PENGARUH FAKTOR INTERNAL DAN FAKTOR EKSTERNAL SERTA STRUKTUR KEUANGAN DAN DIVIDEND PAYOUT RATIO TERHADAP NILAI PERUSAHAAN MANUFAKTUR DI BURSA EFEK JAKARTA

SUMANI, 099612361D (2002) PENGARUH FAKTOR INTERNAL DAN FAKTOR EKSTERNAL SERTA STRUKTUR KEUANGAN DAN DIVIDEND PAYOUT RATIO TERHADAP NILAI PERUSAHAAN MANUFAKTUR DI BURSA EFEK JAKARTA. Disertasi thesis, UNIVERSITAS AIRLANGGA.

[img]
Preview
Text (ABSTRAK)
sumani.pdf

Download (522kB) | Preview
[img]
Preview
Text (FULLTEXT)
gdlhub-gdl-s3-2007-sumani-3566-dise01-4.pdf

Download (2MB) | Preview
Official URL: http://lib.unair.ac.id

Abstract

Diregulasi di bidang keuangan, moneter dan perbankan yang lebih dikenal dengan Pakto 27, 1988 telah memberikan kemudahaan pembukaan kantor bank, maupun pendirian bank-bank barn. Diregulasi pasar modal yang diatur dalam Pakdes 20, 1988 juga memberikan dorongan pada perusahaan untuk go public. Melalui beberapa deregulasi tersebut, tampaknya perusahaan akan lebih mudah untuk memperoleh tambahan modal, baik tambahan modal sendiri maupun pinjaman. Hanya saja atas dasar data struktur keuangan, yaitu sejauh mana total aktiva perusahaan dibiayai dari total hutang, memberikan gambaran bahwa sebagian besar perusahaan manufaktur masih mengandalkan sumber dana pinjaman walaupun sudah go public. Sumber dana perusahaan, baik meliputi masalah kebijakan pembelan¬jaan maupun kebijakan dividen masih merupakan bahan diskusi yang cukup menarik dan sampai sekarang belum adanya persamaan persepsi dalam hubungannya dengan nilai perusahaan. Misalkan teori tradisional menguraikan bahwa penggunaan hutang dengan biaya modal rata-rata rendah akan meningkatkan nilai perusahaan. Modigliani and Miller (1958) berpendapat penggunaan hutang akan dapat meningkatkan nilai perusahaan sebesar pengurangan pembayaran pajak karena biaya bunga yang dibayar. Masalah kebijakan dividen juga masih menjadi bahan kajian yang cukup hangat, misalkan Modigliani and Miller (1961) dan (1966) menjelaskan bahwa kebijakan dividen tidak berpengaruh terhadap nilai perusahaan, karena nilai perusahaan ditentukan oleh earning power dari asset perusahaan. Dalam hal ini, MM menyusun asumsi : (1) pasar modal sempuma, (2) peserta pasar bersifat price-taker, (3) para investor bersifat rasional, (4) para investor memiliki informasi yang sama, (5) keputusan mengenai produksi dan investasi disesuaikan dengan informasi tersebut, (6) semua perusahaan dianggap memiliki rasio D/S sama, (7) perusahaan mempunyai kelas risiko yang sama, dan (8) perusahaan dengan produksi yang sekarang memiliki yield yang sama. Hanya saja Lintner (1962) dan Gordon (1963) mengatakan bahwa sesungguhnya investor jauh lebih menghargai uang yang diharapkan dari dividen daripada kenaikan nilai modal (capital gains), sehingga apabila pembagian dividen dikurangi maka biaya ekuitas perusahaan (ks) akan naik, berarti nilai perusahaan akan turun. MM menamakan pendapat tersebut sebagai kekeliruan bird-in-the hand. Selanjutnya Litzenberger and Ramaswamy (1979) berpendapat lain bahwa seharusnya perusahaan membayar dividen yang rendah (atau bahkan no!) untuk memaksimumkan nilai perusahaan, sebab dividen secara efektif dikenakan pajak yang lebih tinggi dibandingkan capital gains. Chew (1986); Brigham and Gapenski (1990 : 422) menunjukkan bahwa pendapat MM tersebut dengan menggunakan beberapa asumsi tidak realistik. Sartono (1996: 380) berpendapat bahwa belum dapat ditentukan secara pasti, pendekatan mana yang benar dan pendekatan yang salah. Berdasarkan fenomena tersebut, menunjukkan bahwa dividen masih merupakan teka-teki (dividend puzzle). Jenis penelitian yang digunakan adalah jenis exploratory dan expla¬natories. Penelitian ini berada pada posisi hubungan kausal rekursif. Selanjutnya mengingat sampel unitnya laporan keuangan tahunan secara periodik (time series) mulai tahun 1990 sampai dengan tahun 2000 dan semua perusahaan (sensus), maka teknik pengambilan sampelnya merupakan kombinasi antara sensus dan time series. Metode analisis data menggunakan; (1) analisis faktor, (2) regresi ber¬ganda, (3) analisis jalur. (4) analisis varians, dan (5) analisis deskriptif. Mengingat satuan