PAKET PENYULUHAN KOGNITIF DAN SENAM PRAPERSALINAN PADA PRIMIGRAVIDA MENGURANGI CEMAS DAN NYERI PERSALINAN, MENINGKATKAN SKOR APGAR BAYI, SERTA MEMPERCEPAT PENYEMBUHAN LUKA PERSALINAN : Penelitian eksperimental laboratorik dan klinik menggunakan paradigma psikoneuroimunologi

STEPHANUS MULYATA, 099712387 D (2002) PAKET PENYULUHAN KOGNITIF DAN SENAM PRAPERSALINAN PADA PRIMIGRAVIDA MENGURANGI CEMAS DAN NYERI PERSALINAN, MENINGKATKAN SKOR APGAR BAYI, SERTA MEMPERCEPAT PENYEMBUHAN LUKA PERSALINAN : Penelitian eksperimental laboratorik dan klinik menggunakan paradigma psikoneuroimunologi. Disertasi thesis, UNIVERSITAS AIRLANGGA.

[img]
Preview
Text (ABSTRAK)
ABSTRAK.pdf

Download (1MB) | Preview
[img]
Preview
Text (FULLTEXT)
gdlhub-gdl-s3-2007-mulyataste-5090-disk07-4.pdf

Download (2MB) | Preview
Official URL: http://lib.unair.ac.id

Abstract

Ide penelitian ini timbul dari adanya dugaan, bahwa stres pada ibu hamil dapat mempengaruhi kesembuhan luka persalinan post partum. Telah diketahui bahwa wanita sudah merasa cemas sejak saat kehamilannya yang dapat berkembang menjadi stres (Niven, 1992). Juga sudah diketahui bahwa antara 25% dari populasi wanita hamil memiliki strategi coping yang tinggi, sehingga tahan menghadapi stres dan nyeri persalinan, dan persalinan dapat berlangsung tanpa keluhan yang berarti (Reeder, 1997). Orang yang memiliki daya coping dapat mengelola stres yang dialami dan dapat mengatasinya, orang yang daya coping-nya rendah menurut Folkman dan Lazarus (1988) dapat ditingkatkan dengan pendidikan dan latihan, antara lain dengan latihan pernapasan, penyuluhan, senam hamil, teknik relaksasi, distraksi, imagery (Niven dan Gijsbergs, 1984). Oleh karenanya wajar bila pemberian paket penyuluhan kognitif dan senam prapersalinan dapat mengurangi stres dan nyeri persalinan serta dapat mempercepat kesembuhan luka persalinan. Namun belum ada yang membuktikan konsep tersebut. Seandainya hal tersebut benar, timbul masalah bagaimana menjelaskan mekanismenya. Sehingga masalah penelitian ini adalah: belum diketahui mekanisme terjadinya percepatan kesembuhan luka persalinan post partum pada ibu hamil yang mendapat paket penyuluhan kognitif dan senam prapersalinan. Untuk menjawab pertanyaan tersebut dilakukan penelitian dengan hipotesis sebagai berikut: 1. Paket penyuluhan kognitif dan senam prapersalinan dapat menurunkan skor nyeri persalinan menurut VAS (Visual Analoque Scales) 2. Paket penyuluhan kognitif dan senam prapersalinan dapat meningkatkan skor Apgar bayi yang baru dilahirkan 3. Paket penyuluhan kognitif dan senam prapersalinan dapat menurunkan kadar kortisol dan -endorfin ibu bersalin 4. Paket penyuluhan kognitif dan senam prapersalinan menyebabkan perubahan respons imun yang dicerminkan oleh ke-6 variabel penelitian dari kedua kelompok yang diteliti 5. Kandungan Fibroblast dan TGF- 1 pada hewan coba kelompok control lebih banyak dibanding kelompok perlakuan Penelitian ini melibatkan 34 sampel primigravida yang sudah melewati tahap seleksi sampel berupa tes kesehatan dan tes psikologis (MMPI dan HRSA), umur antara 20-30 tahun, berbadan sehat, pendidikan minimum SMU, dan sudah memberikan persetujuan (informed consent) untuk ikut penelitian. Sampel dibagi menjadi 2 kelompok secara acak. Sejak kehamilan 32 minggu, kelompok coba diberi perlakuan paket penyuluhan kognitif dan senam prapersalinan sekali seminggu selama 90 menit. Materi penyuluhan, cara penyampaian, waktu yang diperlukan dan instruktur penyuluhan sudah dibakukan. Prasyarat penting untuk keberhasilan: subyek sampel berpartisipasi aktif dan serius, agar dapat mencapai tujuan paket penyuluhan dan senam, yaitu berkurangnya stres dan nyeri persalinan, dan cepatnya, kesembuhan luka persalinan. Alasan pemberian intervensi dimulai pada umur kehamilan 32 minggu, karena pada umur tersebut struktur dan fungsi plasenta sudah lengkap, sehingga tidak mudah tejadi komplikasi seperti: perdarahan, kontraksi rahim yang dapat menyebabkan terjadinya persalinan immature. Alokasi waktu paket intervensi adalah 90 menit, alokasi 45 menit untuk penyuluhan sudah cukup efektif, tidak menimbulkan kelelahan, sudah sesuai dengan alokasi jam kuliah pada system pendidikan pada umumnya. Alokasi 45 menit untuk senam juga cukup, tidak melelahkan dan dapat mencegah timbulnya kontraksi otot rahim. Variabel yang diamati ada 2 macam, yaitu variabel