POLA ASUH DAN POLA EMOSI ANAK BALITA YANG DITINGGAL KERJA IBU DI LUAR DAERAH : Studi Etnometodologi dan Interaksi Simbolik Pada Pengasuhan Anak Balita

CHOIRUL BASHOR (2001) POLA ASUH DAN POLA EMOSI ANAK BALITA YANG DITINGGAL KERJA IBU DI LUAR DAERAH : Studi Etnometodologi dan Interaksi Simbolik Pada Pengasuhan Anak Balita. Disertasi thesis, UNIVERSITAS AIRLANGGA.

[img]
Preview
Text (ABSTRAK)
gdlhub-gdl-s3-2007-bashorchoi-3595-diss14-k.pdf

Download (751kB) | Preview
Official URL: http://lib.unair.ac.id

Abstract

Penelitian berangkat dari fenomena sosial yang tergambar pada hubungan problematis antara ibu-anak, di satu sisi ibu berkeinginan agar anaknya diasuh sen¬diri, tetapi kenyataan yang dihadapi adalah anak hams ditinggal di daerah asal karena tuntutan lokasi kerja. Berdasarkan fenomena di lapangan, maka penelitian ini memiliki beberapa alasan menarik untuk dikaji yang menjadi pokok latar belakang penelitian, (1) keu¬nikan dan ironi. Di sekitar daerah penelitian sebenarnya terdapat industri menengah yang memproduksi sepatu ekspor dengan jumlah karyawan cukup banyak yang sebagian besar wanita. Tetapi justru sebagian kecil saja yang berasal dari daerah penelitian, (2) keterpaksaan. Terdapat banyak ibu muda meninggalkan daerah karena dipaksa oleh kondisi sosial ekonomi, dan (3) pengasuhan alamiah. Terdapat banyak anak balita yang pengasuhannya dipercayakan kepada orang lain seperti ayah, nenek, kakak, bude/bulik, dan tetangga. Fakta yang ditemukan adalah, ibu terpaksa meninggalkan anak di daerah asal, sehingga proses pengasuhan anak terpaksa diserahkan kepada orang lain. Proses semacam ini mengandung konsekuensi problematis, yakni menerima norma pengasuhan pengasuh. Keadaan ini memerlukan perhatian khusus, karena itu dikum¬pulkan beberapa fakta lain yang terkait dengan proses pengasuhan anak balita. Pada proses pengasuhan ditemukan, pola asuh terbentuk sesuai dengan tingkat pengetahuan dan pengalaman para pengasuh dalam menerapkan norma pengasuhan melalui proses pengasuhan yang dijalankannya. Sedangkan pada suasana emosi ditemukan, suasana emosi yang diekspresikan anak dalam berbagai perilaku merupakan respon anak terhadap suasana emosi pengasuh dalam menjalankan proses pengasuhan sehingga membentuk pola emosi pada diri anak. Salah satu aspek pola asuh adalah norma pengasuhan, yang meliputi kedisi¬plinan, tanggungjawab, kemandirian, kerjasama, sopan-santun, dan kerjasama. Norma terbaik kemudian disosialisasikan dan dijadikan pedoman oleh para pengasuh dalam menjalankan tugas pengasuhan. Sedangkan suasana emosi pengasuh yang terjadi selama proses pengasuhan berlangsung seperti gembira, sedih, marah, gelisah, dan kalut menggores sisi psikologis yang mendalam pada diri pribadi anak. Dengan demikian dapat dijelaskan bahwa norma pengasuhan yang dianut pengasuh dan suasana emosinya, berpengaruh terhadap perilaku dan karakter pribadi anak. Pola asuh anak terbentuk melalui interaksi antara anak dengan pengasuhnya. Interaksi merupakan wahana transformasi norma pengasuhan. Norma pengasuhan merupakan salah satu unsur pola asuh. Dengan demikian, pola asuh merupakan hasil interaksi. Peneliti menangkap makna bahwa tindakan pengasuhan yang dilakukan pengasuh, ternyata bersandar pada tuntutan masyarakat terhadap pengasuh yang memegang kendali norma pengasuhan anak. Pemikiran tersebut dapat disederhana¬kan menjadi skema alur pikir penelitian seperti terlihat pada gambar 1.1 halaman 15. Pengasuhan anak sebagai permasalahan penelitian difokuskan pada isyu sentral (1) bagaimanakah para pengasuh anak balita yang ditinggal kerja ibu di luar daerah mensosialisasikan norma dan nilai sosial budaya sesuai dengan harapan ibu dan masyarakatnya dalam proses pengasuhan,? (2) bagaimanakah para pengasuh anak balita tenaga kerja wanita migran menjaga, membina, mengembangkan, dan mengendalikan emosi anak asuhannya selama proses pengasuhan berlangsung,? (3) apa makna pola asuh dan pola emosi anak balita menurut para pengasuh.? Penelitian ini bertujuan membangun konsep pola asuh dan pola emosi anak balita yang ditinggal kerja ibu di luar daerah, dengan membahas proses pengasuhan yang di dalamnya terjadi proses sosialisasi norma pengasuhan dilihat dari praktik mengasuh anak seperti cara membangunkan, cara memandikan, cara mengganti dan mengenakan pakaian, cara menjaga dan menemani bermain, cara menidurkan, cara memberi makan dan minum. Juga dibahas pola emosi anak dilihat dari cara pengasuh menjaga, membina, mengembangkan, dan mengendalikan emosi anak. Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian kualitatif dengan meng¬gunakan paradigma etnometodologi dan paradigma interaksi simbolik. Dengan paradigma etnometodologi, makna pola asuh dan pola emosi yang diberikan penga¬suh agar perilaku pengasuhan dalam menaeamkan norma dapat diterima oleh masya¬rakat terutama oleh ibu yang mempercayakan proses pengasuhan anak kepadanya. Dengan interaksi simbolik, peneliti ingin melihat bagaimana aktor membuat tindakan dalam berinteraksi yang memberikan makna sebagai realitas dari mana makna terse-but diperoleh dan apakah tindakan pengasuhan itu dapat diterima oleh ibu yang mempercayakan anaknya sehingga tindakan pengasuhan itu dapat diteruskan atau tidak. Pengumpulan informasi yang diperlukan penelitian ini, menggunakan teknik (1) observasi partisipasif, yaitu aktivitas mengamati dengan mengambil bagian di dalam fenomena yang diteliti. Hal ini dilaksanakan untuk melihat dan mendengar sendiri realitas norma pengasuhan dalam proses transformasi nilai melalui penga¬suhan yang dilakukan oleh ayah, nenek, kakak, bude/bulik, dan tetangga serta memperhatikan suasana emosi anak balita melalui ekspresi yang muncul, (2) wawan¬cara mendalam untuk menggali informasi dari subjek penelitian dan informan. Analisis terhadap informasi hasil pengamatan dan wawancara dilakukan dengan mengikuti langkah (1) penggambaran setting penelitian, dengan mengede¬pankan interaksi antara pengasuh dengan anak balita, ekspresi emosi anak, dan komentar para pengasuh; (2) proses pemaparan, dengan mengadakan pemrosesan satuan, kategorisasi, dan penafsiran informasi. Secara empirik, pola sosial seperti meniru, persaingan, kerjasama, simpati, empati, dukungan sosial, membagi, perilaku akrab; dan pola tidak sosial seperti negativisme, agresif, perilaku berkuasa, memikirkan diri sendiri, merusak, perten¬tangan jenis kelamin, prasangka adalah bentuk pengetahuan dan pengalaman penga¬suh. Kecenderungan penerapan pola sosial dan pola non sosial pengasuh, menjadi ukuran tingkat pengalaman dan pengetahuan pengasuh. Secara faktual, bahwa pola asuh terbentuk berdasarkan tingkat pengetahuan dan pengalaman pengasuh dalam menerapkan norma pengasuhan. Secara empirik, kecenderungan perasaan gembira, sedih, dan kasih sayang yang diungkapkan pengasuh dalam proses pengasuhan menjadi ukuran suasana emosi pengasuh dalam proses pembentukan pola emosi. Secara faktual, suasana emosi yang diekspresikan anak dalam berbagai peri¬laku sebagaimana temuan penelitian merupakan respon anak terhadap suasana emosi para pengasuh dalam menjalankan proses pengasuhan, membentuk pola emosi pada diri anak yang mendasari kebiasaan pada masa berikutnya. Teoretisasi konsep pola asuh dan konsep pola emosi berdasarkan pada konsekuensi logis dari dipilihnya paradigma etnometodologi dapat dirangkai pada suatu kerangka bangunan proposisi, pola asuh anak balita adalah produk pengeta¬huan dan pengalaman para pengasuh. Sedangkan pola emosi anak adalah produk suasana emosi yang merupakan respon anak terhadap suasana emosi pengasuh. Kristalisasi kesimpulan makna, bahwa pola asuh terbentuk berdasar pada tingkat pengetahuan dan pengalaman para pengasuh dalam menerapkan norma pengasuhan melalui proses pengasuhan yang dijalankannya. Bila diajukan perta¬nyaan, mengapa tingkat pengetahuan dan pengalaman pengasuh dalam menerapkan norma pengasuhan membetuk pola asuh anak.? Penelitian ini menyodorkan kesim¬pulan yang diambil berdasarkan fakta yang terjadi dalam proses pengasuhan. Temuan empirik yang disimpulkan menunjukkan, pola asuh adalah produk penerapan norma pengasuhan berdasar tingkat pengetahuan dan pengalaman para pengasuh. Secara rinci proposisi tersebut (1) perilaku pengasuh yang terkait dengan cara membangunkan anak dari tidurnya seperti membiarkan, kasih sayang, pemak¬saan, rayuan, dan hati-hati; (2) perilaku para pengasuh yang terkait dengan cara memandikan anak seperti penekanan, perhatian khusus, kurang telaten, praktis, dan akrab; (3) perilaku para pengasuh yang terkait dengan cara mengganti dan mengenakan pakaian seperti kebiasaan, mendikte, kurang perhatian, kesehatan, dan keteraturan; (4) perilaku para pengasuh yang terkait dengan cara mememberi makan dan minum seperti praktis, pertimbangan faktor usia, perhatian terhadap faktor gizi, kasih sayang, dan membiarkan; (5) perilaku para pengasuh yang terkait dengan cara menjaga dan menemani bermain seperti pemberian teguran, mengatur, pemberian contoh bermain yang baik, perhatian terhadap keamanan, dan pembiasaan perilaku positif; (6) perilaku para pengasuh yang terkait dengan cara menidurkan seperti, kasih