PENGARUH TENAGAKERJA DAN BARANG MODAL SERTA BIAYAINPUT OPERASIONAL TERHADAP PEMBENTUKAN NILAI TAMBAH SUBSEKTOR INDUSTRI PENGOLAHAN SKALA SEDANG DAN BESARDI PROVINSI JAWA TIMUR PERIODE 1986-2002

MUSLIMIN ABDULRAHIM, 090013799D (2006) PENGARUH TENAGAKERJA DAN BARANG MODAL SERTA BIAYAINPUT OPERASIONAL TERHADAP PEMBENTUKAN NILAI TAMBAH SUBSEKTOR INDUSTRI PENGOLAHAN SKALA SEDANG DAN BESARDI PROVINSI JAWA TIMUR PERIODE 1986-2002. Disertasi thesis, UNIVERSITAS AIRLANGGA.

[img]
Preview
Text (ABSTRAK)
abdulrahim.pdf

Download (427kB) | Preview
[img] Text (FULLTEXT)
gdlhub-gdl-s3-2008-abdulrahim-6906-dise04-p.pdf
Restricted to Registered users only

Download (2MB) | Request a copy
Official URL: http://lib.unair.ac.id

Abstract

Pada masyarakat modern, pertumbuhan industri adalah motor penggerak pertumbuhan ekonomi. Indonesia pada umumnya dan Provinsi Jawa Timur pada khususnya yang sedang dalam proses menuju kearah masyarakat berpendapatan tinggi, dengan tingkat pengangguran yang relatif rendah, industrialisasi adalah salah satu alteratif jalan keluar yang dapat dipertimbangkan. Pertumbuhan industri pengolahan skala sedang dan besar, tidak terlepas dari aturan perundangan dan kebijakan pemerintah untuk membangkitkan pertumbuhan industri. Industri pengolahan yang merupakan sektor ketiga dari sembilan sektor dalam PDRB, terbagi dalam sembilan subsektor yaitu: Subsektor industri Makanan, Minuman, dan Tembakau - Klui-3 1; Subsektor industri Tekstil, Pakaian Jadi, dan Kulit - Klui 32; Subsektor industri Kayu dan sejenisnya - Klui 33, Subsektor industri Kertas, Percetakan dan Penerbitan - Klui 34; Subsektor industri Kimia, Minyak Bumi, Karet dan Plastik - Klui 35; Subsektor industri Barang Galian Non Logam - Klui 36; Subsektor industri Logam Dasar - Klui 37; Subsektor industri Barang dari Logam, Mesin dan Peralatan - Klui 38; Subsektor industri pengolahan Lainnya - Klui39. Untuk menentukan industri pengolahan skala besar dan sedang prioritas, dalam penelitian ini, digunakan data yang tersedia pada BPS Provinsi Jawa Timur. Data diolah dengan memanfaatkan teori pertumbuhan ekonomi, yang digabungkan dengan teknik analisis statistik regresi berganda dengan bantuan program SPSS Version 11, dilanjutkan dengan analisis interseksi untuk menetapkan subsektor industri prioritas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 5 hipotesis yang diajukan untuk masing-masing subsektor, memiliki hasil yang bervariasi. Suatu hipotesis diterima pada subsektor tertentu, belum tentu diterima pada subsektor lainnya. Namun ada tiga hipotesis yang diterima pada kesembilan subsektor yang diteliti, yaitu hipotesis yang menyatakan: Variabel Biaya Input Operasional mempunyai pengaruh signifikan terhadap Nilai Tambah (hipotesis ketiga); Variabel Tenaga Kerja, varibel Barang Modal, dan variabel Biaya Input Operasional secara bersama-sama berpengaruh signifikan terhadap Nilai Tambah (hipotesis keempat); Variabel Biaya Input Operasional berperanan dominan mempengaruhi Nilai Tambah (hipotesis kelima). Pembuktian lima hipotesis untuk sembilan subsektor adalah sebagai berikut : Subsektor industri Makanan, Minumn dan Tembakau - Klui 31, dari lima hipotesis, satu yang ditolak, yaitu hipotesis yang menyatakan variabel Barang Modal berpengaruh signifikan terhadap Nilai Tambah (hipotesis kedua). Subsektor industri Tekstil, Pakaian Jadi dan Kulit - Klui 32; hasil penelitian menunjukkan satu dari lima hipotesis ditolak, yaitu hipotesis yang menyatakan variabel Barang Modal bergaruli signifikan terhadap Nilai Tambah (hipotesis kedua). Subsektor industri Kayu dan sejenisnya - Klui-33; hasil penelitian menunjukkan dua dari lima hipotesis ditolak, yaitu hipotesis yang menyatakan variabel Tenaga Kerja berpengaruh signifikan terhadap Nilai Tambah (hipotesis pertama) dan variabel Barang Modal berpengaruh signifikan terhadap Nilai Tambah (hipotesis kedua);. Subsektor industri Kertas, Percetakan dan Penerbitan - Klui 34; hasil penelitian menunjukkan satu dari lima hipotesis ditolak, yaitu hipotesis yang