PERUBAHAN LINGKUNGAN DAN STRATEGI SERTA IMPLIKASINYA TERHADAP PROFITABILITAS DAN RISIKO BANK UMUM DEVISA DI INDONESIA

M. IRHAS EFFENDI, 099712422D (2001) PERUBAHAN LINGKUNGAN DAN STRATEGI SERTA IMPLIKASINYA TERHADAP PROFITABILITAS DAN RISIKO BANK UMUM DEVISA DI INDONESIA. Disertasi thesis, UNIVERSITAS AIRLANGGA.

[img]
Preview
Text (ABSTRAK)
effendimir.pdf

Download (510kB) | Preview
[img]
Preview
Text (FULLTEXT)
gdlhub-gdl-s3-2007-effendimir-3511-dise03-3.pdf

Download (2MB) | Preview
Official URL: http://lib.unair.ac.id

Abstract

Lingkungan perbankan di Indonesia, pada beberapa tahun terakhir mengalami perubahan yang cukup mendasar. Perubahan lingkungan tersebut tampaknya juga telah diikuti perubahan strategi pada berbagai dimensi. Namun strategi yang dipilih bank di Indonesia tersebut tidak seluruhnya menghasilkan kinerja yang baik pada berbagai indikator. Beberapa lingkungan eksternal yang mengalami perubahan penting adalah adanya kebijaksanaan yang dikeluarkan otoritas moneter (seperti 27 Oktober 1988, 28 Pebruari 1991), tingkat bunga, nilai tukar dolar Amerika terhadap rupiah, dan tingkat persaingan yang dicenninkan oleh rasio konsentrasi. Sedangkan lingkungan internal yang banyak berubah antara lain intensitas modal, ukuran bank, capital adequacy ratio, dan likuiditas. Dari sisi strategi, aktivitas usaha utama bank tumbuh dengan cepat yang dicerminkan oleh pertumbuhan kredit. Di samping pertumbuhan, penyebaran aktivitas usaha (diversifikasi) juga meningkat. Kinerja dari aspek profitabilitas dan risiko tampaknya juga banyak mengalami perubahan. Mengikuti proposisi penting dalam strategic management, yang berpijak pada paradigma lingkungan-strategi-kinerja (environmernt-strategy performance) dengan konsep kesesuaian strategi (strategic fit) atau kesepadanan (match), maka strategi yang dipilih untuk menghasilkan kinerja yang baik harus menyesuaikan diri dengan lingkungannya, baik eksternal maupun internal. Berdasarkan konsep kesesuaian tersebut kemungkinan memburuknya kinerja perbankan adalah karena kesalahan strategi yang kurang sesuai dengan lingkungannya. Selain ketidaksesuaian strategi, kegagalan strategi dalam menghasilkan kinerja yang baik, dapat pula disebabkan ketidaktepatan masalah implementasi. Hal ini menyangkut pergeseran konsep dari strategic planning, yang lebih menitikberatkan pada perumusan strategi kepada konsep strategic management, yang menyertakan aspek implementasi. Mengikuti kritik terhadap konsep kesepadanan dan perkembangan pendekatan strategi antara lain oleh Prahalad (1990), DAveni (1994), dan Chakravarthy (1997), kegagalan juga bisa disebabkan kesalahan basis strategi. Dari fenomena empiris dan latar belakang teoritis tentang paradigma lingkungan-strategi-kinerja di atas, yang layak dipertanyakan adalah bagaimana sebenarnya pengaruh lingkungan terhadap strategi, dan bagaimana pengaruh strategi yang dipilih terhadap profitabilitas dan risiko sebagai aspek penting dalam penilaian kinerja perbankan? Dalam kerangka menjawab pertanyaan tersebut penelitian ini bertujuan untuk menguji paradigma lingkungan-strategi-kinerja, khususnya pada bank umum devisa di Indonesia. Secara khusus tujuan penelitian ini untuk menganalisis dan menguji pengaruh variabel lingkungan, baik eksternal maupun internal, yang terdiri dari kebijaksanaan 27 Oktober 1988, kebijaksanaan 28 Pebruari 1991, tingkat bunga, nilai tukar dolar Amerika Serikat terhadap rupiah, rasio konsentrasi, intensitas modal, ukuran bank, capital adequacy ratio, dan likuiditas terhadap strategi pertumbuhan kredit, dan strategi diversifikasi, serta terhadap profitabilitas. Selanjutnya menganalisis dan menguji pengaruh strategi pertumbuhan kredit dan strategi diversifikasi terhadap profitabilitas. Penelitian ini juga bertujuan menganalisis dan menguji perbedaan profitabilitas dan risiko karena kebijaksanaan 27 Oktober 1988, kebijaksanaan 28 Pebruari 1991, krisis ekonomi, serta perbedaan pilihan strategi diversifikasi. ] Hasil penelitian ini diharapkan secara teoritis dapat memberikan sumbangan kejelasan hubungan dalam proposisi yang ada dalam