POLA DISTRIBUSI SEROTIPE VIRUS DENGUE PADA BEBERAPA DAERAH ENDEMIK DI JAWA TIMUR DENGAN KONDISI GEOGRAFI BERBEDA

SOEDJOKO HARIADHI, 099913643 D (2005) POLA DISTRIBUSI SEROTIPE VIRUS DENGUE PADA BEBERAPA DAERAH ENDEMIK DI JAWA TIMUR DENGAN KONDISI GEOGRAFI BERBEDA. Disertasi thesis, UNIVERSITAS AIRLANGGA.

[img]
Preview
Text (ABSTRAK)
gdlhub-gdl-s3-2007-hariadhiso-5330-disk13-k.pdf

Download (725kB) | Preview
[img]
Preview
Text (FULLTEXT)
gdlhub-gdl-s3-2007-hariadhiso-5330-disk13-6.pdf

Download (1MB) | Preview
Official URL: http://lib.unair.ac.id

Abstract

Infeksi virus Dengue telah menjadi masalah kesehatan yang serius pada banyak negara tropis dan subtropis, oleh karena terjadi peningkatan jumlah penderita, menyebar luasnya daerah yang terkena wabah dan manifestasi klinis berat yang merupakan keadaan gawat darurat yaitu Dengue Haemorrhagic Fever (DHF) dan Dengue Shock Syndrome (DSS). Penyakit DBD di Indonesia telah menyebar ke seluruh Propinsi, tidak saja di daerah urban, tetapi sudah menyebar ke daerah rural, bersifat endemis dan cenderung mengalami kejadian luar biasa/(KLB). Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari epidemiologi penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) dari sisi hubungan antara kondisi geografi suatu daerah terhadap serotipe virus Dengue dan tingkat keparahan penyakit, agar dapat digunakan sebagai strategi dalam pencegahan, pengobatan dan pemberantasan virus penyakit Demam Berdarah Dengue di Indonesia. Jenis penelitian ini adalah penelitian eksploratif laboratoris yaitu eksplorasi terhadap serotipe virus Dengue pada penderita DBD dari berbagai daerah yang berbeda kondisi geografinya dengan menggunakan tehnik reverse transcriptase-polymerase chain reaction (RT-PCR) sekaligus dilakukan pemeriksaan DNA sequencing untuk mengetahui susunan nukleotidanya. Rancangan penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah cross-sectional study, dengan wilayah penelitian di Jawa Timur meliputi wilayah Surabaya, Malang, dan Jember yang berbeda kondisi geografinya (didasarkan data Badan Meteorologi dan Geofisika Wilayah III Juanda Surabaya). Penelitian ini menggunakan sampel darah pasien yang telah didiagnosis positif menderita DBD di Wilayah Jawa Timur dengan mengambil tiga daerah penelitian yaitu Surabaya, Malang, dan Jember, dengan penegakan diagnosis yang didasarkan pada kriteria WHO 1997. Pengumpulan sampel dilakukan di RSUD wilayah penelitian, dengan mengambil serum darah penderita DBD, kemudian dilakukan isolasi virus Denguenya di laboratorium, dengan menggunakan tehnik RT-PCR dilakukan identifikasi serotipe virusnya, selanjutnya dilakukan sequencing DNA untuk mengetahui susunan nukleotidanya. Hasil pengumpulan sampel, diperoleh 28 sampel dari Rumah Sakit Dr. Soetomo Surabaya, 21 sampel dari Rumah Sakit Dr. Syaiful Anwar Malang, dan 31 sampel dari Rumah Sakit Dr. Soebandi Jember. Sebagai indikator untuk menetapkan adanya antibodi anti Dengue adalah hasil pemeriksaan kadar IgM dan IgG dengan metode Captured ELISA, indikator untuk menetapkan serotipe virus adalah hasil pemeriksaan semi nested-Polymerase Chain Reaction (sn-PCR) serum penderita, dan hasil pemeriksaan klinis oleh dokter di Rumah sakit wilayah penelitian sebagai indikator manifestasi klinis penderita DBD berdasar kriteria WHO 1997. Hasil penelitian ini dianalisis dengan menggunakan analisis deskriptif, yaitu analisis yang didasarkan pada deskripsi data hasil penelitian. Berdasarkan hasil pemeriksaan IgM dan IgG dan sn-PCR pada penderita DBD dari wilayah Surabaya, Malang, dan Jember, menunjukkan bahwa infeksi sekunder dengan jenis virus Dengue serotipe Den-2 mendominasi kasus DBD di wilayah penelitian, sehingga dapat dinyatakan bahwa endemisitas di tiga wilayah daerah tersebut cukup tinggi. Sementara