klinis: tanda vital (TV), skor nyeri (SN) VAS, denyut jantung janin bayi (DJJ), dan Apgar skor (AS); dan variabel laboratoris: Kortisol, -endorfin ( -endo), Interferron (IFN ), Interleukin 4 (IL-4), Immunoglobulin (IgG1) dan Transforming Growth Factor- 1 (TGF- 1). Kelompok kontrol tidak mendapat perlakuan. Terjadinya penyimpangan pada kelompok kontrol, misalnya melakukan senam sendiri, tidak dapat diperhitungkan oleh peneliti, oleh karena memang tidak mengetahui. Data dikumpulkan dua kali, data praperlakuan (kecuali skor nyeri dan Apgar skor), dan data pasca perlakuan. Analisa statistik dengan uji t dua sampel bebas dilakukan terhadap data klinis patofisiologis, seperti: skor nyeri VAS dan skor Apgar bayi yang baru lahir, serta variabel penelitian hewan coba. Analisis untuk data laboratories atau data psikoneuroimunologis seperti: data kortisol, -endorfin, IFN- , IL-4, IgG1 dan TGF 1, menggunakan uji multi variat. Hasil analisis statistik data skor Apgar bayi yang baru lahir, dari kedua kelompok penelitian menggunakan uji t, membuktikan bahwa skor Apgar bayi yang baru lahir pada menit ke-1 dan menit ke-5 menunjukkan adanya perbedaan yang tidak bermakna (p = 0.177 dan p = 0,218), tetapi skor Apgar pada menit ke-10, menunjukkan adanya perbedaan bermakna (p = 0.047) dengan perbandingan antara kelompok perlakuan dan kelompok control 10.0: 9.7. Hasil analisis skor nyeri VAS dari kedua kelompok penelitian, menggunakan uji t membuktikan bahwa data skor nyeri VAS pada pembukaan serviks 0 - 4 cm menunjukkan adanya perbedaan bermakna (p = 0.014) dengan perbandingan antara kedua kelompok 2.41 : 3.65. Data skor nyeri VAS pada pembukaan serviks 5 - 9 cm menunjukkan adanya perbedaan tidak bermakna (p = 0.183). Sedangkan data skor nyeri VAS pada pembukaan serviks 10 cm (lengkap), menunjukkan adanya perbedaan bermakna (p = 0.01), dengan perbandingan antara kelompok perlakuan dan kelompok kontrol 8.06 : 9.53. Hasil analisis terhadap variabel skor Apgar dan variabel skor nyeri VAS dapat disimpulkan bahwa paket penyuluhan kognitif dan senam prapersalinan dapat meningkatkan prognosis survival bayi yang baru dilahirkan, serta dapat menurunkan sensasi nyeri persalinan. Untuk menguji perbedaan antara kelompok kontrol dan perlakuan, sebelum mendapat paket intervensi dengan 6 variabel psikoneuroimunologis (PNI) yaitu: kortisol, -endo, IFN- , IL-4, IgG1, dan TGF- 1, menggunakan uji beda analisis Multivariate (lihat tabel 5.7, gambar 5.1 dan lampiran B2). Dengan metode Willks Lambda diperoleh Fhitung = 0.70 dan Fsigniftkans (p) = 0.127, artinya antara kelompok kontrol dan kelompok perlakuan tidak menunjukkan adanya perbedaan atau homogen, juga berarti data berasal dari populasi yang sama. Untuk menguji kelompok kontrol dan kelompok perlakuan sesudah mendapat paket penyuluhan kognitif dan senam prapersalinan dengan 6 variabel yang diteliti, digunakan analisa Multivariate dengan metode Willks Lambda Fhitung = 0.598 dan p = 0.021, artinya antara kelompok kontrol dan kelompok perlakuan terdapat perbedaan bermakna. Hasil yang diperoleh tersebut juga berarti bahwa pemberian paket perlakuan mempengaruhi respons imun ke-6 variabel yang diuji. Untuk mendapatkan variabel variabel pembeda yang terkuat, dilakukan analisis Discriminant pada data pasca perlakuan. Dari 6 variabel yang diuji, diapatkan 1 variabel yang dapat membedakan kelompok kontrol dari kelompok perlakuan, yaitu: variabel Kortisol dan interferron- . Untuk mengetahui tingkat signifikansinya, digunakan metode Willks Lambda dengan Fhitung = 0.656 dan p = 0.001, artinya antara kelompok kontrol dan kelompok perlakuan terdapat perbedaan bermakna. Dari perhitungan tersebut didapatkan suatu model Regresi yang mewakili setiap kelompok, yaitu: model Fischer Linear Discriminant dengan kekuatan pembeda 73,5%. Untuk mendapatkan diskriminator setiap variabel, dilakukan perkalian antara model Fisher linear dengan data asli, dengan mengansumsikan variabel yang lain sama dengan 0, didapatkan pola diskriminan. Untuk melihat perubahan respons akibat perlakuan kognitif dan senam prapersalinan, dicari selisih antara data akhir dikurangi dengan data awal dari setiap variabel dari kedua kelompok yang diuji. Kemudian hasil selisihnya diuji dengan analisis Multivariate menggunakan metode Willks Lambda dengan Fhitung = 0.553 dan p = 0.009, artinya antara kelompok kontrol dan