paradigma lingkungan-strategi-kinerja, khususnya di bank umum devisa. Secara praktis, diharapkan dapat digunakan sebagai salah satu bahan evaluasi dan sumbangan pemikiran dalam merumuskan strategi bank umun devisa di Indonesia. Untuk menjawab masalah dan mencapai tujuannya, penelitian ini dirancang dalam bentuk penelitian kausalitas dan komparatif. Data yang digunakan dalam penelitian ini bersifat observasional dengan pendekatan retrospective, yang selanjutnya didesain dalam bentuk gabungan (pooling data) antara cross section dan time series. Data cross section diambil dari sample bank umum devisa yang ada di Indonesia tahun 1985 dan menerbitkan laporan keuangan. Sedangkan time series diambil antara 1985 sampai dengan 1996 untuk uji kausalitas dan antara 1985 sampai dengan 1999 untuk uji komparasi. Pengambilan tahun 1985 sebagai awal analisis untuk mengakomodasi pengaruh kebijaksanaan yang dikeluarkan tahun 1988. Untuk menguji pengaruh lingkungan terhadap strategi, lingkungan terhadap profitablitas, serta strategi terhadap profitabilitas secara serentak digunakan analisis regresi berganda, sedangkan untuk menguji pengaruh masing-masing variabel lingkungan terhadap masing-masing variabel strategi dan terhadap profitabilitas, serta pengaruh masing-masing strategi terhadap profitabilitas digunakan classical path analysis. Kemudian untuk menguji perbedaan profitabilitas dan risiko karena kebijaksanaan 27 oktober 1988, kebijaksanaan 28 pebruari 1991, dan krisis ekonomi, serta karena perbedaan pilihan strategi diversifikasi, digunakan three way anova. Sedangkan untuk menguji perbedaan masing-masing pasangan digunakan uji Scheffe. Untuk mendapatkan model akhir yang lebih parsimony, lebih baik untuk prediksi, serta mengeliminir kemungkinan terjadinya multikolinieritas, dilakukan penghapusan jalur yang tidak signifikan dan variabel yang tidak layak masuk dalam model dengan stepwise regression. Setelah varabel diseleksi langkah berikutnya membentuk jalur baru yang menjelaskan hubungan masing-masing variabel termasuk menentukan pengaruh langsung dan tak langsung serta suunbangan efektif tiap variabel bebas terhadap variabel terikatnya. Dari hasil analisis dapat dijelaskan bahwa secara serentak seluruh variabel lingkungan yang terdiri yang terdiri dari kebijaksanaan 27 Oktober 1988, kebijaksanaan 28 Pebruari 1991, tingkat bunga, nilai tukar dolar Amerika Serikat terhadap rupiah, rasio konsentrasi, intensitas modal, ukuran bank, capital adequacy ratio, dan likuiditas memiliki pengaruh yang signifikan terhadap strategi pertumbuhan kredit, terhadap strategi diversifikasi, maupun terhadap profitabilitas. Namun kemampuan seluruh variabel lingkungan secara serentak dalam menjelaskan variasi pertumbuhan kredit, variasi diversifikasi, maupun variasi profitabilitas relatif kecil. Hasil-hasil tersebut mendukung paradigma atau proposisi tentang hubungan lingkungan-strategi-kinerja, meskipun nilainya relatif kecil. Dari kajian terhadap pengaruh variabel lingkungan secara individual terhadap strategi pertumbuhan kredit diperoleh lima variabel lingkungan yang memiliki pengaruh langsung signifikan dengan arah positif, yakni kebijaksanaan 27 Oktober 1988, tingkat bunga, nilai tukar, intensitas modal, dan capital adequacy ratio. Kebijaksanaan 28 Pebruari 1991 berpengaruh langsung negatif signifikan, serta rasio konsentrasi, ukuran bank, dan likuiditas tidak memiliki pengaruh langsung signifikan. Dari proses stepwise hanya tiga variabel yang layak masuk model akhir, yakni kebijaksanaan 27 Oktober 1988, kebijaksanaan 28 Pebruari 1991, dan capital adequacy ratio. Hasil ini menunjukkan bahwa liberalisasi perbankan telah dimanfaatkan dengan memperluas aktivits usaha intinya, yakni kredit, Sedangkan pengaturan tentang prudential management (kebijaksanaan 28 Pebruari 1991) telah mengendalikan pertumbuhan kreditnya. Peran permodalan dalam mendukung pertumbuhan kredit memang telah ada namun nilainya jauh lebih kecil daripda peran kebijaksanaan. Temuan ini tidak relevan dengan temuan Hopkins (1997) terhadap perbankan di Amerika, di mana perencanaan strateginya