di luar RPH agar terhindar dari dampak negatif dari aktivitas pemotongan hewan maka perlu dilakukan Upaya Pengelolaan dan Pemantauan Lingkungan (UKL-UPL); perlu dilakukan penyuluhan terhadap masyarakat agar berhati-hati jika kontak maupun mengolah daging kambing; masyarakat jika mengkonsumsi daging kambing, hendaklah dimasak terlebih dahulu dengan kematangan yang sempurna agar kista yang terdapat di dalam daging tersebut mati.

Item Type: Thesis (Disertasi)
Additional Information: KKA KK Dis K. 14/07 Wiy p
Uncontrolled Keywords: Seroepidemiology, toxoplasmosis, Abattoir, goat meat, T. gondii, IgG, IgM
Subjects: R Medicine > R Medicine (General) > R735-854 Medical education. Medical schools. Research
Divisions: 09. Sekolah Pasca Sarjana > Ilmu Kedokteran
Creators:
CreatorsNIM/NIDN
YOSO WIYARNO, 090114574 DUNSPECIFIED
Contributors:
ContributionNameNIDN/NIDK/NUP
ContributorH. Soedarto, Prof. dr.DTM&H., PhD.UNSPECIFIED
Depositing User: mat sjafi'i
Date Deposited: 29 Aug 2016 05:38
Last Modified: 15 Jun 2017 22:47
URI: http://repository.unair.ac.id/id/eprint/32093
Sosial Share:

Actions (login required)

View Item View Item