sayang, ketelatenan, perhatian, perlindungan, dan pembiaran; dan (7) tingkat pengetahuan dan pengalaman para pengasuh, mendasari penerapan norma penga¬suhan anak. Penerapan norma pengasuhan, membentuk pola asuh anak. Pola asuh anak, merupakan hasil interaksi sosial psikologis antara anak dengan pengasuh. Proposisi 1 menyatakan, tingkat pengetahuan dan pengalaman para pengasuh mendasari penerapan norma pengasuhan anak. Penerapan norma pengasuhan membentuk pola asuh anak. Pola asuh anak merupakan hasil interaksi sosial psiko¬logis antara anak dengan para pengasuhnya. Temuan empirik yang disimpulkan menunjukkan, pola emosi adalah produk suasana emosi pada proses pengasuhan. Secara rinci proposisi tersebut (1) suasana emosi kemarahan. Perangsang yang menumbuhkannya adalah campur tangan terha¬dap gerakan mencobanya, menghalangi keinginannya, tidak mengijinkannya mengerti sendiri, dan tidak memperkenankannya melakukan apa yang dia inginkan. Dan ungkapan yang ditunjukkan anak berupa perilaku menjerit, meronta, menendangkan kaki, mengibaskan tangan, memukul, menendang, melonjak, berguling, dan meron¬ta; (2) suasana emosi ketakutan. Perangsang yang menumbuhkannya adalah apabila ada suara keras, tempat tinggi, tempat gelap, binatang, dan kejadian tidak terduga atau yang tidak biasa. Dan ungkapan yang ditunjukkan anak berupa perilaku men¬jauhkan diri, merengek, dan menangis; (3) suasana emosi keingintahuan. Perang¬sang yang menumbuhkannya berupa mainan, barang barn, dan ketidak biasaan. Dan ungkapan yang ditunjukkan anak berupa perilaku menegangkan otot muka, membuka mulut, menjulurkan lidah, memegang, membolak-balik, melempar, dan memasukkan benda ke mulut; (4) suasana emosi kegembiraan. Perangsang yang menumbuhkan¬nya berupa kesenangan fisik, reaksi menggelitik, mengamati, dan memperhatikan. Dan ungkapan yang ditunjukkan anak berupa perilaku tersenyum, tertawa, mengger¬akkan tangan dan kaki; (5) suasana emosi pengungkapan afeksi. Perangsang turn¬buhnya pengungkapan afeksi berupa mengajak bermain, dan mengurus kebutuhan. Dan ungkapan yang ditunjukkan anak berupa perilaku memeluk, menepuk, dan mencium; dan (6) suasana emosi pengasuh dalam proses pengasuhan, mendasari suasana emosi anak yang terekspresi pada perilaku anak. Suasana emosi, membentuk pola emosi. Pola emosi anak merupakan hasil interaksi sosial psikologis antara anak dengan para pengasuhnya. Proposisi 2 yang disimpulkan ialah bahwa suasana emosi pengasuh pada saat proses pengasuhan berlangsung mendasari suasana emosi anak yang terekspresi pada perilaku anak. Suasana emosi membentuk pola emosi. Pola emosi anak merupakan hasil interaksi sosial psikologis antara anak dengan para pengasuhnya. Implikasi teoretis yang dapat dikemukakan, bahwa setiap individu memiliki instinct pengasuhan yang boleh jadi sama atau berbeda antara individu yang satu dengan yang lain. Persamaan dan perbedaan, menurut konsep pengasuhan yang ditemukan penelitian ini disebabkan adanya pola pengasuhan turun temurun, perbe¬daan tingkat pengetahuan dan pengalaman, dan perbedaan karakter emosional para pengasuh. Apabila pengasuh kebetulan merupakan produk pengasuhan berdasarkan norma pengasuhan yang baik, maka norma pengasuhan itu akan disosialisasikan kepada anak asuhannya. Apabila pengasuh kebetulan memiliki pengetahuan dan pengalaman pengasuhan yang memadai, maka pengetahuan dan pengalaman terse-but akan mendasari proses pengasuhan yang dijalankan. Apabila pengasuh kebetulan memiliki karakter emosional yang wajar dan normal, maka pola emosi anak akan terbentuk secara wajar dan normal. Implikasi praktis terkait dengan proposisi adalah intervensi yang mungkin dilakukan pada pengasuhan anak balita atau anak usia pra-sekolah, adalah pengkon¬disian terhadap individu yang berpotensi mengasuh anak melalui interaksi belajar mengajar. Interaksi belajar mengajar, memungkinkan individu menjadi aktor sebe¬narnya dalam proses pengasuhan baik peningkatan pengetahuan, penambahan pengalaman, dan stabilisasi emosi individu yang siap mensosialisasikan norma pengasuhan dalam suatu proses pengasuhan yang ideal, sehingga dapat melahirkan generasi yang lebih berdaya. Simpulan, pengetahuan dan pengalaman pengasuh yang menjadi cumber norma pengasuhan serta emosi pengasuh menjadi dasar pembentukan karakter priba¬di yang mempengaruhi perilaku anak asuh, dan setelah dikondisikan dapat memben¬tuk suatu pola asuh dan pola emosi anak balita atau anak usia pra-sekolah. Pember¬dayaan pengasuh, termasuk salah sate faktor penting dalam menyiapkan sumberdaya manusia masa depan. </description