banyak ditentukan oleh kondisi internalnya, baik faktor manajerial maupun faktor organisasional. Sedangkan faktor lingkungan eksternal tidak berpengaruh signifikan. Namun temuan Hopkins ini pengaruh faktor organisasional negatif. Terhadap strategi diversifikasi, kebijaksanaan 27 Oktober 1988, nilai tukar, rasio konsentrasi, capital adequacy ratio, dan likuiditas memiliki pengaruh langsung negatif, kemudian kebijaksanaan 28 pebruari 1991, tingkat bunga dan ukuran bank memiliki pengaruh langsung positif, serta intensitas modal tidak memiliki pengaruh langsung yang signifikan. Dan proses seleksi variabel hanya terdapat empat variabel yang layak masuk dalam model akhir, yakni kebijaksanaan 28 Pebruari 1991, ukuran bank, capital adequacy ratio, dan likuiditas. Nilai pengaruh ukuran bank, capital adequacy ratio, dan likuiditas lebih kecil daripada kebijaksanaan 28 pebruari 1991. Temuan ini kembali memperlihatkan kecenderungan dominannya peran kebijaksanaan otoritas moneter (lingkungan eksternal) dalam mepengaruhi strategi bank umum devisa. Semakin besar bank ternyata semakin tidak terdiversifikasi. Ini relevan dengan temuan Hopkins (1997) yang menemukan bahwa ukuran bank berpengaruh negatif dalam perencanaan strategi. Terhadap profitabilitas, nilai tukar dan capital adequacy ratio memiliki pengaruh langsung signifikan positif, sedangkan kebijaksanaan 27 Oktober 1988, .kebijaksanaan 28 Pebruari 1991, rasio konsentrasi, dan ukuran bank memiliki pengaruh langsung signifikan negatif. Tingkat bunga, intensitas modal dan likuiditas tidak memiliki pengaruh langsung yang signifikan terhadap profitabilitas. Setelah diseleksi hanya kebijaksanaan 27 Oktober 1988, kebijaksanaan 28 Pebruari 1991, ukuran bank, dan capital adequacy ratio yang layak masuk dalam model akhir. Temuan ini menunjukkan usaha meningkatkan efisisensi melalui deregulasi kurang menunjukkan adanya keberhasilan. Berarti ini menolak pandangan McKinnon dan Shaw (1973) yang menjelaskan bahwa untuk mencapai efisiensi sector keuangan perlu dileralisasi. Namun lebih relevan dengan dugaan Fisher (1997) yang menduga masalah perbankan di Asia Tenggara banyak terjadi karena deregulasi. Dari segi ukuran bank menunnjukkan adanya kecenderungan relevan dengan dugaan Krugman (1998) bahwa telah terjadi penggelumbungan asset yang berlebihan di perbankan Asia. Peran positif dari capital adequacy ratio yang diukur dengan capital asset ratio yang positif, kemungkinan terjadi seperti dugaan Hempel dan Simonson (1994) di mana perbankan akan terdorong untuk masuk pada aktivitas off balance sheet dan menggerakkan asetnya ke aktiva produktif meskipun berisiko tinggi untuk memperbaiki profitabilitasnya. Profitabilitas yang diukur dengan ROA juga memungkinkan tidak diperhitungkannya opportunity cost dari modal, yang dampaknya bisa mengurangi biaya total, apabila proporsi modalnya meningkat terhadap seluruh dana. Dan dua strategi pertumbuhan kredit dan strategi diversifikasi, hanya strategi diversifikasi yang memilki pengaruh langsung signifikan terhadap profitablitas dengan arah negatif Temuan ini menggambarkan bahwa peningkatan aktivitas utama bank umum devisa dalam kredit tidak mampu menjelaskan profitabilitasnya. Hal ini bisa dikatakan kurang berhasilnya strategi pertumbuhan kredit. Aktivitas usaha di luar kredit ternyata bermanfaat dalam memperbaiki profitabilitasnya. Temuan ini relevan dengan temuan Bettis dan Hall (1982), Bettis dan Mahajan (1985) serta mendukung proposisi Sinkey (1986) di mana diversifikasi yang relatif dekat usaha sebelumnya dapat memperbaiki profitabilitasnya. Perbedaan profitabilitas dan risiko karena kebijaksanaan 27 Oktober 1988, kebijaksanaan 28 pebruari 1991, krisis ekonomi signifikan. Antar pilihan strategi diversifikasi juga signifikan. Profitabilitas dan risiko antar kelompok waktu sebelum kebijaksanaan 27 Oktober 1988, sebelum kebijaksanaan 28 Pebruari 1991, setelah kebijaksanaan 28 pebruari 1991 memiliki perbedaan yang signifikan dengan setelah krisis baik untuk strategi diversifikasi dominant maupun related. Semakin terdiversifikasi ternyata profitabilitas bank