menyatakan variabel Tenaga Kerja berpengaruh signifikan terhadap Nilai Tambah (hipotesis pertama). Subsektor industri Kimia, Minyak Bumi, Batubara, Karet dan Plastik - Klui 35; hasil penelitian menunjukkan satu dari lima hipotesis ditolak, yaitu hipotesis yang menyatakan variabel Barang Modal berpengaruh signifikan terhadap Nilai Tambah (hipotesis kedua). Subsektor industri Barang Galian non Logam - Klui 36; hasil penelitian menunjukkan satu dari lima hipotesis ditolak, yaitu hipotesis yang menyatakan variabel Tenaga Kerja berpengaruh signifikan terhadap Nilai Tambah (hipotesis pertama). Subsektor industri Logam Dasar - Klui 37, hasil penelitian menunjukkan satu dari lima hipotesis ditolak, yaitu hipotesis yang menyatakan variabel Barang Modal berpengaruh signifikan terhadap Nilai Tambah (hipotesis kedua). Subsektor industri Barang dari Logam, Mesin dan Peralatan Klui 38, hasil penelitian menunjukkan satu dari lima hipotesis ditolak, yaitu hipotesis yang menyatakan variabel Tenaga Kerja berpengaruh signifikan terhadap pembentukan Nilai Tambah (hipotesis pertama). Subsektor industri pengolahan Lainnya - Klui 39. hasil penelitian menunjukkan satu dari lima hipotesis ditolak, yaitu hipotesis yang menyatakan variabel Barang Modal berpengaruh signifikan terhadap nilai tambah (hipotesis kedua). Temuan lain dari hasil penelitian ini dengan menggunakan gabungan antara model pertumbuhan ekonomi, teknik analisis data statistik regresi berganda dan model matematik interseksi, diperoleh hasil: Hanya subsektor industri barang dari logam, mesin dan peralatan (Klui-38) yang memiliki return to scale menurun; Efisiensi industri untuk semua subsektor industri di Jawa Timur masih rendah; Variabel Barang Modal pada umumnya berpengaruh kecil, atau bahkan tidak signifikan terhadap peningkatan Nilai Tambah walaupun tingkat pertumbuhannya tinggi; Variabel bebas Biaya Input Operasional secara umum tergolong elastis. Penentuan industri pengolahan skala besar dan sedang prioritas, dengan melihat kategori karakter yang melekat pada masing-masing subsektor, diperoleh enam kelompok, yaitu: Kelompok pertama, subsektor yang memiliki karakter dengan delapan kategori tinggi, yakni Subsektor industri Logam Dasar - Klui 37. Kelompok kedua, subsektor yang memiliki karakter dengan tujuh kategori tinggi, yaitu Subsektor industri Lain-lain - Klui 39. Kelompok ketiga, subsektor yang memiliki karakter dengan enam kategori tinggi, meliputi: Subsektor industri Kayu dan Barang dari Kayu, termsuk Alan Rumah Tangga dari Kayu - Klui 33; Subsektor industri Barang Galian Bukan Logam - Klui 36. Kelompok keempat, subsektor yang memiliki karakter dengan lima kategori tinggi, adalah Subsektor industri industri Kimia, Minyak Bumi, Batubara, Karet, dan Plastik - Klui 35. Kelompok kelima, subsektor yang memiliki karakter dengan empat kategori tinggi, terdiri dari Subsektor industri Makanan, Minuman, dan Tembakau - Klui 31; Subsektor industri Tekstil, Pakaian Jadi, dan Kulit - Klui 32 ; Dan Subsektor industri Kertas dan Barang dari Kertas, Percetakan, dan Penerbitan - Klui 34. Kelompok keenam, subsektor yang memiliki karakter dengan dua kategori tinggi, yakni subsektor industri Barang dari logam, Mesin dan Perlengkapannya - Klui 38.

Item Type: Thesis (Disertasi)
Additional Information: KKB KK-2 Dis E 04/08 Abd p
Uncontrolled Keywords: Manufacture industry, Growth, Elasticity, Return to Scale, Efficiency of Industry, Value Added, Labor, Operational Input.
Subjects: H Social Sciences > HD Industries. Land use. Labor
H Social Sciences > HF Commerce > HF5549-5549.5 Personnel management. Employment
Divisions: 09. Sekolah Pasca Sarjana > Ilmu Ekonomi
Creators:
CreatorsEmail
MUSLIMIN ABDULRAHIM, 090013799DUNSPECIFIED
Contributors:
ContributionNameEmail
ContributorImam Syakir, Prof.Dr.H.,SEUNSPECIFIED
Depositing User: Tn Yusuf Jailani
Date Deposited: 04 Oct 2016 00:44
Last Modified: 19 Jun 2017 17:08
URI: http://repository.unair.ac.id/id/eprint/32279
Sosial Share:

Actions (login required)

View Item View Item