datanya yang bervariasi, maka untuk menyetarakan data digunakan T-score. Khusus dalam analisis jalur, penelitian ini terbagi menjadi tiga blok, yaitu : (1) variabel independen, meliputi : temuan faktor internal, temuan faktor ekster¬nal dan dividend payout ratio (DPR), sedangkan variabel dependen (struktur keuangan); (2) variabel independen (temuan faktor internal, temuan faktor eksternal dan struktur keuangan) sedangkan variabel dependen, yaitu : DPR; (3) variabel independen (temuan faktor internal, temuan faktor eksternal, struktur keuangan dan DPR) sedangkan variabel dependen (nilai perusahaan), baik sebelum maupun pada saat krisis. Berdasarkan uji faktor, bahwa temuan faktor internal yang merupakan hasil reduksi dari variabel cash flow to total liabilities, struktur aktiva, ukuran perusahaan, likuiditas, profitabilitas, financial leverage, operating leverage, coverage ratio, non-debt. tax shields, laba per lembar saham, agency cost, risiko keuangan, kemampuan meminjam, efisien operasional dan penghematan pajak, meliputi : potensi hutang, ukuran ekonomis usaha, non-debt tax shields, agency cost, beban hutang, dan operating leverage. Temuan faktor eksternal yang merupakan hasil reduksi atas variabel nilai tukar, suku bunga kredit, suku bunga deposito, inflasi, pertumbuhan ekonomi dan kondisi pasar modal, meliputi : potensi pasar, kondisi pasar keuangan dan tingkat inflasi. Tujuan analisis faktor ini adalah menghilangkan multicollinearitas dan membentuk variabel baru (latent variable). Menggunakan analisis regresi berganda, menunjukkan bahwa secara simultan temuan faktor internal, meliputi : (potensi hutang, ukuran ekonomis usaha, non-debt tax shields, agency cost, beban hutang, operating leverage) dan temuan faktor eksternal, meliputi : (potensi pasar, kondisi pasar keuangan, tingkat inflasi) serta DPR berpengaruh signifikan terhadap struktur keuangan, baik selama periode analisis, sebelum krisis maupun saat krisis. Hasil analisis regresi berganda, menunjukkan bahwa secara simultan temuan faktor internal, meliputi : (potensi hutang, ukuran ekonomis usaha, non-debt tax shields, agency cost, beban hutang, operating leverage) dan temuan faktor eksternal, meliputi : (potensi pasar, kondisi pasar keuangan, tingkat inflasi) serta struktur keuangan berpengaruh signifikan terhadap DPR, baik selama periode penelitian, sebelum krisis maupun pada saat krisis. Selain itu, juga dengan menggunakan alat yang sama, bahwa secara simultan temuan faktor internal, meliputi : (potensi hutang, ukuran ekonomis usaha, non-debt tax shields, agency cost, beban hutang, operating leverage) dan temuan faktor eksternal, meliputi : (potensi pasar, kondisi pasar keuangan, tingkat inflasi), struktur keuangan serta DPR berpengaruh signifikan terhadap nilai perusahaan, baik selama periode analisis, sebelum krisis dan pada saat krisis, sedangkan struktur keuangan berpengaruh dominan dan signifikan terhadap nilai perusahaan manufaktur, baik selama periode analisis, sebelum krisis dan pada saat krisis. Selanjutnya kondisi krisis, secara simultan tidak mengakibatkan perbedaan tingkat signifikansi pengaruh temuan faktor internal, temuan faktor eksternal, DPR dan struktur keuangan terhadap nilai perusahaan manufaktur. Justru momentum krisis variabel-variabel tersebut lebih banyak menjelaskan struktur keuangan, DPR dan nilai perusahaan. Melalui analisis jalur, menunjukkan bahwa baik dengan menggunakan data keseluruhan, sebelum krisis maupun pada saat krisis ternyata variabel potensi hutang (temuan faktor), struktur keuangan dan DPR memiliki pengaruh langsung yang lebih signifikan terhadap nilai perusahaan manufaktur. Berdasarkan hasil penelitian tersebut dapat diuraikan kesimpulan teoritik tentang analisis kebijakan pembelanjaan dan kebijakan dividen serta pengaruh¬nya terhadap nilai perusahaan manufaktur baik sebelum maupun pada saat krisis. Faktor yang dipertimbangkan dalam kebijakan pembelanjaan pada struktur keuangan untuk meningkatkan nilai perusahaan, adalah (1) potensi meminjam, (2) agency cost, (3) potensi pasar, (4) tingkat inflasi, dan (5) DPR. Selanjutnya faktor yang dipertimbangkan