PENGARUH INTENSITAS PERSAINGAN TERHADAP PERILAKU DISFUNGSIONAL MANAJER MELALUI STRATEGI BERSAING DAN SISTEM PENGENDALIAN MANAJEMEN SEBAGAI VARIABEL ANTARA SERTA KESENJANGAN BUDAYA SEBAGAI VARIABEL MODERATOR PADA PERUSAHAAN TERBUKA INDUSTRI BARANG KONSUMSI DI INDONESIA

BAMBANG TJAHJADI, 099813140D (2004) PENGARUH INTENSITAS PERSAINGAN TERHADAP PERILAKU DISFUNGSIONAL MANAJER MELALUI STRATEGI BERSAING DAN SISTEM PENGENDALIAN MANAJEMEN SEBAGAI VARIABEL ANTARA SERTA KESENJANGAN BUDAYA SEBAGAI VARIABEL MODERATOR PADA PERUSAHAAN TERBUKA INDUSTRI BARANG KONSUMSI DI INDONESIA. Disertasi thesis, UNIVERSITAS AIRLANGGA.

[img]
Preview
Text (ABSTRAK)
tjahjadiba.pdf

Download (479kB) | Preview
[img]
Preview
Text (FULLTEXT)
gdlhub-gdl-s3-2007-tjahjadiba-3492-dise08-%29.pdf