kelompok perlakuan terdapat perbedaan perubahan respons imunologis yang bermakna. Untuk mendapatkan variabel pembeda yang terkuat, dilakukan analisis discriminant, dengan metode Willks Lambda Fhitung = 0.638 dan p = 0.000. Dari 6 variabel yang diuji, terdapat 1 variabel yang dapat membedakan kedua kelompok, yaitu: IFN- (lampiran C2). Dengan perhitungan yang sama, diperoleh model Fischer Linear yang dapat mewakili setiap kelompok. Untuk mendapatkan kontribusi variabel pembeda terhadap kelompok, dilakukan perkalian antara koefisien Fischer dengan data asli perubahan, yaitu untuk IFN- dari kelompok kontrol = -0.081, dan kelompok perlakuan = 0.144 (lihat table 5.12). Untuk mendapatkan kontribusi variabel pembeda terhadap kelompok, dilakukan perkalian antara model Fischer linear dengan data asli perubahan respons, dengan asumsi variabel yang lain = o. Hasil perkalian lFN- tersebut rerata pada kelompok kontrol = -0.0800, dan rerata pada kelompok perlakuan 0.0004. Kesimpulan : Hasil analisis menggunakan uji t untuk variabel klinis patofisiologis, dan uji Multivariat dilanjutkan analisis discriminate Untuk analisis variabel psikoneuroimunologis, menunjukkan bahwa hipotesis nomer 1, 2, 3 dan 4 pada penelitian manusia seluruhnya terbukti, tinggal pembuktian hipotesis nomer 5 tentang kecepatan kesembuhan luka persalinan pada tingkat jaringan. Sebagaimana telah disampaikan dibagian depan, bahwa untuk pembuktian hipotesis nomer 5 tersebut, perlu dilakukan penelitian pada hewan coba. Penelitian hewan coba bertujuan untuk mendukung hasil penelitian pada kasus manusia bahwa penyuluhan kognitif dan senam prapersalinan dapat mempercepat kesembuhan luka persalinan (pada tingkat molekuler). Penelitian ini menggunakan 20 ekor tikus galur Sprague-Dawley betina dewasa yang sudah dibuat bunting, dengan rerata berat badan 300 gram. Tikus dibagi secara acak menjadi 2 kelompok masing-masing 10 ekor. Kelompok tikus kontrol adalah tikus yang tidak dipapar dengan stressor gelombang ultrasonik menggunakan sonikator dengan kapasitas suara 6,6 KHz selama 60 detik. Dengan paparan gelombang ultrasonik tersebut, tikus mengalami stres (kelompok stres). Tata laksana penelitian diawali dengan adaptasi kandang, pembuntingan, pemberian pakan hewan. Pada umur bunting antara 18 hari menjelang saat persalinan, tikus kelompok coba satu demi satu dipapar terhadap stresor sesuai protocol, kemudian dilakukan episiotomi dengan pembiusan menggunakan kombinasi Ketamin-xylasin dengan dosis masing-masing 90 mg dan 10 mg/Kg BB intramuskuler (IM), panjang irisan episiotomi 10- 15 mm dengan kedalaman sampai subkutis, selanjutnya ditutup dengan 3 jahitan benang katun. Hal yang sama dilakukan pada tikus kelompok kontrol, yang tidak terpapar stresor. Pada tikus tersebut langsung dilakukan episiotomi dengan prosedur yang sama dengan yang dilakukan pada tikus kelompok coba. Pada hari ke-3 pasca episiotomi, pada 10 ekor tikus dari kedua kelompok masing-masing 5 ekor, dilakukan biopsi pada tempat irisan episiotomi (vulva), kemudian tikus dimatikan. Dari jaringan vulva hasil otopsi dibuat sediaan histopatologi dengan pengecatan hematoksilin dan eosin untuk menghitung jumlah fibroblast yang terbentuk per lapangan pandang. Dari jaringan tersebut juga dibuat sediaan apus untuk pemeriksaan imunohistokimia metode streptavidin-biotin untuk melihat dan menghitung adanya TGF- 1 dalam jaringan perlapangan pandang. Pada hari ke-5 pasca episiotomi, pada 10 ekor tikus dari kedua kelompok masing-masing 5 ekor, dilakukan tindakan yang macam dan prosedurnya sessuai dengan tindakan pada hari ke-3 pasca episiotomi. Hasil analisis statistic menggunakan uji t dua sampel bebas membuktikan bahwa kandungan fibroblast dari kedua kelompok penelitian menunjukkan adanya perbedaan bermakna (p=0.031) dimana rerata kelompok coba secara bermakna lebih rendah dibandingkan kelompok control, dengan perbandingan 12.7:20.6 artinya pada kelompok tikus stress penyembuhan luka lebih lambat dibandingkan dengan kelompok tikus yang tidak dibuat stres. Variabel TGF- 1 dari kedua kelompok penelitian menunjukkan ada perbedaan bermakna (p=0.001) dimana rerata kelompok coba secara bermakna lebih rendah dibandingkan kelompok control, dengan perbandingan 0.2 : 1.8 artinya pada kelompok tikus stress penyembuhan luka lebih lambat dibandingkan kelompok tikus yang tidak dibuat stress. Mengingat