umum devisa semakin baik, khususnya pada saat sedikitnya pengaturan yang diterapkan otoritas moneter (setelah deregulasi 27 Oktober 1988 sampai dengan waktu krisis). Bahkan selama waktu krisis, bank devisa yang lebih terdiversifikasi tidak hanya memiliki profitabilitas yang lebih baik, namun juga memiliki risiko yang lebih rendah. Hasil ini ternyata mendukung paradoks dalam manajemen strategi seperti yang pernah ditemukan Bowman (1985), mendukung pula temuan Rumelt (1977), studi Bettis dan Hall (1982), serta Bettis dan Mahajan (1985). Temuan ini juga mendukung dugaan Sinkey (1986) bahwa dengan diversifikasi yang tidak terlalu jauh dapat mereduksi risiko, namun dari sudut lingkungan tidak relevan karena Sinkey menduga diversifikasi efektif pada saat banyak pengaturan (highly regulated). Bila dikaitkan dengan teori portofolio yang manyatakan adanya hubungan poisitif antara risiko dan return cenderung kurang relevan. Implikasi penting dari temuan ini adalah ternyata strategi diversifikasi related tidak hanya mampu mereduksi risiko namun juga dapat memperbaiki profitabilitas terutama pada saat longgarnya peraturan, tingginya persaingan, termasuk pada saat adanya krisis nilai tukar. Sedangkan pada saat banyak pengaturan strategi diversifikasi tidak efektif untuk mereduksi risiko dan memperbaiki profitablitas. Beberapa keterbatasan dalam penelitian ini salah satunya penggunaan rentang waktu yang panjang sebagai dampak dari salah satu tujuan yang ingin mengakomodasi peran kebijaksanaan tahun 1988, yang ternyata menyulitkan untuk mendapatkan ukuran yang akurat terutama capital adequacy ratio dan diversifikasi karena format laporan keuangan yang tidak konsisten. Rendaknya nilai R2 barangkali juga akibat adanya kesalahan spesifikasi di mana ada variabel penting terpaksa tidak masuk dalam model karena tidak akuratnya pengukuran. Dari beberapa temuan maupun keterbatasan dalam penelitian ini beberapa saran yang dapat dikemukakan antara lain : secara praktis bank =tun devisa untuk lebih berhati-hati dalam menentukan pertumbuhan kreditnya, meskipun peluang lingkungan eksternal terbuka lebar, namun kredit tersebut hendaknya lebih selektif dan dievaluasi dengan lebih baik, serta memperhatikan kondisi internal bank masing¬masing, seperti permodalan. Untuk mempertahankan profitabilitas serta mengendalikan risiko bank umum devisa selain tetap melakukan kredit secara selektif juga harus melakukan diversifikasi kepada aktivitas usaha non-kredit. Karena diversifikasi ini ternyata dapat memperbaiki profitabiltas dan mengendalikan risiko terutama pada saat sedikitnya pengaturan usaha yang diterapkan otoritas moneter. Pertimbangan penting dalam diversifikasi adalah masalah kompentensi bank. Secara teoritis, untuk mendapatkan penjelasan yang lebih baik dalam paradigma lingkungan-strategi-kinerja perbankan di Indonesia perlu dilakukan penelitian sejenis dengan desain yang berbeda : misalnya menggunakan desain data cross-section seperti pernah dilakukan Hopkins (1997), dalam pengukuran lingkungan eksternal dalam hal ini dapat mengikuti Minzberg (1991) yakni sudut pandang persepsi manajer. Jika menggunakan data time series tidak perlu terlalu panjang, karena peran kebijaksanaan sudah dapat dijelaskan dengan baik oleh penelitian ini. </description

Item Type: Thesis (Disertasi)
Additional Information: KKB KK-2 Dis E 03/03 Eff p
Uncontrolled Keywords: Environment, credit growth strategy, diversification strategy, profitability and risk, foreign exchange bank in Indonesia
Subjects: H Social Sciences > HD Industries. Land use. Labor > HD61 Risk Management
H Social Sciences > HG Finance > HG1-9999 Finance > HG1501-3550 Banking
Divisions: 09. Sekolah Pasca Sarjana > Ilmu Ekonomi
Creators:
CreatorsNIM/NIDN
M. IRHAS EFFENDI, 099712422DUNSPECIFIED
Contributors:
ContributionNameNIDN/NIDK/NUP
ContributorM. Syafei Idrus, Prof.Dr.H.,SE.,MEcUNSPECIFIED
Depositing User: Tn Yusuf Jailani
Date Deposited: 06 Oct 2016 01:21
Last Modified: 19 Jun 2017 16:33
URI: http://repository.unair.ac.id/id/eprint/32271
Sosial Share:

Actions (login required)

View Item View Item