ditemukan seorang penderita DBD dari Surabaya terinfeksi virus ganda, Den-2 dan Den-3. Berdasarkan hasil sekuensing dapat dilihat bahwa isolat dari Jawa Timur yaitu dari Surabaya, Malang, Jember dan Pacitan terdapat homologi lebih dari 80% dan bila dibandingkan dengan isolat dari Jakarta, USA dan Jamaica homologinya kurang dari 73%. Artinya bahwa virus Dengue serotipe Den-2 di Jawa Timur masih tinggi kesamaannya, sedangkan bila dibanding serotipe Den-2 Jakarta, USA dan Jamaica kesamaannya berkurang. Untuk menentukan pola kekerabatan serotipe virus Dengue tersebut perlu penelitian lanjutan berupa Phylogenetic analysis . Diagnosis klinis penderita DBD pada penelitian ini dilakukan oleh dokter yang merawat di tiga daerah penelitian dengan menggunakan kriteria WHO 1997 untuk mengurangi terjadinya over diagnosis. Tingkat keparahan penyakit diklasifikasikan menjadi 4 grade mulai dari yang paling ringan ke yang paling berat yaitu grade-I, grade-2, grade-3 dan grade-4. Hasil pemeriksaan terhadap 28 penderita DBD dari daerah penelitian Surabaya, menunjukkan hasil diagnosis klinis grade-l sebanyak 14 penderita (50%), grade-2 sebanyak 11 penderita (39,3%), grade-3 sebanyak 2 penderita (7,1 %) dan grade-4 sebanyak 1 penderita (3,6%). Hasil pemeriksaan serologi terhadap 14 penderita dengan diagnosis klinis grade-l menunjukkan positif 3 penderita (21,4%), equivocal 2 penderita (14,3%) dan negatif 9 penderita (64,3%). Pada 11 penderita grade-2 menunjukkan positif 7 penderita (63,6%), negatif 4 penderita (36,4%). Dari 2 penderita grade-3 menunjukkan positif semuanya (100%). Pada seorang penderita grade-4 menunjukkan positif semuanya (100%). Hasil pemeriksaan PCR terhadap 14 penderita dengan diagnosis klinis grade-1 menunjukkan positif 5 penderita (35,7%) virus Den-2 dan 9 penderita (64,3%) negatif. Pada 11 penderita dengan diagnosis klinis grade-2 menunjukkan 2 penderita (18,2%) positif virus Den-2 dan 9 penderita (81,8%) negatif. Pada 2 penderita grade-3 menunjukkan seluruhnya (100%) positif virus Den-2. Pada seorang penderita dengan diagnosis klinis grade-4 menunjukkan positif (100%) virus Den-2 dan Den-3 (infeksi ganda). Hasil temuan ini menunjukkan bahwa penderita yang didiagnosis klinis grade-1 dan grade-2 tingkat positifnya ditemukan virus Dengue rendah yaitu 71 % dan 82%, sedangkan penderita dengan diagnosis klinis grade-3 dan grade-4 100% positif bahkan 1 kasus grade-4 mengalami infeksi ganda dengan virus Den-2 dan Den-3, artinya infeksi ganda tersebut memperparah perjalanan penyakit DBD sampai terjadi DSS dan mayoritas ditemukan virus Dengue serotipe Den-2, serotipe Den-3 pada satu penderita yang mengalami infeksi ganda Den-2 dan Den-3. Hasil pemeriksaan terhadap 21 penderita DBD dari daerah penelitian Malang menunjukkan hasil diagnosis klinis dengan grade-1 sebanyak 3 penderita (14,3%), grade-2 sebanyak 15 penderita (71,4%), grade-3 sebanyak 1 penderita (4,8%) dan grade-4 sebanyak 2 penderita (9,5%). Hasil pemeriksaan serologi terhadap 3 penderita dengan diagnosis klinis grade-1 menunjukkan semuanya (100%) positif. Pada 15 penderita grade-2 menunjukkan 12 penderita (80%) positif, 2 penderita (13,3%) equivocal dan 1 penderita (6,7%) negatif. Pada seorang penderita grade-3 menunjukkan semuanya (100%) positif. Pada 2 penderita grade-4 menunjukkan semuanya (100%) positif. Hasil pemeriksaan PCR terhadap 3 penderita dengan diagnosis klinis grade-l menunjukkan seluruhnya (100%) negatif. Pada 15 penderita grade-2 menunjukkan 7 penderita (46,7%) positif virus Den-2 dan 8 penderita (53,3%) negatif. Pada 1 penderita grade-3 menunjukkan negatif (100%). Pada 2 penderita grade-4 menunjukkan 1 penderita (50%) positif virus Den-2 dan 1 penderita (50%) negatif. Virus yang ditemukan ternyata seluruhnya serotipe Den-2. Hasil pemeriksaan