peran factor penyembuhan seperti PDGF dan FGF serta beberapa sitokin yang berpengaruh pada proses penyembuhan, semuanya sudah tersedia didalam jaringan tikus, maka banyaknya jumlah fibroblast dan TGF- 1 dapat menentukan kecepatan proses kesembuhan luka pasca episiotomi. Apabila hasil penelitian hewan Coba diekstrapolasi pada penelitian kasus manusia, maka pemberian paket penyuluhan kognitif dan senam prapersalinan benar dapat mempercepat kesembuhan luka persalinan. Hal ini disebabkan karena analisa discriminant terhadap 6 variabel imunofisiologis dapat memperoleh faktor pembeda paling kuat terhadap kelompok yaitu IFN- , yang sesuai dengan kerangka konseptual penelitian, IFN- akan memicu timbulnya modulasi respons imun, sehingga TGF- 1 akan meningkat dan jumlah fibroblast akan bertambah banyak, disertai meningkatnya sintesis factor pertumbuhan dan sitokin lain. Kejadian tersebut dapat menjelaskan mekanisme terjadinya kesembuhan luka laboratorik imunologik luka persalinan. Pembuktian kesembuhan luka pada tingkat molekuler tersebut diperkuat dengan bukti empiric terjadinya kesembuhan luka pada tingkat jaringan, yaitu hasil penelitian hewan coba, bahwa kelompok tikus yang tidak stres, kesembuhan lukanya lebih cepat disbanding tikus yang stres. Kesimpulan: Berdasar hasil analisis dengan uji t, analisis Multivariat yang diteruskan dengan analisis discriminant, dapat disimpulkan sebagai berikut: 1, Analisa statistik dengan uji t data klinis patofisiologis skor nyeri VAS dari kedua kelompok yang diteliti menunjukkan adanya perbedaan bermakna (P &lt; 0.05). hal ini dapat diartikan bahwa faktor nyeri persalinan merupakan stresor psikologis yang memicu terjadinya refleks otonom, yang berakibat berkurangnya sirkulasi uteroplasental, terbukti dengan terjadinya penurunan skor apgar neonatus pada kelompok control. Fenomena tersebut diatas sesuai dengan pendapat Booij (1986, disampaikan dalam seminar) bahwa penurunan kontraksi otot rahim mempengaruhi lamanya proses persalinan dan penurunan skor Apgar bayi yang dilahirkan ibu tersebut. 2. Stresor psikologis akibat nyeri juga memicu timbulnya modulasi respons imun, yang dengan analisis Multivariate yang diteruskan dengan analisis discriminant dapat dibuktikan terjadinya perbedaan bermakna antara kedua kelompok penelitian, dan interferron- merupakan variabel pembeda yang paling kuat untuk terjadinya perbedaan respons imun antara kedua kelompok. Dengan analisis discriminant, diperoleh pola discriminant yang paling kuat yaitu interferron- , yang menyebabkan terjadinya modulasi respons imun, dan terjadi kesembuhan luka persalinan (pada tingkat molekuler). Teori ini ditunjang oleh fakta empiric (hasil penelitian hewan coba) bahwa tikus yang tidak stres (kontrol) kesembuhan lukanya lebih cepat dibanding tikus yang stres, ditunjukkan dengan meningkatnya kandungan Fibroblast dan TGF- 1 lebih tinggi dibanding kelompok stres perlakuan). Hasil penelitian tersebut sesuai dengan pendapat Peck (1986), Bonica (1990b), Cousin 1991) dan Kie Cold (1998) bahwa kecemasan prabedah yang tidak dikelola dengan baik, akan meningkatkan nyeri pasca bedah dan memperpanjang waktu penyembuhan. 3. Dengan pemberian paket penyuluhan kognitif dan senam prapersalinan, terjadi peningkatan skor Apgar pada neonatus (p &lt; 0.05). Dengan analisa discriminant dapat diperoleh variabel pembeda yang paling kuat yaitu IFN- , yang menyebabkan meningkatnya kandungan TGF- 1 dan kandungan fibroblast, sehingga proses kesembuhan luka persalinan dipercepat Hasil penelitian ini sesuai dengan pendapat Egber (1963-1964), Andersen (1987), Roizen (1995) dan Rehatta (1999), bahwa pendekatan psikologis prebedah menyebabkan berkurangnya kebutuhan analgetika pasca bedah, dan mempengaruhi penyembuhan luka pasca bedah. Saran: 1. Kepada ibu hamil khususnya hamil yang pertama, agar merawat kehamilan dan mempersiapkan persalinan dengan baik, dengan cara aktif mengikuti paket penyuluhan dan senam persiapan persalinan, disamping pemeriksaan rutin tentang kehamilannya di klinik bersalin 2. Kepada pengelola lembaga kesehatan khususnya bidang kebidanan, lembaga pendidikan khususnya sekolah dan akademi keperawatan atau kebidanan, agar melayani dan menyebarluaskan paket penyuluhan dan senam persiapan persalinan kepada para ibu hamil sebagai komponen suportif dalam perawatan ibu hamil dan bersalin.</description