Download (1MB) | Preview
Official URL: http://lib.unair.ac.id

Abstract

Melalui sistem pengendalian manajemen diharapkan dapat mengendalikan perilaku anggota organisasi mencapai keselarasan tujuan (goal congruence), yaitu terjadinya keselarasan antara kepentingan organisasi secara keseluruhan dengan kepentingan anggota organisasi sebagai pribadi. Studi ini bertujuan menguji dan menjelaskan pengaruh faktor-faktor contingency, yaitu intensitas persaingan dan strategi bersaing yang mempengaruhi sistem pengendalian manajemen, serta pengaruh sistem pengendalian manajemen terhadap perilaku disfungsional manajer dalam satu model secara simultan. Selanjutnya, studi ini juga bertujuan menguji pengaruh kesenjangan budaya pada manajer unit bisnis stratejik terhadap hubungan antara sistem pengendalian manajemen dengan perilaku disfungsional manajer. Studi ini merupakan integrasi dan perluasan dari penelitian-penelitian Merchant (1985), Jaworski (1988), Jaworski dan MacInnis (1989), Ramaswami (1996) tentang perilaku disfungsional manajer, penelitian-penelitian Porter (1976), McNamee dan McHughes (1989), Wilcox dan Callaghan (2001), Govindarajan dan Gupta (1985), Govindarajan (1986), Simons (1987), Govindarajan dan Fisher (1990), Cunningham (1992), Daniel dan Reitsperger (1993), dan Ryanto dan Ryan (1997) tentang strategi bersaing, penelitian-penelitian Khandwadalla (1972, 1973), Levitt (1977), dan Otley (1978) tentang intensitas persaingan, dan penelitian penelitian Harrison (1972), Branson (1979), Handy (1980), Beyer (1981), Bhagat dan McQuaid (1982), Gregory (1983), Schein (1985) dan Bourantas et ill. (1990) tentang budaya organisasi. Jenis penelitian ini adalah penelitian yang berusaha menjelaskan hubungan kausalitas dari berbagai variabel yang diteliti. Rancangan penelitian ini termasuk dalam klasifikasi uji hipotesis. Cara pengumpulan data dengan menggunakan media kuesioner, yaitu untuk mengumpulkan data primer. Unit analisis penelitian ini adalah manajer unit bisnis stratejik atau setara. Responden penelitian ini difokuskan pada manajer unit bisnis stratejik pada perusahaan industri barang konsumsi terbuka (go public) yang tercatat pada Bursa Efek Jakarta. Jumlah proksi populasi sebanyak 165 manajer unit bisnis stratejik. Semua manajer proksi populasi diminta mengisi kuesioner dan sebanyak 127 manajer berpartisipasi. Untuk menguji hipotesis digunakan 2 (dua) metode analisis, yaitu: (1) Structural Equation Modelling (SEM) digunakan untuk menguji jalur pengaruh intensitas persaingan terhadap perilaku disfungsional manajer melalui strategi bersaing dan sistem pengendalian manajemen, serta pengaruh intensitas persaingan terhadap perilaku disfungsional manajer melalui sistem pengendalian manajemen; dan (2) regresi berganda digunakan untuk menguji pengaruh kesenjangan budaya pada manajer terhadap hubungan antara sistem pengendalian manajemen terhadap perilaku disfungsional manajer. Kontribusi teori yang dihasilkan oleh studi ini adalah menemukan bukti empirik bahwa strategi bersaing dan sistem pengendalian manajemen merupakan variabel antara dalam jalur pengaruh intensitas persaingan terhadap perilaku disfungsional manajer. Kontribusi teori lainnya adalah menemukan bukti empirik bahwa kesenjangan budaya pada manajer berpengaruh terhadap hubungan antara sistem pengendalian manajemen dengan perilaku disfungsional manajer. Secara umum studi ini juga memberikan bukti empirik dan mengkonfirmasi teori yang menyatakan bahwa sistem pengendalian manajemen berpengaruh signifikan terhadap perilaku disfungsional manajer. Dengan demikian, studi ini telah mendukung penelitian-penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Merchant (1985), Jaworski (1988), Jaworski dan MacInnis (1989),dan Ramaswami (1996). Temuan studi ini juga mendukung penelitian-penelitian Govindarajan dan Gupta (1985), Govindarajan (1986), Simons (1987), Govindarajan dan Fisher (1990), Cunningham (1992), Daniel dan Reitsperger (1993), dan Ryanto dan Ryan (1997) yang menyatakan bahwa strategi bersaing berpengaruh terhadap sistem pengendalian manajemen. Akan tetapi hasil studi ini tidak mendukung hasil penelitian-penelitian terdahulu tentang pengaruh intensitas persaingan terhadap sistem pengendalian manajemen yang dilakukan oleh Khandwalla (1972, 1973), Levitt (1977), dan Otley (1978). Temuan empirik studi ini juga mendukung penelitian tentang kesenjangan budaya pada organisasi oleh Harrison (1972), Branson (1979), Handy (1980), Beyer (1981), Bhagat dan McQuaid (1982), Gregory (1983), Schein (1985) dan Bourantas et al. (1990). Berdasarkan hasil temuan studi ini, maka disarankan bagi penelitian teoritik selanjutnya untuk mengembangkan model penelitian yang lebih komprehensif dengan memperkaya isu-isu sistem pengendalian manajemen yang bersifat kontemporer seperti sistem pengendalian stratejik, dan memperkaya isu-isu kontinjensi yang memiliki pengaruh moderasi antara hubungan sistem pengendalian manajemen dengan kesenjangan budaya manajer, seperti task context, role stress, dan lainnya. Bagi dunia praktik disarankan hendaknya secara berhati-hati menggunakan sistem pengendalian manajemen tradisionil yang berorientasi pada output dan proses karena selama ini telah terbukti mengakibatkan perilaku disfungsional manajer. Perusahaan-perusahaan hendaknya mulai memikirkan untuk mengimplementasikan sistem pengendalian manajemen yang lebih komprehensif dan lebih mampu melihat hubungan kausalitas antara berbagai indikator kinerja dalam perusahaan, misalnya berbasis Balanced Scorecard. Perusahaan-perusahaan juga disarankan untuk mampu menciptakan budaya organisasi yang kondusif sehingga tidak timbul kesenjangan antara budaya organisasi dengan budaya individu. Kecilnya kesenjangan budaya tersebut dapat dijadikan indikator terciptanya goal congruence dengan baik pada organisasi.

Item Type: Thesis (Disertasi)
Additional Information: KKB KK Dis E 08/04 Tja p
Uncontrolled Keywords: competitive intensity, competitive strategy, management control systems, culture gap, and dysfunctional behavior
Subjects: K Law > K Law (General) > K1-7720 Law in general. Comparative and uniform law. Jurisprudence > K(520)-5582 Comparative law. International uniform law > K3840-4375 Regulation of industry, trade, and commerce. Occupational law > K3921-3925 Manufacturing industries
T Technology > TS Manufactures > TS156 Quality control and management
Divisions: 09. Sekolah Pasca Sarjana > Ilmu Ekonomi
Creators:
CreatorsEmail
BAMBANG TJAHJADI, 099813140DUNSPECIFIED
Contributors:
ContributionNameEmail
ContributorV. Henky Supit, Prof.,SE.,AkUNSPECIFIED
Depositing User: Tn Yusuf Jailani
Date Deposited: 04 Oct 2016 01:20
Last Modified: 18 Jun 2017 19:22
URI: http://repository.unair.ac.id/id/eprint/32212
Sosial Share:

Actions (login required)

View Item View Item