dalam kebijakan dividen atas DPR guna meningkatkan nilai perusahaan, meliputi : (1) non-debt tax shields, (2) potensi pasar, (3) tingkat inflasi, dan (3) struktur keuangan. Sedangkan yang berpengaruh langsung terhadap nilai perusahaan, meliputi (1) potensi meminjam, (2) potensi pasar, (3) DPR, dan (4) struktur keuangan. Sebelum krisis, temuan faktor dan DPR yang berpengaruh signifikan terhadap struktur keuangan, meliputi : (1) agency cost, (2) tingkat inflasi, (3) potensi pasar, dan (4) DPR, sedangkan saat krisis, hanya; (1) potensi meminjam dan (2) DPR. Berikutnya sebelum krisis, temuan faktor dan struktur keuangan yang berpengaruh signifikan terhadap DPR, meliputi : (1) ukuran ekonomis usaha, (2) non debt tax shields, dan (3) struktur keuangan, sedangkan momentum krisis, yaitu tingkat inflasi dan struktur keuangan. Sebelum krisis, temuan faktor dan struktur keuangan serta DPR yang berpengaruh signifikan terhadap nilai perusahaan, meliputi : (1) potensi meminjam, (2) potensi pasar, (3) tingkat inflasi, (4) struktur keuangan, dan (5) DPR, sedangkan pada saat krisis, terdiri dari: (1) potensi hutang, (2) struktur keuangan, dan (3) DPR. Fenomena tersebut, dilihat dari sisi kebijakan dividen mengindikasikan adanya dukungan atas pendapat teori Gordon and Lintner, yaitu tingkat keuntungan yang disyaratkan oleh investor akan meningkat sebagai akibat penurunan pembayaran dividen, atau dengan kata lain nilai perusahaan akan menurun akibat penurunan pembayaran dividen. Hal ini ditunjukkan dengan besarnya indeks determinasi dan tingkat signifikansi terhadap nilai perusahaan. Kondisi tersebut, berarti bertentangan dengan pendapat Modigliani and Miller (MM). Namun, juga perlu disarankan bahwa perusahaan hendaknya membayar dividen secara fleksibel, artinya harus mempertimbangkan sumber pembiayaan untuk pertumbuhan perusahaan. Hal ini disebabkan apabila seba-gian besar laba dibagikan dalam bentuk dividen, maka dana yang tersedia untuk membiayai pertumbuhan akan semakin sedikit. Kondisi tersebut justru pembayaran dividen yang tinggi akan memicu turunnya nilai perusahaan. Selanjutnya dilihat dari sisi kebijakan pembelanjaan, bahwa struktur keuangan berpengaruh dominan dan signifikan dengan arah positif terhadap nilai perusahaan, baik sebelum maupun pada saat krisis, maka hasil ini sepertinya memberikan dukungan atas pendekatan Net Income (NI) dan pendekatan Modigliani and Miller (dengan memasukkan unsur pajak), namun asumsi MM tidak di penuhi oleh perusahaan sampel, sehingga tampaknya lebih sesuai dengan pendekatan tradisional, yaitu pada awalnya penambahan hutang tidak akan meningkatkan ke dan kd artinya resiko perusahaan tidak berubah, sehingga nilai perusahaan akan meningkat, tetapi pada level tertentu nilai perusahaan akan mengalami penurunan sebagai akibat penggunaan hutang yang semakin besar (ke dan kd meningkat. Hasil penelitian juga memberikan gambaran, bahwa apabila diperlukan tambahan sumber dana, sebaiknya dari sumber dana yang tidak menambah beban tetap agar nilai perusahaan dapat meningkat, sehingga tampaknya memiliki dukungan pada pecking order theory, yaitu teori yang menjelaskan bahwa sumber dana yang sebaiknya digunakan adalah sumber dana yang tidak menimbulkan persepsi negatif investor, yaitu dengan urutan penggunaan (1) laba ditahan, (2) hutang, dan (3) penerbitan saham. </description

Item Type: Thesis (Disertasi)
Additional Information: KKB KK-2 Dis E. 01/04 Sum p
Uncontrolled Keywords: Debt potential, business size, non-debt tax shields, agency cost, debt expense, and operating leverage, market potential, condition of financial market and inflation fluctuation, DPR, financial structure and values of the firms.
Subjects: T Technology > TS Manufactures
Divisions: 09. Sekolah Pasca Sarjana > Ilmu Ekonomi
Creators:
CreatorsEmail
SUMANI, 099612361DUNSPECIFIED
Contributors:
ContributionNameEmail
ContributorV. Henky Supit, Prof.,Drs.,Ec.,AkUNSPECIFIED
Depositing User: Tn Yusuf Jailani
Date Deposited: 06 Oct 2016 00:59
Last Modified: 20 Jun 2017 21:23
URI: http://repository.unair.ac.id/id/eprint/32383
Sosial Share:

Actions (login required)

View Item View Item