terhadap 31 penderita DBD dari daerah penelitian Jember menunjukkan hasil diagnosis klinis dengan grade-l sebanyak 15 penderita ( 48,4%), grade-2 sebanyak 12 penderita (38,7%), grade-3 sebanyak 3 penderita (9,7%) dan grade-4 sebanyak 1 penderita (3,2%). Hasil pemeriksaan serologi terhadap 15 penderita dengan diagnosis klinis grade-l menunjukkan 5 penderita (33,3%) positif, equivocal 1 penderita (6,7%) dan 9 penderita (60%) negatif. Pada 12 penderita dengan diagnosis klinis grade-2 menunjukkan 10 penderita (83,3%) positif dan 2 penderita (16,8%) negatif. Pada 3 penderita grade-3 menunjukkan semuanya (100%) positif, grade-4 sebanyak 1 penderita menunjukkan positif (100%). Hasil temuan ini menunjukkan bahwa mayoritas diagnosis klinis penderita adalah grade-l (48,4%) dan grade-2 (38,7%) dan hasil pemeriksaan serologi grade-2 ditemukan 83,3% positif, sedang grade-3 dan grade-4 100% positif. Hasil pemeriksaan PCR terhadap 15 penderita dengan diagnosis klinis grade-l menunjukkan 1 penderita (6,7%) positif virus Den-2, 14 penderita (93,3%) negatif. Pada 12 penderita grade-2 menunjukkan 5 penderita (41,7%) positif virus Den-2 dan 7 penderita (58,3%) negatif. Pada 3 penderita grade-3 semuanya negatif (100%). Pada seorang penderita grade-4 juga negative (100%). Virus yang ditemukan seluruhnya serotipe Den-2. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa: 1) Daerah Surabaya, Malang dan Jember yang secara geografis berbeda ternyata ditemukan semuanya virus Dengue serotipe Den-2 kecuali Surabya ditemukan satu kasus infeksi ganda dengan serotipe Den-2 dan Den-3. 2) Infeksi ganda oleh Den-2 dan Den-3 menyebabkan DSS (grade-4). 3) Karakterisasi molekuler serotipe Den-2 yang ditemukan di daerah Surabaya, Malang dan Jember ternyata memiliki homologi lebih dari 80%, sedangkan bila dibandingkan dengan isolat Den-2 dari Jakarta, USA dan Jamaica homologinya kurang dari 73%. 4) Pola serologi menggunakan Captured ELISA menunjukkan mayoritas adalah infeksi sekunder bila dibanding infeksi primer yaitu di Surabaya 35,7% , Malang 76,2% dan Jember 54,8%. Artinya diketiga daerah tersebut menunjukkan endemis penyakit DBD. Didapatkan hasil serologi negatif, namun pada pemeriksaan PCR ditemukan adanya virus Dengue, artinya meskipun hasil serologi negatif tidak menyingkirkan adanya infeksi virus Dengue. Berdasarkan hasil penelitian ini, maka dapat disampaikan beberapa saran: 1) Untuk menurunkan angka kesakitan dan kematian penyakit DBD perlu kerjasama lintas sektor. 2) Perlu dilakukan penelitian berkesinambungan tentang penyakit DBD ini antara lain untuk menemukan metoda yang efektif untuk pemberantasan vektor, menemukan metoda untuk diagnosis dini yang lebih tepat, menemukan kandidat vaksin Dengue yang lebih sesuai dengan karakteristik virus Dengue di masing masing daerah, mempelajari patogenesis dan imunologi penyakit DBD yang hingga saat ini masih belum jelas benar, termasuk biologi molekuler tentang kemungkinan adanya mutasi genetik virus</description

Item Type: Thesis (Disertasi)
Additional Information: KKA KK Dis K13/06 Har p
Uncontrolled Keywords: Dengue virus, serotype, Dengue Haemorrhagic Fever, Geographic Condition
Subjects: S Agriculture > SF Animal culture > SF600-1100 Veterinary medicine
Divisions: 09. Sekolah Pasca Sarjana > Sains Veteriner
Creators:
CreatorsNIM/NIDN
SOEDJOKO HARIADHI, 099913643 DUNSPECIFIED
Contributors:
ContributionNameNIDN/NIDK/NUP
ContributorSoegeng Soegijanto, Prof Dr., DTM&H, SpA(K)UNSPECIFIED
ContributorSoetjipto, Prof., dr, MS, PhDUNSPECIFIED
ContributorFedik Abdul Rantarn, Dr., drhUNSPECIFIED
Depositing User: mat sjafi'i
Date Deposited: 31 Aug 2016 08:18
Last Modified: 16 Jun 2017 19:21
URI: http://repository.unair.ac.id/id/eprint/32136
Sosial Share:

Actions (login required)

View Item View Item