Item Type: Thesis (Disertasi)
Additional Information: KKA KK Dis K07/04 Mul p
Uncontrolled Keywords: Stress, Pain, Birth and delivery, Birth-exercise, Episiotomy, Immunohistochemistry, Streptavidin-Biotin, Fibroblast and TGF- 1, Wound healing.
Subjects: R Medicine > R Medicine (General) > R735-854 Medical education. Medical schools. Research
Divisions: 09. Sekolah Pasca Sarjana > Ilmu Kedokteran
Creators:
CreatorsNIM/NIDN
STEPHANUS MULYATA, 099712387 DUNSPECIFIED
Contributors:
ContributionNameNIDN/NIDK/NUP
ContributorKarjadi Wirjoatmodjo, Prof., dr. SpAn KICUNSPECIFIED
ContributorR. Moeljono Notosoedirdjo, Prof. Dr. , dr. SpKJ. MPHUNSPECIFIED
ContributorP.G. Konthen, Prof. Dr., dr, SpPD, KAIUNSPECIFIED
Depositing User: mat sjafi'i
Date Deposited: 30 Aug 2016 03:59
Last Modified: 16 Jun 2017 18:53
URI: http://repository.unair.ac.id/id/eprint/32126
Sosial Share:

Actions (login required)

View Item View Item