Item Type: Thesis (Disertasi)
Additional Information: KKB KK-2 Dis S 14/02 Bas p (FILE FULL TEXT TIDAK ADA)
Uncontrolled Keywords: child care care norm emotion condition
Subjects: B Philosophy. Psychology. Religion > BF Psychology > BF511-593 Emotion, Feeling, Affection
H Social Sciences > HV Social pathology. Social and public welfare > HV1-9960 Social pathology. Social and public welfare. Criminology > HV697-4959 Protection, assistance and relief > HV697-3024 Special classes > HV1442-1448 Women
H Social Sciences > HV Social pathology. Social and public welfare > HV1-9960 Social pathology. Social and public welfare. Criminology > HV697-4959 Protection, assistance and relief > HV697-3024 Special classes > HV701-1420.5 Children
Divisions: 09. Sekolah Pasca Sarjana > Ilmu Sosial
Creators:
CreatorsNIM/NIDN
CHOIRUL BASHORUNSPECIFIED
Contributors:
ContributionNameNIDN/NIDK/NUP
ContributorSoetandyo Wignjosoebroto, -UNSPECIFIED
Depositing User: Nn Dhani Karolyn Putri
Date Deposited: 11 Oct 2016 03:58
Last Modified: 11 Oct 2016 03:58
URI: http://repository.unair.ac.id/id/eprint/32590
Sosial Share:

Actions (login required)

View Item View Item