EFEK IRADIASI SINAR GAMMA TERHADAP EKSPRESI mRNA AQUAPORIN.5, EKSPRESI PROTEIN AQUAPORIN.5 DAN KADAR MDA KELENJAR SUBMANDIBULARIS RATTUS NORVEGICUS GALUR WISTAR JANTAN : Penelitian Eksperimental Laboratoris

EHA RENWI ASTUTI, - (2005) EFEK IRADIASI SINAR GAMMA TERHADAP EKSPRESI mRNA AQUAPORIN.5, EKSPRESI PROTEIN AQUAPORIN.5 DAN KADAR MDA KELENJAR SUBMANDIBULARIS RATTUS NORVEGICUS GALUR WISTAR JANTAN : Penelitian Eksperimental Laboratoris. Disertasi thesis, UNIVERSITAS AIRLANGGA.

[img]
Preview
Text (ABSTRAK)
ABSTRAK.pdf

Download (1MB) | Preview
[img]
Preview
Text (FULLTEXT)
gdlhub-gdl-s3-2007-astutiehar-5350-disk19-6.pdf

Download (2MB) | Preview
Official URL: http://lib.unair.ac.id

Abstract

Kekeringan rongga mulut atau xerostomia merupakan komplikasi utama yang terjadi di penderita dengan terapi radiasi untuk keganasan pada daerah kepala dan leher. Dengan terapi radiasi di daerah kepala dan leher dibunuh sel kanker, sel asinar yang terdapat dalam area radiasi menjadi rusak, sehingga terjadi penurunan sekresi saliva. Hal ini dapat menimbulkan keluhan pada rongga mulut seperti rasa nyeri, rasa terbakar, sukar bicara, gangguan rasa kecap, kerusakan jaringan lunak dan terjadi perubahan pertumbuhan mikroflora rongga mulut. Keadaan ini dapat menyebabkan penurunan kesehatan rongga mulut yang lebih parah seperti peningkatan karies gigi, keradangan jaringan lunak rongga mulut (mukositis), dan keradangan jaringan periodonsium (periodontitis). Keadaan tersebut mengakibatkan menurunnya kualitas hidup penderita, dan juga merupakan sumber infeksi bersistem, sehingga mengganggu pengobatan kankernya. Sampai saat ini mekanisme xerostomia akibat terapi radiasi belum terungkap dengan jelas. Oleh karena itu diperlukan penelitian yang dapat mengungkap mekanisme tersebut sehingga didapatkan cara menangani yang tepat, karena xerostomia akibat terapi radiasi merupakan keadaan yang hingga saat ini masih sulit pengobatannya Penelitian ini menggunakan 54 ekor tikus (Rattus norvegicus) galur Wistar jantan yang dibagi menjadi 9 kelompok secara random. Sebelum dilakukan iradiasi, sekresi saliva dari masing-masing tikus yang berada di semua kelompok diukur. Pemajanan radiasi menggunakan sinar (Co60) dilakukan dengan dosis tunggal 10 Gy dan dosis fraksinasi yang diberikan setiap hari sebesar 2 Gy selama 5 hari (dosis total 10 Gy) pada permukaan ventral leher tikus. Kelompok A1, A2 dan A3 tidak di iradiasi; kelompok B1, B2 dan B3 di-iradiasi dengan dosis tunggal 10Gy; sedangkan kelompok C1, C2 dan C3 di-iradiasi dengan dosis fraksinasi 10 Gy. Sekresi saliva dari masing-masing tikus di semua kelompok diukur lagi sebelum tikus dikorbankan. Kelompok A1, B1 dan C1 dikorbankan 24 jam setelah iradiasi berakhir; kelompok A2, B2 dan C2 dikorbankan 3 minggu setelah iradiasi berakhir; sedangkan kelompok A3, B3 dan C3 dikorbankan 6 minggu setelah iradiasi berakhir. Tikus dikorbankan dengan menggunakan eter. Proses pembedahan dan pengangkatan kelenjar submandibular dilakukan dengan hati-hati, dan selanjutnya sampel jaringan tersebut diproses guna memeriksa ekspresi mRNA AQP5 menggunakan metode RT-PCR, pemeriksaan ekspresi protein AQP5 menggunakan metode Dot Blot, Western Blot dan Imunohistokimia, pemeriksaan peroksidasi lipid yang terjadi dilakukan dengan mengukur kadar MDA. Analisis statistik penelitian menggunakan uji anova dua arah dan uji LSD menunjukkan adanya perbedaan ekspresi mRNA AQP5, ekspresi protein AQP5 dan kadar MDA kelenjar submandibularis tikus secara signifikan akibat iradiasi sinar dosis tunggal l0Gy dan fraksinasi l0Gy pada waktu pengamatan 24 jam, 3 minggu dan 6 minggu setelah iradiasi berakhir. Kemudian untuk mengetahui pengaruh perbedaan ekspresi mRNA AQP5, ekspresi protein AQP5 dan kadar MDA kelenjar submandibularis terhadap perbedaan sekresi saliva tikus akibat iradiasi sinar dosis tunggal l0Gy dan dosis fraksinasi l0Gy pada waktu pengamatan 24 jam, 3 minggu dan 6 minggu setelah iradiasi berakhir dilakukan uji regresi. Hasil analisis menunjukkan bahwa terdapat pengaruh yang signifikan perbedaan mRNA AQP5, perbedaan ekspresi protein AQP5 dan perbedaan kadar MDA kelenjar submandibularis terhadap perbedaan sekresi saliva tikus. Penemuan tersebut dapat digunakan untuk pengembangan penelitian ianjutan bagi para peneliti, dan dapat digunakan sebagai dasar pencegahan terjadinya xerostomia.

Item Type: Thesis (Disertasi)
Additional Information: KKA KK Dis K19/06 Ast e
Uncontrolled Keywords: Irradiation effect, AQP5, Lipid peroxidation of salivary gland and secretion of saliva, wistar rat
Subjects: R Medicine > R Medicine (General) > R735-854 Medical education. Medical schools. Research
Divisions: 09. Sekolah Pasca Sarjana > Ilmu Kedokteran
Creators:
CreatorsNIM/NIDN
EHA RENWI ASTUTI, -UNSPECIFIED
Contributors:
ContributionNameNIDN/NIDK/NUP
ContributorJuliati Hood A., Prof. Dr.., dr., MS., Sp.P A (K)., FIACUNSPECIFIED
ContributorSoetiipto, Prof., dr., MS., Ph.DUNSPECIFIED
ContributorTrijono K.S.P, Prof. Dr., dr., Sp.RadUNSPECIFIED
Depositing User: mat sjafi'i
Date Deposited: 30 Aug 2016 07:24
Last Modified: 16 Jun 2017 19:45
URI: http://repository.unair.ac.id/id/eprint/32146
Sosial Share:

Actions (login required)

View Item View Item